NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:174.4k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Deni sangat perundung sekolah

Bela, Ayu, Ani, dan Yesi melangkah keluar dari kelas. Suasana koridor yang ramai seketika terasa terpusat pada satu titik: kerumunan siswi yang padat mengelilingi sosok seorang pemuda.

​Digerakkan oleh rasa penasaran, Ani, Yesi, dan Ayu sontak menghampiri kerumunan itu. Saat mereka berhasil menembus barisan dan menangkap pandangan jelas wajah sang pemuda, seruan kekagetan yang nyaris sinkron meluncur dari bibir mereka.

​"Astaga, tampan sekali!"

​Suara serempak itu cukup lantang hingga menarik perhatian Bela. Ia ikut mengalihkan pandangan, dan sesaat setelah matanya menemukan sosok pemuda di tengah kerumunan, langkah kakinya berubah cepat dan pasti, menerobos kerumunan tanpa ragu.

​"Kak Rama," panggil Bela, suaranya sedikit tercekat karena emosi. "Kenapa baru sekarang Kakak datang?"

​Mengabaikan puluhan pasang mata yang kini tertuju padanya, Bela memajukan diri dan memeluk Rama, tepat di hadapan semua orang.

​Ani, Yesi, dan Ayu terperangah. Mereka berdiri mematung, mulut sedikit terbuka, menyaksikan pemandangan tak terduga itu—gadis yang baru saja memeluk pemuda rupawan itu adalah teman mereka sendiri.

​"B-Bela..."

​Mereka berseru bersamaan, tanpa sadar menoleh ke samping, ke tempat Bela seharusnya berdiri. Pemandangan di depan telah mengkonfirmasi segalanya: itu memang teman mereka.

​"Bela, ka-kamu...?" Ani segera mendekat, wajahnya penuh ketidakpercayaan. Tidak disangka, teman sebangkunya bisa seberani ini menunjukkan afeksi di depan umum.

​Mendengar suara terkejut temannya, Bela tersentak, seolah baru tersadar akan tindakannya yang impulsif. Ia segera melepaskan pelukan itu dan mendongak, menatap Rama yang kini tersenyum hangat padanya.

​"Rupanya, kamu sudah seberani ini sekarang," ujar Rama, nadanya geli.

​"A-aku... Maaf, Kak Rama. Aku hanya terlalu senang melihat Kakak datang," jawab Bela, rona merah malu menjalar hingga ke telinganya. Terlebih, seluruh pasang mata di koridor kini memfokuskan perhatian padanya.

​"Gadis bodoh," Rama mengusap puncak kepala Bela dengan lembut. "Ini masih jam istirahat, kan? Ayo, temani Kakak menemui Kepala Sekolah."

​"Bela... k-kamu mengenalnya?" Yesi, yang kini sudah berdiri dekat di hadapan Rama dan Bela, bertanya hati-hati.

​"Siapa dia, Bela?" Ayu ikut menimpali.

​"Dia, dia Kak Rama. Murid kelas 12 di sekolah ini, masa kalian lupa?" jawab Bela.

​Ayu, Ani, dan Yesi sontak saling pandang.

​"Ra-Rama... murid kelas 12?"

​Mereka meneliti Rama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mereka memang ingat adanya murid bernama Rama dari kelas 12, tetapi sekeras apa pun mereka mencoba, pemuda di depan mereka ini terasa berbeda dari Rama yang mereka kenal dulu. Posturnya kini lebih tinggi, kulitnya tidak lagi kecokelatan, dan tubuhnya tidak sekurus yang mereka ingat.

​"Bela, kamu tidak sedang bercanda, kan?" desak Ani. Ia tahu Bela memang dekat dengan Rama, tetapi Rama sudah tidak masuk sekolah sejak beberapa bulan lalu setelah insiden tertentu, dan mereka mengira Rama telah keluar.

​Bela menggelengkan kepala. "Ya, dia adalah Kak Rama, murid kelas 12," jelas Bela lagi, dengan nada penuh keyakinan.

​Para siswi yang tadi mengerumuni Rama ikut terkejut mendengarnya. Mereka ingat betul Rama—murid yang dulu sering menjadi korban perundungan, terutama oleh Deni, putra Kepala Sekolah.

​"Wow... rupanya si anak miskin yang baru tiga bulan lalu jadi yatim piatu yang datang. Kukira siapa yang bikin ribut di sekolah, ternyata kau, Rama."

​Tepat pada saat itu, sosok yang baru saja terpikirkan oleh sebagian mereka muncul: Deni, bersama teman-temannya.

​Deni adalah sosok yang ditakuti. Selain berstatus putra Kepala Sekolah, ia juga punya banyak pengikut yang biasa ia gunakan untuk menekan siswa lain, dan Rama adalah salah satu korbannya.

