Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Jejak Digital yang Berdarah
Di sini, ketegangan mulai menyebar ke luar kamar Rara, menciptakan paranoia massal di media sosial.
Bab 22 : Jejak Digital yang Berdarah
Pagi itu, internet tidak lagi sama. Rekaman layar live terakhir Rara tersebar luas di Twitter (X), grup WhatsApp, hingga masuk ke portal berita utama. Tagar #AnatomiMaut memuncaki trending topic selama dua belas jam berturut-turut. Orang-orang berdebat: apakah itu marketing stunt tingkat dewa, ataukah benar-benar pembunuhan yang disiarkan secara langsung?
Di sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan, Bimo—seorang tech-influencer yang dikenal dengan konten bongkar kasus penipuan digital—sedang menatap tiga monitor besarnya dengan mata merah. Dia tidak tidur sejak semalam.
"Nggak masuk akal," gumam Bimo sambil menyesap kopi hitam dinginnya.
Bimo sedang membedah kode sumber dari rekaman live yang berhasil ia amankan sebelum dihapus oleh pihak TikTok. Sebagai orang yang mengerti seluk-beluk coding, dia mencium ada yang sangat salah. Komentar dari @anatomi_maut bukan sekadar teks. Itu adalah malware yang menyusup ke sistem transmisi data live tersebut.
"Lihat ini..." Bimo berbicara sendiri, kursornya menunjuk pada barisan kode yang aneh. "Komentar itu nggak masuk lewat server TikTok. Dia 'menumpang' di gelombang suara mikrofon si Rara. Gimana caranya?"
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk keras. Sahabatnya, Satria, masuk dengan wajah pucat pasi.
"Bim, lo udah lihat berita terbaru? Polisi udah dobrak apartemen Rara sejam yang lalu," kata Satria dengan suara bergetar.
Bimo menoleh cepat. "Terus? Ketemu?"
Satria menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Nggak ada jenazahnya, Bim. Di lemari itu cuma ada darah... banyak banget. Tapi organ dalam Rara—jantung, paru-paru, sampai ususnya—ditemukan tertata rapi di atas meja riasnya. Kayak... kayak pajangan di laboratorium anatomi. Tapi Rara-nya sendiri nggak ada."
Bimo merasa mual. Anatomi maut. Nama itu bukan sekadar ancaman kosong; itu adalah deskripsi pekerjaan.
"Dan ada satu lagi," lanjut Satria, suaranya nyaris berbisik. "Polisi nggak bisa matiin HP Rara. HP-nya masih dalam posisi on, tapi layarnya cuma nampilin satu gambar: foto profil akun @anatomi_maut yang selalu berubah tiap kali ada orang yang ngelihat."
Bimo kembali menatap layarnya. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Sebagai pria yang skeptis pada hal mistis, dia yakin ini adalah ulah hacker psikopat yang menggunakan teknologi tingkat tinggi—mungkin deep web atau AI yang lepas kendali.
Dia membuka aplikasi TikTok-nya. Kolom komentar di akun Rara yang sudah almarhum dipenuhi jutaan komentar bela sungkawa, tapi di tengah-tengah itu, muncul sebuah notifikasi di HP Bimo.
@anatomi_maut mulai mengikuti Anda.
Jantung Bimo mencelos. Dia mencoba memencet profil tersebut untuk memblokirnya, tapi layarnya mendadak macet. Muncul tulisan pop-up di tengah layar HP-nya:
"Bimo yang Pintar. Kamu suka membedah data, ya? Bagaimana kalau malam ini kita bedah sesuatu yang lebih nyata? Jam 01.00 pagi. Jangan telat Live. Penonton menunggumu."
"Sialan!" Bimo membanting HP-nya ke kasur.
"Kenapa, Bim?" Satria mendekat, cemas.
"Gue diincar," jawab Bimo pendek. Dia berdiri dan berjalan menuju lemari besinya, mengambil sebuah kamera DSLR dan tripod. "Kalau dia mau main-main sama teknologi, gue bakal kasih dia panggung. Gue bakal live malam ini, tapi bukan buat mati. Gue bakal tracing lokasi dia lewat satelit saat dia mulai ngirim komentar."
"Lo gila, Bim! Rara mati karena ngabaikan dia!" seru Satria.
Bimo tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. "Rara itu cuma influencer gosip. Dia nggak tahu cara balik menyerang. Gue beda. Gue punya firewall berlapis. Gue bakal buka kedok siapa pun di balik akun itu."
Namun, Bimo tidak menyadari satu hal. Saat dia berbicara, bayangan di bawah kakinya tidak bergerak mengikuti gerakannya. Bayangan itu tetap diam, seolah sedang mengamati, menunggu waktu yang tepat untuk menarik Bimo ke dalam kegelapan yang sama dengan Rara.
Malam mulai turun. Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, seolah langit ingin mencuci darah yang akan tumpah sebentar lagi. Ribuan orang di seluruh Indonesia mulai memasang pengingat di akun Bimo. Mereka semua haus akan tontonan, tanpa peduli bahwa setiap view adalah satu langkah lebih dekat menuju kematian sang kreator.
Jam di dinding menunjukkan pukul 00.55.
Bimo duduk di depan kameranya. Lampu studio dinyalakan maksimal. Dia merasa aman dengan peralatan canggihnya. Dia menekan tombol Go Live.
[LIVE START: MEMBONGKAR @ANATOMI_MAUT]
Dalam tiga detik, penonton melonjak ke angka 50.000.
Dan di kolom komentar, akun itu sudah menunggu.
@anatomi_maut: Kamu lupa mengunci pintu balkon, Bimo. Aku sudah di dalam.
Bimo membeku. Dia yakin tadi sudah mengunci semua pintu. Tapi perlahan, dari arah belakangnya—di area yang tidak terjangkau lampu studio—terdengar suara gesekan logam di atas lantai keramik. Srek... srek... srek... seperti suara pisau bedah yang diseret.
ok next