"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Rapat Orang Tua Murid (Papa Debut)
"Pak Cayvion, tolong! Ini dari sekolah. Elio ada masalah di ruang kepala sekolah."
Hara menyerbu masuk ke ruang kerja Cayvion dengan wajah pucat, ponselnya masih menempel di telinga. Napasnya memburu.
Cayvion, yang sedang memeriksa grafik saham di tiga layar sekaligus, menghentikan kegiatannya. Alis tebalnya menyatu. "Kenapa? Dia meretas sistem nilai sekolah?"
"Bukan. Dia... dia bikin temannya nangis sampai sesak napas. Orang tua anak itu ngamuk dan minta Elio dikeluarkan sekarang juga."
Cayvion berdiri, menyambar kunci mobil dari meja. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan, melainkan aura dingin yang mematikan.
"Ayo berangkat. Tidak ada yang boleh mengeluarkan pewaris Alger Corp, kecuali aku sendiri."
Mobil sport hitam Cayvion mendarat mulus di pelataran parkir TK Bintang Cendekia. Begitu pintu mobil terbuka, suasana sekolah yang tadinya riuh oleh ibu-ibu penjemput mendadak hening.
Semua mata tertuju pada sosok tinggi tegap yang melangkah keluar. Cayvion mengenakan setelan jas abu-abu gelap, kacamata hitam yang diselipkan di saku, dan aura kekuasaan yang begitu pekat.
"Eh, itu Pak Cayvion Alger kan? Yang sering masuk TV?" bisik seorang ibu muda sambil menyenggol lengannya temannya.
"Ganteng banget aslinya! Ya ampun, jadi gosip itu benar? Dia punya anak di sini?"
"Siapa ibunya? Beruntung banget!"
Cayvion mengabaikan bisik-bisik genit itu. Dia berjalan lurus, membelah kerumunan ibu-ibu sosialita layaknya Nabi Musa membelah laut, dengan Hara yang tergopoh-gopoh mengikuti di belakangnya.
Tujuan mereka satu: Ruang Kepala Sekolah.
Di dalam ruangan ber-AC itu, suasananya panas.
Seorang bocah laki-laki gemuk bernama Amar sedang menangis meraung-raung di pelukan ibunya yang memakai perhiasan emas berlebihan. Di seberang meja, Elio duduk tenang dengan kaki menyilang, wajahnya datar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Lihat anak saya! Dia trauma!" jerit Ibu Dito sambil menunjuk Elio dengan jari telunjuk yang penuh cincin. "Anak tidak tahu diri! Sudah miskin, berani menghina anak saya!"
Bu Ratna, sang kepala sekolah, tampak kewalahan. "Sabar, Bu Sinta. Kita tunggu orang tua Elio dulu..."
Pintu terbuka kasar.
Cayvion masuk, disusul Hara. Kehadirannya membuat ruangan yang sempit itu terasa makin sesak. Bu Ratna langsung berdiri, gugup setengah mati melihat siapa yang datang.
"Pa-Pak Cayvion?" gagap Bu Ratna.
"Saya ayahnya," kata Cayvion dingin, langsung duduk di kursi sebelah Elio tanpa dipersilakan. Dia menatap putranya. "Elio, laporan situasi."
Elio menatap ayahnya sekilas. "Dia duluan, Pa. Amar bilang sepatu Elio jelek. Katanya merek Pasar Malam. Terus dia bilang Papa nggak punya uang buat beli yang asli."
"Terus?" pancing Cayvion.
"Terus Elio bilang, sepatu itu fungsinya buat melindungi kaki dari kotoran, bukan buat menutupi otak yang kosong. Elio juga bilang kalau Amar butuh validasi merek mahal karena dia nggak punya prestasi yang bisa dibanggakan."
Elio mengangkat bahu. "Eh, dia nangis. Cengeng."
"KURANG AJAR!" Ibu Amar berdiri, wajahnya merah padam. "Dengar itu?! Anak Bapak menghina anak saya bodoh! Bapak tahu siapa suami saya?! Suami saya donatur terbesar di yayasan ini!"
Bu Ratna buru-buru menengahi, tapi dia memihak yang punya uang. "Pak Cayvion, Bu Hara... ucapan Elio memang sangat menyakitkan. Tidak sepantasnya anak TK bicara seperti itu. Elio harus minta maaf, atau kami terpaksa memberikan skorsing."
Hara mau membuka mulut untuk membela, tapi tangan besar Cayvion menahannya.
Cayvion menatap Bu Ratna, lalu beralih ke Ibu Amar. Tatapannya tenang, tapi mengerikan.
"Jadi, anak Ibu menghina sepatu anak saya lebih dulu?" tanya Cayvion pelan.
"Ya wajar dong!" semprot Ibu Amar angkuh. "Anak saya pakai sepatu limited edition dari Italia! Anak Bapak pakai sepatu apa? Kelihatannya dekil begitu!"
