NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Malam pertama sebagai sepasang suami istri ternyata jauh dari bayangan romantis yang ada di film-film. Setelah makan malam mewah yang penuh dengan omelan Awan tentang "betapa mahalnya steak yang teksturnya mirip karet," mereka kembali ke rumah. Kesunyian malam itu terasa berbeda. Kini, tidak ada lagi sekat "kamar tamu" atau "kamar ipar". Secara legal dan agama, mereka adalah satu.

Suster Lastri sudah membawa Shaka ke kamarnya setelah bayi itu tertidur pulas di mobil. Kini, Jasmine berdiri mematung di tengah kamar utama yang luas, kamar yang dulu milik Hero dan kini menjadi milik Awan. Harum aromaterapi cendana memenuhi ruangan, namun suasana justru terasa sangat kaku.

Jasmine sedang duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya yang masih terasa berat setelah disanggul seharian. Ia hanya mengenakan piyama sutra berwarna putih tulang yang sopan namun elegan. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Awan keluar dengan rambut basah, hanya mengenakan celana tidur panjang hitam dan kaos oblong putih. Pria itu tampak sangat segar, namun gerakannya terlihat... aneh. Ia berjalan menuju lemari, lalu berbalik lagi ke arah meja rias, seolah lupa apa yang ingin ia lakukan.

"Kenapa lo belum tidur?" tanya Awan singkat. Nada judesnya tetap ada, tapi suaranya sedikit pecah—pertanda ia pun sedang berada di puncak kegugupan.

Jasmine menoleh, mencoba tersenyum. "Baru mau tidur, Wan. Kamu juga baru selesai mandi?"

"Ya iyalah, masak baru selesai bajak sawah?" balas Awan ketus, meski sebenarnya ia hanya ingin menutupi rasa canggungnya.

Awan berjalan mendekati ranjang, namun ia berhenti sekitar satu meter dari tempat Jasmine duduk. Ia menatap ranjang besar itu seolah-olah benda itu adalah medan ranjau yang siap meledak kapan saja.

"Gue tidur di sebelah kiri, lo di kanan," perintah Awan sambil menunjuk sisi kasur dengan dagunya. "Dan inget, jangan melewati batas bantal guling di tengah. Gue nggak mau bangun-bangun tangan gue ketindihan lo."

Jasmine menahan tawa. "Wan, kita ini suami istri. Masa harus pakai pembatas bantal?"

Awan langsung menatapnya tajam, telinganya mulai memerah. "Gue belum biasa, Jasmine! Selama puluhan tahun gue tidur sendiri, atau paling nggak cuma sama dokumen perusahaan. Sekarang tiba-tiba ada orang bernapas di sebelah gue... itu aneh!"

Jasmine akhirnya menurut. Ia merebahkan tubuhnya di sisi kanan, menarik selimut hingga ke dada. Awan kemudian mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram, lalu ia naik ke tempat tidur dengan gerakan yang sangat kaku, seolah takut kasurnya akan roboh.

Mereka berdua berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Keheningan yang terjadi sangat pekat hingga suara napas mereka masing-masing terdengar jelas.

"Wan..." panggil Jasmine pelan.

"Apa? Tidur, Jasmine! Jangan bawel," sahut Awan tanpa menoleh.

"Makasih ya buat hari ini. Aku tahu ini berat buat kamu, nikahin aku demi ngelindungin Shaka."

Awan terdiam cukup lama. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Jasmine, meski terhalang bantal guling yang ia letakkan sebagai pembatas.

"Jas, gue udah bilang kan kemarin pas lamaran?" suara Awan merendah, menjadi sangat dalam dan serius. "Gue nggak nikahin lo cuma buat status di depan polisi atau Paman Wijaya. Kalau gue nggak beneran pengen miliki lo, gue bakal pilih cara lain yang lebih gampang, kayak nyogok hakim misalnya."

Jasmine menoleh, mata mereka bertemu di kegelapan yang remang.

"Gue emang kaku, gue nggak tau gimana caranya jadi suami yang romantis kayak di drakor yang sering lo tonton," lanjut Awan. tangannya terulur melintasi bantal pembatas, mengusap ujung rambut Jasmine. "Tapi mulai malam ini, lo bener-bener jadi tanggung jawab gue sepenuhnya. Dunia luar boleh nganggep ini pernikahan kontrak atau apalah, tapi buat gue... ini sekali seumur hidup."

