Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi Yang Terkendali
Lembah Sunyi terasa berbeda sejak Ci Lung menembus Meridian Opening Layer Keempat.
Udara lebih berat.
Langit lebih dalam.
Qi di sekitar lembah mengalir seperti sungai yang menemukan arah tetap.
Yan Yu merasakannya paling jelas.
Ia duduk bersila di bawah pohon tua, tempat Ci Lung sering bermeditasi.
Biasanya ia harus menarik qi dengan paksa—mengatur napas, menahan tekanan, menahan rasa sakit di meridian.
Hari ini…
Qi datang sendiri.
Tidak liar.
Tidak brutal.
Seolah lembah itu mengizinkannya.
Yan Yu membuka mata sedikit.
“Guru… ada yang berubah.”
Ci Lung berdiri tak jauh darinya. Tenang. Diam. Mengawasi.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
Sistem muncul di penglihatan Ci Lung.
[Deteksi: Stabilitas domain pengguna memengaruhi lingkungan sekitar.]
[Efek samping: Kultivator dengan afinitas tinggi akan mengalami percepatan aliran qi.]
[Target terdekat: Yan Yu.]
Ci Lung menyipitkan mata.
“Berapa persen percepatan?”
[13.4% peningkatan efisiensi sirkulasi.]
Tidak berbahaya.
Tapi cukup signifikan.
Yan Yu menarik napas dalam.
Qi mengalir ke meridian pertamanya dengan lebih halus dari biasanya.
Tidak ada gesekan tajam.
Tidak ada tekanan memaksa.
Seperti air hangat yang mengisi pembuluh.
“Tenangkan pikiranmu,” ujar Ci Lung.
Yan Yu mengangguk.
Ia mengikuti ritme napas gurunya.
Perlahan.
Stabil.
Satu siklus.
Dua siklus.
Tiga siklus.
Meridian ketiganya yang sebelumnya agak kaku mulai melunak.
Retakan kecil terdengar dari dalam tubuhnya.
BUK.
Tidak keras.
Tidak meledak.
Hanya seperti simpul yang akhirnya terlepas.
Qi berputar satu kali penuh.
Lalu—
Mengendap.
Sistem kembali berbunyi.
[Konfirmasi: Yan Yu mencapai Qi Refining Layer Keempat.]
Tidak ada ledakan cahaya besar.
Tidak ada guncangan langit.
Hanya hembusan angin lembut yang menyapu dedaunan.
Yan Yu membuka mata.
Ia tidak batuk darah.
Tidak gemetar.
Tubuhnya terasa… ringan.
“Layer empat…” bisiknya.
Ci Lung menatapnya beberapa detik.
“Stabil?”
Yan Yu mengangguk perlahan. “Lebih stabil dari sebelumnya.”
Sistem menambahkan:
[Catatan: Terobosan terjadi tanpa paksaan.]
[Analisis: Resonansi guru–murid memperhalus aliran qi.]
[Tingkat sinkronisasi saat ini: 1.2%]
Ci Lung menghela napas pelan.
Angka itu kecil.
Tapi tetap ada.
Ia bisa merasakan sedikit perubahan di domainnya—bukan melemah, tapi seperti ada gema kecil yang memantul kembali dari tubuh Yan Yu.
Bukan pembagian kekuatan.
Lebih seperti… pantulan.
Yan Yu berdiri.
Ia menghunus pedangnya.
Biasanya, setiap tebasannya meninggalkan percikan qi kasar.
Hari ini—
SHHHK.
Udara terbelah bersih.
Tidak ada kebocoran energi.
Tidak ada semburan liar.
Qi-nya terkunci rapat pada lintasan pedang.
Yan Yu membeku.
“Guru… kenapa terasa lebih mudah?”
Ci Lung menjawab jujur.
“Karena kau tidak lagi melawan qi.”
Yan Yu terdiam.
Ia menyadari sesuatu.
Sebelumnya, ia selalu berusaha mengejar gurunya.
Mendorong diri terlalu keras.
Memaksa meridian membuka.
Hari ini, ia hanya mengikuti arus.
Dan justru itu yang membuatnya naik.
Namun sistem belum selesai.
[Potensi perkembangan: Jika murid terus berada dalam domain pengguna, pertumbuhan akan stabil namun ketergantungan bisa terbentuk.]
Ci Lung sedikit mengernyit.
“Ketergantungan seperti apa?”
[Tanpa domain, murid mungkin mengalami penurunan efisiensi sementara.]
Itu berarti—
Jika Yan Yu terlalu lama tumbuh dalam stabilitasnya, dunia luar akan terasa lebih keras baginya.
Ci Lung memandang muridnya.
Yan Yu masih tersenyum kecil, jelas bangga tapi tidak sombong.
Untuk pertama kalinya, ia naik tingkat tanpa luka.
Malamnya.
Yan Yu bermeditasi sendirian.
Ci Lung sengaja menarik domainnya sedikit menjauh dari pusat lembah.
Tidak sepenuhnya hilang.
Tapi cukup untuk melihat reaksinya.
Qi di sekitar Yan Yu melambat.
Alirannya tidak sehalus siang tadi.
Yan Yu mengerutkan kening.
Beberapa detik pertama terasa berat. Namun ia tidak panik. Ia menyesuaikan napas.
Mengatur ulang siklus.
Perlahan, qi kembali stabil.
Tidak seindah sebelumnya.
Tapi miliknya sendiri.
Ci Lung mengangguk pelan.
Bagus.
Jauh di utara.
Di aula putih Sekte Pedang Surgawi.
Seorang tetua membuka mata.
“Gelombang kecil,” katanya.
Seorang murid di sampingnya bertanya, “Dari orang yang sama?”
Tetua itu menggeleng pelan.
“Bukan. Yang ini lebih lemah.”
Ia tersenyum tipis.
“Menarik. Benih kedua.”
Kembali di lembah.
Yan Yu menyelesaikan meditasinya dan berdiri.
Ia membungkuk pada Ci Lung.
“Terima kasih, Guru.”
Ci Lung menggeleng tipis.
“Kau yang melangkah.”
Yan Yu ragu sejenak, lalu bertanya pelan.
“Apa aku… masih terlalu jauh?”
Ci Lung menatap langit malam.
“Jarak selalu ada.”
Ia menoleh pada muridnya.
“Tapi yang penting bukan seberapa jauh.”
“Melainkan apakah kau berhenti.”
Yan Yu mengepalkan tangan.
“Tidak akan.”
Qi di tubuhnya berdenyut stabil—Qi Refining Layer Keempat.
Masih jauh dari ranah tinggi.
Masih rentan dibandingkan badai yang mendekat.
Tapi kali ini—
Ia tidak merasa tertinggal.
Dan Ci Lung menyadari sesuatu.
Resonansi mereka bukan soal berbagi kekuatan.
Bukan soal ikatan jiwa berbahaya.
Itu hanya…
Keselarasan arah.
Dua kultivator.
Satu lembah.
Berjalan pada jalan berbeda—
menuju puncak yang sama.
Angin malam berdesir lembut.
Namun jauh di kejauhan—
Langit utara sedikit berpendar.
Sekte Pedang Surgawi telah mencatat dua nama.
Bukan satu lagi.
Dan dunia perlahan bersiap menghadapi perubahan berikutnya.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