Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 ancaman di balik bayangan
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 13: Ancaman di Balik Bayangan
Dua minggu berlalu dengan lambat bagi Alek. Setiap hari terasa seperti satu tahun. Dia datang ke sekolah dengan semangat yang berbeda—bukan semangat untuk nongkrong atau cari masalah, tapi semangat untuk belajar, untuk menjadi lebih baik, dan... untuk menunggu Sabtu.
Nilai-nilainya tetap stabil. Matematika, Fisika, Bahasa Inggris—semuanya di atas 75. Pak Hendra bahkan pernah memanggil Alek lagi, bukan untuk memarahi, tapi untuk memberikan apresiasi di depan kepala sekolah. "Ini contoh siswa yang bisa berubah," kata Pak Hendra bangga. Alek hanya tersenyum malu.
Tapi meski kehidupan sekolahnya membaik, pikirannya selalu melayang ke satu tempat. Satu orang. Khansa. Setiap kali dia melamun di kelas, wajah Khansa muncul—mata yang teduh, suara yang lembut, cara dia tersenyum di balik cadar. Dan setiap kali itu terjadi, Riki akan mencolek bahunya dengan jahil.
"Lo ngelamun lagi?" bisik Riki saat pelajaran Kimia. "Mikirin Khansa?"
Alek langsung siaga, menoleh kiri-kanan takut ada yang dengar. "Pelan-pelan, Rik!"
"Santai, nggak ada yang denger kok." Riki nyengir. "Tapi serius, lo udah siap ketemu dia besok?"
"Gue... gue nggak tau harus ngomong apa," jawab Alek jujur dengan suara pelan.
"Ya udah, ngalir aja. Natural. Jangan dipikirin berat-berat."
"Gampang lo bilang," Alek menghela napas. "Gue nervous, Rik. Gue takut salah ngomong terus dia... nggak nyaman."
Riki menepuk bahu sahabatnya. "Lo udah beda sekarang, Lex. Lo nggak kasar lagi. Lo lebih sopan. Percaya deh, lo bakal oke."
Alek tersenyum tipis, berharap Riki benar.
***
Jumat malam, sehari sebelum kegiatan sosial. Alek berbaring di kasurnya dengan laptop terbuka. Dia tidak main game atau nonton film seperti biasa. Dia... browsing lagi.
Kali ini pencarian lebih spesifik:
**"Adab bergaul dalam Islam"**
Artikel pertama yang muncul menjelaskan tentang batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. Alek membaca dengan serius:
*"Islam mengajarkan untuk menjaga pandangan, menjaga jarak, dan tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Percakapan harus sopan, singkat, dan tidak menimbulkan fitnah."*
Alek terdiam. "Jadi... gue nggak boleh terlalu lama ngobrol sama dia? Gue harus jaga jarak?"
Dia scroll lebih jauh:
*"Namun, Islam juga mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua orang, termasuk kepada lawan jenis, dengan tetap menjaga adab."*
Alek mengangguk pelan. "Oke. Gue harus sopan. Gue harus jaga jarak. Gue nggak boleh bikin dia nggak nyaman."
Dia menutup laptop, berbaring dengan tangan di belakang kepala, menatap langit-langit kamar.
"Besok," gumamnya pelan. "Besok gue ketemu dia lagi. Semoga... semoga gue nggak ngacau."
***
Sabtu pagi, jam tujuh. Langit Bandung cerah dengan sedikit awan putih. Alek datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia mengenakan kaos hitam polos, celana jeans, dan sepatu kets—pakaian simpel untuk kerja fisik.
Di halaman sekolah, sudah berkumpul sekitar tiga puluh siswa dan santriwati. Dua bus sudah standby—satu untuk siswa SMA, satu untuk santriwati pesantren.
Alek mencari sosok yang dia tunggu. Dan... ada. Di dekat bus kedua, berdiri sekelompok santriwati dengan gamis panjang dan cadar. Alek tidak bisa membedakan siapa Khansa dari jauh, tapi hatinya sudah berdebar.
"Lex! Sini!" Riki melambaikan tangan dari dekat bus pertama.
Alek menghampiri. "Pagi, Rik."
"Lo dari tadi ngeliatin bus santriwati ya?" Riki nyengir jahil.
"Nggak," bohong Alek.
