NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Pasca-Festival

Senin pagi setelah Festival Sastra Musim Semi tiba dengan suasana yang sama sekali berbeda bagi penghuni Akademi Sakura. Jika sebelumnya aku hanyalah "murid pindahan yang tenang dan analitis", kini setiap langkah yang kuambil di koridor sekolah seolah memicu riak air di permukaan kolam yang tenang. Bisikan-bisikan siswa yang berpapasan denganku bukan lagi tentang kecelakaan yang menimpaku, melainkan tentang "Sang Editor" di balik kesuksesan luar biasa kembar lima Nakano.

Aku berjalan dengan ritme yang sama seperti biasanya—tenang, terkendali, dan tanpa ekspresi yang berlebihan. Namun, sensor analitisku menangkap variabel baru di lingkungan ini: rasa hormat yang bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar.

[Pekerjaan: Penulis Novel (Master)]

[Keahlian Analitis: Aktif]

[Status Lingkungan: Gema Narasi Mencapai 95%]

Di mading utama sekolah, naskah "Lima Kelopak yang Bergetar" telah dicetak ulang dalam format buletin sekolah dan dipajang dengan bingkai khusus. Kerumunan siswa masih terlihat berkumpul di sana, membaca baris demi baris kejujuran yang ditulis oleh Miku dan saudara-saudaranya. Dampak dari festival itu bukan hanya memberikan nilai tinggi bagi mereka, tapi telah mengubah struktur sosial di kelas 3-J.

Saat aku memasuki kelas, suasana mendadak sunyi selama beberapa detik sebelum kembali riuh dengan nada yang berbeda. Aku melihat mejaku kini tidak lagi hanya berisi tumpukan buku pelajaran. Ada beberapa surat—yang kutahu adalah apresiasi pembaca—dan sebuah kotak susu stroberi yang diletakkan secara anonim.

"Kau benar-benar menjadi selebriti dalam semalam, Ren," suara rendah dan tenang itu datang dari arah jendela.

Yukinoshita Yukino duduk di sana, menatapku dengan buku yang terbuka di tangannya, namun aku tahu dia tidak sedang membaca. Matanya mencerminkan sebuah pengakuan yang sulit ia ucapkan secara langsung.

"Popularitas adalah variabel yang sangat fluktuatif, Yukinoshita-san," jawabku sembari menggeser kotak susu stroberi itu ke pinggir meja. "Aku lebih suka menyebutnya sebagai 'gangguan efisiensi'. Aku tidak mencari pengakuan, aku hanya memastikan naskah itu selesai pada titik optimalnya."

Yukino menutup bukunya dengan anggun. "Haruno-nee memikirkanmu sepanjang akhir pekan. Itu bukan tanda yang bagus untuk ketenangan hidupmu. Dia merasa kau adalah orang pertama yang berhasil mematahkan argumen logisnya di depan publik tanpa menggunakan emosi yang meledak-ledak. Kau menggunakan logikanya sendiri untuk menyerangnya."

Aku menyandarkan punggungku, menatap langit pagi yang cerah dari balik jendela. "Aku tidak menyerangnya. Aku hanya menunjukkan letak retakan pada cermin yang ia bawa. Jika dia merasa sakit, itu karena dia baru menyadari bahwa topengnya tidak lagi kedap udara."

Pintu kelas terbuka dengan hentakan yang cukup keras. Yotsuba Nakano masuk dengan energi yang seolah bisa menerangi seluruh ruangan. Ia segera berlari ke arahku, mengabaikan tatapan siswa lain.

"Saiba-san! Kau sudah lihat pengumuman di kantor depan?!" serunya dengan mata berbinar-binar. "Naskah kita... naskah kita dipilih untuk mewakili sekolah di kompetisi tingkat prefektur! Dan itu belum semuanya!"

