NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang SW & Kue Gethuk

Yogyakarta, Minggu Pagi. Pukul 08:00 WIB.

"SERVIS! SERVIS ELEKTRONIK! KIPAS ANGIN, RADIO, TAPE... BISA HIDUP LAGI!"

Suara itu terdengar canggung dan pecah di ujung gang Kampung Badran—pemukiman padat di pinggir rel kereta api yang terkenal keras.

Yang berteriak bukan Lian. Tapi Kara.

Gadis itu memakai topi baseball terbalik (milik Gogon) untuk menutupi rambutnya yang lepek. Dia berjalan di depan, semangat 45, sementara Lian berjalan dua langkah di belakangnya sambil menunduk malu.

"Ra... pelan dikit ngapa," bisik Lian. Dia menenteng tas plastik kresek hitam berisi "peralatan perang": obeng min-plus, tang kecil berkarat, sikat gigi bekas, dan gulungan timah solder sisa.

"Kalau nggak teriak, dapur nggak ngebul, Bos Obeng," balas Kara sambil nyengir. Dia menepuk punggung Lian. "Tegakin badannya. Montir tuh harus meyakinkan. Kalau bungkuk gitu dikira maling jemuran."

Lian menegakkan punggungnya yang masih nyeri.

Ini hari pertama mereka turun ke kampung warga sebagai "CV Obeng & Kara".

Dan sejauh ini... hasilnya nihil.

Ibu-ibu yang sedang mencuci baju di pinggir kali menatap mereka curiga.

Bapak-bapak pos ronda malah mengusir. "Wah, masih bocah. Paling bisanya ngerusak. Udah sana, minggir."

Matahari mulai meninggi. Panas menyengat kulit leher Lian yang sudah mulai menggelap terbakar matahari. Keringat mengalir di punggung.

Mental Lian mulai goyah lagi. Apa gunanya memperbaiki Walkman rongsokan kalau tidak ada yang percaya dia bisa?

"Satu gang lagi," kata Kara pantang menyerah. "Gang Melati. Keliatannya banyak orang tua di sana."

Mereka masuk ke gang sempit yang dihiasi pot-pot tanaman lidah mertua.

Di ujung gang, ada sebuah rumah kecil dari dinding anyaman bambu (gedek) yang sudah bolong-bolong.

Di terasnya, duduk seorang nenek tua berkebaya lusuh. Rambutnya putih semua digelung konde kecil. Matanya menatap kosong ke arah jalan.

Di meja kayu di depannya, ada sebuah benda besar.

Radio kayu merk Telesonic buatan tahun 70-an.

Antenanya patah separuh. Kabelnya dililit karet gelang.

Kara menyenggol lengan Lian. "Tuh. Target potensial."

Kara mendekat dengan senyum termanisnya (senyum yang dulu dia pakai buat menyapa Lian di sekolah, sekarang buat cari nasabah).

"Nuwwun sewu, Mbah," sapa Kara sopan dalam bahasa Jawa halus yang dia pelajari sedikit dari anak-anak gerbong.

Nenek itu menoleh pelan. Wajahnya penuh keriput, tapi teduh.

"Inggih, Nduk. Bade nopo? (Iya, Nak. Mau apa?)"

"Saya liat radionya sepertinya rusak, Mbah? Temen saya ini... Mas Lian... pinter benerin radio. Murah kok, Mbah. Seikhlasnya aja buat beli es teh."

Nenek itu menatap radio tuanya, lalu menatap Lian. Matanya berkaca-kaca.

"Radio ini... sudah mati tiga tahun. Sejak Bapak (suaminya) meninggal."

Lian tertegun.

Tiga tahun mati. Itu vonis berat bagi elektronik tua. Kapasitornya pasti sudah kering. Kabelnya mungkin dimakan tikus.

"Boleh saya liat dulu, Mbah?" Lian jongkok di depan meja. Dia meletakkan tas kreseknya.

