Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Rumah Baru
Rumah Baru, Aturan Baru
Pagi itu rumah kecil Aruna terasa berbeda.
Bukan karena barang berkurang.
Tapi karena keputusan sudah diambil.
Kotak-kotak kardus berjejer di ruang tamu. Beberapa sudah tertutup rapi, beberapa masih setengah terbuka seolah menolak benar-benar pergi.
Aruna berdiri di tengah ruangan, memandang sekeliling.
Tempat ini menyimpan banyak hal.
Takut.
Bertahan.
Membesarkan anak-anak sendirian.
Belajar kuat tanpa pilihan.
Sekarang… ia harus meninggalkannya.
Bukan karena kalah.
Karena memilih hidup baru.
—
Arka masuk sambil membawa dua kotak besar dari mobil.
“Kamu tidak perlu bawa semuanya sendiri,” katanya.
Aruna mengangkat alis. “Ini bukan pertama kali aku pindahan.”
Arka menaruh kotak dengan hati-hati. “Iya. Tapi sekarang kamu tidak sendiri.”
Kalimat sederhana itu membuat Aruna tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk kecil.
—
Di kamar anak-anak, suasana jauh lebih ramai.
Arven sedang membongkar laptopnya dengan serius.
“Aku harus pastikan semua data aman sebelum pindah jaringan,” katanya seperti ilmuwan kecil.
Arkana sibuk memilih buku gambar mana yang mau dibawa dulu.
Arsha duduk di kasur sambil memeluk boneka lamanya.
“Rumah baru… besar?” tanyanya pelan saat Aruna masuk.
Aruna duduk di sampingnya. “Lebih besar dari ini.”
Arsha menatap lantai. “Kalau besar… apa terasa kosong?”
Aruna mengusap rambutnya lembut. “Rumah tidak kosong kalau orangnya ada.”
Arsha berpikir sebentar. “Papa ada?”
Aruna tersenyum kecil. “Iya.”
Arsha akhirnya mengangguk pelan.
—
Siang menjelang saat mobil terakhir siap berangkat.
Aruna berdiri di depan pintu rumah lamanya. Ia tidak menangis. Tidak juga tersenyum.
Hanya menatap.
Arka berdiri di sampingnya tanpa bicara.
Beberapa detik kemudian, Aruna berkata pelan, “Tempat ini bukan masa lalu. Ini bagian dari kita.”
Arka menjawab tenang, “Dan kita tidak membuangnya. Kita hanya melanjutkan.”
Aruna menarik napas panjang.
Lalu menutup pintu.
—
Perjalanan menuju kediaman Arka terasa sunyi tapi hangat. Anak-anak duduk di kursi belakang, sesekali melihat keluar jendela.
Saat gerbang besar terbuka, Arven langsung bersandar ke depan.
“Ini… rumah kita sekarang?”
Arka menjawab sambil tetap fokus mengemudi, “Kalau kalian nyaman, iya.”
Mobil berhenti di halaman luas. Bangunan besar berdiri kokoh, tapi tidak terasa dingin. Lebih seperti tempat yang menunggu dihuni.
Arkana langsung turun duluan. “Ini kayak di film…”
Arven berbisik, “Sistem keamanan di sini pasti kompleks.”
Arsha berdiri dekat Aruna, menggenggam tangannya. “Bunda… kita boleh tetap peluk papa kalau takut?”
Aruna menatap Arka sebentar, lalu kembali ke Arsha. “Boleh.”
Arsha langsung berlari kecil mendekat ke Arka.
Tanpa kata.
Hanya berdiri di dekatnya.
Arka menunduk sedikit. “Kamu mau lihat kamar dulu?”
Arsha mengangguk.
—
Di dalam rumah, langkah mereka terdengar lebih jelas. Ruangan luas membuat suara kecil terasa besar.
Aruna berjalan pelan, matanya menelusuri setiap sudut.
Tidak mewah berlebihan.