"Bohong lo. Muka lo udah ngaku." Riki tertawa. "Tenang aja, nanti juga ketemu."
Pak Hendra muncul dengan papan clipboard, mengumumkan pembagian kelompok.
"Oke, semuanya dengarkan! Hari ini kita akan merenovasi rumah Pak Mahmud di Kampung Cibeunying. Ada tiga kelompok kerja!"
Alek mendengar dengan seksama, berharap-harap cemas.
"Kelompok A—cat dan perbaiki dinding! Alexander, Riki, Tono, Andi, Budi!"
Alek mengangguk. Oke, cat dinding.
"Kelompok B—perbaiki atap! Rangga, Dedi, Fajar, Hasan, Rizal!"
Belum ada nama Khansa.
"Kelompok C—masak untuk semua relawan! Khansa, Maryam, Sarah, Fitri, Aisha!"
Alek langsung kecewa. "Anjir," gumamnya pelan. "Gue nggak sekelompok sama dia lagi."
Riki menepuk bahunya. "Sabar, Lex. Nanti pasti ada waktu buat ngobrol."
Tapi Alek tetap kecewa. Dia sudah berharap bisa sekelompok lagi seperti waktu ngajar anak-anak SD.
***
Saat semua naik bus, ada kejutan.
Dua orang pemuda datang terburu-buru—Kevin dan Bagas. Mereka menghampiri Pak Hendra dengan wajah bersahabat yang palsu.
"Pak, maaf terlambat. Kita mau ikut bantu. Boleh kan?" kata Bagas dengan senyum yang terlalu manis.
Pak Hendra mengernyit. "Kalian berdua? Bukannya kalian—"
"Kami sudah berubah, Pak. Mau coba ikut kegiatan positif," potong Kevin cepat.
Pak Hendra ragu sebentar, tapi karena butuh tenaga tambahan, dia mengangguk. "Oke. Kalian masuk Kelompok B. Perbaiki atap."
"Siap, Pak. Terima kasih."
Alek yang melihat dari dalam bus langsung was-was. "Riki, Kevin sama Bagas ikut."
Riki menoleh, melihat kedua orang itu naik bus. "Serius? Kenapa mereka tiba-tiba ikut?"
"Gue nggak tau. Tapi... gue nggak suka."
"Mungkin mereka emang mau tobat kayak lo."
Alek menggeleng. "Gue kenal mereka. Mereka nggak akan ikut kegiatan kayak gini kecuali ada maunya."
"Ya udah, lo waspadain aja. Jangan parno."
Tapi Alek tidak bisa tidak parno. Ada feeling buruk di dadanya.
***
Kampung Cibeunying adalah perkampungan padat dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah kecil yang saling berdempetan. Rumah Pak Mahmud terletak di ujung gang, rumah kayu tua dengan cat yang mengelupas dan atap seng yang berkarat, beberapa bagian bocor.
Pak Mahmud—lelaki paruh baya dengan wajah lelah tapi ramah—menyambut mereka dengan senyum tulus. "Terima kasih sudah mau bantu rumah saya. Maaf ya kondisinya kayak gini."
"Nggak apa-apa, Pak. Makanya kita di sini," kata Pak Hendra.
Semua relawan langsung kerja sesuai kelompok.
Kelompok A—Alek, Riki, dan yang lain—mulai mengamplas dinding luar rumah yang penuh jamur. Pekerjaan fisik yang berat. Alek melepas kaosnyadalam beberapa jam, hanya pakai kaos dalam putih sambil mengamplas dengan serius.
Kelompok B—Kevin, Bagas, dan yang lain—naik ke atap dengan tangga bambu. Mereka bawa palu, paku, dan lembaran seng baru untuk ganti yang bocor.
Kelompok C—Khansa, Maryam, Sarah, dan santriwati lain—sibuk di dapur darurat yang dibuat di teras samping. Mereka masak nasi, sayur, dan lauk untuk makan siang semua relawan.
Dari atas atap, Kevin dan Bagas punya sudut pandang sempurna. Mereka bisa lihat semua orang.
"Gas, lo liat Alek?" bisik Kevin sambil pura-pura memaku seng.
"Iya. Dia di bawah, lagi ngamplas dinding."
"Dari tadi gue perhatiin... dia sering ngeliatin ke arah dapur."
