Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Brak!
Dokumen di tangan Hana melayang dan mendarat di kaki Karina tepat saat Shopia dan Alan memasuki ruangan itu. Karina menunduk dan membaca dengan hati-hati dokumen yang berada di ujung kakinya.
Deg!
Suara jantung bertalu-talu bagai genderang perang di tengah pertempuran. Sesak merebak, rongga dada menyempit, tenggorokan seolah tercekik. Laporan keuangan perusahaan yang selama ini dipalsukan dan disembunyikan dengan baik.
"Ini yang kau sebut sebagai kerja keras? Menggelapkan dana perusahaan untuk kepentingan sendiri. Jumlah yang tidak sedikit. Dua ratus miliar kalian habiskan hanya dalam waktu satu tahun. Untuk apa? Untuk memenuhi jiwa serakah kalian berdua. Sungguh luar biasa! Kalian benar-benar hebat! Sungguh kerja keras yang patut disanjung," ucap Hana seraya bersandar pada meja di ruangan itu.
Karina gelagapan begitu pula dengan Shopia dan petinggi lainnya yang terlibat. Dengan tergesa Karina menyambar dokumen itu, tapi Alan mendahuluinya.
"A-alan ... ini semua tidak benar. Hana menjebak kami, Alan. Kau harus percaya kepadaku, Alan!" mohon Karina panik.
Padahal, Alan belum membaca laporannya. Laki-laki itu melirik keduanya dengan sinis sebelum memeriksa laporan.
"Transfer uang ke rekening atas nama Shopia Haysa dan Karina Sanjaya." Alan melirik mereka lagi dengan mata yang tajam.
"Kau bahkan tidak menyadari adanya kecurangan di perusahaan. Kau terlalu lemah dan terlalu percaya kepada mereka. Sekarang, lihat apa yang dilakukan adikmu yang tersayang bersama tunanganmu itu. Mereka ingin membuat perusahaan ini hancur," sengit Hana melirik manager keuangan kepercayaan Shopia.
"Beruntung di antara para pengkhianat ini ada seseorang yang teliti dan dengan jujur membuat salinan laporan keuangan dalam setiap bulannya. Jika tidak ada, maka kecurangan ini tidak akan pernah ditemukan," lanjut Hana menatap seorang laki-laki yang berdiri di samping sang manager. Dia hanya asisten kecil dari manager itu.
Alan mencengkeram dokumen di tangannya dengan erat, wajahnya memerah, rahang mengeras menahan emosi. Karina dan Shopia saling berpegangan, wajah mereka pucat seketika. Senyum kemenangan yang tadi terpasang di bibir Shopia, lenyap begitu saja.
Brak!
Alan kembali melempar dokumen itu ke dekat mereka, matanya menyalang laksana binatang buas yang hendak mencabik-cabik mangsanya. Kedua wanita itu tersentak kaget.
"Sungguh luar biasa! Aku tidak menyangka kalian benar-benar melakukan kecurangan ini. Aku sudah mempercayakan perusahaan ini kepada kalian, tapi kalian ...." Alan menekan emosi, dadanya naik dan turun oleh sebab sesak yang merebak.
Kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Alan menaruh kepercayaan penuh kepada mereka berdua untuk mengelola perusahaan.
"Alan, ini fitnah!" Karina masih mengelak.
"Kakak, jangan dengarkan omongan Hana! Aku tidak akan mungkin melakukan kecurangan itu, Kakak. Percaya kepadaku, Kakak!" Shopia ikut merengek.
Plak!
Alan menampar wajah keduanya sekaligus, mereka terhuyung dan nyaris jatuh jika tidak berpegangan.
"Kakak, kau memukulku? Hanya karena selembar kertas laporan yang belum tentu kebenarannya itu. Kertas ini tidak bisa membuktikan bahwa aku melakukan kecurangan. Hana, bukti apa yang kau miliki untuk menguatkan laporan itu? Aku yakin kau yang menyuruh orang untuk membuat laporan palsu ini dan menjebak ku!" tuntut Shopia dengan berani.
Aku sudah meminta manager untuk memusnahkan setiap bukti transaksi. Tak akan mungkin Hana menemukannya. Ya, aku yakin. Semua itu tidak ada.
Hati Shopia bergumam, kembang kempis dadanya menunggu kebenaran. Rasa takut jelas terlihat di wajahnya yang pucat meski ia terus meyakinkan bahwa Hana tidak memiliki bukti.
"Laporan ini sudah cukup membuktikan kecurangan yang kalian lakukan. Pantas saja setiap tahun kalian selalu kekurangan dana untuk menutupi semuanya. Aku benar-benar tidak menyangka. Kalian benar-benar mengecewakanku," ucap Alan dengan tangan terkepal kuat.
Shopia menggelengkan kepala, Karina terus berusaha meyakinkan Alan bahwa itu hanyalah jebakan Hana untuk mengusir mereka dari perusahaan.
"Alan, jangan dengarkan omong kosongnya. Semua ini tidak benar! Aku tidak pernah menggelapkan dana perusahaan untuk kepentinganku sendiri," tolak Karina memohon dengan sangat agar Alan tidak mempercayai Hana.
Hana mendengus, mengambil setumpuk kertas dari atas mejanya. Bukti ke mana uang tersebut hilang.
"Villa di pinggir selatan kota Eldoria, senilai tiga puluh miliar." Hana melempar selembar kertas yang membuat fokus semua orang teralihkan.
"Villa di pinggir Utara kota Eldoria, senilai dua puluh miliar." Kembali Hana melemparkan lembaran kertas. Bukti-bukti hilangnya uang perusahaan.
"Pesta di kapal pesiar, menghabiskan dana ratusan juta rupiah. Liburan ke luar negeri menghabiskan uang hampir sepuluh miliar. Semuanya adalah bukti ke mana uang perusahaan mengalir selama ini, dan semua tertulis atas nama kalian berdua. Kalian ingin mengelak?" pungkas Hana setelah melempar kertas terakhir.
Kertas berisi berita dan gambar mereka berdua berikut data keuangan yang mereka habiskan. Bukti bahwa keduanya memang bekerja keras untuk memenuhi keserakahan mereka. Karina dan Shopia limbung, lutut mereka lemas. Keduanya terjatuh dalam keadaan bingung. Bagaimana Hana bisa menemukan semua bukti itu?
"Keterlaluan!" Alan menggeram, matanya merah menyala. Dia tak hanya marah kepada mereka berdua, tapi juga pada dirinya sendiri.
"Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana aku bisa mendapatkan bukti itu semua, bukan?" Hana tersenyum sinis.
Alan pun penasaran karena Hana baru saja datang ke perusahaan dan tidak mengenal siapapun.
"Kalian pikir semua yang kalian lakukan itu sudah bersih dan tidak meninggalkan bukti sama sekali. Kalian harus ingat, di antara para pengkhianat masih ada orang yang jujur dan bijak. Dia menyimpan semua bukti itu sendiri. Mungkin berharap suatu hari nanti semua ini akan terbongkar," ucap Hana membuat semua orang yang terlibat membelalak ketakutan.
Mereka saling menatap satu sama lain, saling mencurigai. Lalu, seseorang maju ke hadapan. Seorang laki-laki yang hanya berstatus sebagai asisten kecil sang menejer.
"Anda memang memerintahkan saya untuk menghapus semua bukti itu, tapi saya tidak pernah benar-benar menghapusnya. Uang yang Anda berikan untuk tutup mulut sudah saya serahkan kepada Nona Hana. Saya tidak ingin bekerja di perusahaan yang penuh dengan kecurangan ini. Semua karyawan bekerja dengan sangat keras, tapi tunjangan mereka setiap tahun selalu dipotong. Bukan hanya itu, banyak karyawan mengeluh karena tiba-tiba ada pemotongan gaji yang tidak jelas. Sistem tidak lagi berlaku, kekuasaan yang diperankan. Siapa yang paling tinggi jabatannya, dia yang memiliki aturan. Saya sudah muak dengan semua itu," ungkap asisten kecil itu membuat Karina dan Shopia menyalang kepadanya.
Hana tersenyum tulus kepadanya.
"Saya tidak makan uang itu walau sepeser pun. Semuanya saya simpan di dalam kartu itu dan sekarang saya kembalikan. Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan," katanya lagi bersungguh-sungguh.
"Kau ... sungguh keterlaluan! Keparat, pengkhianat!" umpat Karina kesal karena ia yang mempekerjakan laki-laki itu di perusahaan.
"Maafkan saya, Nona. Saya sangat berterimakasih kepada Anda karena sudah membawa saya bekerja di sini, tapi saya tidak bisa lagi mendukung pengkhianatan Anda yang perlahan menghancurkan perusahaan," ucapnya tanpa penyesalan.
Karina menggeram, meremas jemarinya dengan kesal.
Berakhir sudah. Semuanya benar-benar sudah selesai.
Shopia membatin, tak ada lagi kemewahan yang akan dia nikmati setelah ini.
"Aku tidak bisa memaafkan kalian berdua. Biarkan hukum yang berbicara!" tegas Alan dengan yakin akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.
"Tunggu!"