Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Nasi Dirambutku
Pagi-pagi sekali aku sudah berkutat dengan cucian. Sebelum itu, aku sempat membelikan gorengan. Bayangkan saja, suamiku hanya memberi uang 20 ribu rupiah, itu pun dia minta dibelikan gula dan kopi.
Untuk membeli sayur pun jelas tidak akan cukup. Akhirnya, aku hanya membeli gorengan lima ribu rupiah, lalu menyajikannya dengan nasi di piring untuknya, sebelum aku kembali ke kamar mandi untuk melanjutkan cucian.
Mulutku memang tak henti mengomel. Tapi bukankah omelanku ini ada sebabnya? Dia suami yang sama sekali tidak bisa diandalkan.
"Setiap hari aku disuguhi pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Malam-malam anak mengajak begadang, sementara dia enak-enakan pulang malam dalam keadaan mabuk. Paginya bangun siang, langsung minta kopi dan makan!" gerutuku pagi itu. Mamak yang sedang menjemur baju hanya diam mendengarkan.
Tiba-tiba, suamiku datang mendekat. Tanpa diduga, dia melemparkan sisa nasi dari piringnya tepat di atas kepalaku. Ini sudah kedua kalinya dia melakukan hal sehina ini; dulu aku pernah disiram sampah, sekarang nasi bekas makannya.
"Cerewet!" bentaknya singkat, lalu pergi begitu saja setelah melempar piringnya.
Aku tidak tahu apakah aku salah karena terus mengomel, tapi bagiku, bicara baik-baik padanya hanya akan berakhir sia-sia. Dia tidak pernah menggubris, maka hanya omelanlah yang tersisa di lidahku setiap kali melihat wajahnya.
"Ya Allah, sadarkan suamiku... Beri dia hidayah-Mu agar dia sadar akan tanggung jawabnya sebagai suami. Dia punya anak yang butuh biaya," gumamku lirih di dalam kamar mandi sambil berusaha membersihkan butiran nasi yang menempel di rambut dan wajahku.
Mamak tiba-tiba masuk. Melihat kondisiku yang berantakan seperti gembel, tangis Mamak pecah. Beliau mendekat dan ikut membantu membersihkan sisa nasi di rambutku dengan tangan gemetar.
"Memang suamimu itu kurang ajar! Tidak tahu cara menghormati perempuan! Kerjanya cuma pulang mabuk. Nanti malam, jangan bukain pintu kalau dia pulang!" ucap Mamak dengan suara parau menahan amarah.
Aku hanya bisa menangis sesenggukan dan mengangguk. Aku tahu, hati Mamak jauh lebih sakit melihat anak perempuannya diperlakukan seperti ini oleh laki-laki yang seharusnya melindunginya.
Setelah kejadian penghinaan nasi itu, suamiku pergi dan tidak pulang. Jujur, aku tidak peduli lagi. Hidupku terasa jauh lebih tenang tanpa kehadirannya, meski beban pikiran tetap menghimpit.
Sambil beristirahat, aku mencoba mencari kesibukan dengan melihat-lihat lowongan kerja di media sosial. Mataku tertuju pada sebuah lowongan borongan di pabrik garmen. Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang dalam hati.
"Apa aku harus mulai bekerja saja? Mencari biaya hidup sendiri daripada berharap pada orang yang tidak jelas," gumamku. Namun, keraguan segera menyergap. Sebagai ibu, hatiku tidak tega meninggalkan bayiku yang baru berusia beberapa bulan. Dilema antara kebutuhan perut dan kasih sayang ibu membuat kepalaku pening.
Empat hari telah berlalu. Selama itu pula suamiku menghilang tanpa kabar, tanpa uang nafkah, seolah-olah dia sudah lupa punya anak dan istri. Aku sempat berpikir, apakah dia sudah pergi jauh selamanya? Namun, dugaanku salah besar.
Malam itu, tepat pukul 23:55, suasana rumah yang tenang tiba-tiba terusik. Terdengar suara ketukan di jendela. Awalnya aku abaikan, namun ketukan itu kian mendesak hingga Bapak dan Mamak terbangun dari kamar mereka.
"Siapa yang ketuk-ketuk jendela malam-malam begini?" tanya Bapak curiga.
"Paling juga suamiku, Pak," jawabku malas, tidak ada sedikit pun rasa rindu, yang ada hanya muak.
"Tidak usah dibukakan pintu! Biar tahu rasa dia!" timpal Mamak dengan nada ketus sebelum kembali ke kamar untuk menjaga Melsha. Adikku pun setali tiga uang, dia hanya diam, bersikap acuh tak acuh seolah kehadiran kakak iparnya itu hanyalah angin lalu.
Bapak tetap berjaga di ruang tamu, sementara aku kembali ke kamar dengan pintu terkunci. Namun, keheningan malam itu kembali pecah oleh suara aneh.
Kali ini bukan ketukan, melainkan bunyi besi yang bergesekan dengan kayu. Seseorang sedang berusaha mencongkel jendela dari arah dapur.
Aku segera keluar kamar, jantungku berdegup kencang. Di depan pintu kamar, aku dan Bapak berdiri mematung, saling pandang dalam gelap. Kami bersiap menyaksikan "atraksi malam" yang nekat dilakukan oleh laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung rumah ini, namun kini justru masuk layaknya seorang pencuri.
Suara derit jendela yang dicongkel itu berhenti begitu sosoknya muncul dari kegelapan dapur. Dia tampak terkejut melihat Bapak sudah berdiri menunggunya dengan wajah kaku.
