17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minggu yang Terlalu Silau
Putih.
Silau.
Lian menyipitkan mata. Cahaya matahari pagi menghajar retina matanya tanpa ampun.
"Akh..."
Dia mengerang, mengangkat tangan untuk menghalangi cahaya.
Tunggu. Tangan?
Lian sontak membuka matanya lebar-lebar. Dia langsung menatap kedua telapak tangannya.
Mulus.
Bersih.
Tidak ada bekas luka bakar akibat menahan roda mesin reel-to-reel yang panas. Tidak ada sayatan kaca akibat meninju panel mesin induk. Kulitnya utuh seolah bayi yang baru lahir.
Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena panik. Karena... bingung.
Lian bangun dari kasur. Spreinya wangi lavender segar. Selimutnya rapi. Kamarnya tidak berantakan. Tidak ada nuansa suram abu-abu yang biasa menyambutnya setiap pagi.
Semuanya Technicolor. Dinding kamarnya berwarna biru muda cerah. Poster Nirvana di dinding berwarna kuning menyala.
Lian menoleh cepat ke meja samping kasur.
Jam beker robotnya menunjukkan pukul 08:00 WIB.
Dan di sebelahnya, ada kalender duduk.
Angka 17 dicoret merah.
Angka di sebelahnya dilingkari spidol biru.
MINGGU, 18 AGUSTUS 1996.
"Delapan belas..." Lian tercekat. Tenggorokannya kering.
Dia menyentuh kertas kalender itu, memastikan teksturnya nyata.
"Tanggal delapan belas."
Kakinya lemas saking leganya. Dia merosot duduk di tepi ranjang.
Berhasil.
Mereka berhasil.
Dia dan Kara... mereka benar-benar keluar dari Loop itu. Mereka memecahkan piringan hitam yang macet.
"Ra, kita berhasil..." bisik Lian pada udara kosong, senyum lebar perlahan merekah di wajahnya yang masih tampak tidak percaya.
Lian melompat berdiri. Energi yang selama ini disedot oleh depresinya seolah kembali terisi penuh.
Dia berlari ke jendela, menyibakkan gorden dengan semangat.
Pemandangan di luar sana indah.
Langit biru bersih tanpa polusi. Tetangga sedang mencuci mobil Kijang hijau. Anak-anak kecil bermain sepeda di jalan komplek. Bunga bougenville bermekaran merah muda di pagar rumahnya.
"Gila," gumam Lian sambil tertawa kecil. "Warnanya nggak ilang."
Dulu, warna-warna ini hanya ada kalau Kara ada di dekatnya. Tapi sekarang? Semuanya berwarna. Dunia sudah sembuh. Atau... dianya yang sembuh?
"Mas Lian! Sudah bangun?"
Teriakan ibunya dari lantai bawah terdengar riang. Bukan teriakan rutin "Ayo sarapan" yang monoton, tapi ada nada nyanyian di sana.
"Sudah, Bu!" teriak Lian balik. Rasanya aneh bisa berteriak tanpa beban.
Lian berbalik untuk keluar kamar, tapi langkahnya terhenti di meja belajar.
Benda itu tidak ada.
Walkman perak itu.
Lian mengubek-ubek kolong bantal. Laci meja. Saku celana kotor bekas kemarin (yang ternyata sudah dicuci bersih dan dilipat rapi di kursi).
Hilang.
Walkman keramat itu hilang.
"Mungkin Kara yang pegang," pikir Lian, mencoba positif. "Terakhir kali kan emang Kara yang masukin ke branya pas lari dari monster kabel itu."
Lian memutuskan untuk tidak panik. Toh, tanggal sudah berubah. Mungkin "Jimat" itu sudah tidak diperlukan lagi.
Sekarang prioritas utamanya cuma satu: Menemui Kara. Memeluk gadis itu. Dan merayakan hari pertama sisa hidup mereka.
...----------------...
Ruang Makan.
Lian menuruni tangga dengan langkah ringan.
Pemandangan di ruang makan seperti iklan margarin keluarga bahagia.
Ayahnya tidak lagi bersembunyi di balik koran sambil merokok. Beliau sedang memotong pepaya, tertawa menanggapi candaan ibu.
Dinda, adiknya, tidak merengut main Gameboy. Dia sedang membantu menata piring.
"Wah, Pahlawan Sekolah kita bangun juga akhirnya!" seru Ayah begitu melihat Lian.
Lian mengernyit. "Pahlawan?"
"Loh, kan Mas Lian sukses banget pidatonya kemarin! Satu lapangan tepuk tangan semua. Katanya Pak Kepala Sekolah sampai nangis terharu," sahut Ibu sambil menuangkan susu cokelat.
Lian terdiam. Dia membeku di anak tangga terakhir.
Pidato?
Kapan dia pidato?
Kemarin sore dia tidak ikut penurunan bendera. Dia dan Kara sibuk berlarian dikejar zombie guru dan melawan monster kabel di ruang server bawah tanah. Sekolah hampir meledak.
"Bu... kemarin sore, Lian... pidato?" tanya Lian hati-hati.
"Iya dong! Ibu sama Ayah kan nonton di barisan tamu. Kamu gagah banget pake jas OSIS," jawab Ibu bangga, lalu mencubit pipi Lian gemas. "Anak Ibu emang paling pinter menyembunyikan rasa sakit, ya? Padahal Ibu tau kamu capek."
Lian tersenyum kaku. Sangat kaku.
Ingatannya tentang "Kemarin" adalah pertempuran hidup-mati berdarah-darah.
Tapi ingatan orang tuanya (dan mungkin seluruh dunia) adalah Upacara 17 Agustus yang sempurna.
Revisi Realitas.
Mesin itu tidak hanya memindahkan tanggal. Mesin itu menimpa ingatan buruk dengan skenario terbaik.
"Makan dulu, Mas. Nasi goreng spesial pake sosis!" Dinda menyodorkan piring penuh.
Lian duduk. Dia menyendok nasi goreng itu.
Rasanya enak. Gurih, asin, pedas. Sempurna.
Terlalu sempurna.
"Yah," Lian meletakkan sendok. "Boleh pinjem motor? Lian mau ke rumah temen."
"Siapa? Si Kara itu?" goda Ayah sambil mengedipkan sebelah mata.
Lian tersedak ludahnya sendiri. "Ayah... tau Kara?"
"Loh, kan dia yang nemenin kamu pas resepsi syukuran tadi malam di sekolah. Kalian dansa bareng di tengah lapangan. Romantis banget, kayak film Ada Apa Dengan Cinta versi jadul," Dinda terkikik geli.
Dansa? Resepsi?
Lian makin merinding.
Itu tidak pernah terjadi.
"Gitu ya?" Lian memaksakan tawa. Keringat dingin mulai merembes di punggungnya.
Ada yang salah.
Dunia ini terlalu manis. Terlalu Disney.
"Aku pergi dulu!"
Lian langsung menyambar kunci motor dan kabur dari "Rumah Barbie" itu.
...----------------...
Jalanan Menuju Cikutra (Rumah Kara).
Motor Astrea Grand Lian melaju kencang.
Angin menerpa wajahnya. Segar.
Tapi kecurigaan Lian semakin tebal. Sepanjang jalan, tidak ada sampah. Tidak ada lubang jalan. Tidak ada angkot ngetem sembarangan yang bikin macet.
Bandung hari ini terasa seperti kota utopia.
Lian sampai di depan gang rumah Kara.
Dulu (kemarin), gang ini terlihat kumuh, penuh jemuran dan pot bunga pecah.
Sekarang? Gang itu asri. Dindingnya dicat mural warna-warni. Ada gapura "Selamat Datang" yang mentereng.
Lian memarkir motor, lalu setengah berlari menuju rumah pagar hijau nomor 45.
Jantungnya berpacu.
Apakah Kara ingat kejadian aslinya? Atau Kara juga sudah kena "Brainwash" sistem seperti ayah-ibunya?
"Kara!" panggil Lian sambil mengetuk pagar.
Tidak butuh waktu lama. Pintu depan terbuka.
Lian menahan napas.
Gadis itu keluar.
Kara Anjani.
Tapi... berbeda.
Rambutnya tidak lagi dikuncir kuda berantakan dengan pita merah kusam. Rambutnya terurai indah, berkilau seperti model sampo, dengan jepit rambut mutiara yang elegan.
Bajunya bukan kaos rumah belel, tapi gaun sundress motif bunga-bunga warna pastel yang cantik.
Wajahnya cerah. Tidak ada lingkaran hitam di bawah mata. Tidak ada rona cemas yang biasa menghantuinya. Dia terlihat percaya diri. Bahagia.
Kara melihat Lian. Senyumnya melebar. Senyum yang sangat manis, sampai-sampai membuat gigi Lian ngilu.
"Hai, Sayang!" sapa Kara riang.
Sayang?
Lian mundur selangkah, nyaris tersandung pot bunga.
Kara membuka pagar, langsung memeluk leher Lian erat-erat. Aroma tubuhnya bukan lagi bau keringat dan debu lab bahasa, tapi bau parfum vanilla mahal.
"Kamu jemput aku pagi banget sih? Kita kan janjian jam sepuluh mau ke Gramedia," celoteh Kara manja sambil merapikan kerah kaos Lian.