Bagas mengikuti arah pandang Alek. Benar. Setiap beberapa menit, Alek curi pandang ke arah kelompok masak.
"Ada lima cewek di sana," kata Bagas. "Sarah, empat santriwati. Yang mana?"
"Sabar. Nanti juga kelihatan."
Mereka berpura-pura kerja sambil terus observasi.
***
Jam 12 siang. Matahari tepat di atas kepala, panasnya menyengat. Semua relawan berkeringat.
"Oke, istirahat makan siang!" teriak Pak Hendra.
Kelompok C sudah menyiapkan nasi bungkus di meja panjang. Lima puluh bungkus nasi lengkap dengan lauk dan air mineral.
"Silakan antri yang rapih!" kata Khansa dengan suara lembut tapi jelas.
Para relawan mengantri. Alek ikut antri, jantungnya berdegup lebih kencang saat giliran semakin dekat.
Akhirnya, gilirannya tiba. Di depan meja, berdiri Khansa dengan cadar hitam, memegang nasi bungkus dengan kedua tangan.
"Mas Alexander, ini nasi bungkusnya," kata Khansa sambil menyerahkan.
Alek menerima dengan sedikit gemetar. Tangan mereka sempat bersentuhan sekilas—hanya kain sarung tangan tipis yang Khansa pakai dan jari Alek. Tapi cukup untuk membuat jantung Alek berdebar.
"Terima kasih," kata Alek, suaranya hampir berbisik.
Dia mau ngomong lebih lanjut—mau tanya "Kamu baik-baik aja?" atau "Gimana kabar kamu?"—tapi antrian di belakangnya panjang. Dia tidak bisa lama-lama.
Alek melangkah ke samping, duduk di bawah pohon bersama Riki.
Tapi dari atas atap, Kevin melihat semuanya dengan seksama. Cara Alek menatap Khansa. Cara Alek terima nasi bungkus dengan hati-hati. Cara Alek masih sempat noleh lagi ke Khansa sebelum duduk.
"Bingo," bisik Kevin sambil menyeringai.
"Lo yakin itu Khansa?" tanya Bagas.
"Yakin. Waktu Sarah cerita, dia bilang Khansa itu yang paling pendiam tapi paling lembut. Dan lo liat kan tadi? Cara dia nyerahin nasi bungkus—sopan, lembut. Itu Khansa."
Bagas mengamati Khansa dari atas. Santriwati bercadar dengan gamis putih, tinggi sekitar 160 cm, sedang menyerahkan nasi bungkus ke relawan berikutnya—Maryam yang di sebelahnya.
Saat Maryam serahkan nasi bungkus ke relawan lain, Alek cuma bilang "makasih" biasa tanpa kontak mata atau perhatian khusus.
"Beda kan?" kata Kevin. "Sama Maryam dia biasa aja. Tapi sama Khansa... beda."
Bagas mengangguk perlahan. "Oke. Target confirmed. Khansa."
"Terus kita ngapain?"
"Tunggu. Kita cari waktu yang tepat. Waktu dia sendirian."
***
Jam 2 sore. Pekerjaan hampir selesai. Dinding sudah dicat ulang dengan warna krem cerah. Atap sudah diganti dengan seng baru. Rumah Pak Mahmud terlihat jauh lebih layak.
"Terima kasih! Terima kasih banyak!" Pak Mahmud berkali-kali bersalaman dengan semua relawan, matanya berkaca-kaca.
Semua relawan tersenyum puas. Kelelahan tapi bahagia.
"Oke, semuanya beberes alat! Kita pulang jam 4!" kata Pak Hendra.
Semua sibuk beberes—cuci kuas, rapikan cat, kumpulin paku sisa.
Khansa merasa perutnya tidak enak. Mungkin karena kepanasan. Dia bisik ke Maryam, "Mar, aku ke toilet dulu ya."
"Oke, hati-hati."
Toilet umum kampung terletak di ujung gang, sekitar 50 meter dari rumah Pak Mahmud. Khansa berjalan sendirian dengan langkah cepat.
Kevin yang sedang turun dari atap melihatnya. Dia segera tukar pandang dengan Bagas. Tanpa kata, mereka paham.
"Sekarang," bisik Bagas.