Tapi rapi. Teratur. Terlalu teratur.
“Kita akan ubah beberapa bagian,” kata Arka seolah membaca pikirannya.
Aruna menoleh. “Kenapa?”
“Supaya terasa seperti rumah. Bukan bangunan.”
Aruna mengangguk kecil.
—
Anak-anak menemukan kamar mereka.
Arven langsung ke meja kerja besar. “Aku butuh koneksi internet stabil.”
Arkana membuka jendela lebar-lebar. “Cahaya di sini bagus buat gambar.”
Arsha memutar pelan di tengah kamar. “Tidak kosong…”
Arka berdiri di pintu, memperhatikan mereka satu per satu.
Ia tidak pernah membayangkan rumah ini akan terasa hidup hanya karena tiga anak kecil dan satu perempuan yang dulu pergi tanpa jejak.
—
Malam pertama di rumah baru terasa canggung… tapi hangat.
Mereka makan malam bersama di meja panjang yang sebelumnya jarang terpakai.
Aruna menuang sup untuk anak-anak.
Arven bertanya sambil makan, “Papa biasa makan sendirian di sini?”
Arka menjawab jujur, “Iya.”
Arkana menatap sekeliling. “Sekarang tidak lagi.”
Arka hanya mengangguk pelan.
Arsha tiba-tiba berkata, “Rumah besar… tapi kalau kita bareng… tidak menakutkan.”
Aruna menatap Arka sebentar.
Tidak ada kata. Tapi ada pengertian.
—
Malam makin larut.
Anak-anak sudah tidur di kamar masing-masing. Aruna berdiri di balkon, melihat taman luas yang gelap.
Arka datang membawa dua cangkir teh hangat.
“Kamu masih menyesuaikan,” katanya.
Aruna menerima cangkir itu. “Rumah ini besar… tapi rasanya tidak asing.”
Arka berdiri di sampingnya. “Karena kamu yang membuatnya hidup.”
Aruna menatap lampu-lampu taman.
“Kita benar-benar tinggal bersama sekarang.”
Arka menjawab pelan, “Bukan karena keadaan. Karena pilihan.”
Aruna menghela napas panjang.
Tidak ada lagi rumah kecil untuk bersembunyi.
Tidak ada lagi jarak aman.
Tidak ada lagi kehidupan terpisah.
Sekarang mereka satu atap.
Dan untuk pertama kalinya…
Masa depan tidak terasa menakutkan.
—
Hari-hari pertama di rumah baru berjalan seperti masa percobaan yang tidak pernah diumumkan.
Semua orang berusaha terlihat biasa.
Padahal tidak ada yang benar-benar biasa.
Pagi pertama, Aruna bangun lebih awal dari kebiasaan. Ia berjalan ke dapur besar yang masih terasa asing. Lemari tersusun rapi, peralatan lengkap, semuanya terlalu sempurna.
Ia membuka satu laci… lalu menutup lagi.
“Aku bahkan tidak tahu di mana sendok disimpan,” gumamnya pelan.
Suara langkah mendekat dari belakang.
Arka berdiri di ambang pintu, rambut masih sedikit berantakan. “Dapur ini memang lebih cocok untuk tim koki profesional.”
Aruna menoleh, sedikit tersenyum. “Kita perlu membuatnya berantakan supaya terasa normal.”
Arka mengambil dua cangkir. “Setuju.”
Mereka membuat kopi bersama. Gerakan sederhana itu terasa seperti latihan hidup baru: saling menunggu, saling memberi ruang.
—
Di ruang makan, anak-anak mulai turun satu per satu.
Arven datang sambil membawa laptop. “Aku sudah cek jaringan rumah ini. Sistemnya kompleks, tapi aman.”
Arka mengangkat alis. “Kamu menganalisis jaringan rumah sebelum sarapan?”
Arven mengangkat bahu. “Prioritas.”
Arkana datang dengan tangan penuh alat gambar. “Ada sudut taman yang cocok buat melukis. Cahaya paginya bagus banget.”
