Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pondok Kayu
Udara di Lapland jauh lebih menggigit daripada di Helsinki, namun mansion kayu yang mereka sewa terasa begitu hangat. Kegaduhan terjadi saat pintu depan tidak tertutup rapat, dan Cookie, anjing kesayangan Kaylee, melesat keluar mengejar tupai salju.
"Cookie! Sini!" teriak Kaylee panik, berlari kecil di atas tumpukan salju yang setebal lutut.
Atlas mengikuti di belakangnya dengan langkah lebar, wajahnya tampak waspada. "Tenang, Kay. Dia nggak akan jauh."
Tiba-tiba, dari balik deretan pohon pinus yang tertutup es, muncul seorang pria asing berperawakan tegap dengan jaket musim dingin berwarna zamrud. Di tangannya, ia menggendong Cookie yang mungil. Pria itu, Aadzey, berhenti melangkah saat melihat Kaylee.
Pandangan Aadzey seketika terkunci pada wajah Kaylee yang merona merah karena kedinginan. Ada binar kagum yang sangat terang di matanya, tipe tatapan yang membuat pria mana pun tahu bahwa ia sedang terpesona pada pandangan pertama.
"Ini anjingmu?" tanya Aadzey dengan suara bariton yang ramah, matanya masih tak lepas dari Kaylee. "Dia hampir saja mencoba menantang rusa kutub di sana."
Kaylee tersenyum lega, "Oh, terima kasih banyak! Aku tidak tahu apa jadinya kalau dia hilang."
Atlas, yang berdiri hanya satu langkah di belakang Kaylee, merasakan alarm di kepalanya berbunyi nyaring. Ia tidak suka cara pria itu menatap Kaylee. Ia tidak suka bagaimana Aadzey seolah mengabaikan keberadaannya.
Dengan gerakan yang sangat natural namun penuh penekanan, Atlas melingkarkan lengannya di pinggang Kaylee, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna di dadanya. Ia menunduk, mendaratkan sebuah ciuman yang dalam dan berbunyi di pipi Kaylee, tepat di depan mata Aadzey.
"Cookie udah ketemu kan, Ay?" bisik Atlas, suaranya sengaja dibuat berat dan terdengar sangat intim.
(Panggilan Ayang, sinyal bahaya yang hanya Atlas keluarkan saat ia merasa wilayahnya terancam).
Kaylee tertegun, jantungnya berpacu mendengar panggilan itu. Ia tahu Atlas sedang menandai wilayah.
Atlas kemudian mendongak, menatap Aadzey dengan tatapan dingin dan tajam, tipikal pria Finlandia yang tidak suka basa-basi dengan orang asing. "Terima kasih sudah menjaga anjing milik kami. Kami harus segera masuk, udara makin dingin untuk wanita saya."
Aadzey tersentak, senyumnya sedikit memudar namun ia tetap mengangguk sopan. "Tentu. Beruntung sekali anjing itu punya pemilik seperti... kalian."
Begitu pintu pondok tertutup, Atlas langsung melepaskan Cookie ke lantai, namun tangannya masih tidak lepas dari pinggang Kaylee. Ia menyudutkan Kaylee ke pintu kayu yang hangat.
"Siapa dia? Lo kenal?" tanya Atlas, nadanya ketus dan penuh selidik.
Kaylee tertawa kecil, mencoba melepaskan diri namun Atlas malah semakin mengurungnya. "Mana gue tahu, At. Dia cuma orang lewat yang baik."
"Baik?" Atlas mendengus, ia kembali mencium pipi Kaylee, lalu turun ke lehernya sejenak. "Dia natap lo seolah mau bawa lo pergi dari sini, Ay. Gue nggak suka."
Kaylee menahan napas saat hidung Atlas bergesekan dengan kulitnya. "Lo kenapa sih? Kan lo sendiri yang bilang kita ini cuma saudara."
Atlas terhenti. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Kaylee dengan intensitas yang meluap-luap. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, ada keraguan di mata Atlas.
"Saudara nggak akan ngerasa mau patahin tangan orang yang natap lo kayak gitu, Kay," gumam Atlas pelan.
.
.
Uap hangat masih menyelimuti tubuh Kaylee saat ia melangkah keluar dari kamar mandi. Hanya berbalut handuk putih yang melilit tubuhnya, ia mengira Atlas masih sibuk di dapur mereka yang terpencil. Namun, saat ia berbalik, sosok tinggi itu sudah berdiri di depan jendela, menatap salju yang turun.
Atlas terpaku. Matanya menyusuri bahu Kaylee yang masih basah, memberikan tatapan yang belum pernah ia berikan selama 20 tahun mereka bersama. Keheningan itu mencekik, namun Kaylee, dengan sisa-sisa keberaniannya, mencoba bersikap seolah jantungnya tidak sedang meledak.
"Gue kira lo masih di dapur," gumam Kaylee pelan.
Atlas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Kaylee bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. Dari belakang, Atlas melingkarkan lengannya di pinggang Kaylee yang hanya tertutup handuk tipis. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaylee, menghirup aroma sabun vanila yang selalu menjadi candunya.
"Wangi banget, Ay..." bisik Atlas parau. "Gue nggak bisa bayangin kalau tubuh lo ini harus dilihat orang lain nanti. Gue nggak siap kalau suami lo yang harus melihat keindahan ini."
Kalimat itu seperti palu yang menghantam pertahanan Kaylee. Air mata hampir jatuh, namun ia justru membalikkan badannya dengan cepat di dalam pelukan Atlas. Matanya menantang mata pria itu dengan penuh luka yang disamarkan.
"Kenapa nggak kamu aja yang jadi suamiku, Mr. Jelek?" tantang Kaylee, suaranya bergetar antara canda dan harapan yang tulus.
Detik itu, dunia seolah berhenti. Namun, Atlas justru meledak dalam tawa, tawa lepas yang sangat renyah, seolah Kaylee baru saja menceritakan lelucon paling lucu di dunia.
"Hahaha! Kay, lo ngomong apa sih?" Atlas mencubit hidung Kaylee dengan gemas, masih tertawa. "Mana mungkin kita jadi suami istri? Kita ini saudara, kita sahabat. Lo itu udah kayak bagian dari organ tubuh gue sendiri. Mana ada orang yang nikah sama tangannya sendiri?"
Tawa Atlas bergema di seluruh pondok kayu itu, sementara Kaylee ikut tertawa, sebuah tawa yang dipaksakan hingga dadanya sakit. Sekali lagi, Atlas menggunakan kata "saudara" untuk membunuh perasaannya.
"Iya juga ya," balas Kaylee sambil memukul pelan dada Atlas. "Gue juga ogah punya suami yang hobi ngerebut ciuman pertama orang."
Atlas kembali memeluknya, kali ini pelukan yang sangat akrab, sangat hangat, namun sangat menyiksa. "Lagian, siapa juga yang mau sama lo yang pendek gini? Udah sana pakai baju, sebelum gue khilaf meluk lo terus karena kedinginan."
Kaylee berbalik menuju kamar, menutup pintu dengan rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Di luar, Atlas bersiul riang sambil kembali ke dapur, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, Kaylee sedang meremas handuknya kuat-kuat, mencoba meredam isak tangis yang pecah dalam diam.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