Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Asap hitam beracun itu tidak membawa dampak apa pun bagi manusia. Ilmu Ki Baraya itu bersumber dari jagat gaib; kekuatannya hanya memengaruhi makhluk yang berasal dari alam serupa. Apa yang lahir dari jagat halus tak akan melukai tubuh wadag manusia.
Nyi Lestari tersenyum lega ketika melihat suaminya datang menolong. Namun wajahnya telah pucat pasi, napasnya tersengal oleh kelelahan dan ketakutan.
“Kakang… selamatkan anak-anak kita…” ucapnya lemah sebelum kesadarannya runtuh.
“Nyai…!” teriak Ki Baraya cemas.
Dengan gerakan cepat, ia berkelebat memapah istrinya menjauh dari pusaran pertempuran, berlindung di balik batang pohon besar. Di sana ia menekan luka-luka kecil di kaki Nyi Lestari, menyalurkan sedikit tenaga dalam untuk menahan racun gigitan agar tak menyebar. Setelah memastikan napas istrinya stabil, ia kembali ke halaman.
Saat pandangannya tertuju pada Jatisangkar, hatinya terselip rasa bangga. Anak itu, yang selama ini ia latih setengah-setengah, kini berdiri menghadapi makhluk gaib tanpa gentar.
“Bajingan! Sini kau! Akan kuhabisi kalian!” teriak Jatisangkar lantang.
Begitu beberapa tuyul menerjang—
“Werrrrrrr!”
Badai debu bercampur bara menyapu wajah mereka. Mata para tuyul perih, kulit mereka seperti tersundut jarum panas.
“Arghhhh!” jerit mereka kesakitan.
“Hahaha! Mampus! Gara-gara kalian kamarku hancur! Aku sudah sembunyi di dalam, malah kalian kejar! Kampret kalian! Rasakan! Heya—!”
“Werrrrrrr!”
Ki Baraya sempat tersenyum. Namun senyum itu memudar tipis.
“Ternyata sempat kecut juga anak itu… tapi saat terdesak, keberaniannya muncul,” gumamnya dalam hati.
Sekilas Jatisangkar—atau Jatibumi, sebagaimana ibunya sering memanggilnya—melihat ayahnya berdiri berkacak pinggang memperhatikan.
“Lihat, Yah! Aku sudah bisa mengumpulkan abu jadi senjata! Hebat, kan?” serunya bangga.
Namun kesombongan kecil itu menjadi celah.
Sebuah tuyul melompat dan menempel di kepalanya, lalu menggigit keras di jidatnya.
“Aaaaa! Sakit! Ayaah, toloooong!”
Dalam sekejap, Ki Baraya melesat. Tangannya mencengkeram leher makhluk itu kuat-kuat hingga terlepas dari kepala anaknya. Tanpa banyak gerak, ia melemparkan tuyul malang itu ke tembok. Tubuh kecil itu membentur keras lalu terkulai.
“Hati-hati, Anakku,” ujar Ki Baraya tegas namun tenang. “Jangan terlampau bangga. Kebanggaan membuatmu lengah.”
Ia menunjuk ke arah pohon tempat Nyi Lestari terbaring.
“Sekarang jaga ibumu di balik pohon itu. Hajar saja bila ada tuyul yang mendekat. Biar aku yang menghadapi makhluk-makhluk sialan ini.”
“Baik, Yah!” jawab Jatisangkar, menahan perih di dahinya.
Ki Baraya kemudian melangkah ke tengah halaman. Tatapannya menyapu sisa-sisa pasukan tuyul yang masih berkerumun di atap dan pagar.
Kini bukan lagi seorang ayah yang cemas.
Yang berdiri di sana adalah pendekar dari jagat gaib.
Dan malam itu… para tuyul akan belajar arti murka seorang Ki Baraya.
Ki Baraya segera beralih ke arah Laras. Gadis itu mulai kewalahan. Meski kabut dingin yang ia ciptakan membuat para tuyul menggigil dan kehilangan arah, jumlah mereka terlalu banyak. Mereka menyerang tanpa henti, seperti gelombang kecil yang tak pernah surut.
Ki Baraya pun melesat cepat ke arahnya.
Namun baru beberapa langkah ia bergerak, tiba-tiba dari arah kiri ia merasakan hawa serangan yang sama cepatnya—bahkan lebih terarah. Bukan dari tuyul.
Sebuah kaki meluncur lurus dari atas pohon.
“Wusss… bugg!”
Tendangan keras itu mengarah tepat ke pelipisnya. Namun Ki Baraya sigap. Ia memutar tubuhnya, mengangkat kaki, dan menangkis serangan itu dengan tendangan balasan. Kaki bertemu kaki di udara, menimbulkan dentuman berat.
Penyerang itu tidak berhenti.