Di belakangnya, Miku dan Itsuki menyusul dengan wajah yang sedikit lebih tenang namun tetap memancarkan kebahagiaan. Miku menatapku, dan sesuai janjinya semalam di atap sekolah, ia tidak lagi memanggilku dengan kaku.

"Ren... selamat pagi," ucap Miku dengan suara yang lebih stabil. "Tadi Shizuka-sensei mencarimu. Beliau bilang ada 'Komite Evaluasi Bakat' yang ingin bertemu denganmu di ruang kepala sekolah."

[Variabel Baru Terdeteksi: Komite Evaluasi Bakat]

[Analisis Risiko: Tekanan Institusional Terhadap Kreativitas]

[Status: Siaga Analitis]

Aku bangkit dari kursi, merapikan seragamku dengan teliti. Kehadiran komite ini adalah variabel yang sudah kuprediksi sejak kesuksesan festival kemarin. Saat seorang siswa menunjukkan kemampuan yang melampaui rata-rata, institusi akan selalu mencoba untuk mengukur, mengategorikan, atau mengendalikannya.

"Sepertinya waktu tenangku sudah berakhir," ujarku pada mereka.

"Kau akan baik-baik saja?" Itsuki bertanya dengan nada khawatir. "Ayah... maksudku Maruo-san, adalah salah satu donatur besar di komite itu. Aku takut dia mencoba mempersulitmu karena kejadian di pinggir jalan kemarin."

Aku menepuk bahu Itsuki dengan lembut, sebuah gerakan protektif yang kini terasa sangat alami. "Jangan khawatir. Maruo-san mungkin memiliki otoritas atas dana sekolah, tapi dia tidak memiliki otoritas atas narasi yang kubangun. Aku akan menghadapi mereka dengan bahasa yang mereka pahami: data dan hasil."

Nino masuk terakhir ke dalam kelas. Ia berpapasan denganku di depan pintu. Ia berhenti sejenak, memperbaiki letak pita rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna.

"Jangan biarkan mereka mengintimidasi dirimu, Saiba," bisik Nino saat aku melewatinya. "Jika mereka macam-macam, katakan padaku. Aku punya cara tersendiri untuk membuat hidup para orang tua di komite itu tidak tenang."

Aku tersenyum tipis pada Nino—senyum yang penuh rahasia di antara kami. "Terima kasih, Nino. Tapi biarkan aku menangani variabel ini dengan caraku sendiri terlebih dahulu."

Aku melangkah menyusuri koridor menuju ruang kepala sekolah. Setiap langkahku terasa lebih berat bukan karena rasa takut, melainkan karena aku tahu bahwa mulai saat ini, permainanku bukan lagi hanya di antara murid-murid kelas 3-J. Aku mulai memasuki wilayah di mana politik sekolah dan pengaruh orang dewasa bermain.

Di depan pintu kayu jati yang besar itu, aku berhenti sejenak. Aku bisa mencium aroma cerutu yang mahal dan parfum wanita yang sangat elegan—aroma Haruno. Sepertinya pertemuan ini akan menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar evaluasi bakat.

[Status: Memulai Sesi Negosiasi Institusional]

[Target: Mempertahankan Kebebasan Kreatif]

Aku mengetuk pintu dua kali.

"Masuk," suara berat Kepala Sekolah bergema dari dalam.

Aku membuka pintu, dan pemandangan di dalam sana segera mengonfirmasi analisaku. Maruo Nakano duduk di salah satu kursi kulit mewah, Haruno Yukinoshita berdiri di dekat jendela sambil memutar-mutar segelas air, dan Shizuka Hiratsuka berdiri di pojok ruangan dengan ekspresi yang sangat tegang.

Panggung baru telah disiapkan, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar nilai sastra, melainkan masa depan keberadaanku di Akademi Sakura.

Lantai kayu di ruang kepala sekolah dipoles begitu mengilap hingga memantulkan bayangan lampu gantung kristal yang menggantung kaku di langit-langit. Udara di dalam sini terasa dingin, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena akumulasi ego dan otoritas yang berkumpul di satu titik. Aku berdiri di tengah ruangan, membiarkan pintu tertutup perlahan di belakangku dengan suara klik yang final.

