Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: SUARA DARI KEDALAMAN
Pagi di Oetimu tidak lagi diawali dengan kicauan burung perkutut, melainkan oleh dering ponsel yang tak henti-henti dan deru mesin jip wartawan yang mulai memasuki desa. Keberhasilan Jonatan mengalirkan air dari Gua Nekmese—meskipun sumur utamanya masih terbelit garis kuning Satpol PP—telah menjadi api yang menjalar cepat hingga ke meja redaksi media nasional di Jakarta dan Surabaya.
Di teras rumahnya, Jonatan duduk berhadapan dengan seorang jurnalis senior dari televisi nasional, Dewi, yang datang jauh-jauh karena tertarik pada isu "Kriminalisasi Inovasi Desa". Di sampingnya, Sarah duduk dengan tumpukan dokumen hukum yang siap menjadi perisai.
"Jonatan, banyak yang menyebut Anda pahlawan, tapi pemerintah daerah menyebut Anda perusak ekosistem. Mana yang benar?" tanya Dewi, mikrofonnya tertuju tepat di depan wajah Jonatan yang masih tampak pucat karena kelelahan.
Jonatan menarik napas panjang, matanya menatap kearah bukit yang masih tersegel. "Saya bukan pahlawan. Saya hanya orang yang tidak mau melihat ibu saya meminum air berlumpur sementara di bawah kaki kami mengalir sungai yang melimpah. Kalau merawat nyawa warga dianggap merusak ekosistem, maka saya ingin tanya: ekosistem mana yang mereka lindungi? Ekosistem alam, atau ekosistem bisnis PT Tirta Abadi?"
Sarah segera menyambung, menyodorkan hasil uji laboratorium independen. "Kami punya bukti bahwa kadar mineral air dari gua ini jauh lebih baik daripada standar air minum nasional. Dan yang terpenting, pengambilan air ini menggunakan sistem tekanan alami, tanpa bor dalam yang merusak struktur karst. Tuduhan 'kerusakan lingkungan' itu adalah narasi yang dipesan."
Wawancara itu disiarkan secara langsung. Di Jakarta, para aktivis lingkungan mulai membagikan potongan video tersebut. Tagar #KeadilanUntukOetimu mulai memanjat tangga trending topic. Namun, Jonatan tahu bahwa semakin keras suaranya di udara, semakin besar hantaman yang akan ia terima di darat.
Di saat yang sama, di ujung desa, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumah Tuan Markus. Pak Haris turun dengan wajah yang sangat gelap. Ia tidak menyangka mahasiswa ingusan ini memiliki akses ke media nasional.
"Kau bilang kau bisa mengendalikan massa, Markus!" bentak Pak Haris di dalam ruang tamu yang pengap itu. "Sekarang isu ini sudah sampai ke telinga kementerian di Jakarta. Kalau proyek ini batal karena tekanan publik, investasi kami di NTT akan hancur, dan kau akan kehilangan semua komisi yang sudah kuberikan."
Tuan Markus mengepalkan tinjunya hingga gemetar. "Dia menggunakan gua keramat. Warga takut pada hantu, tapi mereka lebih takut pada haus. Beri aku waktu satu hari. Jika media tidak bisa dihentikan, aku akan menghentikan sumber suaranya."
Malam itu, setelah para wartawan kembali ke hotel di kota kabupaten, kesunyian yang mencekam menyergap Oetimu. Jonatan sedang memeriksa pipa darurat di mulut gua bersama Matheus ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah rumahnya.
"Bapa! Mama!"
Jonatan berlari menuruni bukit, jantungnya serasa mau copot. Sesampainya di halaman rumah, ia melihat pemandangan yang menyayat hati. Rumah bambunya berantakan. Kaca jendela pecah. Di tengah halaman, Pak Berto terduduk dengan kening yang berdarah, sementara Bu Maria menangis histeris sambil memeluk kaki suaminya.
Dua orang pria berbadan tegap yang mengenakan penutup wajah baru saja melompat ke atas motor dan memacu kendaraan mereka menghilang ke kegelapan hutan.
"Bapa! Apa yang terjadi?" Jonatan memeluk ayahnya yang sudah renta itu.
"Mereka datang... mereka bilang kalau kau terus bicara di televisi, rumah ini akan dibakar bersama kita di dalamnya," bisik Pak Berto dengan suara yang serak dan penuh ketakutan.
Sarah, yang berlari dari arah balai desa, langsung memanggil ambulans yayasan. Ia menatap Jonatan dengan kemarahan yang meluap. "Ini sudah melampaui batas, Jon. Ini teror fisik."
Jonatan berdiri perlahan. Darah ayahnya menempel di kemeja tenunnya. Matanya yang biasanya penuh dengan perhitungan teknis, kini berubah menjadi sangat dingin—sedalam dan sedingin air di dalam Gua Nekmese.