Lian kaku seperti patung. Dia tidak membalas pelukan itu.
"Ra...?" panggil Lian pelan, menatap mata Kara dalam-dalam, mencari gadis yang kemarin berdarah-darah bersamanya.
Kara menatap balik. Mata cokelatnya jernih. Tapi... kosong.
Bukan kosong sedih. Tapi kosong tanpa kedalaman. Seperti menatap kolam renang keramik yang airnya dangkal.
"Kenapa ngeliatin gitu? Terpesona ya?" goda Kara sambil memilin rambutnya. Genit.
Kara yang asli tidak pernah genit. Kara yang asli itu canggung, puitis, dan sedikit aneh.
"Ra... lo inget nggak kemarin sore?" tanya Lian, suaranya bergetar.
Kara mengerutkan kening lucu. "Inget dong. Kamu pidato keren banget, terus kita makan bakso, terus malamnya kamu nembak aku di depan api unggun. Ih, jangan pura-pura lupa deh biar aku ceritain lagi!"
Lian merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kaki ke kepala di tengah hari Minggu yang panas itu.
Api unggun. Nembak. Jadian.
Skrip yang ditulis ulang.
Sangat rapi. Tanpa celah.
Lian mencengkeram bahu Kara—persis seperti yang dia lakukan di depan mading kemarin—tapi kali ini bukan untuk meyakinkan, tapi untuk mengguncang.
"Ra! Ini gue, Lian! Kemarin kita dikejar monster di ruang server! Lo mimisan! Lo nyanyi buat nyelametin gue!" desak Lian panik. "Walkman! Mana Walkman-nya?! Lo simpen kan?!"
Kara melepaskan tangan Lian perlahan, wajahnya berubah khawatir.
"Lian? Kamu ngomong apa sih? Monster? Server?"
Dia menyentuh dahi Lian.
"Kamu demam ya? Atau mimpi buruk?"
"Walkman, Ra! Walkman perak itu!"
"Walkman?" Kara tertawa kecil. "Lian, kamu kan tau aku nggak punya Walkman. Aku pakenya Discman baru yang dibeliin Papah."
Kara merogoh tas selempang kecilnya yang modis, mengeluarkan pemutar CD portabel yang canggih (untuk zamannya).
Lian menatap benda itu horor.
Tidak.
Ini salah.
Ini semua salah.
Kara yang di depannya ini sempurna. Cantik. Menyayanginya. Menjadi pacar idamannya.
Tapi dia Bukan Kara.
Dia adalah Kara versi Side B yang sudah diedit produser rekaman supaya laku di pasaran. Sisi raw, indie, dan rusak dari Kara sudah dihapus.
Lian mundur menjauh, menggelengkan kepala.
Depresi di otaknya, yang tadi sempat hilang, kini kembali merambat naik.
Rasa asing. Dissociation.
Dunia ini indah. Tapi Lian merasa dia adalah satu-satunya noda kotor di lukisan sempurna ini.
"Lian? Mau ke mana?" panggil Kara bingung.
"Gue... ada urusan sebentar," Lian berbohong.
Dia harus pergi. Dia harus mencari celah.
Karena jika Kara lupa... maka Lian benar-benar sendirian sekarang. Sendirian di surga palsu ini.
Lian naik ke motornya, menyalakannya dengan kasar.
Saat dia memakai helm, matanya menangkap sesuatu di leher Kara.
Sebuah kalung.
Liontinnya bukan emas atau perak.
Liontin itu berbentuk tabung kaca kecil.
Dan di dalamnya... ada gulungan pita cokelat kecil yang kusut.
Pita kaset yang putus.
Mata Lian melebar.
Itu fisik. Itu nyata. Itu sisa pertempuran kemarin.
Kara yang "baru" ini tidak sadar dia memakai bukti kehancuran masa lalu di lehernya sebagai perhiasan.
Lian menatap liontin itu, lalu menatap mata Kara yang polos.
"Bagus kalungnya," kata Lian dingin.
Kara tersenyum lebar, menyentuh liontin itu. "Oh ini? Lucu ya? Aku nemu di saku seragamku tadi pagi. Nggak tau punya siapa, tapi estetik banget jadi aku pake aja."
Estetik.
Luka mereka dianggap estetik di dunia ini.
"Iya," jawab Lian singkat. "Tunggu aku. Aku bakal balik."
Aku bakal balik buat balikin ingatan lo, Ra. Biarpun gue harus hancurin hari Minggu yang sempurna ini, sumpah Lian dalam hati.
Motor Lian menderu pergi. Meninggalkan Kara yang melambaikan tangan dengan senyum plastik.