Cayvion tertawa. Tawa singkat yang meremehkan.
"Bu Ratna," panggil Cayvion tanpa menoleh ke kepala sekolah. "Anda di sini digaji sebagai pendidik atau sebagai juri fashion show?"
Wajah Bu Ratna memucat. "Maksud Bapak?"
"Anak ini," Cayvion menunjuk Amar, "melakukan bullying verbal berbasis materi. Dia menghina status ekonomi temannya. Itu bibit kesombongan yang busuk. Dan anak saya, Elio, melakukan pembelaan diri dengan logika. Sejak kapan logika dianggap sebagai pelanggaran di sekolah ini?"
"Tapi Amar menangis, Pak!" bela Bu Ratna.
"Dia menangis karena dia kalah debat. Itu bukan salah anak saya, itu salah mental anak itu yang lembek," balas Cayvion tajam.
Dia berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Ibu Amar yang kini mulai keder melihat aura dominan Cayvion.
"Dan untuk Ibu... suami Ibu donatur terbesar? Berapa sumbangannya? Seratus juta? Dua ratus juta?"
Cayvion mengeluarkan ponselnya.
"Saya akan transfer sepuluh kali lipat dari jumlah sumbangan suami Ibu ke rekening yayasan hari ini juga. Dengan satu syarat."
Cayvion menatap Bu Ratna tajam.
"Ubah kurikulum sekolah ini. Ajarkan anak-anak untuk menghargai otak, bukan merek sepatu. Dan pastikan anak yang bernama Anar ini minta maaf pada Elio di depan kelas besok pagi. Kalau tidak..."
Cayvion mencondongkan tubuhnya ke depan meja Bu Ratna.
"...saya bukan cuma akan menarik donasi. Saya akan membeli sekolah ini, memecat Anda, dan mengubah tempat ini menjadi gudang arsip perusahaan saya. Mengerti?"
Hening.
Ibu Amar ternganga, wajahnya pucat pasi. Bu Ratna gemetar hebat sambil mengangguk patah-patah. "Me-mengerti, Pak. Sangat mengerti."
Cayvion menoleh ke Elio. "Ayo pulang. Papa lapar."
Elio melompat turun dari kursi, menyandang tas robotnya, lalu berjalan keluar mengikuti ayahnya tanpa menoleh lagi ke arah Amar yang masih sesenggukan. Hara yang masih shock melihat aksi suaminya, buru-buru menyusul.
Mereka berjalan menuju parkiran dalam diam. Matahari siang terasa terik, tapi hati Hara terasa dingin karena ketegangan tadi.
Cayvion membuka pintu mobil untuk Elio.
Namun, sebelum masuk, Elio berhenti. Tangan mungilnya terulur, meraih jari kelingking Cayvion.
Cayvion tersentak. Dia menunduk, menatap tangan kecil yang menggenggam jari besarnya itu.
Ini pertama kalinya. Sejak awal bertemu, sejak mereka bertemu di bawah meja kantor, bocah ini selalu menatapnya sinis atau datar. Tidak pernah ada kontak fisik sukarela.
"Kenapa?" tanya Cayvion kaku.
Elio tidak menatap wajah ayahnya. Dia menatap aspal parkiran, menendang kerikil kecil dengan sepatu yang tadi dihina temannya.
"Tadi Papa keren," gumam Elio pelan, nyaris tak terdengar. "Sedikit."
Jantung Cayvion berdetak aneh. Ada desiran hangat yang menjalar dari ujung jari kelingkingnya, naik ke lengan, lalu menyebar ke seluruh dadanya, melelehkan lapisan es yang membekukan hatinya selama bertahun-tahun.
Rasanya lebih dahsyat daripada saat memenangkan tender triliunan rupiah.
Cayvion berdehem, berusaha menutupi rasa harunya. Dia menggenggam balik tangan kecil itu, meremasnya pelan.
"Cuma sedikit?" tanya Cayvion.
Elio mendongak, nyengir tipis—sangat tipis, persis senyum Cayvion. "Jangan geer. Masih kerenan Iron Man."
Elio melepaskan tangannya dan masuk ke dalam mobil.
Cayvion masih berdiri di sana, menatap pintu mobil yang terbuka. Dia menyentuh dadanya sendiri. Sial. Dia benar-benar dalam masalah. Dia mulai menyukai bocah-bocah ini.
Hara yang berdiri di sisi lain mobil tersenyum lembut melihat pemandangan itu. "Masuk, Pak. Keburu es di hati Bapak mencair semua jadi air, nanti banjir."
"Diam kamu," sahut Cayvion, tapi kali ini tidak ada nada ketus dalam suaranya. Hanya ada nada seorang ayah yang baru saja memenangkan hati putranya.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri