Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kamu Bilang?
Tiga hari berlalu tanpa satu pun pesan atau telepon dari Narendra, ponsel Kanaya yang biasanya bergetar karena notifikasi singkat dari pria itu, kini terasa seperti benda mati yang membisu seperti sebelum bertemu Narendra.
Awalnya, Kanaya merasa lega karena tidak ada lagi bisik-bisik tetangga dan tidak ada lagi beban mental. Namun, rasa lega itu perlahan berubah menjadi kekosongan yang menyesakkan, Kanaya duduk di kursi ruang guru dan menatap layar ponselnya yang gelap.
'Baguslah kalau dia menjauh, itu kan yang aku mau? Dia pasti sudah sadar kalau mendekati guru honorer kayak aku itu membuang-buang waktu. Mungkin dia sudah menemukan wanita lain yang lebih setara dan sebanding dengan dia lagipula kan dia deketin aku biar dia punya teman aja, bukan deketin mau dijadikan pasangan. Dasar Kanaya, jangan terlaku berharap kamu,' batin Kanaya.
Kanaya menarik napas panjang dan mencoba mengusir sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya, ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan kasar seolah-olah dengan menyembunyikan ponsel itu, ia juga bisa menyembunyikan perasaannya yang berantakan.
Sore harinya, saat jam pulang sekolah, langit mendung menggelayut rendah di atas kota. Kanaya berjalan menuju halte angkot dengan bahu yang tampak sedikit layu, ia sengaja mampir ke sebuah pasar kaget di pinggir jalan dan membeli beberapa ikat sayur dan telur untuk stok makannya karena ia harus kembali ke realita, di mana setiap butir nasi sangat berharga dan mimpi tentang pria seperti Narendra adalah sebuah kemewahan yang tidak mampu ia cicil.
"Nggak apa-apa, Kanaya. Hidupmu memang begini sebelum ada dia dan kamu baik-baik saja," gumam Kanaya pada diri sendiri dan mencoba membangun benteng pertahanan di hatinya.
Begitu sampai di gang kosnya, Kanaya berjalan dengan kepala tegak. Tidak ada mobil mewah yang parkir, tidak ada kerumunan ibu-ibu yang berbisik. Segalanya kembali normal, namun entah kenapa kenormalan ini terasa begitu hambar.
Kanaya masuk ke kamar, meletakkan belanjaannya dan langsung merebahkan diri di kasur tanpa sempat menyalakan lampu. Di kegelapan itu, pikirannya kembali melayang pada Narendra.
"Tapi kenapa tiga hari ini dia gak ada kabar sama sekali? Apa aku waktu itu terlalu kasar? Atau... dia benar-benar sudah bosan?" tanya Kanaya.
Saat tengah sibuk dengan segala pemikirannya, sebuah panggilan dari luar mengejutkan Kanaya. "Kanaya!" panggil Shinta.
Kanaya pun keluar dari kamar kosnya, "Iya, Mbak?" tanya Kanaya.
"Pinjam sepedamu dong, sepedaku tiba-tiba mogok," ucap Shinta.
"Sepedaku juga gak bisa Mbak, aku tadi ke sekolah aja jalan kaki," ucap Kanaya.
"Masa gak bisa sih," ucap Shinta yang tidak percaya pada ucapan Kanaya.
"Iya, Mbak. Emang gak bisa, Mbak Shinta tahu sendiri sepedaku itu keluaran lama, kalau sepeda Mbak Shinta kan baru," ucap Kanaya.
"Mentang-mentang udah dapat orang jaya, jadi gak level ya pakai sepeda," sindir Mbak Shinta lalu pergi meninggalkan Kanaya.
"Huh, mau minjem aja masih bisa nyindir orang," ucap Kanaya yang sengaja mengeraskan suaranya agar Shinta mendengarnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Shinta yang tidak terima dengan perkataan Kanaya.
"Mbak Shinta merasa ya, yasudah kalau begitu," ucap Kanaya.
"Heh! Sini kamu. Kamu tadi bilang apa!" bentak Shinta.
"Aku bilang, Mbak Shinta mau minjem. Tapi, masih bisa nyindir orang. Gini ya Mbak, etika orang mau minjem itu hatus sopan dan baik," ucap Kanaya.
"Terserahku dong mau nyindir atau gak, Mentang-mentang udah jadi ani-ani sukses ya, sekarang belagu!" bentak Shinta.
Ucapan Shinta begitu keras hingga penghuni kos lainnya ikut keluar bahkan beberapa warga sekitar pun ikut melihat pertengkaran itu.
Kanaya menyeringai dan menatap tajam Shinta, "Kalau aku ani-ani, terus Mbak Shinta apa? J*l*ng?" tanya Kanaya.
Wajah Shinta seketika merah padam mendengar ucapan Kanaya, ia tidak menyangka gadis yang biasanya pendiam dan hanya menunduk itu bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu tajam.
Suasana gang yang tadinya sepi mendadak riuh oleh beberapa ibu-ibu termasuk Bu Ratna, mereka mulai mendekat dengan wajah penuh semangat seolah baru saja mendapatkan tontonan gratis.
"Apa kamu bilang? Berani ya kamu!" teriak Shinta sambil melangkah maju dan tangannya sudah terangkat hendak menjambak rambut Kanaya.
Namun, Kanaya tidak mundur sedikit pun, ia menangkap pergelangan tangan Shinta di udara dengan kuat. Amarah yang selama tiga hari ini ia pendam, amarah pada dirinya sendiri, pada Narendra dan pada keadaan, kini ia tumpahkan seluruhnya pada Shinta.
"Kenapa? Mbak Shinta tersinggung?" tanya Kanaya dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.
"Mbak yang mulai duluan ya, Mbak Shinta yang terus-terusan menghina pekerjaanku, menghina harga diriku dan menuduhku yang tidak-tidak hanya karena aku berteman dengan orang kaya," ucap Kanaya.
"Memang benar kan! Mana ada guru jujur yang bisa diantar mobil mewah dan dapat pria kaya, ya pasti kamu jualan diri" balas Shinta meronta dan mencoba melepaskan tangannya.
"Kalau aku jualan, aku nggak akan tinggal di kamar pengap ini dan makan telur setiap hari, Mbak! Aku bekerja dari pagi sampai sore, mendidik anak orang dengan gaji yang bahkan mungkin cuma cukup buat Mbak Shinta beli lipstik. Tapi setidaknya, uangku halal! Aku nggak pernah iri sama hidup orang lain sampai harus memfitnah sesadis kamu!" bentak Kanaya hingga suaranya menggema di lorong kosan.
Kanaya menghempaskan tangan Shinta dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang, Shinta merasa sangat dipermalukan di depan para tetangga dan matanya berkilat penuh kebencian. Tanpa peringatan, ia merangsek maju dan melayangkan tangan kanannya dengan tenaga penuh.
Suara tamparan terdengar begitu nyaring di lorong kosan yang sempit, kepala Kanaya terlempar ke samping, rasa panas dan denyut nyeri seketika menjalar di pipinya. Kanaya terhuyung, tangannya refleks memegang pinggiran pintu kamarnya agar tidak terjatuh, ia merasakan sesuatu yang amis dan hangat mengalir di sudut bibirnya yakni d*r*h.
"Itu pelajaran buat mulut sampah kamu!" teriak Shinta dengan napasnya memburu.
"Berani-beraninya kamu ngatain aku j*l*ng di depan orang-orang," bisik Shinta.
Ibu-ibu yang menonton bukannya melerai, mereka justru saling berbisik heboh. Bu Ratna bahkan menutup mulutnya dengan tangan, tapi matanya memancarkan binar rasa ingin tahu yang besar.
Kanaya perlahan menegakkan kepalanya, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah. Kanaya menyeka d*r*h di sudut bibirnya dengan punggung tangan lalu menatap Shinta dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang belum pernah dilihat siapa pun dari sosok Kanaya yang lembut.
"Cuma segitu kemampuan Mbak Shinta? Silakan tampar lagi kalau itu bisa bikin Mbak merasa lebih terhormat dari seorang ani-ani," ucap Kanaya.
"Kamu...," Shinta kembali mengangkat tangannya dan benar-benar gelap mata.
.
.
.
Bersambung.....