Mereka berdua ikuti Khansa dari jarak aman, berjalan santai supaya tidak mencurigakan.
***
Khansa selesai dari toilet, keluar dengan wajah sedikit lega. Tapi saat dia mau balik ke rumah Pak Mahmud, jalan keluar tiba-tiba terhalang.
Kevin berdiri di depannya dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya datar tapi matanya tajam.
Khansa tersentak, mundur selangkah. "Permisi, Mas—"
"Khansa kan?" potong Kevin.
Khansa berhenti. Jantungnya mulai berdebar. "...Iya. Ada apa, Mas?"
"Gue mau ngomong sebentar."
"Maaf, saya harus kembali—"
Bagas muncul dari belakang, menghalangi jalan. Khansa sekarang terkepung di gang sempit antara toilet dan tembok.
"Nggak akan lama kok," kata Bagas dengan senyum yang tidak ramah.
Khansa menelan ludah. Dia mencoba tetap tenang meski ketakutan mulai merayap. "Apa yang Mas-mas mau?"
Kevin melangkah lebih dekat—tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Khansa merasa terancam.
"Lo kenal Alek kan? Alexander Panjaitan."
Khansa terdiam sebentar. "...Iya. Kenapa?"
Kevin menyeringai. "Dia temen gue. Mantan anggota geng gue. Dan gue mau kasih lo saran..." dia berhenti sejenak, menatap mata Khansa tajam, "...**jauh-jauh dari dia.**"
Khansa tersentak. "Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda."
"Lo ngerti kok," Bagas ikut bicara dari belakang. "Alek keluar dari geng gara-gara lo. Dan itu... bikin masalah buat kita."
"Saya... saya tidak pernah meminta Mas Alexander keluar dari—"
"Gue nggak peduli lo minta atau nggak," potong Kevin dengan nada lebih keras. "Yang penting, mulai sekarang... **lo jaga jarak dari dia.** Jangan dekatin dia lagi. Jangan ngobrol lama-lama. Ngerti?"
Khansa menggeleng pelan, napasnya mulai berat. "Saya dan Mas Alexander hanya teman biasa. Kami hanya—"
"JANGAN BANYAK ALESAN!" bentak Kevin tiba-tiba.
Khansa tersentak, mundur sampai punggungnya menyentuh tembok.
Kevin maju satu langkah lagi. "Lo dengerin baik-baik. Kalau gue liat lo masih ngobrol sama dia, masih deket-deket sama dia..." dia berhenti, menatap Khansa dengan tatapan yang sangat mengerikan, "...lo bakal tau akibatnya. Dan gue jamin... lo nggak akan suka."
Bagas menambahkan dari belakang, "Kita tau lo santriwati. Lo pasti nggak mau nama baik lo rusak kan? Nggak mau keluarga lo tau lo... deket-deket sama mantan preman?"
Khansa merasakan air mata mulai berkumpul di matanya. Tapi dia tahan. Dia tidak mau menangis di depan orang-orang ini.
"Jadi... pikir baik-baik," kata Kevin sambil mundur. "Jauhi Alek. Atau lo yang bakal kena."
Mereka berdua berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Khansa sendirian di gang sempit itu.
Khansa bersandar di tembok, kakinya gemetar, napasnya berat. Dia menutup mata, mencoba menenangkan diri.
"Ya Allah," bisiknya dengan suara bergetar. "Ya Allah... apa yang terjadi? Kenapa mereka... kenapa mereka mengancam saya?"
Dia ingin menangis. Tapi dia tahan. Dia tarik napas dalam-dalam, usap air mata yang hampir keluar, lalu berjalan kembali ke rumah Pak Mahmud dengan langkah gontai.
***
Alek sedang beberes kuas cat saat dia lihat Khansa kembali dari toilet. Dari jauh, dia notice ada yang berbeda. Cara jalan Khansa lebih lambat, bahunya sedikit turun, dan... dia tidak menegakkan kepala seperti biasa.
"Khansa baik-baik aja nggak ya?" gumam Alek.
Dia meletakkan kuas, berjalan mendekati Khansa yang sedang jalan menuju kelompok masaknya.
"Khansa," panggil Alek dari jarak beberapa meter.
Khansa berhenti, menoleh. Matanya terlihat... berbeda. Ada ketakutan di sana yang Alek tidak pernah lihat sebelumnya.