"Matheus," panggil Jonatan, suaranya sangat rendah namun mengerikan.
"Iya, Jon?"
"Jangan lapor polisi dulu. Mereka semua di bawah kendali Markus. Kumpulkan pemuda koperasi. Tapi jangan bawa parang. Bawa semua lampu sorot cadangan dan kabel-kabel panjang."
"Untuk apa, Jon?"
"Kita akan buat panggung yang tidak bisa mereka matikan."
Malam itu, Jonatan tidak tidur. Dengan bantuan para pemuda desa yang marah melihat Pak Berto dilukai, mereka memasang lampu-lampu sorot berkekuatan tinggi di sepanjang jalur pipa menuju Gua Nekmese. Jonatan menghubungkan sistem audionya—pengeras suara yang biasa digunakan untuk pengumuman desa—langsung ke mulut gua.
Keesokan paginya, saat Tuan Markus dan beberapa orang bayarannya datang membawa buldoser sewaan dengan dalih "perataan lahan untuk kepentingan umum", mereka disambut oleh pemandangan yang luar biasa.
Ribuan warga dari desa-desa tetangga sudah berkumpul, membentuk barikade manusia yang panjangnya hampir satu kilometer. Di puncaknya, Jonatan berdiri di atas sebuah batu besar dengan mikrofon di tangan. Suaranya menggelegar lewat pengeras suara yang bergema di seluruh lembah, diperkuat oleh akustik alami gua.
"Tuan Markus! Pak Haris!" suara Jonatan membelah udara pagi. "Kalian bisa memukul ayah saya! Kalian bisa memecah jendela rumah saya! Tapi kalian tidak bisa mematikan suara air ini!"
Jonatan kemudian menyalakan transmisi langsung dari ponselnya ke layar besar yang dipasang darurat dari kain putih. Layar itu menampilkan apa yang ada di dalam gua: air yang jernih, mengalir deras, dan sebuah plakat yang baru saja dipasang semalam oleh tokoh adat.
"Mulai detik ini, Gua Nekmese secara adat dinyatakan sebagai Tanah Larangan yang tidak boleh disentuh oleh korporasi mana pun! Siapa pun yang berani menggerakkan buldoser ini satu inci saja, kalian tidak hanya berurusan dengan hukum negara, tapi kalian menantang seluruh rakyat Timor!"
Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan, muncul beberapa mobil dengan plat nomor kepolisian dari Kepolisian Daerah (Polda) NTT—bukan lagi polisi kecamatan. Sarah telah berhasil menghubungi koneksi Pak Johan di tingkat provinsi untuk memberikan pengawalan khusus terhadap saksi dan korban kekerasan.
Tuan Markus mencoba bersembunyi di balik buldosernya, namun wartawan nasional yang masih ada di sana langsung menyorotkan kamera ke arahnya. Wajahnya yang ketakutan kini terpampang di layar televisi seluruh Indonesia.
"Tuan Markus," Dewi, jurnalis itu, mendekat dengan kamera menyala. "Benarkah Anda dalang di balik penyerangan ayah Jonatan semalam?"
Tuan Markus tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunduk saat petugas dari Polda mendekat untuk memintai keterangan terkait laporan penganiayaan. Sementara itu, Pak Haris dari Tirta Abadi sudah lebih dulu memutar mobilnya, melarikan diri dari skandal yang mulai menghancurkan reputasi perusahaannya.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Jonatan turun dari batu. Ia mendekati Pak Berto yang duduk di kursi roda dengan perban di kepala. Ia berlutut di depan ayahnya.
"Maafkan Jon, Bapa. Gara-gara Jon, Bapa jadi korban," bisik Jonatan.
Pak Berto mengusap kepala anaknya. "Jangan minta maaf, Jon. Luka ini tidak ada artinya dibanding rasa haus yang hilang dari desa ini. Teruslah bicara. Biar dunia tahu kalau air Oetimu tidak bisa dibeli."
Bab 33 ditutup dengan pemandangan warga yang secara sukarela mulai membangun pagar permanen dari batu alam di sekitar mulut gua. Mereka tidak lagi butuh segel pemerintah untuk merasa aman; mereka telah menemukan kedaulatan mereka sendiri. Jonatan menatap ke arah matahari yang mulai tinggi, menyadari bahwa meskipun satu serigala telah ditangkap, hutan birokrasi masih sangat luas dan gelap.
"Ini baru permulaan, Sar," ujar Jonatan sambil melihat mobil PT Tirta Abadi yang menghilang di kejauhan. "Mereka akan kembali dengan cara yang lebih halus. Dan kita harus siap dengan sesuatu yang lebih kuat dari sekadar pipa."
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian