Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Garis Batas
Ruang kerja Zhao Haoran berada di lantai tujuh sebuah gedung hukum lama di pusat kota. Interiornya rapi, formal, tanpa dekorasi berlebihan. Rak arsip memenuhi satu sisi dinding, tersusun berdasarkan nomor perkara.
Gu Yanqing duduk di kursi tamu, punggung lurus, tangan terlipat di atas lutut.
Zhao Haoran tidak langsung berbicara. Ia menutup map cokelat di tangannya, lalu melepas kacamata dan meletakkannya di atas meja.
“Situasinya berubah,” katanya akhirnya.
Nada suaranya profesional. Tidak panik. Tidak emosional.
Gu Yanqing menunggu.
“Saya menerima informasi tidak resmi pagi ini,” lanjut Zhao. “Pihak pelabuhan tidak lagi memperlakukan ini sebagai sengketa perdata biasa.”
Gu Yanqing menjawab singkat. “Saya sudah menduga.”
Zhao Haoran menatapnya beberapa detik.
“Kunjungan ke lingkungan tempat tinggal ibu Anda. Mobil abu-abu. Pengawasan jarak jauh.”
Ia tidak bertanya bagaimana Gu tahu. Ia tahu kliennya bukan orang yang berspekulasi.
“Ini sudah masuk kategori tekanan non-formal,” Zhao melanjutkan. “Dan itu bukan wilayah hukum yang bisa saya kendalikan sepenuhnya.”
Hening sejenak.
Di luar jendela, lalu lintas siang mulai padat. Suara klakson terdengar samar.
Zhao membuka kembali map di depannya.
“Secara hukum, kita berada di posisi yang cukup kuat. Bukti CCTV lama sudah diverifikasi. Laporan keselamatan palsu memiliki celah administratif yang jelas.”
Ia menggeser satu dokumen ke arah Gu Yanqing.
“Namun secara praktis, kekuatan mereka ada di luar berkas ini.”
Gu Yanqing tidak melihat dokumen itu.
Ia menatap langsung Zhao.
“Berapa besar eskalasinya jika dilanjutkan.”
Zhao tidak menjawab segera.
Ia menyatukan kedua tangannya.
“Jika kita terus maju, sidang berikutnya akan membuka proses pembuktian publik. Artinya media lokal bisa mencium kasus ini.”
“Dan itu menguntungkan kita,” kata Gu.
“Secara hukum, ya.” Zhao berhenti sejenak. “Secara keamanan pribadi, belum tentu.”
Kalimat itu dibiarkan menggantung.
Gu Yanqing memahami implikasinya.
Zhao melanjutkan dengan tenang.
“Semakin publik perkara ini, semakin tinggi tekanan terhadap pihak pelabuhan. Dan semakin tinggi tekanan, semakin besar kemungkinan mereka bereaksi di luar jalur formal.”
Gu Yanqing bertanya, “Reaksi seperti apa.”
“Intimidasi yang lebih jelas. Gangguan administratif. Bahkan kemungkinan tuduhan balik.”
“Pencemaran nama baik.”
“Ya.”
Zhao Haoran menarik napas pelan.
“Ada opsi lain.”
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Gu Yanqing tidak bergerak.
“Kita bisa menarik laporan.”
Kalimat itu diucapkan tanpa dramatisasi.
Sebagai fakta hukum.
“Secara prosedural, Anda berhak mencabut gugatan sebelum putusan inkrah. Kasus berhenti. Tekanan kemungkinan mereda.”
“Kemungkinan,” ulang Gu pelan.
“Ya. Tidak ada jaminan absolut. Tapi pola umum menunjukkan tekanan berhenti jika ancaman dianggap tidak lagi ada.”
Gu Yanqing menatap meja kayu di antara mereka.
Menarik laporan berarti menghentikan proses hukum sepenuhnya.
Tidak ada pembuktian.
Tidak ada tanggung jawab resmi.
Kasus kematian ayahnya akan berhenti di titik administrasi.
Zhao Haoran berbicara lagi.
“Saya harus mengatakan ini sebagai penasihat hukum, bukan sebagai teman.”
Gu mengangkat pandangannya.
“Jika keselamatan keluarga menjadi prioritas utama, menarik laporan adalah opsi paling rasional.”
Tidak ada nada persuasi.
Hanya kalkulasi.
Gu Yanqing bertanya, “Dan jika dilanjutkan.”
Zhao menjawab langsung.
“Risiko meningkat. Tidak hanya pada Anda. Pada ibu Anda.”
Hening panjang.
Jam dinding berdetak.
