NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15 - murid yang tidak dihitung

Asrama murid luar Sekte Batu Awan terletak di sisi paling rendah lereng gunung.

Bangunannya panjang, dindingnya dari batu kasar, atapnya ditambal di sana-sini. Jika hujan turun deras, air akan merembes masuk. Jika angin gunung bertiup malam hari, dinginnya menusuk tulang.

Qing Lin mendapat satu ranjang kayu di sudut ruangan.

Tidak ada tirai.

Tidak ada peti pribadi.

Hanya papan kayu, selimut tipis, dan ruang sempit yang harus ia bagi dengan sebelas murid lain.

Sebagian besar dari mereka meliriknya sekilas—lalu mengabaikan.

Yang tidak mengabaikan, menilai.

“Dia yang bikin Batu Resonansi retak itu?” bisik seseorang.

“Katanya gak punya akar spiritual.”

“Kalau begitu, cepat atau lambat dia bakal tersingkir.”

Qing Lin meletakkan pedangnya di bawah ranjang, lalu duduk.

Ia tidak membalas tatapan.

Malam itu, tidak ada upacara penyambutan. Tidak ada pidato. Murid luar hanya diberi satu aturan tertulis di papan kayu depan asrama:

Yang tidak menyumbang nilai—tidak akan diberi sumber daya.

Keesokan paginya, lonceng dibunyikan sebelum fajar.

“Tugas harian!” teriak seorang murid senior.

Semua murid luar berkumpul di lapangan kecil.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di depan mereka. Jubahnya lusuh, namun lencana peraknya menunjukkan ia murid dalam tingkat rendah.

“Namaku Liang He,” katanya datar. “Kalian akan bekerja. Batu, kayu, ramuan, pengantaran—apa pun yang diberikan.”

Ia menyebut nama satu per satu.

“Zhou Fan—tambang batu.”

“Han Yu—hutan ramuan.”

Nama Qing Lin disebut terakhir.

“Qing Lin,” Liang He berhenti sejenak. “Lembah Batu Dalam. Bersihkan jalur runtuhan.”

Beberapa murid tersenyum tipis.

Lembah Batu Dalam adalah tempat uji ilusi—dan juga daerah paling tidak stabil. Runtuhan sering terjadi. Qi liar berkumpul tak menentu.

“Sendirian?” tanya seseorang.

Liang He mengangguk. “Sendirian.”

Qing Lin tidak memprotes.

Ia mengambil alat—sekop besi dan keranjang—lalu berjalan pergi.

Lembah itu sunyi.

Batu-batu besar berserakan, beberapa jalur tertutup longsoran kecil. Udara membawa tekanan halus, tidak berbahaya bagi kultivator, namun melelahkan bagi tubuh biasa.

Qing Lin bekerja perlahan.

Ia mengangkat batu satu per satu.

Napasnya teratur.

Qi tipis mengalir di balik kulitnya, memperkuat sendi dan otot sedikit saja—cukup agar tubuhnya tidak runtuh.

Menjelang siang, ia mendengar suara langkah.

Tiga murid luar mendekat.

“Masih hidup?” ejek salah satu.

Qing Lin melirik sebentar. “Ada yang perlu?”

Mereka saling pandang.

“Kami diperintah ambil batu inti,” kata yang tertinggi. “Kau sudah lama di sini. Pasti dapat banyak.”

Qing Lin menggeleng. “Tidak ada batu inti.”

Senyum itu menghilang.

“Kalau begitu… serahkan poin kerjamu.”

Qing Lin berdiri tegak.

“Tidak.”

Hening.

Tamparan datang cepat.

Pipinya terasa panas.

Namun Qing Lin tidak bergerak.

Tatapan matanya tetap tenang.

“Sekali lagi,” kata murid itu dingin. “Poinmu.”

Sutra Darah Sunyi berdenyut.

Bukan liar.

Bukan marah.

Hanya… menyadari darah di dekatnya.

Qi di tubuh Qing Lin bergerak.

Sedikit.

Cukup.

Ia melangkah maju.

Pukulan sederhana.

Tidak indah.

Namun tepat.

Mengenai perut murid itu.

Udara keluar dari paru-parunya dengan suara tercekik.

Dua lainnya terkejut.

Qing Lin tidak mengejar.

Ia mundur selangkah.

“Pergi,” katanya pelan.

Mereka mundur sambil memaki, membawa temannya yang terhuyung.

Qing Lin duduk kembali.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena Sutra Darah Sunyi menyerap terlalu mudah.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada jejak.

Namun qi di tubuhnya… sedikit lebih padat dari pagi tadi.

Saat matahari tenggelam, Qing Lin kembali ke asrama.

Ia menyerahkan laporan kerja.

Liang He menatapnya.

“Sendirian?” tanyanya.

Qing Lin mengangguk.

Liang He mendengus. “Besok ulangi.”

Malam itu, Qing Lin duduk bersila.

Ia menekan aliran darahnya.

Menahan Sutra Darah Sunyi.

“Aku tidak ingin ini,” bisiknya.

Namun kitab itu tidak menjawab.

Ia hanya berputar pelan.

Menunggu.

Dan di Sekte Batu Awan—

seorang murid luar tanpa akar spiritual…

telah masuk daftar yang tidak boleh diremehkan.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!