Arsha turun terakhir, masih mengucek mata. Ia langsung duduk di kursi dekat Arka tanpa banyak bicara.
Arka menoleh sedikit. “Kamu tidur nyenyak?”
Arsha mengangguk pelan. “Tidak ada suara sepi.”
Kalimat sederhana itu membuat Aruna berhenti menuang susu sejenak.
Rumah besar ini ternyata tidak menakutkan bagi mereka.
—
Siang harinya, beberapa staf rumah mulai berkenalan. Bukan suasana formal. Arka sengaja meminta semua orang bersikap biasa.
Aruna memperhatikan dari jauh.
Ia mendekat pelan ke Arka. “Kamu tidak khawatir anak-anak canggung?”
Arka menjawab tenang, “Kalau rumah ini tidak bisa menerima mereka apa adanya… berarti bukan rumah.”
Aruna menatapnya lama.
Perubahan terbesar bukan bangunannya.
Tapi sikap pria itu.
—
Di taman belakang, Arkana sudah duduk dengan kanvas kecil. Arven sibuk menguji koneksi Wi-Fi dari berbagai sudut. Arsha berjalan pelan mengikuti Arka seperti bayangan kecil.
“Aku boleh lihat ruang kerjamu?” tanya Arsha pelan.
Arka membuka pintu ruang kerja besar itu.
Ruangan yang dulu hanya berisi dokumen dan kesunyian… sekarang dipenuhi langkah kecil.
Arsha melihat rak buku tinggi. “Banyak sekali.”
Arka berlutut sedikit agar sejajar dengannya. “Kamu boleh pilih satu buku untuk dibaca di sini kapan saja.”
Arsha memikirkan itu serius, lalu mengangguk.
Ia tidak langsung memeluk Arka.
Tapi ia tetap berdiri dekat.
Itu cukup.
—
Sore hari, Aruna berjalan sendiri menyusuri lorong rumah. Ia berhenti di ruang keluarga yang luas.
Beberapa foto baru sudah dipasang.
Foto anak-anak.
Foto sederhana mereka berlima.
Tanpa pose formal.
Aruna menyentuh bingkai foto itu pelan.
Langkah Arka terdengar di belakang.
“Kamu tidak merasa asing lagi?” tanyanya.
Aruna menoleh. “Masih belajar. Tapi… tidak ingin pergi.”
Arka berdiri di sampingnya. “Itu sudah cukup.”
—
Malam datang lebih tenang dibanding hari sebelumnya.
Mereka makan bersama lagi. Tidak kaku seperti tamu. Tidak juga seperti orang baru.
Lebih seperti keluarga yang sedang belajar ritme.
Arven tiba-tiba berkata, “Rumah ini besar… tapi suara kita tetap terdengar.”
Arkana menambahkan, “Berarti kita benar-benar tinggal di sini.”
Arsha menatap Arka sebelum berkata pelan, “Kita tidak pindah lagi, kan?”
Arka menjawab tanpa ragu, “Tidak.”
Aruna melihat pemandangan itu dengan napas panjang yang ringan.
Bukan karena semua masalah selesai.
Tapi karena mereka akhirnya berhenti hidup terpisah.
—
Malam semakin larut.
Lampu satu per satu dipadamkan.
Rumah besar itu tidak lagi terasa kosong.
Ia mulai memiliki suara. Langkah. Tawa kecil. Percakapan sederhana.
Dan di balkon kamar, Aruna berdiri bersama Arka, melihat taman yang gelap.
“Kita benar-benar memulai hidup baru,” katanya pelan.
Arka mengangguk. “Dan kali ini… bukan karena terpaksa.”
Aruna menggenggam tangannya.
Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal.
Ini ruang untuk memperbaiki yang pernah retak… dan menjaga yang akhirnya ditemukan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka pindah—
Kesunyian di rumah besar itu terasa seperti ketenangan, bukan kekosongan.