Zhao melanjutkan dengan suara lebih rendah.
“Kita berhadapan dengan struktur yang memiliki akses ke data, jaringan, dan pengaruh lokal. Secara hukum kita bisa melawan. Tetapi hukum bekerja di siang hari. Tekanan seperti ini bekerja di malam hari.”
Kontras itu jelas.
Logika hukum.
Realitas kekuasaan.
Gu Yanqing tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
“Jika saya mundur,” katanya, “apa konsekuensi jangka panjang.”
Zhao menjawab tanpa ragu.
“Secara hukum, tidak ada. Secara moral… itu tergantung pada Anda.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada penghakiman.
Hanya jawaban profesional.
Gu Yanqing bersandar sedikit di kursinya.
Di dalam pikirannya, garis-garis risiko mulai tersusun.
Opsi pertama: lanjut.
Keuntungan: kemungkinan keadilan formal. Tekanan publik. Preseden hukum.
Kerugian: eskalasi intimidasi. Risiko nyata pada keluarga.
Opsi kedua: tarik.
Keuntungan: potensi stabilitas keamanan.
Kerugian: kasus berhenti. Tidak ada tanggung jawab resmi.
Zhao Haoran menatapnya.
“Keputusan ini bukan lagi murni hukum,” katanya. “Ini garis batas.”
Kata itu terdengar berat.
Garis batas.
Jika dilangkahi, tidak ada jalan kembali.
Gu Yanqing memejamkan mata sejenak.
Ia tidak membayangkan ayahnya.
Ia tidak membayangkan adegan emosional apa pun.
Ia hanya melihat struktur kasus.
Jika ditarik sekarang, pihak pelabuhan menang tanpa catatan.
Jika dilanjutkan, konflik berubah menjadi total.
Sebuah panel transparan muncul di hadapannya.
Sistem Peningkatan Kekayaan
Keputusan Strategis Terdeteksi.
Opsi:
Lanjutkan gugatan
Tarik laporan
Tidak ada penjelasan tambahan.
Tidak ada saran.
Tidak ada indikator keberhasilan.
Hanya dua baris pilihan.
Gu Yanqing menatap panel itu tanpa reaksi.
Zhao Haoran tidak bisa melihatnya.
“Apapun keputusan Anda,” kata Zhao, “saya akan mengeksekusi secara profesional.”
Gu membuka mata.
Panel itu masih ada.
Dua opsi.
Tanpa jalan tengah.
Ia tidak memilih.
Belum.
Ia berdiri perlahan.
“Saya butuh waktu,” katanya singkat.
Zhao mengangguk.
“Jangan terlalu lama.”
Gu Yanqing berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Jika saya lanjut,” katanya tanpa menoleh, “apakah Anda siap.”
Zhao Haoran menjawab tenang.
“Saya tidak akan menyarankan sesuatu yang tidak sanggup saya tangani.”
Itu bukan janji kemenangan.
Itu komitmen profesional.
Gu Yanqing keluar dari kantor itu dengan langkah stabil.
Di dalam benaknya, dua opsi masih menggantung.
Dan ia tahu—
Apa pun yang dipilih, satu dunia akan tertutup selamanya.
...
Malam turun tanpa suara.
Apartemen Gu Yanqing kembali sunyi seperti dua malam sebelumnya. Lampu ruang kerja menyala tunggal, memotong gelap dengan cahaya putih dingin. Di atas meja, berkas perkara tersusun sejajar. Tidak ada yang berubah secara fisik.
Namun struktur situasinya telah berubah total.
Gu Yanqing duduk sendiri, jas dilepas, lengan kemeja digulung rapi hingga pergelangan. Ponsel terletak di sisi kanan meja. Layar mati.
Ia tidak membuka televisi. Tidak memutar musik. Tidak menghubungi siapa pun.
Ia hanya duduk dan menghitung ulang.
Risiko langsung: pengawasan terhadap ibu.
Risiko menengah: intimidasi administratif terhadap dirinya.
Risiko jangka panjang: eskalasi konflik menjadi permanen.
Ia mengambil selembar kertas kosong.
Menulis dua kolom.
Lanjut. Tarik.
Di bawah kata “Lanjut”, ia menulis:
Kemungkinan keadilan formal. Meningkatkan tekanan pada pihak pelabuhan. Membuka peluang investigasi publik.
Di bawah kata “Tarik”, ia menulis:
Penghentian konflik terbuka. Potensi stabilitas keamanan. Tidak ada preseden hukum.
Ia berhenti.
Lalu menambahkan satu baris di kolom kedua:
Kasus kematian berhenti total.
