Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERPISAHAN DI BALIK KABUT PAGI
Pagi itu, Oetimu tidak lagi berdebu seperti saat Jonatan pertama kali menginjakkan kaki dari perantauan. Ada aroma tanah basah yang tertinggal dari sisa-sisa air irigasi yang mengalir semalam. Di petak-petak ladang yang tadinya gersang, mulai muncul tunas-tunas hijau yang malu-malu menyembul dari balik bongkahan tanah merah. Harapan bukan lagi sesuatu yang abstrak di desa ini; ia kini memiliki warna, yaitu hijau, dan memiliki suara, yaitu gemericik air yang stabil dari pompa tenaga surya itu.
Jonatan berdiri di depan pintu rumahnya, menggendong tas kain yang sama yang ia bawa ke Jawa satu semester lalu. Namun, kali ini tas itu terasa lebih ringan, meski isinya penuh dengan dokumen dan sampel tanah. Beban di pundaknya bukan lagi ketakutan, melainkan sebuah janji baru yang lebih besar.
"Kau harus pergi sekarang, Jon?" suara Bu Maria terdengar serak. Ia sudah bisa berdiri tegak, meski masih harus berpegangan pada kusen pintu. Wajahnya yang pucat kini mulai merona, berkat asupan air yang bersih dan hati yang tenang.
"Iya, Mama. Skripsi saya harus selesai. Kalau saya tidak lulus, proyek ini tidak bisa saya kembangkan ke desa tetangga. Pak Johan sudah menunggu di lab," jawab Jonatan sambil mencium punggung tangan ibunya lama-lama.
Pak Berto datang dari arah sumur, membawa sebuah botol plastik berisi air bening. Ia menyerahkannya pada Jonatan. "Bawa ini. Ini air pertama dari sumur kita. Kalau kau haus di jalan atau merasa ingin menyerah di kota sana, minum sedikit. Ingat bahwa di sini, tanah sudah tidak lagi menangis."
Jonatan menerima botol itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memasukkannya ke dalam tas, menjaganya seperti menyimpan berlian paling berharga.
Warga desa mulai berkumpul di halaman rumah. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Ada yang membawa ubi rebus, pisang kepok, hingga selembar kain tenun motif baru yang ditenun khusus untuk "si anak air". Mereka tidak lagi melihat Jonatan sebagai anak miskin yang beruntung bisa sekolah, tapi sebagai pelindung yang telah mematahkan kutukan kekeringan di Oetimu.
"Jon, titip pesan untuk orang-orang di kota," ucap salah satu pemuda desa yang kini menjadi ketua kelompok penjaga sumur. "Bilang pada mereka, orang Oetimu bukan peminta-minta. Kami hanya butuh alat, selebihnya kami bisa kerja sendiri."
Jonatan mengangguk mantap. "Saya sampaikan, Kak."
Perjalanan menuju bandara dilakukan dengan truk yang sama, namun suasana batinnya sungguh kontras. Saat truk mulai bergerak meninggalkan batas desa, Jonatan melihat ke arah rumah Tuan Markus di kejauhan. Rumah besar itu tampak sepi. Kabarnya, Tuan Markus sedang sibuk bolak-balik ke kantor polisi di kabupaten. Kekuasaannya yang dibangun di atas penderitaan warga runtuh seketika saat rakyatnya memiliki kemandirian atas sumber daya paling dasar: air.
Di dalam kabin truk yang berguncang, Jonatan membuka buku catatannya. Ia tidak lagi menuliskan keluhan. Ia mulai menggambar sebuah peta—bukan peta Oetimu, tapi peta jaringan. Ia menamainya: "OETIMU MANDIRI".
Ia membayangkan sebuah masa depan di mana setiap desa di NTT memiliki sistem serupa. Ia tidak ingin berhenti pada satu pompa. Ia ingin membangun sistem manajemen air yang terintegrasi dengan teknologi pengolahan hasil tani. Ia ingin orang-orang di kampungnya tidak hanya bisa minum, tapi bisa menjual hasil bumi dengan harga yang layak, tanpa harus bergantung pada tengkulak atau lintah darat.
Rencana Besar: Fase Satu, tulisnya di halaman baru. 1. Patenkan desain pompa hidrolik fleksibel agar tidak dicuri korporasi. 2. Ajukan proposal dana hibah internasional lewat jaringan Pak Johan. 3. Bentuk koperasi air di desa agar perawatan alat bisa dilakukan secara swadaya.
Pikiran-pikiran itu menari di kepalanya sepanjang perjalanan. Jonatan menyadari bahwa pendidikannya di Jawa bukan hanya soal angka dan rumus, tapi soal alat untuk memerdekakan kaumnya. Jika dulu ia merasa seperti debu yang dihempas angin kota, kini ia merasa seperti benih yang siap ditanam di manapun, membawa kehidupan baru.
Sesampainya di bandara El Tari, Jonatan duduk di ruang tunggu yang penuh dengan orang-orang berpakaian rapi. Ia tetap dengan kaos pudar dan tas kainnya. Namun, kali ini ia tidak menunduk. Saat seorang pria berdasi meliriknya dengan tatapan meremehkan karena sandal jepitnya yang masih tipis, Jonatan justru tersenyum tenang. Ia tahu apa yang ada di dalam tasnya, dan ia tahu apa yang telah ia tinggalkan di belakangnya.
Di dalam pesawat, Jonatan duduk di dekat jendela. Saat burung besi itu lepas landas dan mulai meninggi, ia melihat hamparan pulau Timor dari atas. Dari ketinggian itu, tanah merah itu tampak seperti luka yang luas di tengah lautan biru. Namun, di antara warna merah itu, ia melihat titik-titik hijau kecil yang mulai bermunculan. Ia tahu, di salah satu titik itu, ada sumurnya yang terus memompa kehidupan.
"Aku akan kembali dengan sesuatu yang lebih besar," bisiknya pada kaca jendela yang mulai berembun.
Setibanya di Jawa, udara gerah Surabaya menyambutnya kembali. Namun, kali ini rasa gerahnya tidak lagi terasa menekan. Ia segera menuju kampus. Hal pertama yang ia lakukan bukan menuju kos atau mencari makan, melainkan menuju gedung rektorat, ke ruangan Pak Johan.
Di sana, Pak Johan sedang duduk membaca jurnal, namun ia langsung berdiri saat melihat Jonatan masuk. Pria tua itu melihat wajah Jonatan yang menghitam terbakar matahari, namun matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya.
"Kau terlihat seperti prajurit yang baru pulang dari perang yang menang, Jonatan," ucap Pak Johan sambil menyalaminya dengan erat.
"Airnya sudah mengalir, Pak. Dan warga tidak lagi takut pada Tuan Markus," jawab Jonatan bangga.
Pak Johan mengangguk, lalu wajahnya berubah serius. "Bagus. Tapi kau harus tahu satu hal. Saat kau di NTT, Rendy tidak diam saja. Dia sudah mengajukan protes resmi kepada dewan etik riset. Dia menuduh desainmu adalah plagiasi dari salah satu jurnal lama yang belum terpublikasi. Dia mencoba menjatuhkan skripsimu sebelum kau sempat menyidangkannya."
Jonatan terdiam sebentar, namun ia tidak terkejut. Ia sudah menduga Rendy akan melakukan hal seperti itu. "Biarkan saja, Pak. Saya bawa bukti yang tidak dimiliki oleh jurnal mana pun."
"Apa itu?" tanya Pak Johan penasaran.
Jonatan mengeluarkan botol plastik berisi air bening dari sumur Oetimu dan meletakkannya di atas meja Pak Johan. "Ini bukti bahwa teori saya bekerja di tanah paling keras. Jurnal mana pun bisa bicara soal angka, tapi botol ini bicara soal kenyataan. Saya siap menghadapi sidang etik itu besok pagi."
Pak Johan tertawa bangga, suara tawanya menggema di ruangan sunyi itu. "Itu baru mahasiswaku. Persiapkan dirimu, Jonatan. Besok kita tidak hanya mempertahankan sebuah skripsi, tapi kita akan mempertahankan martabat ilmu pengetahuan yang sesungguhnya."
Malam itu, di masjid tempat ia menumpang tidur, Jonatan tidak bisa memejamkan mata. Ia membayangkan sidang besok. Ia tahu Rendy akan menggunakan segala cara, tapi Jonatan tidak takut. Ia meraba kalung tenun di lehernya dan meminum seteguk air dari botol pemberian ayahnya. Air itu terasa dingin, segar, dan memberikan kekuatan yang tak terlukiskan.
Ia siap untuk perpisahan sementara yang terakhir ini. Setelah skripsi ini selesai, ia tidak akan lagi menjadi mahasiswa yang minder. Ia akan menjadi Insinyur Jonatan, sang pembawa air, sang penakluk debu.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian