NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Orang yang Tahu Semuanya

Hari itu biasa aja.

Café rame.

Arsha lagi cerita ke Arka soal nilai matematikanya naik.

Arven pura-pura nggak denger tapi jelas denger.

Arkana lagi bongkar mesin kasir yang sempat error.

Aruna lagi di dapur waktu bel pintu berbunyi.

“Selamat datang—”

Kalimat Arsha berhenti di tengah.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.

Rambutnya lebih panjang sekarang.

Gayanya lebih rapi.

Tapi senyumnya sama.

“Kayaknya aku salah tempat. Ini rumah janda galak nggak sih?”

Aruna menjatuhkan spatulanya.

“Maya?”

Perempuan itu buka kacamata hitamnya.

“Kangen nggak?”

Aruna nggak jawab.

Dia langsung lari dan peluk sahabatnya itu kenceng banget.

Lima tahun jarak.

Lima tahun cerita cuma lewat layar.

Dan sekarang orangnya ada di depan.

“Lo nggak bilang mau datang!” Aruna hampir marah.

“Kalau bilang nanti lo bersih-bersih lebay,” jawab Maya santai.

Anak-anak berdiri bengong.

“Tante Maya?” Arsha yang pertama sadar.

Maya langsung buka tangan.

“Mana sini peluk Tante!”

Tiga-tiganya nyamperin.

Arven masih jaga wibawa tapi tetap peluk.

Arkana senyum tipis.

Arsha paling lama nggak lepas.

Maya menatap mereka satu-satu.

“Ya ampun… makin gede. Makin mirip…”

Kalimatnya berhenti.

Karena dia lihat siapa yang berdiri dekat rak roti.

Arka.

Sunyi mendadak turun.

Tatapan Maya berubah.

Bukan marah.

Bukan juga ramah.

Tajam.

“Oh,” katanya pelan.

“Jadi ini orangnya.”

Arka berdiri tegak.

“Iya.”

Aruna tegang.

Anak-anak otomatis merapat ke ibunya.

Maya melangkah mendekat.

“Nggak nyangka kamu akhirnya punya keberanian muncul.”

Nada suaranya santai, tapi isinya nggak ringan.

“Aku telat,” jawab Arka.

“Telat itu kalau ketinggalan pesawat,” balas Maya cepat.

“Kalau lima tahun, itu keputusan.”

Aruna langsung, “May—”

“Nggak, Run. Biar gue ngomong.”

Maya menatap Arka lurus.

“Waktu dia kontraksi, kamu nggak ada.”

Arka diam.

“Waktu dokter bilang risiko tinggi, kamu nggak ada.”

Arka mengepalkan tangan pelan.

“Waktu dia pendarahan dan hampir—”

Maya berhenti sebentar.

“…kamu nggak ada.”

Café jadi sunyi total.

Arsha menatap Aruna, kaget.

“Ma…?”

Aruna menggeleng pelan.

“Nggak sekarang.”

Arka akhirnya bicara.

“Aku nggak tahu.”

Maya langsung potong,

“Karena kamu nggak cari cukup keras.”

Itu pukulan telak.

Arka nggak balas.

Dia cuma berdiri, nerima.

Beberapa detik hening.

Lalu Arsha pelan ngomong,

“Tante…”

Maya menoleh.

“Kita lagi coba pelan-pelan.”

Maya lihat ke Arsha.

Lalu ke Arven.

Lalu ke Arkana.

“Siapa yang mulai luluh duluan?” tanyanya curiga.

Arsha langsung angkat tangan kecil.

“Sedikit.”

Arven mendengus.

Arkana cuma bilang,

“Belum percaya.”

Maya menatap Arka lagi.

“Kamu ngerti nggak? Mereka tumbuh tanpa kamu. Mereka kuat karena terpaksa.”

“Aku ngerti,” jawab Arka pelan.

“Kalau kamu datang cuma buat numpang rasa bersalah, mending pergi sekarang.”

Arka menatap tiga anak itu.

“Aku datang karena aku mau jadi bagian dari hidup mereka. Walau ditolak.”

Maya menyipitkan mata.

“Ditolak pun tetap?”

“Iya.”

“Diusir?”

“Iya.”

“Dibenci?”

Arka terdiam sebentar.

Kalimatnya pelan waktu keluar.

“Iya.”

Sunyi.

Maya memperhatikan dia lama banget.

Dia tipe orang yang bisa baca orang cuma dari cara berdiri.

Akhirnya dia menghela napas.

“Gue nggak gampang percaya.”

“Wajar.”

“Tapi kalau lo bikin Aruna hancur lagi, gue sendiri yang bakal pastiin lo nyesel.”

Arka mengangguk.

“Deal.”

Arven mendekat sedikit ke Maya.

“Tante, kamu di sini lama?”

“Seminggu.”

Arsha langsung senyum lebar.

“Serius?”

“Iya. Dan selama seminggu itu, Tante bakal lihat sendiri apakah Om ini layak atau nggak.”

Arka nggak protes.

Arkana mendekat ke Maya dan bisik pelan,

“Kita tes.”

Maya senyum miring.

“Gue suka gaya lo.”

Aruna berdiri di tengah mereka semua.

Lelah. Tegang. Tapi juga… sedikit lega.

Karena sekarang bukan cuma dia yang berdiri di garis depan.

Ada Maya.

Dan kalau Arka mau masuk ke hidup mereka—

Dia nggak cuma harus meluluhkan tiga anak.

Tapi juga satu sahabat yang tahu seluruh luka malam itu.

Dan Maya nggak akan segampang itu membuka pintu.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!