Tinta pena sedikit lebih tebal di baris itu.
Ia menatap kertas tersebut cukup lama.
Ini bukan soal emosi.
Ia tidak memikirkan dendam.
Ia tidak memikirkan pembalasan.
Ia memikirkan struktur kekuasaan.
Jika ia mundur sekarang, pesan yang diterima pihak lawan jelas: tekanan personal efektif.
Jika ia lanjut, pesan yang ia kirim juga jelas: intimidasi tidak mengubah keputusan hukum.
Namun pesan semacam itu memiliki harga.
Harga dibayar oleh siapa?
Bukan hanya dirinya.
Ia memejamkan mata sejenak.
Wajah ibunya pagi tadi muncul dalam memorinya. Langkah pelan. Rute rutin. Tanpa kesadaran bahwa sedang diamati.
Ia membuka mata kembali.
Ketakutan bukan variabel yang boleh memimpin keputusan.
Namun keselamatan adalah faktor rasional.
Ia mengambil ponsel. Membuka catatan pagi tadi.
Waktu. Posisi. Mobil. Subjek pria.
Pengawasan itu terstruktur, tetapi tidak agresif.
Itu berarti mereka masih mengukur.
Belum masuk tahap eksekusi tekanan nyata.
Artinya, keputusan malam ini akan menentukan arah berikutnya.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela.
Kota di bawah tampak tenang. Lampu-lampu apartemen lain menyala acak.
Garis batas.
Zhao Haoran benar.
Ini bukan lagi perkara hukum semata.
Ini titik tanpa kembali.
Jika ia memilih lanjut, ia menerima bahwa konflik bersifat total.
Jika ia memilih tarik, ia menerima bahwa kebenaran tidak akan pernah diuji di ruang sidang.
Ia kembali ke meja.
Panel transparan muncul kembali di hadapannya.
Sistem Peningkatan Kekayaan
Keputusan Strategis Belum Ditentukan.
Opsi:
Lanjutkan gugatan
Tarik laporan
Tidak ada hitungan mundur.
Tidak ada indikator risiko.
Hanya dua kalimat sederhana.
Gu Yanqing membaca ulang dua opsi itu.
Ia tidak terburu-buru.
Ia mengulang kembali seluruh perjalanan kasus sejak awal.
Kecelakaan kerja. Laporan keselamatan palsu. Upaya menekan saksi. Ancaman anonim. Pengawasan terhadap keluarga.
Strukturnya konsisten.
Setiap kali tekanan meningkat, itu berarti gugatan menyentuh titik sensitif.
Ia menyadari sesuatu dengan sangat jelas.
Jika ia mundur sekarang, bukan hanya kasus ini yang berhenti.
Reputasinya sebagai pihak yang bisa ditekan akan tercatat.
Dan dalam dunia kekuasaan, reputasi adalah mata uang.
Ia tidak berbicara keras.
Tidak ada monolog heroik.
Ia hanya menyimpulkan secara rasional:
Konflik ini sudah dimulai.
Dan garis batas sudah dilintasi oleh pihak lawan ketika mereka menyebut nama ibunya.
Ia mengangkat tangan.
Jari telunjuknya bergerak perlahan.
Tidak ragu.
Tidak gemetar.
Ia memilih.
Lanjutkan gugatan.
Panel itu berkedip satu kali.
Tidak ada suara kemenangan.
Tidak ada notifikasi pujian.
Hanya satu baris konfirmasi muncul dengan huruf tipis.
Keputusan final tercatat. Jalur konflik: Eskalasi penuh.
Panel menghilang.
Ruangan kembali sunyi.
Gu Yanqing duduk diam beberapa detik.
Tidak ada perubahan ekspresi.
Ia sudah menghitung konsekuensi.
Dan ia menerimanya.
Ia mengambil ponsel, membuka pesan dari nomor anonim pagi tadi.
“Pagi yang tenang, bukan?”
Ia tidak membalas.
Ia menghapus pesan itu.
Lalu ia membuka aplikasi pesan lain dan mengirim satu kalimat kepada Zhao Haoran.
“Kita lanjut.”
Pesan terkirim.
Tidak ada tambahan.
Tidak ada penjelasan.
Keputusan sudah dibuat.
Di luar jendela, angin malam bertiup pelan.
Di suatu tempat yang tidak ia lihat, seseorang mungkin sedang menerima laporan bahwa tekanan tidak berhasil.
Dan mulai malam ini—
Permainan tidak lagi tentang bertahan.
Ia telah memilih untuk melangkah melewati garis batas.