"Bapak?" ucapnya singkat, mencoba menetralkan suasana.
Kesabaranku sudah habis. Aku tidak bisa lagi diam melihat rumah orang tuaku diperlakukan seperti ini. "Hebat sekali ya? Di rumah mertua kelakuanmu seperti ini! Sudah seperti maling kulihat. Ingat, ini rumah mertuamu, bukan rumahmu sendiri!" tegurku pedas. Benar dugaanku, semakin aku diam, dia justru semakin melunjak.
Bapak menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang nyaris meledak. "Sudah, tidak usah ribut. Besok biar Bapak perbaiki jendelanya. Sekarang tidur, sudah larut malam," sahut Bapak dingin.
Aku mengangguk patuh pada Bapak. Namun, begitu suamiku melangkah menuju kamar kami, namun aku segera berbalik arah. Aku mengambil bantal dan pindah ke ruang tengah, memilih tidur di depan televisi daripada harus berbagi ranjang dengannya. Baru saja aku mencoba memejamkan mata, dia menyusulku.
"Ngapain pindah tidur di sini?" tanyanya tanpa dosa.
Aku bangkit dan menatapnya penuh kebencian. "Aku pindah karena tidak sudi dekat dengan orang yang mulutnya bau comberan! Kamu hebat ya? Empat hari tidak pulang, tidak memberi nafkah, lalu sekalinya pulang malah dalam kondisi mabuk dan memanjat jendela seperti maling!" umpatku.
"Tadi mau lewat pintu, tapi kamu tidak bukakan," jawabnya enteng, seolah tindakannya memanjat jendela adalah hal yang wajar.
"Heh! Apa kamu tidak sadar? Dengan kondisimu yang menjijikkan seperti ini, kamu masih berani menampakkan muka di rumah mertuamu? Benar-benar bukan manusia ya kamu!" ujarku dengan nada tinggi, emosiku sudah di ubung-ubung kepala.
"Sudah, diam saja kamu!" sentaknya kasar.
Lagi-lagi, di jam subuh yang buta itu, dia mencoba memaksaku kembali untuk melayaninya. Namun kali ini aku lebih sigap. Begitu dia mencoba mendekat, aku langsung menyingkir dan berjalan cepat menuju dapur.
Beruntung, aku melihat Mamak sudah bangun dan mulai beraktivitas. Rasanya lega, setidaknya ada pelindung yang membuat suamiku tidak berani bertindak lebih jauh di hadapan orang tuaku.
Dari balik tirai, aku bisa merasakan tatapan Ahmad yang penuh kejengkelan karena rencananya gagal. Namun, aku tidak peduli sedikit pun.
Aku memilih untuk menyibukkan diri, membantu Mamak di dapur, mencari perlindungan di sela aroma masakan rumah yang menenangkan.
Momen ini menyadarkanku bahwa nilai seorang wanita tidak hanya diukur dari fisik semata. Lebih dari itu, kecerdasan dan kemampuan berpikir adalah kualitas yang mutlak dimiliki.
Untuk bisa bertahan dalam hidup yang keras ini, seorang wanita harus memiliki karakter tangguh guna menyelesaikan setiap permasalahan yang menghadang.
Meski terkadang rasa sakit dan kesedihan terasa begitu menyesakkan hingga air mata pun tak sanggup mewakilinya, wanita yang kuat akan selalu menemukan jalan untuk bangkit.
Mereka tidak akan membuang waktu untuk mengasihani diri sendiri atau menyalahkan keadaan. Mereka akan berdiri tegak, menghadapi badai tanpa mengeluh, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikannya.
"Aku adalah wanita yang kuat," batinku menanamkan kepercayaan diri. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menganiaya atau mendikte hidupku sesuka hati. Jika aku jatuh, aku akan bangkit dengan kekuatan yang lebih besar. Aku yang memegang kendali atas hidupku sendiri, dan tidak ada hal yang tidak bisa aku capai."
Aku adalah tipe orang yang pemaaf, namun setiap pengkhianatan akan meninggalkan bekas yang permanen di ingatanku.
Mungkin aku memiliki sifat pendendam, namun dendamku bukanlah tentang membalas kejahatan, melainkan tentang membuktikan bahwa aku bisa hidup lebih baik tanpa gangguan mereka.
Pemandangan di ruang tengah membuat hatiku mendadak tenang. Aku melihat Bapak dan Mamak duduk berdua, bercanda dengan Melsha di tengah mereka.
Rasanya begitu damai tanpa ada sosok perusuh seperti suamiku. Aku sangat bersyukur dianugerahi orang tua yang luar biasa hebat.
"Ya Allah, sehatkanlah kedua orang tuaku. Berikanlah rezeki yang berkah, panjangkanlah umur mereka, dan limpahkanlah kebahagiaan untuk Bapak dan Mamak," doaku dalam hati. Semoga doa tulus ini menjadi aliran rezeki bagi mereka yang telah menjadi pelindung sejatiku.
Aku pun belajar bahwa merawat anak adalah amanah suci yang membutuhkan kesabaran seluas samudra. Anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dengan penuh kasih. Membesarkan anak memang tidak pernah mudah dan penuh dengan ujian di setiap tahapnya.
Namun, melihat perjuangan Mamak, aku bersyukur telah dilahirkan dari rahim seorang wanita yang kecantikannya terpancar dari ketegaran hatinya. Darinya, aku belajar cara menjadi ibu yang tak terkalahkan oleh keadaan.
Bersambung...