Jasmine merasakan matanya memanas. Ia meraih tangan Awan yang ada di dekat bantalnya, menggenggamnya erat. "Aku juga bakal belajar jadi istri yang baik buat kamu, Wan. Aku tau aku ceroboh, sering bikin kamu marah—"

"Emang. Lo itu ratunya ceroboh," potong Awan, namun kali ini ia tersenyum tipis. "Lo itu satu-satunya orang yang berani bikin gue panik cuma gara-gara lupa makan atau salah semprot cairan cabe."

Jasmine tertawa renyah. "Habisnya kamu serem kalau lagi marah."

Awan tiba-tiba menarik bantal guling pembatas itu dan melemparkannya ke lantai. Ia menarik Jasmine mendekat ke dalam pelukannya. Tubuh Jasmine terasa mungil di balik dada Awan yang bidang.

"Udah, nggak usah pake pembatas segala. Pegel badan gue kalau tidur kaku begitu," gerutu Awan.

Jasmine menyandarkan kepalanya di dada Awan, mendengarkan detak jantung pria itu yang ternyata berdegup sangat kencang—sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Ia merasa sangat aman, sangat terlindungi.

"Wan, kamu nggak bakal nyesel kan?" bisik Jasmine.

Awan mencium puncak kepala Jasmine dengan lama, menghirup aroma sampo melati yang menenangkan. "Nyesel itu kalau gue biarin lo pergi sama Dokter Rendra kemarin. Itu baru namanya penyesalan seumur hidup."

"Dih, masih dibahas aja dokter itu!"

"Bodo amat. Pokoknya besok dokter Shaka gue ganti sama kakek-kakek yang udah mau pensiun. Titik, nggak pake koma!" tegas Awan posesif.

Jasmine hanya bisa tertawa sambil memeluk pinggang suaminya itu. Di tengah kegelapan malam, di bawah atap rumah yang dulu penuh dengan duka, kini mulai tumbuh harapan baru. Awan mungkin tetap menjadi pria yang judes dan kaku, tapi bagi Jasmine, ia adalah "badai" yang paling menenangkan yang pernah hadir dalam hidupnya.

Keesokan paginya, matahari bersinar sangat cerah. Awan terbangun lebih dulu karena merasakan sesuatu yang hangat menindih lengannya. Ia melihat Jasmine masih terlelap dengan wajah damai.

Awan tidak langsung bangun. Ia memperhatikan wajah istrinya itu dengan seksama. Ia menyentuh pipi Jasmine dengan ibu jarinya. "Gue bakal jaga lo, Jas. Gue janji sama diri gue sendiri, dan gue janji sama Hero," batinnya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Shaka merangkak masuk—bayi itu sudah mulai lincah—diikuti Suster Lastri yang tampak panik.

"Duh, maaf Pak! Shaka-nya lari cepet banget pas saya mau ganti popok!" bisik Suster Lastri takut-takut.

Shaka langsung menuju ranjang dan mencoba memanjat. Awan dengan sigap menangkap keponakan—yang kini sudah menjadi anaknya itu.

"Ssttt... Bunda masih tidur, Jagoan," bisik Awan sambil mengangkat Shaka ke atas kasur, mendudukkannya di antara dirinya dan Jasmine.

Shaka justru tertawa keras dan menepuk-nepuk pipi Jasmine. "Nda! Nda! Dah! Dah!" (Bunda! Ayah!)

Jasmine terbangun, ia terkejut melihat Shaka dan Awan sudah ada di sana. Ia tersenyum lebar melihat "dua pria"-nya sedang bercanda di pagi hari.

"Pagi, Ayah Awan," goda Jasmine dengan suara serak khas bangun tidur.

Awan membuang muka, wajahnya memerah padam. "Jangan panggil gue gitu! Kedengerannya aneh!" ketusnya, namun ia tidak bisa menahan senyum saat Shaka menarik-narik kaosnya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Awan memutuskan untuk bolos kantor. Ia ingin menghabiskan waktu seharian penuh bersama istri dan anaknya. Karena baginya, tidak ada kesepakatan bisnis yang lebih penting daripada menjaga senyuman di wajah Jasmine dan tawa di mulut Shaka.

***

Enaknya puasa up jam berapa ya. Coba koment. Kalo mau aku up rajin kalian juga jangan pelit vote+ komen yaaa.

Salam hangat, pacarnya Chanyeol 😝

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!