Kepala Sekolah, seorang pria tua dengan wajah yang tampak seperti kertas kusut, duduk di balik meja mahoninya yang besar. Namun, dia bukanlah pusat gravitasi di ruangan ini. Gravitasi itu datang dari Maruo Nakano yang duduk tegak dengan tangan tertumpu pada gagang kursinya, dan Haruno Yukinoshita yang menatapku seolah aku adalah spesimen baru di bawah mikroskopnya.

"Saiba Ren-kun," Kepala Sekolah memulai, suaranya parau namun penuh kehati-hatian. "Hasil festival kemarin telah membawa nama sekolah kita ke permukaan. Prestasi yang luar biasa untuk seorang murid pindahan. Namun, Komite Evaluasi Bakat memiliki beberapa variabel yang perlu diklarifikasi terkait metode bimbinganmu."

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Negosiasi Tingkat Tinggi]

[Bahasa Sistem: Mendeteksi Tekanan Psikologis dari Sisi Kiri (Maruo Nakano)]

"Metode bimbingan?" Aku bertanya dengan nada yang sangat tenang, hampir datar. Aku tidak menunggu dipersilakan duduk; aku melangkah menuju satu-satunya kursi kosong yang tersisa, tepat di antara Maruo dan Shizuka. "Saya rasa hasilnya sudah bicara sendiri. Kelompok Nakano memberikan performa yang melampaui standar kurikulum."

Maruo Nakano memperbaiki letak kacamatanya. Cahaya lampu memantul di lensanya, menyembunyikan matanya sejenak. "Hasil memang penting, Saiba-kun. Namun, sebagai orang tua dan donatur utama, saya merasa metode yang kau gunakan terlalu... agresif. Kau membongkar privasi emosional putri-putriku untuk sebuah pementasan publik. Itu adalah tindakan yang tidak efisien dan berisiko bagi stabilitas psikologis mereka."

Aku menoleh perlahan ke arah Maruo. "Efisiensi yang Anda maksud, Nakano-san, adalah kepatuhan yang buta. Saya tidak membongkar privasi mereka; saya membantu mereka membangun identitas. Jika Anda menyebut stabilitas sebagai kondisi di mana mereka harus selalu memakai topeng di depan Anda, maka saya memang telah menghancurkan stabilitas itu. Dan saya melakukannya dengan izin mereka sepenuhnya."

Ruangan mendadak menjadi sangat sunyi. Shizuka yang berdiri di belakangku tampak menahan napas. Keberanianku menantang Maruo di depan otoritas sekolah adalah tindakan yang secara teknis bisa dianggap sebagai bunuh diri sosial.

Haruno, yang sejak tadi hanya memutar-mutar gelasnya, akhirnya tertawa kecil. Suaranya memecah ketegangan seperti denting kaca yang pecah. "Kau lihat sendiri, Ayah-san? Dia sangat keras kepala. Ren-kun tidak peduli pada hierarki. Dia hanya peduli pada apa yang dia sebut sebagai 'kejujuran naskah'."

Haruno melangkah mendekat, berdiri di sisi mejaku. "Kepala Sekolah, komite merasa bahwa bakat Saiba-kun terlalu besar jika hanya dibatasi di kelas 3-J. Kami mengusulkan agar Saiba-kun ditempatkan di bawah pengawasan khusus program 'Aset Elit' prefektur. Tentu saja, itu berarti dia harus menyerahkan seluruh hak atas naskah dan metode bimbingannya kepada komite."

Aku memutar pulpen di tanganku, sebuah gerakan yang sangat terkendali. Ini adalah intinya: mereka ingin mengomodifikasi kemampuanku. Mereka melihat kesuksesan kembar lima bukan sebagai kemenangan emosional, melainkan sebagai produk yang bisa diproduksi massal.

"Hak atas naskah itu bukan milik saya untuk diberikan, Haruno-san," ujarku, matanya menatap tajam ke arahnya. "Itu milik Miku, Nino, Ichika, Yotsuba, dan Itsuki. Saya hanyalah perantara. Jika Komite ingin mengambilnya, silakan bicara langsung pada mereka. Tapi saya peringatkan, kejujuran yang sudah mereka temukan tidak akan bisa Anda beli dengan beasiswa atau janji masa depan mana pun."

Maruo berdiri, kehadirannya seolah memenuhi ruangan. "Kau sangat arogan untuk seseorang yang baru saja kembali dari ambang kematian, Saiba-kun. Kau pikir kau bisa melindungi mereka selamanya?"

"Saya tidak melindungi mereka dari dunia, Nakano-san. Saya membekali mereka agar mereka tidak butuh perlindungan dari siapa pun, termasuk dari Anda," balasku tanpa berkedip.

[Status Pekerjaan: 100%]

[Bahasa Sistem: Sinkronisasi Identitas Protagonis Aktif]

[Hadiah: Membuka Jalur Dialog Strategis - Intimidasi Intelektual]

Kepala Sekolah tampak berkeringat dingin di antara dua kekuatan ini. Shizuka akhirnya melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu kursiku—sebuah dukungan fisik yang sangat berani di depan donatur sekolah.

"Kepala Sekolah, sebagai wali kelas mereka, saya memberikan jaminan penuh atas metode Saiba-kun," Shizuka bersuara dengan nada yang tak terbantahkan. "Dampak positif yang terlihat pada perkembangan akademik dan emosional Nakano bersaudara adalah fakta yang tidak bisa dibantah oleh komite mana pun. Jika Anda mencoba menekan Saiba-kun, Anda juga harus berhadapan dengan departemen pengajaran."

Maruo menatap Shizuka sejenak, lalu kembali menatapku. Ada kilatan rasa hormat yang sangat tipis dan tersembunyi jauh di balik kemarahannya. Pria analitis seperti dia tahu ketika dia bertemu dengan dinding yang tidak bisa diledakkan dengan uang.

"Pertemuan ini selesai untuk hari ini," Maruo berucap dingin sembari merapikan jasnya. "Tapi jangan anggap ini kemenangan, Saiba Ren. Dunia di luar sekolah ini tidak berjalan dengan logika sastra."

Maruo melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Haruno mengikutinya, namun ia sempat berhenti di dekat pintu, memberikan kedipan mata yang penuh makna kepadaku. "Bab yang sangat menarik, Ren-kun. Mari kita lihat apa yang terjadi saat variabel 'Keluarga' mulai bergesekan dengan variabel 'Ambisi'."

Setelah mereka pergi, ruangan itu terasa jauh lebih luas. Kepala Sekolah hanya bisa menghela napas panjang dan memintaku untuk kembali ke kelas.

Aku berjalan keluar bersama Shizuka. Di koridor yang sepi, ia menghentikan langkahku. "Kau pria paling gila yang pernah kukenal, Saiba. Kau baru saja menyatakan perang pada donatur terbesar kita."

"Saya hanya menyatakan kebenaran, Shizuka," jawabku sembari menatap ke arah lapangan di mana kembar lima tampak sedang berlatih olahraga. "Dan di dunia ini, kebenaran adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa mereka beli."

Shizuka tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rasa kagum dan sesuatu yang lebih dalam. "Pulanglah ke kelas. Mereka menunggumu. Dan Saiba... terima kasih karena telah berdiri untuk mereka."

Aku mengangguk dan berjalan kembali. Di dalam hatiku, aku tahu bahwa ini adalah awal dari konflik yang sesungguhnya. Namun, dengan sistem di kepalaku dan lima gadis yang kini percaya sepenuhnya padaku,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!