Nenek itu mengangguk lemah. "Monggo, Le. Kalau bisa bunyi... Mbah seneng banget. Mbah kangen denger Wayang Kulit jam 9 malem."

Wayang Kulit.

Alasan sederhana. Hiburan satu-satunya bagi orang tua yang kesepian.

Tiba-tiba, beban di pundak Lian terasa lebih berat daripada saat memikul harapan satu sekolah. Dia tidak boleh gagal. Nenek ini mengingatkannya pada neneknya sendiri yang sudah lama tiada.

Lian mengeluarkan obeng. Dia membuka sekrup belakang radio itu dengan hati-hati.

Klek. Klek.

Debu tebal berhamburan keluar saat tutup belakang dibuka. Kara sampai batuk-batuk kecil.

Isi perut radio itu rumit. Tabung-tabung kaca (transistor jaman dulu) dan kabel warna-warni yang sudah getas.

"Gimana, Dok?" bisik Kara di telinga Lian.

Lian menyeka keringat di dahinya. "Ini susah, Ra. Jalur kabel power-nya putus dimakan karat. Terus speaker-nya membrannya sobek dikit."

"Bisa diakalin?"

Lian berpikir keras. Dia tidak punya suku cadang. Dia tidak punya solder listrik (di sini tidak ada colokan di teras).

Tapi dia melihat... ada seng bekas kaleng biskuit di pojok teras.

Dan ada lilin bekas.

"Mbah, boleh minta lilin sama korek?" tanya Lian.

...----------------...

Proses Operasi: 30 Menit Kemudian.

Lian bekerja seperti dokter bedah di medan perang.

Dia memanaskan obengnya di atas api lilin sampai merah membara, lalu menggunakannya sebagai solder darurat untuk melelehkan timah dan menyambung kabel power yang putus.

Untuk membran speaker yang sobek, dia menempelnya hati-hati menggunakan potongan kertas minyak dan lem aibon sisa yang dia bawa.

Kara duduk di sebelah si Mbah, memijit kaki nenek itu sambil mendengarkan cerita tentang almarhum suaminya yang dulu pejuang kemerdekaan.

"Dulu Bapak suka muter lagu keroncong Gesang sore-sore, Nduk..." cerita si Mbah dengan suara bergetar. "Rumah ini jadi nggak sepi."

Lian mendengar percakapan itu sambil tangannya gemetar menahan napas saat menyambung kabel rambut yang tipis.

Sedikit lagi. Jangan putus. Please.

Sirkuit tersambung. Timah mengeras.

Lian menutup kembali casing kayu itu.

Dia menyambung kabel steker yang tadi putus.

"Mbah..." Lian berdiri, menyeka tangan hitam olinya ke celana. "Boleh dicoba dicolok ke dalem?"

Nenek itu memanggil cucunya (anak kecil ingusan yang baru keluar dari dalam rumah) untuk mencolokkan kabel radio ke stopkontak di ruang tamu.

Klik.

Lian memutar tombol Volume.

Ceklek. Lian memutar kenop Gelombang (SW/MW).

Hening.

Lian menahan napas. Kara menutup mulut.

Lalu... terdengar suara kresek-kresek statis.

Sinyal masuk.

Lian memutar kenop gelombang perlahan. Mencari frekuensi RRI Yogyakarta.

Suara statis menajam... lalu jernih.

"...dan saudara pendengar, berikut ini kami persembahkan tembang kenangan..."

Alunan musik gamelan Jawa mengalun pelan dari speaker tua yang baru ditambal kertas itu. Suaranya agak cempreng, tapi jelas.

Nenek itu terpekik pelan. Tangannya menutup mulut.

"Bunyi... Ya Gusti, bunyi lagi..."

Air mata menetes di pipi keriputnya.

Dia mengelus radio kayu itu seperti mengelus wajah orang yang dicintai. "Matur nuwun... matur nuwun..."

Kara ikut menangis haru. Dia memeluk nenek itu spontan.

