Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Konser
Tanggal 27 September.
Kasus pembantaian satu keluarga yang begitu menggemparkan kembali memenuhi halaman media. Dan untuk kedua kalinya, laporan itu menghadirkan sosok “warga baik hati” yang membantu polisi—sosok yang juga disebut dalam kasus besar sebelumnya. Di forum kota Long’An, para warganet mulai berspekulasi: siapa sebenarnya pria misterius ini yang dua kali muncul dalam kasus besar?
Memasuki Oktober, kehidupan Chen Shi kembali sibuk. Ia menjalani hari-hari dengan menikmati kesibukan sebagai sopir taksi. Setiap pagi, ia berangkat lebih awal, menjemput penumpang, mendengarkan cerita, bercanda, dan terkadang menjadi tempat curhat. Baginya, hidup sederhana semacam ini justru terasa damai.
Suatu siang, ponselnya bergetar. Nama Lin Dongxue muncul. Setelah mengantar penumpang, Chen Shi langsung mengemudi menuju pintu depan kantor kepolisian. Lin Dongxue datang tergesa-gesa, membuka pintu belakang taksi, lalu duduk dengan gaya kesal. Begitu keras ia menutup pintu sehingga kaca mobil sedikit bergetar. Chen Shi mengintip lewat kaca spion, menahan tawa.
“Ada apa, Nona Lin? Siapa yang membuat Anda terlihat sangat marah?”
Lin Dongxue menatapnya tajam. “Kamu!”
Chen Shi mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. “Aku? Apa salahku lagi?”
“Kau mengompori Xu Xiaodong agar mengajakku ke konser, bukan?!”
Chen Shi mengangkat kedua tangan seakan tak bersalah. “Biar jelas ya, aku tidak mengompori. Aku hanya bilang ke dia bahwa laki-laki itu harus sedikit lebih berani ketika mengejar perempuan.”
Lin Dongxue terbahak—namun tetap marah. “Itu namanya mengompori!”
“Kalau kau tak tertarik, tinggal bilang saja ke dia. Mengapa malah melampiaskan padaku?”
“Oh tolong, dia saja tidak pernah mengaku apa pun. Kalau aku bicara duluan, nanti dia menuduhku yang geer!”
Chen Shi mengangguk seakan memahami.
“Jadi, kau menolak ajakannya?”
“Jelas ku tolak! Masa aku setuju begitu saja? Dan kau—jangan lagi membuat keputusan aneh-aneh seperti itu. Kau bahkan tidak tahu tipe laki-laki yang aku suka, tapi sudah sok jadi mak comblang!”
Chen Shi tertawa kecil. “Kalau begitu, beritahu aku tipemu. Biar aku bantu.”
Lin Dongxue menendang punggung kursinya. “Sudah ah, jangan banyak omong!”
Chen Shi menghela napas dramatis. “Jadi kau menemuiku hanya untuk marah-marah soal ini?”
“Tidak hanya itu.”
Ia mengeluarkan dua tiket konser Zhang Xueyou sambil tersenyum nakal. “Kau ingin jadi mak comblang? Ingin aku berutang budi? Tidak! Aku justru ingin membuatmu tak nyaman. Katanya kau suka Zhang Xueyou, kan? Nah, aku mengajakmu!”
Chen Shi mengangkat alis. “Tunggu, ini tanggal 1 Oktober. Bank sedang banyak promo. Jangan-jangan tiket ini hasil kamu memanfaatkan promo diskon?”
“Kau ini! Tidak tahu terima kasih! Masih pilih-pilih pula!” Lin Dongxue memukul kursi lagi.
“Aku salah, aku salah.” Chen Shi langsung mengangkat tangan. “Seumur hidup, belum pernah ada perempuan mengajakku nonton konser. Aku kaget, itu saja. Ada udang di balik batu, ya?”
“Tidak ada!” jawab Lin Dongxue kesal. “Ini caraku membalas kebaikanmu. Kau banyak membantu di kasus kemarin. Dan... aku ingin pergi ke konser, tapi aku tidak mau bersama Xu Xiaodong. Jadi aku menyeretmu!”
“Baik, kapan?”
“Hari ini!”
“Siap. Sampai bertemu nanti malam.”
Lin Dongxue melempar tiket itu ke dada Chen Shi lalu keluar dari mobil. “Jangan terlambat waktu menjemput!”
Pukul tujuh malam, Chen Shi sudah menunggu di tempat janjian.
Tak lama, Lin Dongxue muncul dengan gaun hitam sederhana namun cantik. Ia masuk ke kursi penumpang depan sambil merapikan rambutnya. Chen Shi menatap sesaat—diam-diam kagum. Gaun itu membuatnya terlihat dewasa namun tetap manis.
“Apa lihat-lihat? Dasar paman cabul!” tegurnya saat melihat tatapan Chen Shi.
Chen Shi terkekeh. “Menu makan malam terlihat lezat.”