Begitu tendangannya tertahan, ia langsung mendarat dan melancarkan rentetan pukulan cepat. Tinju-tinjunya melesat seperti anak panah, membelah udara malam.
Ki Baraya menghindar ke kiri dan kanan. Dua pukulan lolos dari sasarannya. Namun satu tak sempat dielakkan.
“Bugg!”
Tinju beradu tinju.
Benturan tenaga dalam memercikkan gelombang hawa yang membuat dedaunan di sekitar mereka bergetar. Keduanya terpental beberapa langkah, meninggalkan jejak kaki dalam di tanah.
Lelaki itu tertawa panjang.
“Hahaha! Jadi kaulah yang menyusup ke perkemahan itu. Aku akui, ilmumu tak biasa. Tapi jangan kira kau satu-satunya yang sakti.” Matanya menyala di bawah cahaya remang. “Akulah Jarwo. Pengendali para tuyul ini. Dan malam ini, kau akan kuhabisi.”
Ki Baraya menyipitkan mata.
“Dari mana kau tahu itu perbuatanku?” tanyanya tajam.
Jarwo menyeringai.
“Kau pikir hanya kau yang memiliki pelacak ilmu gaib? Ilmu penyalin wajah yang kau gunakan pada Larso meninggalkan jejak. Aku bisa melacaknya. Kami memang sempat lengah.” Ia mendengus. “Andai saja kemarin aku berada di kelompok itu, mungkin tubuhmu sudah menjadi debu sebelum sempat kembali ke desa.”
Ki Baraya kini benar-benar waspada.
Orang di hadapannya bukan sekadar pengendali makhluk kecil. Ia juga menguasai ilmu dari jagat gaib—dan cukup tajam untuk membaca jejak siasatnya.
Angin malam berembus lebih dingin.
Pertarungan barusan hanyalah pembuka.
Yang sesungguhnya… baru saja dimulai
Siapa kalian sebenarnya?” tanya Ki Baraya dengan nada mengejek namun tajam. “Aku tahu kalian bukan pasukan dari Cirebon. Apakah kalian gerombolan yang hendak bergabung dengan ribuan perampok di Pamijahan itu? Dipimpin Panembahan Jaya Mulya yang sepertinya dedengkot rampok pula?”
Jarwo menyipitkan mata. Urat di pelipisnya menegang.
“Lancang sekali mulutmu, Kisanak. Ternyata kau sudah tahu cukup banyak.” Ia terkekeh pendek. “Tapi tak apa. Toh malam ini mungkin jadi malam terakhirmu. Tak ada ruginya kubuka sedikit tabirnya.”
Ia melangkah maju satu tapak. Hawa di sekelilingnya terasa lebih berat.
“Kami memang akan menyerang Pajajaran yang telah membusuk itu. Ketidakadilan terhadap rakyat kecil, pajak yang mencekik, tanah-tanah dirampas atas nama istana—semua itu membuat kami bangkit. Kami berkumpul bukan sekadar untuk merampok, tapi untuk mengguncang Pakuan hingga ke akarnya.”
Ia menatap Ki Baraya lurus-lurus.
“Jangan kau samakan kami dengan gerombolan bandit. Kami adalah rakyat yang tertindas. Prabu Surya Kencana telah lama menyengsarakan Pasundan. Sudah waktunya istana itu digulingkan.”
Jarwo mengangkat dagunya.
“Bergabunglah dengan kami, Kisanak. Ilmumu besar. Tenagamu akan berguna dalam perjuangan ini.”
Ki Baraya tersenyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyimpan sindiran.
“Rakyat kecil? Perjuangan suci?” ujarnya pelan. “Lalu mengapa kalian kotori dengan menyengsarakan rakyat pula? Penyebaran tuyul di desa-desa, menebar teror, merampok lumbung, membuat anak-anak kelaparan… itu yang kau sebut perjuangan?”
Tatapannya mengeras.
“Perjuangan yang benar tak lahir dari menindas yang lemah. Jika kau benar membela rakyat, mengapa rumahku dan desa ini kau jadikan sasaran?”
Jarwo tertawa rendah.
“Itu pengorbanan kecil untuk tujuan besar. Revolusi tak pernah lahir tanpa korban.”
“Tidak,” potong Ki Baraya tegas. “Itu bukan revolusi. Itu keserakahan yang dibungkus kata-kata indah.”
Angin berdesir, membawa aroma tanah dan bara yang belum padam. Para tuyul yang tersisa berkerumun di belakang Jarwo, menunggu perintah.
Ki Baraya mengambil kuda-kuda.
“Jika benar kau ingin menjatuhkan istana, hadapi istana. Jangan sembunyi di balik makhluk-makhluk kecil dan menyerang desa tak bersalah.”
Jarwo menyeringai.
“Baiklah. Kalau begitu, kau akan jadi contoh pertama dari desa ini.”
Hawa gaib mulai bergetar di antara mereka.