​Rama langsung menoleh ke arah Deni. Mata Rama memancarkan kilatan permusuhan yang dingin. Dulu, ia hanya bisa diam saat Deni mengganggunya. Tetapi kali ini...?

​"Semuanya, lihat! Dia adalah Rama, si ana

k miskin yang kehilangan kedua orang tuanya beberapa bulan lalu. Lihatlah baik-baik—dia orang yang sama yang dulu pernah merangkak di bawah kakiku, memohon belas kasihan!"

​Suara Deni sengaja dibuat keras, memastikan seluruh siswa di sana mendengarnya. Mereka pun kembali menatap Rama, dan barulah mereka menyadari kesamaan itu, meskipun penampilannya kini memang jauh berbeda.

​"Hahaha! Aku masih ingat, dulu kamu sampai menangis agar Kak Deni mengampunimu!" seru seorang pengikut Deni.

​"Astaga... jadi dia orang itu? Kenapa aku baru menyadarinya," bisik seorang siswi yang sebelumnya meminta kontak Rama.

​"Hmph. Aku hampir saja tertipu dengan perubahannya. Sial, ternyata dia si orang miskin itu."

​Satu per satu, siswi yang tadi mengerumuni Rama mulai menjauh, ekspresi kekaguman di wajah mereka perlahan berganti menjadi sinis. Mereka mengakui ketampanan Rama yang sekarang, tetapi setelah mendengar statusnya yang yatim piatu dan mengandalkan beasiswa, bagi mereka, status dan masa depan tetaplah hal utama.

​"Hahaha! Kenapa kamu diam saja, Rama? Apa kamu tidak mau bicara denganku? Oh, biar kutebak. Kamu pasti datang ke sekolah ini karena ingin memohon dan menangis kepada Ayahku, agar beliau tidak membatalkan beasiswamu dan mengeluarkanmu, kan?"

​"Rama, oh Rama. Setelah tiga bulan kamu bolos, apa kamu pikir beasiswamu masih bisa dipertahankan? Aku sarankan, lebih baik kamu pulang saja, karena percuma. Ayahku sudah menentukan beasiswa itu untukku, sebagai murid dengan nilai terbaik di sekolah ini."

​Deni berkata penuh kemenangan. Semua orang tahu Deni adalah murid pandai, tetapi mereka juga tahu bahwa Rama adalah pemegang nilai terbaik, di atas Deni. Itulah alasan Deni selalu mencari masalah dengan Rama: ia merasa tersaingi dan tidak ingin ada yang lebih unggul darinya.

​"Deni! Kamu jangan keterlaluan!" Bela yang merasa tak terima Rama direndahkan seperti itu, langsung maju dan menatap Deni dengan tatapan tajam penuh amarah.

​"Oh, kau mau membela si anak miskin ini, Bela?" Deni menyeringai, menatap gadis itu. "Aku ingat sekarang. Kudengar, beberapa waktu lalu dia dipukuli bawahan Tuan Kohar karena tak mampu melunasi utang orang tuanya. Lalu, Tuan Kohar membakar rumah gubuknya, dan saat itulah Ayahmu datang dan membawanya tinggal di rumahmu."

​Deni memandang Bela sesaat, senyum jahatnya makin melebar. "Jadi... apakah benar yang kudengar itu, Bela? Lalu, apa dia tinggal satu kamar denganmu? Aduh, jika memang benar begitu, tidak heran kamu begitu membelanya."

​Semua orang yang mendengar ucapan Deni langsung gempar. Bisik-bisik menyebar, dan mereka menatap Bela dengan pandangan menghakimi dan penuh rasa ingin tahu yang berbeda.

​"Deni... ka-kamu... jangan asal bicara!" Bela berteriak marah, tangannya terkepal erat. Namun, Rama segera menyentuh pundaknya dengan lembut.

​"Kenapa? Bukankah faktanya memang seperti itu? Kenapa kamu harus marah? Lagipula, kalian berdua memang sangat cocok untuk menjadi sepasang kekasih," Deni membalas, raut wajahnya menunjukkan ejekan murni.

​"Kamu—" Bela baru saja maju satu langkah, berniat menampar Deni, ketika Rama kembali menyentuh pundaknya dengan lembut, menahannya.

​"Jangan kotori tanganmu untuk sampah sepertinya," ucap Rama, matanya lurus menatap Deni tanpa gentar.

​"Kak! Tapi dia sudah keterlaluan mengatai Kakak," ujar Bela tak terima, apalagi Deni juga menuduhnya di depan umum.

​"Hei! Siapa yang kau bilang sampah, hah?" Deni membentak seketika, wajahnya memerah karena amarah yang tersulut.

1
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
Dirman Ha
ig gh
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 250%? 𝖺𝗉𝖺 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗅𝗎𝗉𝖺?,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!