“Lezat kepalamu! Ayo jalan, jangan sampai terlambat.”
Di perjalanan, Chen Shi bertanya, “Kau milenial? Kok suka lagu-lagu Zhang Xueyou?”
Lin Dongxue tersenyum kecil.
“Keluargaku suka. Sejak kecil aku sering dengar lagunya. Waktu sekolah, aku menyanyi lagunya di karaoke bar, malah diejek teman-teman. Katanya aku punya selera orang tua. Tapi lagu bagus ya bagus saja. Tidak perlu dibatasi umur.”
“Betul juga,” kata Chen Shi.
Saat tiba di arena konser, antrean sudah mengular panjang. Chen Shi turun dan mengambil jaket hitam baru dari kursi belakang. Saat mengenakannya, Lin Dongxue memperhatikan sekilas.
“Lumayan juga. Kamu terlihat lebih muda.”
Chen Shi menyeringai nakal. “Tahukah kau? Orang yang suka warna hitam biasanya sedikit… menyimpang.”
“Aku tidak dengar, aku tidak dengar!” Lin Dongxue menutup telinganya. “Jangan meracuni telingaku!”
Chen Shi tertawa sambil menggandengnya berjalan.
Di depan arena, banyak pedagang kaki lima menjual stik lampu, LED tulisan, hingga CD bajakan. Chen Shi menatap seorang pedagang CD bajakan dengan wajah tak senang.
“Berani sekali jual CD bajakan di konser asli begini. Kau tahu itu kriminal?”
Pedagang itu mendengus. “Urus hidupmu sendiri. Tidak beli? Pergi!”
Chen Shi langsung memanggil staf keamanan. “Di sini ada penjual barang bajakan!”
Pedagang itu panik dan kabur sambil berteriak ancaman.
“Aku akan mencari orang untuk menguliti kamu!”
Chen Shi menjawab santai, “Silakan! Aku sedang butuh operasi plastik!”
Lin Dongxue menepuk bahunya. “Kau ini… suka sekali ikut campur!”
“Membajak karya itu sama saja mencuri uang idolaku. Mana bisa aku diam?”
“Huh, memang idolamu tahu usaha kerasmu?”
“Tidak penting. Oh, mau stik lampu?”
“Tidak perlu, itu cuma untuk anak-anak.”
“Tapi ini pengalaman langka!” Chen Shi menghentikan pedagang dan membeli satu stik lampu serta papan LED bertuliskan ‘Song God, I love you’.
Si pedagang memuji, “Pacarmu cantik sekali, Bung!”
Lin Dongxue hampir tersedak. “Aku bukan pacarnya! Jangan asal bicara!”
Namun wajah Chen Shi terlihat senang, dan itu membuatnya semakin kesal.
“Kau… dasar mesum!”
“Bukan begitu. Aku hanya bahagia orang memuji teman perempuanku cantik.”
Di tengah kekesalan itu, Lin Dongxue melihat sesuatu.
“Eh! Lihat sana, lihat!”
Chen Shi mengikuti arah jarinya—Xu Xiaodong sedang mengantre bersama seorang gadis muda, keduanya tertawa-tawa.
“Apa-apaan dia itu? Setelah mengajakku, dia langsung mengajak orang lain? Untung aku tidak setuju!” dengusnya.
Chen Shi terkekeh. “Wajar saja. Strategi pria normal. Menebar jaring lebih luas untuk peluang lebih besar.”
“Halo? Tidak bisakah kau sekadar menyetujui ucapanku tanpa mengulas teori?”
“Oh, benar-benar tak punya prinsip! Laki-laki macam apa itu!” Chen Shi mengganti jawabannya dramatis.
Lin Dongxue tertawa sambil meninju lengannya. “Aduh, aktingmu buruk!”
Setelah perjuangan panjang, mereka akhirnya menemukan tempat duduk.
Lin Dongxue menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak duduk dekat Xu Xiaodong. Begitu ia akan berbicara, ia sadar Chen Shi tidak ada.
Beberapa menit kemudian, Chen Shi muncul membawa sekantong besar kudapan—popcorn, kacang, minuman bersoda.
Lin Dongxue menghela napas.
“Kau beli minuman? Kalau aku ingin ke toilet nanti, siapa yang repot? Kau tidak tahu ya, bagi perempuan pergi ke toilet itu perjuangan besar?”
Namun ia tetap mengambil sebotol cola dari kantong itu.
Chen Shi duduk sambil membuka cemilan. “Makan santai saja. Konser baru mulai sekitar satu jam lagi.”
Meskipun protes, Lin Dongxue tersenyum kecil. Ada sesuatu yang hangat, menyenangkan, dan ringan dari momen itu—sesuatu yang tak ia rasakan saat bersama rekan kerja mana pun.
Dan Chen Shi, entah sadar atau tidak, merasakan hal yang sama.