"Kamu... kamu baik-baik aja? Kelihatan pucat," kata Alek khawatir.
Khansa memaksakan senyum di balik cadarmya—senyum yang tidak sampai ke mata. "Baik, Mas. Cuma... capek aja."
"Lo yakin? Lo kelihatan—"
"Saya baik-baik saja, Mas. Terima kasih." Khansa memotong cepat, lalu langsung berjalan cepat menuju Maryam.
Alek berdiri di sana, bingung. Ada yang salah. Dia bisa merasakan itu. Tapi dia tidak tahu apa.
***
Jam 4 sore, semua relawan berkumpul di depan rumah Pak Mahmud untuk foto bersama. Pak Mahmud berdiri di tengah dengan senyum lebar, dikelilingi relawan yang lelah tapi bahagia.
"Satu, dua, tiga... CHEESE!"
Foto diambil. Tapi Alek tidak tersenyum. Dia sibuk mencari Khansa di kerumunan. Dan saat menemukannya, dia notice Khansa berdiri paling pojok, jauh dari dia. Seperti... sengaja menghindari.
Saat semua mau naik bus untuk pulang, Alek coba hampiri Khansa lagi. Tapi Khansa langsung naik bus santriwati dengan cepat, tidak memberi Alek kesempatan untuk bicara.
"Riki," panggil Alek sambil menatap bus santriwati yang pintunya sudah tertutup.
"Ya?"
"Khansa... kayak ngehindarin gue. Lo notice nggak?"
Riki menatap bus santriwati, lalu mengangkat bahu. "Mungkin dia cuma capek, Lex. Kita kerja dari pagi. Wajar kalau dia capek."
"Tapi... rasanya beda, Rik. Ada yang salah."
"Lo overthinking. Santai aja."
Tapi Alek tidak bisa santai. Di dadanya ada perasaan tidak enak yang terus menggerogoti.
***
Malam itu, Alek berbaring di kasurnya dengan gelisah. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar ke satu hal: Khansa.
"Kenapa dia tiba-tiba jaga jarak? Apa gue salah ngomong? Apa gue bikin dia nggak nyaman?"
Dia mengulang-ulang kejadian hari ini. Saat ngambil nasi bungkus, dia cuma bilang "terima kasih". Tidak ada yang salah. Saat tanya kabarnya, dia juga sopan. Tidak ada yang salah.
"Terus kenapa?"
Dia memutar tubuh, menatap kalender di dinding. "Mungkin besok gue coba chat dia?" Tapi dia baru sadar—dia tidak punya nomor Khansa. Mereka tidak pernah tukar kontak.
"Shit."
Di tempat lain, di kamar asrama Pesantren Al-Hikmah, Khansa duduk di sajadah setelah shalat Isya. Air matanya mengalir diam-diam.
"Ya Allah," bisiknya dengan suara bergetar. "Hamba tidak mengerti. Kenapa mereka mengancam hamba? Hamba tidak pernah berbuat apa-apa."
Dia teringat wajah Kevin dan Bagas—wajah penuh kebencian dan ancaman.
"Jauhi Alek. Atau lo yang bakal kena."
Khansa menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis dalam diam. Dia takut. Sangat takut. Tapi dia tidak bisa cerita ke siapa-siapa. Kalau dia cerita, pasti akan jadi masalah besar. Mungkin pesantren akan melarang dia ikut kegiatan sosial lagi. Mungkin ustadzah akan marah.
"Ya Allah," doanya dengan air mata, "lindungi hamba. Dan lindungi Mas Alexander juga. Hamba tidak tahu harus berbuat apa. Berilah hamba petunjuk."
Dia sujud panjang, menangis dalam sujudnya. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak bertemu Alek, Khansa merasakan ketakutan yang nyata.
Dan Alek, yang berbaring di kasurnya dengan gelisah, tidak tahu bahwa orang yang dia sayangi sedang menangis karena ancaman. Ancaman yang datang dari orang-orang yang dulu dia anggap teman.
Ancaman yang bersembunyi di balik bayangan.
***
**Bersambung ke Bab 14...**
*"Kadang, ancaman paling berbahaya bukan yang terlihat. Tapi yang bersembunyi dalam kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang."*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg