Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
BAB 31: Cahaya di Atas Luka
Fajar di balik jeruji besi selalu terasa lebih dingin, seolah-olah matahari pun enggan terburu-buru menyapa tempat yang penuh dengan dosa ini. Namun bagi Alek, udara pagi itu terasa berbeda. Ia terbangun sebelum muazin masjid lapas mengumandangkan azan subuh. Di dalam klinik yang masih remang, ia duduk di tepi ranjang, menahan napas saat rasa nyeri di rusuk kirinya berdenyut mengikuti detak jantungnya.
Pintu jeruji klinik berderit pelan. Bayu, sipir muda itu, masuk dengan langkah mengendap, membawa sebuah ember kecil berisi air hangat dan sebuah bungkusan kain putih yang rapi.
"Waktunya, Lex," bisik Bayu. Suaranya rendah, seolah tidak ingin memecah kesakralan pagi itu.
Alek mengangguk pelan. Dibantu oleh Bayu, ia berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut klinik. Langkahnya terseret, setiap inci pergerakan adalah perjuangan melawan rasa sakit fisik, namun matanya memancarkan binar yang belum pernah dilihat Bayu sebelumnya. Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu kuning redup, Alek menatap bayangannya di cermin yang retak dan berkerak.
Wajahnya masih lebam. Pelipisnya berwarna keunguan, dan sudut bibirnya masih menyisakan bekas luka kering akibat pukulan Bara. Namun, ia tidak lagi melihat Alexander sang singa jalanan yang penuh amarah. Ia melihat seorang musafir yang baru saja menemukan pintu rumahnya setelah tersesat puluhan tahun di badai gurun.
"Biar saya bantu, Lex," ujar Bayu saat melihat Alek kesulitan melepas kaus kliniknya.
"Terima kasih, Pak Bayu. Tapi biarkan saya lakukan ini sendiri," jawab Alek tenang. "Ini adalah mandi pertama saya sebagai manusia yang... yang ingin pulang."
Dengan perlahan dan penuh rintihan yang tertahan, Alek membasuh tubuhnya. Air hangat itu mengalir di atas kulitnya yang penuh tato—tato lambang Venom Crew di lengan kanan, dan gambar salib besar yang pernah dibanggakan ayahnya di punggungnya. Ia melihat air itu meluruhkan debu, keringat, dan sisa-sisa aroma darah yang menempel. Ia merasa seperti sedang meluruhkan kulit lamanya.
Ia teringat ayahnya, Pendeta Daniel. Ia membayangkan wajah keras sang ayah jika tahu apa yang akan terjadi pagi ini. Maafkan Alek, Yah, bisiknya dalam hati. Alek tidak mengkhianati Tuhan. Alek hanya sedang mencari-Nya di tempat di mana Alek tidak lagi merasa dituntut untuk menjadi sempurna.
Setelah selesai, Alek mengenakan baju koko putih pemberian Syekh Mansyur. Kainnya halus, berbau harum deterjen murah namun bersih. Baju itu sedikit longgar di tubuh Alek yang mulai menyusut, namun saat ia mengancingkan kerahnya, ia merasa seolah sedang mengenakan baju zirah yang paling kuat di dunia.
Salim datang tak lama kemudian, membawa sebotol kecil minyak cendana. Dengan tangan gemetar, ia mengoleskan minyak itu ke rambut Alek yang baru saja disisir rapi.
"Kamu wangi sekali, Lex," bisik Salim, matanya berkaca-kaca. "Kayak pengantin."
Alek tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tulus tanpa beban. "Mungkin memang benar, Lim. Hari ini aku akan menikah dengan takdirku yang baru."
Alek melangkah keluar dari klinik. Di koridor, beberapa petugas yang biasanya kasar kini hanya diam, memperhatikan pria berbaju putih itu lewat. Ada sesuatu pada aura Alek pagi itu yang membuat orang enggan untuk mengganggu. Kesunyian koridor itu hanya dipecah oleh suara seretan sandal Alek yang melambat di depan pintu besar menuju lapangan tengah.