Lian berdiri di pojok teras, menyembunyikan senyum bangga dan matanya yang sedikit basah.

Dia berhasil.

Dia, Julian Pratama, si "Produk Gagal" yang bikin malu orang tua... baru saja membuat seorang nenek menangis bahagia cuma bermodal obeng panas.

Perasaan ini... rasanya lebih memabukkan daripada alkohol. Lebih memuaskan daripada nilai 100 di rapor.

Ini rasanya berguna.

...----------------...

Jalan Pulang. Pukul 12:00 WIB.

Mereka berjalan keluar dari Gang Melati dengan langkah ringan.

Di tangan Lian, ada dua lembar uang Seribu Rupiah (warna biru gambar Lompat Batu Nias).

Dan di tangan Kara, ada bungkusan daun pisang berisi Gethuk Lindri (kue singkong manis) yang dikasih si Mbah sebagai bonus.

Dua ribu perak. Itu pendapatan terbesar mereka sejauh ini.

"Kamu liat muka Mbah Sastro tadi, Kak?" Kara membuka bungkusan gethuk, menyuapi sepotong ke mulut Lian.

Lian mengunyah kue manis itu. Enak.

"Iya. Dia kayak liat hantu suaminya."

"Kamu bukan benerin radio, Lian," kata Kara lembut. "Kamu benerin Time Machine-nya si Mbah. Radio itu ngebawa dia balik ke masa lalu yang indah. Persis kayak Time Loop kita, tapi versi sehat."

Lian mengangguk. Dia sadar sesuatu.

Teknologi—entah itu Walkman canggih atau radio butut—sebenarnya cuma wadah. Isinya adalah Memori. Dan tugas dia adalah menjaga wadah itu tetap utuh supaya memorinya tidak bocor.

"Gue rasa gue tau gue mau jadi apa," gumam Lian, menatap tangannya yang kotor.

"Jadi apa?"

"Penjaga Kenangan," Lian tersenyum lebar. "Servis Radio Spesialis Nostalgia."

Kara tertawa renyah, merangkul lengan Lian di bawah terik matahari Jogja.

"Kalau gitu, aku Sekretarisnya. Spesialis loby-loby nenek kesepian."

Mereka tertawa bersama di pinggir jalan.

Perut mereka tidak terlalu kenyang. Dompet mereka tipis.

Tapi hari ini, jiwa mereka penuh.

Mereka berhenti di sebuah warung kelontong untuk beli minum.

Saat Lian membayar dengan uang seribuannya, matanya menangkap koran Kedaulatan Rakyat yang dipajang di etalase.

Mata Lian terpaku pada sebuah Headline kecil di pojok bawah halaman depan.

DICARI: DUA REMAJA ASAL BANDUNG.

(Foto buram Lian dan Kara dari buku tahunan sekolah terpampang di sana)

Keluarga tawarkan imbalan bagi yang menemukan.

Darah Lian berdesir dingin. Senyum di wajahnya lenyap seketika.

Realita kembali menggigit.

"Ra," Lian menarik Kara menjauh dari warung, menutupi wajahnya dengan topi.

"Kenapa, Kak?"

"Mereka udah pasang iklan di koran Jogja. Jaringan Ayah gue udah nyampe sini."

Lian meremas uang kembalian.

"Dipo Lokomotif udah nggak aman. Cepat atau lambat, polisi atau orang bayaran Ayah bakal nyisir stasiun."

Kara menatap Lian takut. Kebahagiaan kecil tadi pagi langsung menguap.

"Terus kita harus gimana?"

Lian menatap jalanan yang sibuk.

Mereka harus bergerak. Pindah lagi. Menghilang lebih dalam ke tempat di mana koran dan berita tidak bisa menjangkau mereka.

"Kita harus pindah ke selatan," kata Lian, mengingat cerita Gogon soal komunitas punk yang tinggal di dekat pantai Parangtritis.

PantaiSelatan.

Tempat di mana mitos dan ombak lebih berkuasa daripada hukum manusia.

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!