Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Baruku
Karina tersenyum tulus, senyuman pertamanya yang benar-benar nyata sejak ia menginjakkan kaki di rumah itu. "Bagaimana aku bisa lupa pada asisten paling setia di kantor Ayah," jawab Karina.
Yessi melangkah maju dan membungkuk hormat, matanya berkaca-kaca. "Nona Karina... akhirnya Nona kembali. Saya sudah menunggu momen ini selama sepuluh tahun sejak Tuan Besar Baskoro meminta saya tetap berada di jajaran manajemen untuk menjaga posisi anda," ucap Yessi.
"Terima kasih sudah bertahan, Yessi. Aku butuh kamu sekarang lebih dari sebelumnya," ucap Karina tegas.
"Paman, Yessi, kita tidak punya banyak waktu. Agus merasa di atas angin hari ini karena sidang perceraian yang ia anggap sebagai hari kemerdekaannya dari beban sepertiku, mari kita buat dia menyadari bahwa kemerdekaan itu adalah awal dari kemiskinannya," lanjutnya.
Karina meletakkan sebuah map hitam di atas meja makan yang luas, map itu berisi detail rahasia dapur perusahaan Agus yang hanya diketahui olehnya.
"Langkah pertama, Yessi, aku ingin kamu mengaktifkan kembali protokol Phoenix Investama. Perusahaan cangkang itu secara hukum memiliki 30 persen saham di vendor-vendor utama yang memasok baja dan beton ke proyek Mega City milik Agus. Kirimkan instruksi kepada mereka untuk menghentikan semua pengiriman ke gudang Agus mulai jam dua belas siang ini dengan alasan audit internal mendadak," perintah Karina.
Yessi mencatat dengan cepat, "Baik, Nona. Tanpa suplai itu, jadwal konstruksi Agus akan molor dan klaim pinalti dari pengembang utama akan berjalan secara harian, itu akan membakar likuiditasnya dalam hitungan hari," ucap Yessi yang menganalisis kerugiannya bagi Agus.
"Paman, aku minta tolong hubungi teman-teman Ayah di otoritas bursa. Aku ingin mereka mulai memperhatikan pergerakan dana di Agus Materialindo, berikan mereka petunjuk anonim tentang laporan operasional fiktif yang digunakan Agus untuk membiayai apartemen mewah Sabrina," ucap Karina.
"Mudah sekali, Karina. Jika Paman mengatakan pada mereka untuk menyelidikinya, maka mereka akan segera melakukannya," ucap Paman Andri.
Karina berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan Jakarta yang mulai macet, "Dia menganggapku sampah yang tidak punya selera hiburan. Mari kita lihat, hiburan seperti apa yang akan aku sajikan untuknya minggu ini," ucap Karina.
"Tapi, mungkin akan lebih seru jika kita melakukannya dengan pelan-pelan," lanjut Karina.
"Maksud Nona?" tanya Yessi.
"Aku tidak ingin Agus hancur dengan cepat, tapi aku ingin dia hancur secara perlahan-lahan dan menyaksikan aku di puncak kemegahan yang selama ini dia impikan," ucap Karina.
Sementara itu, di sebuah gedung pengadilan, Agus duduk dengan kaki menyilang, ia mengenakan kacamata hitam dan senyum meremehkan. Di sampingnya, Sabrina merangkul lengannya dengan manja.
"Kenapa dia belum datang juga?" tanya Sabrina sambil melihat jam tangan Rolex yang dibeli menggunakan uang operasional perusahaan.
"Dia pasti malu, sayang. Atau mungkin dia sedang sibuk menangis di pojokan kontrakan kumuh, jadi biarkan saja. Pengacaraku bilang jika dia tidak datang, putusan verstek akan lebih cepat keluar, aku sudah tidak sabar menghapus nama Karina dari hidupku," ucap Agus.
Agus merasa sangat berkuasa karena baru saja menandatangani kontrak awal proyek Mega City, ia merasa telah berhasil membuktikan pada dunia bahwa tanpa Karina ia bisa sukses, Agus tidak tahu bahwa setiap napas bisnisnya selama dua puluh tahun ini adalah oksigen yang diberikan secara diam-diam oleh wanita yang kini ia tertawakan.
Karina mematikan layar ponselnya yang menampilkan foto Agus dan Sabrina yang tengah berpose di depan gedung pengadilan, senyum meremehkan Agus di foto itu akan menjadi memori terakhir yang akan Karina simpan sebagai bahan bakar kemarahannya.
"Yessi, selama ini publik hanya tahu bahwa kepemimpinan Grup Wijaya dipegang oleh Dewan Direksi dan Paman Andri sebagai pelaksana tugas sejak Ayah tiada, aku ingin tetap seperti itu untuk sementara waktu," ucap Karina.
Paman Andri mengernyitkan dahi, "Kamu tidak ingin mendeklarasikan kembalinya sang Putri Mahkota sekarang? Ini adalah momen emas untuk menginjak harga diri Agus, Karina," tanya Paman Andri.
Karina menggeleng pelan, jemarinya mengetuk meja jati dengan irama yang teratur. "Tidak, Paman. Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, aku tidak ingin Agus tahu siapa aku setidaknya untuk sekarang. Jika aku muncul sekarang, Agus akan langsung waspada. Dia akan mencari celah hukum atau mencoba memelas demi masa lalu, aku ingin dia merasa bahwa kehancurannya adalah murni karena nasib buruk dan ketidakmampuannya sendiri, aku ingin dia mati dalam ketidakpastian," ucap Karina.
"Lalu bagaimana anda akan mengendalikan perusahaan?" tanya Yessi.
"Tetap seperti sebelumnya, aku akan mewakilkannya pada Paman. Maaf ya Paman, Karina sangat merepotkan Paman," ucap Karina.
"Paman sangat suka saat kamu merepotkan Paman," jawab Paman Andri.
'Agus, selamat datang di permainan baruku. Kau yang memulai pengkhianatan ini, tapi akulah yang akan menulis akhir ceritanya,' batin Karina.
Paman Andri tertawa kecil, suara baritonnya memenuhi ruang makan yang megah itu. "Melihatmu kembali memiliki api di matamu adalah hadiah terbesar bagi Paman, Ayahmu pasti sedang tersenyum di sana melihat putrinya akhirnya berhenti menjadi domba dan kembali menjadi singa," lanjut Paman Andria.
Karina menyesap kopi hitamnya yang pahit, rasa yang kini ia sukai karena mengingatkannya pada realitas. "Terima kasih, Paman. Yessi, satu hal lagi. Aku ingin kamu mengirimkan hadiah kecil untuk Sabrina, aku tahu dia sedang mengincar tas Hermes Birkin edisi terbatas di sebuah butik eksklusif. Pastikan butik itu menolak penjualannya di menit terakhir dengan alasan kartu kredit perusahaan Agus ditangguhkan karena aktivitas mencurigakan," ucap Karina.
Yessi tersenyum licik, ia begitu senang melihat Karina yang kembali seperti dulu lagi. "Tentu, Nona. Menghancurkan ego wanita seperti Sabrina adalah keahlian saya, dia akan merasa sangat dipermalukan di depan teman-teman sosialitanya," ucap Yessi.
"Bagus, biarkan mereka bertengkar karena masalah uang kecil sebelum aku menghancurkan uang besar mereka," ucap Karina.
Sementara itu, di koridor Pengadilan yang dingin, Agus mulai gelisah, jarum jam menunjukkan pukul setengah 11 dan pengacara membolak-balik berkas dengan raut wajah bosan.
"Pak Agus, sepertinya Nyonya Karina benar-benar tidak akan datang. Ini menguntungkan kita, hakim akan segera memutus cerai secara verstek, anda bisa bebas hari ini juga," bisik sang pengacara.
Agus membusungkan dada dan membetulkan letak dasi sutranya, "Tentu saja dia tidak berani datang, dia tahu dia tidak punya apa-apa lagi. Tanpa aku, dia hanyalah wanita paruh baya yang tidak berguna. Aku sudah memberinya cukup uang untuk makan di warteg selama setahun, dia harusnya bersyukur," ucap Agus sombong.
Sabrina menyandarkan kepalanya di bahu Agus, jemarinya yang lentur dengan kuku merah menyala memainkan kancing jas Agus. "Mas, setelah ini kita langsung ke butik ya? Aku sudah janji pada teman-temanku untuk memamerkan tas baru itu di acara arisan nanti sore," ucap Sabrina.
"Apapun untukmu, sayang," jawab Agus manja dan mencium kening Sabrina tanpa peduli pada pandangan orang-orang di sekitar mereka.
.
.
.
Bersambung.....