Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkamah di Meja Makan
Matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar utama dengan kehangatan yang terasa menipu, seolah-olah dunia sedang menjanjikan ketenangan yang fana. Bagi Arini, ini adalah pagi pertama dalam berbulan-bulan di mana ia terbangun tanpa beban yang menghimpit ulu hatinya. Ia sempat terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar, lalu menoleh ke samping. Aris masih terlelap. Gurat wajah suaminya yang biasanya tegang dan penuh kewaspadaan, kini tampak rileks, napasnya teratur dan tenang.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit. Sebuah suara ketukan pintu yang keras, cepat, dan ritmis membuyarkan segalanya seperti kaca yang pecah.
"Den Aris, Nyonya Arini... Nyonya Besar menunggu di ruang makan sekarang juga. Penting, Den," suara Bi Ijah terdengar bergetar dari balik pintu kayu ek yang tebal itu. Ada nada ketakutan yang sangat kentara, sebuah peringatan tersirat bahwa badai telah mendarat di tengah rumah mereka.
Aris terjaga seketika, matanya langsung terbuka lebar. Ia menoleh ke arah Arini, dan dalam detik itu juga, sebuah firasat buruk yang dingin seolah menyambar mereka berdua. Tanpa banyak bicara, mereka segera bersiap dengan gerakan yang terburu-buru. Aris mengenakan kemeja putihnya yang sedikit kusut, sementara Arini mencoba menutupi kegelisahannya dengan mengenakan blus yang rapi, meski jemarinya gemetar saat mengancingkan pakaian.
Mereka turun ke lantai bawah dengan langkah yang berat. Suara langkah kaki mereka menggema di tangga marmer yang pagi ini terasa jauh lebih dingin dan angkuh dari biasanya.
Sesampainya di ruang makan, suasana terasa seperti di dalam ruang sidang pengadilan yang mencekam. Ibu Sofia sudah duduk tegak di kursi kebesarannya di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu jati solid. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan kacamata berbingkai tipis dan setelan jas abu-abu gelap yang kaku—Pak Hermawan, pengacara pribadi keluarga yang telah mengabdi selama puluhan tahun.
Di atas meja, di samping cangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis, tergeletak lembaran-lembaran kertas yang sangat Aris kenali. Jantung Aris seolah berhenti berdetak saat melihat dokumen itu.
Kontrak pernikahan mereka.
Secara insting, Aris melangkah maju satu langkah, sedikit menggeser posisinya untuk menghalangi tubuh Arini yang mulai gemetar di belakangnya. "Ibu... kenapa Pak Hermawan ada di sini sepagi ini? Ada masalah dengan perusahaan?" tanya Aris, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meski ia tahu jawabannya tidak akan menyenangkan.
Ibu Sofia tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir porselennya, menyesap tehnya perlahan dengan gerakan yang sangat anggun namun mematikan, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi klotak yang tajam dan menggema di ruangan yang sunyi itu. Matanya yang tajam dan dingin menatap Aris dan Arini bergantian, sebuah tatapan yang penuh dengan kemarahan yang membeku.
"Berapa harga harga diriku di mata kalian berdua?" tanya Ibu Sofia. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki daya ledak yang luar biasa. "Berapa nilai dari setiap air mata yang aku teteskan karena merasa bahagia melihat kalian bersatu, sementara kalian sebenarnya hanya sedang menghitung sisa hutang dan durasi kontrak di belakangku?"
"Ibu, biarkan aku menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang Ibu lihat sekarang—"
"Menjelaskan apa lagi, Aris?!" Ibu Sofia tiba-tiba berdiri, memukul permukaan meja dengan telapak tangannya hingga sendok perak di atas meja berdenting keras. "Bahwa istrimu ini hanyalah seorang pekerja bayaran yang kamu beli untuk menyenangkan ibumu yang sakit-sakitan? Bahwa setiap perhatian, setiap senyum, dan setiap suapan makanan yang dia berikan padaku adalah bagian dari draf kontrak di pasal lima? Atau bahwa kamu, putra tunggal yang aku banggakan, menganggap pernikahan sebagai transaksi bisnis yang bisa dibatalkan setelah hutang keluarga wanita ini lunas?"
Arini merasa bumi di bawah kakinya seolah amblas. Ia melihat ke arah dokumen itu, lalu ke arah Ibu Sofia yang wajahnya memerah karena murka. Rasa malu dan bersalah yang teramat sangat menghimpit dadanya hingga ia sulit untuk sekadar menarik napas. "Ibu... maafkan saya. Awalnya memang begitu, saya berdosa telah membohongi Ibu, tapi..."
"Jangan panggil aku Ibu!" bentak Ibu Sofia, menunjuk Arini dengan jarinya yang bergetar hebat. "Kamu masuk ke rumah ini dengan topeng malaikat, sementara di belakangku kamu menandatangani surat yang menyatakan kamu tidak akan menuntut apa pun selain pelunasan hutang ayahmu. Kamu menjual dirimu, Arini! Dan kamu, Aris, kamu memperdagangkan sakramen pernikahan hanya demi sebuah kenyamanan sementara!"
Pak Hermawan berdehem pelan, mencoba menengahi suasana yang kian panas dan tidak terkendali. "Nyonya Besar telah memerintahkan saya untuk memproses pembatalan pernikahan ini atas dasar penipuan dan manipulasi niat. Di sini juga ada dokumen perubahan ahli waris. Jika pernikahan ini tidak diselesaikan secara hukum pagi ini juga melalui percabutan nama, Aris, seluruh asetmu atas nama keluarga—termasuk saham utama di perusahaan—akan dibekukan secara total."
Aris terdiam. Inilah titik nadir yang paling ia takuti selama hidupnya. Kehilangan segalanya—kekuasaan, perusahaan yang ia bangun dengan darah dan keringat, warisan, dan nama baik yang ia jaga mati-matian. Namun, saat ia melirik ke samping dan melihat Arini yang tertunduk dengan bahu yang berguncang hebat karena tangis yang pecah, sesuatu di dalam diri Aris bangkit. Sesuatu yang jauh lebih kuat dan lebih murni daripada rasa takutnya pada kemiskinan.
"Lakukan saja, Bu," ucap Aris tiba-tiba. Suaranya kini tenang, tanpa getaran ragu sedikit pun.
Ibu Sofia tertegun, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa katamu?"
"Bekukan asetku. Ambil perusahaanku. Cabut namaku dari daftar warisan. Lakukan apa pun yang Ibu mau untuk menghukumku," Aris melangkah maju, kini ia tidak lagi menunduk. Ia menatap ibunya dengan tatapan paling berani yang pernah ia miliki sebagai seorang laki-laki. "Kontrak itu memang ada. Aku yang membuatnya karena aku adalah pengecut yang tidak berani melawan Ibu namun juga terlalu angkuh untuk membuka hati pada orang baru. Arini hanya korban dari keadaanku, korban dari kepengecutanku."
Aris meraih tangan Arini, menggenggamnya dengan sangat erat, lalu menariknya agar berdiri sejajar dengannya di hadapan sang Ibu. "Tapi kontrak itu sudah mati sejak lama, Bu. Kontrak itu mati saat Arini merawatku dengan tulus tanpa peduli jam kerjanya. Kontrak itu mati saat dia menangisi kondisi Ayah yang kritis seolah itu ayahnya sendiri. Dan kontrak itu benar-benar telah menjadi abu semalam, saat kami memutuskan untuk memulai segalanya dari nol dengan kejujuran, bukan lagi karena hutang."
"Kamu lebih memilih wanita ini daripada ibumu sendiri? Daripada warisan yang aku bangun dengan air mata?" suara Ibu Sofia mulai pecah, amarahnya kini bercampur dengan rasa sakit yang mendalam karena merasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
"Aku memilih kebenaran, Bu. Dan kebenarannya adalah, aku mencintai Arini. Bukan karena kontrak, bukan karena hutang, tapi karena dialah satu-satunya manusia yang tetap tinggal saat aku menjadi orang yang paling tidak layak untuk dicintai," Aris menoleh pada Pak Hermawan. "Pak, silakan bawa semua dokumen itu. Aku tidak akan menandatangani pembatalan pernikahan. Jika Ibu ingin mengusir kami dari rumah ini sekarang juga, kami akan pergi. Hanya dengan pakaian yang kami kenakan saat ini."
Ibu Sofia terperangah. Ia terduduk kembali di kursinya dengan lemas. Ia tidak pernah melihat putranya seberani ini, sekuat ini. Selama ini ia menganggap Aris hanyalah pion yang bisa ia gerakkan sesuai ambisinya. Namun kini, pion itu telah berubah menjadi pria sejati yang siap kehilangan segalanya demi melindungi ratunya.
"Aris... kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan. Kamu akan jatuh miskin dalam semalam," bisik Ibu Sofia, air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput.
"Aku tahu persis apa yang aku lakukan, Bu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengambil keputusan sebagai seorang pria, bukan sebagai boneka perusahaan atau ahli waris keluarga terpandang," Aris menatap Arini dengan tatapan lembut, sebuah janji tanpa suara bahwa semuanya akan baik-baik saja selama mereka bersama. "Ayo, Arini. Kita tidak butuh rumah yang mewah jika rumah ini tidak mengizinkan kita untuk hidup dengan jujur."
Mereka berdua berbalik, meninggalkan ruang makan yang kini dipenuhi aroma teh yang mulai mendingin dan tumpukan kertas kontrak yang kini tak lagi memiliki kuasa atas hidup mereka. Di belakang mereka, Ibu Sofia hanya bisa menatap kosong, menyadari bahwa dalam upayanya mempertahankan kendali absolut, ia justru baru saja kehilangan satu-satunya hal yang benar-benar berharga dalam hidupnya: kasih sayang tulus dari putranya.
Langkah Aris dan Arini menuju pintu depan terasa sangat berat namun sekaligus sangat membebaskan. Di luar, langit yang tadinya cerah kini mulai mendung dan meneteskan hujan gerimis, seolah ikut menangisi kehancuran sebuah keluarga namun di saat yang sama membasuh sisa-sisa kepalsuan yang selama ini menghimpit mereka.
Mereka melangkah keluar dari gerbang rumah besar itu tanpa membawa koper, tanpa membawa kunci mobil mewah, dan tanpa membawa satu sen pun uang tunjangan. Mereka hanya membawa tangan yang saling bertaut erat, siap menghadapi dunia yang mungkin tidak lagi ramah, namun setidaknya, dunia itu kini sepenuhnya milik mereka berdua.
"Kita akan baik-baik saja?" bisik Arini di tengah rintik hujan.
Aris mempererat genggamannya, menatap jalanan di depan mereka dengan keyakinan baru. "Selama aku memilikimu, aku sudah merasa memiliki segalanya, Arini."
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.