Ia berhenti sejenak, menghirup udara fajar yang segar. Di kejauhan, kubah kecil masjid At-Taubah mulai terlihat bersinar tertimpa cahaya subuh yang kebiruan. Di sana, Syekh Mansyur sudah menunggu. Di sana, Khansa—dalam doa-doanya—pasti sedang menunggu.
Alek meraba dadanya. Retakan di rusuknya masih sakit, namun hatinya terasa begitu lapang, seolah-olah seluruh ruang di dalam dadanya telah dikosongkan untuk menerima sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nyawa.
"Ayo, Pak Bayu. Mari kita temui Cahaya itu," ujar Alek mantap.
Langkah kaki mereka bergema di lapangan yang masih sepi. Setiap langkah adalah satu bab dari masa lalunya yang ia tinggalkan di belakang. Alexander yang lama sedang berjalan menuju kematiannya, agar Ahmad yang baru bisa dilahirkan dari bibir yang sebentar lagi akan bergetar mengucapkan janji setia pada Islam
Pintu kayu Masjid At-Taubah yang sedikit berderit terbuka lebar menyambut langkah Alek. Di dalam, aroma karpet tua yang bercampur dengan wangi kayu cendana segera menyergap indra penciumannya—sebuah kontras tajam dengan bau karat dan pesing yang biasanya menghantui setiap sudut penjara. Masjid itu tidak megah, hanya sebuah ruangan persegi dengan dinding hijau muda yang catnya mulai mengelupas, namun bagi Alek, ruangan ini terasa lebih luas dan lebih bercahaya daripada katedral mana pun yang pernah ia kunjungi bersama ayahnya.
Sekitar lima puluh narapidana sudah duduk bersila membentuk setengah lingkaran. Mereka terdiam. Tidak ada bisikan, tidak ada tawa mengejek. Bahkan mereka yang biasanya paling beringas pun tampak menunduk hormat melihat sosok berbaju koko putih yang berjalan tertatih-tatih dengan tangan memegangi rusuknya yang dibebat.
Di tengah ruangan, Syekh Mansyur duduk di atas sajadah kecilnya. Wajahnya yang keriput tampak sangat jernih di bawah sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari jendela tinggi. Ia tersenyum, sebuah senyum yang bukan sekadar keramahan, melainkan pengakuan akan sebuah kemenangan batin.
"Duduklah di sini, Alexander," suara Syekh Mansyur lembut namun berwibawa.
Alek duduk bersimpuh di depan Syekh. Rasa nyeri di dadanya berdenyut hebat saat ia melipat kakinya, namun ia tidak meringis. Ia menatap mata Syekh yang teduh. Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiri—seorang pria yang hancur namun sedang berusaha menyatukan kembali kepingannya.
"Alexander," Syekh Mansyur memulai, tangannya yang kurus memegang bahu Alek. "Hari ini, kau datang bukan karena paksaan, bukan karena ingin mencari perlindungan dari hukum manusia, dan bukan karena benci pada masa lalumu. Kau datang karena hatimu telah menemukan pelabuhannya. Apakah kau yakin dengan keputusanmu?"
Alek menelan ludah. Ia teringat wajah Ibunya yang menangis, wajah ayahnya yang penuh kutukan, dan wajah Khansa yang menjadi cahaya penuntunnya. Ia menarik napas panjang, mengabaikan rasa perih di paru-parunya.
"Saya yakin, Syekh. Saya ingin pulang," jawab Alek mantap.
Syekh Mansyur mengangguk. "Ikuti kata-kataku. Ucapkan dengan lisanmu, yakini dengan hatimu, dan buktikan dengan perbuatanmu."
Syekh Mansyur mulai melafalkan kalimat suci itu dengan perlahan. "Asyhadu..."
Alek memejamkan matanya. Bibirnya bergetar. "Asyhadu..."
"...an laa ilaaha..."
"...an laa ilaaha..." Alek merasakan tenggorokannya tercekat. Setiap suku kata terasa seperti air dingin yang menyiram bara api di dalam dadanya.
"...illallaah."
"...illallaah."
Saat kata itu terucap, sebuah getaran aneh merambat dari ujung kepalanya hingga ke telapak kakinya. Alek merasa seolah-olah ada beban ribuan ton yang selama ini ia pikul—dosa-dosa jalanannya, kebencian pada ayahnya, rasa bersalah atas kematian Bagas—mendadak terangkat. Ia merasa ringan, hampir seperti melayang.
Syekh Mansyur melanjutkan bagian kedua. "Wa asyhadu..."
"Wa asyhadu..." suara Alek kini lebih kuat, lebih jernih.
"...anna Muhammadan..."
"...anna Muhammadan..." Alek teringat Khansa yang selalu menyebut nama itu dengan penuh hormat.
"...Rasulullaah."
"...Rasulullaah."
Hening. Sunyi yang sangat dalam menyelimuti masjid itu selama beberapa detik. Kemudian, sebuah isakan kecil terdengar. Bukan dari Syekh, tapi dari Alek sendiri. Air matanya jatuh membasahi lantai ubin yang dingin. Ia menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai—sujud pertamanya sebagai seorang muslim.
"Alhamdulillah..." gumam Syekh Mansyur, suaranya parau karena emosi.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba Salim berteriak dari barisan belakang, diikuti oleh narapidana lainnya. "Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Gema takbir itu memantul di dinding-dinding penjara, menembus jeruji besi, seolah-olah mengumumkan pada seluruh penghuni lapas bahwa seorang saudara baru telah lahir. Syekh Mansyur memeluk Alek dengan sangat erat, menepuk punggungnya yang berbalut perban.
"Selamat datang, Ahmad Alexander," bisik Syekh Mansyur di telinganya. "Ahmad artinya yang terpuji. Jadilah manusia yang terpuji, bukan lagi manusia yang ditakuti."
Alek menangis tersedu-sedu di pundak pria tua itu. Ia merasa seolah-olah seluruh kotoran di jiwanya baru saja dicuci bersih. Ia tidak lagi peduli pada nama Panjaitan yang dicabut ayahnya. Ia memiliki nama baru. Ia memiliki keluarga baru. Ia memiliki Tuhan yang kini ia kenal bukan hanya sebagai hakim, tapi sebagai Yang Maha Pengasih.
Namun, di tengah haru biru itu, Alek sempat melirik ke arah pintu masjid yang terbuka. Di kejauhan, di bayang-bayang koridor, ia melihat siluet Bara yang berdiri diam dengan tangan bersedekap. Mata Bara dingin, tajam, dan penuh janji akan kekerasan yang lebih besar.
Alek melepaskan pelukan Syekh dan mengusap air matanya. Ia menyadari satu hal: Syahadat ini bukanlah akhir dari penderitaannya. Ini adalah bekalnya untuk menghadapi neraka yang sedang disiapkan Bara dan ayah Bagas untuknya.
"Terima kasih, Syekh," bisik Alek.
"Perjuanganmu baru saja dimulai, Ahmad," ujar Syekh Mansyur sambil menatap pintu masjid. "Jangan lepaskan peganganmu pada tali ini, sekeras apa pun badai yang akan menghantammu nanti."
Alek mengangguk. Ia berdiri dengan bantuan Salim, merasa lebih tegak dari sebelumnya. Luka di rusuknya masih ada, namun hatinya tidak lagi berdarah. Ia siap menghadapi apa pun yang menunggu di luar masjid itu.
Jangan lupa komen dan like
saya mohon kritik dan saran nya karena itu sangat berharga
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg