NovelToon NovelToon
Jetro, Pengantin Pengganti

Jetro, Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti
Popularitas:100.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.

"Aku yang akan menikahimu."

Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan berdua

Jantung Febi berdebar cepat ketika dia berbalik setelah menutup pintu kamar. Jetro sedang berjalan ke arahnya.

Dia udah bangun?

"Mami sudah pergi?" tanya Jetro sambil mengambil alih kereta dorong itu. Agak berbasa basi karena dia sudah tau jawabannya.

"Sudah."

Jetro mendorong pelan hingga ke sisi sofa yang ada di dalam kamar.

"Kamu... ngga apa apa?" tanya Jetro ketika melihat Febi yang berjalan perlahan, tidak seperti biasa. Dia seperti menahan sakit.

Jetro memaki kekasarannya tadi malam. Walaupun dia sudah berusaha melakukannya dengan lembut, tapi saat mereka menyatu, dia sulit menahan h@sratnya.

Febi menggeleng malu, dia duduk perlahan di sofa di dekatnya. Masih terasa sedikit nyeri.

Ini, kan, gara gara kamu, desisnya dalam hati.

"Eng... Kamu mau aku panggilkan dokter? Mungkin kamu butuh obat penghilang rasa sakit atau salep?" tanya Jetro canggung. Dia teringat kata kata Abiyan, kalo setelah berhubungan, mungkin ada bagian yang terluka.

Febi tertegun dan dia ngga mungkin, kan, mengaku terus terang, Mereka belum seakrab itu.

Flashback

"Aku minta Luna meresepkan obat penghilang nyeri. Juga salep," ujar Abiyan saat mereka kumpul kumpul setelah resepsi usai.

"Kamu maennya ganas," cibir Baim.

"Heh, dogol, kalo kamu ketemu per@wan, pasti tetap lecetlah dianya," sergah Abiyan ngga terima. Karena menurutnya dia sudah sangat lembut, tapi istrinya tetap berteriak kesakitan.

"Tanya aja sama Hasan kalo ngga percaya. Dia pasti yang paling halus maennya dibanding kita," tantang Jayden.

Hasan yang hanya menyimak obrolan ngga bermanfaat para sepupu dan kerabat Luna, terkejut juga karena namanya dibawa bawa.

"Biasa aja, San," tawa Quin berderai melihat gestur kaget dan salah tingkah Hasan.

"Hasan ngga perlu jawab dengan kata kata, tuh," timpal Fadel.

"Tapi kalo hati hati banget ngga terlalu lecetlah," sambung Sean.

"Iya, Resh?" tanya Jetro meminta pendapat Naresh.

Naresh terpaksa mengulaskan senyumnya.

"Begitulah." Teringat dulu Nathalia sempat marah marah setelah mereka melakukannya.

Jetro terdiam. Dia bingung, bagaimana nanti memulai malam pert@manya dengan Febi. Memang dia sudah memberikan undangan terselubung, tapi dia masih bingung cara mempraktekkannya.

Memang kalo masalah teori, dia sudah cukup memadai. Waktu SMA dan kuliah Abiyan dan Jayden sering mengajaknya dan sepupu sepupu laki laki yang lain untuk nobar film biru.

Hanya saja ini benar benar pertama buatnya. Dia masih ragu juga, Febi mau atau tidak. Karena harga dirinya akan terluka kalo Febi menolak keinginannya. Sedangkan dia ngga mau memaksa.

"Ingat, Jet, istrimu polwan. Jangan sampai dia bawa pistol. Nanti kalo kamu lagi seru serunya dan dia sudah sangat kesakitan, kamu bakal di dor," timbrung Deva kemudian ngakak bersama Abiyan, Jayden, Sean dan Quin.

Yang lainnya hanya tersenyum miring menanggapi ucapan ngga bermanfaat Deva.

Jetro tersenyum miring.

Pasti sudah di amankan, lah, batinnya yang menyahut.

Endflashback

Jetro menatap Febi yang tampak resah.

"Kita makan dulu aja, ya. Aku sudah lapar," ucapnya sambil meraih piring yang berisi sate. Lengkap dengan lontong dan kuahnya.

Kalo Febi belum mau ketemu dokter, berarti lecetnya masih biasa saja, pikir Jetro tenang.

Febi reflek membantu menyajikannya buat Jetro, membuat laki laki itu tersenyum samar.

Dia jadi ingat maminya yang selalu begitu saat makan bersama papinya.

Jetro meletakkan tiga tusuk sate kambing di piring Febi yang memilih sarapan dengan bubur ayam.

Kemudian Jetro meletakkan sepotong pah@ ayam goreng.

"Sudah." Febi bermaksud menolak. Tapi Jetro malah menyuwir kasar daging pah@ itu.

"Kalo bubur gitu aja, ngga akan bikin kenyang dan nambah tenaga," sahut Jetro yang membuat Febi tidak melakukan protes lagi.

Sambil makan Jetro terus menatap Febi. Mereka belum lama kenal tapi setelah malam tadi Jetro merasa perasaannya kian dalam.

Febi yang tidak sadar kalo Jetro sedang menatapnya, tetap tenang menikmati makanannya dengan cukup lahap. Dalam hati mengakui kebenaran ucapan Jetro kalo hanya bubur saja, dia tidak akan merasa kenyang dan juga tidak akan bisa mengganti tenaganya yang hilang.

Tadi malam, tenaganya memang sudah terkuras abis. Ibarat kelapa parut, Jetro sudah memer@snya patinya sampai yang tertinggal hanya ampasnya saja.

Jetro juga selain menghabiskan tujuh tusuk sate yang potongan dagingnya cukup besar berikut lontong. Bahkan dia juga menambah porsi makannya dengan semangkuk bakso.

Baru kali ini Jetro merasa n@fsu makannya sebesar ini.

"Nanti kamu masih tetap bertugas dengan Cakra?" tanya Jetro setelah makanan yang mereka nikmati tinggal sedikit meninggalkan sisa.

Dia agak ngga rela kalo istrinya masih jadi bawahan Cakra.

"Iya. Dia, kan, bos."

Jetro menatap lekat manik mata Febi.

"Kamu ngga akan sungkan dengan dia? Kan, kalian hampir menikah."

Febi membalas menatap Jetro dengan acuh.

"Bukannya itu kamu yang harusnya sungkan, karena udah ngambil posisi dia?"

Jetro spontan tersenyum mendengar ucapan mengejek Febi.

"Iya, sih."

Udah tau nanya, sungut Febi dalam hati.

"Aku perlu sungkem dengan dia?"

"Harus, ya?" Febi balik bertanya. Kecurigaannya makin kental aja di dalam benaknya.

Jetro menampakkan senyunnya dengan lebih jelas. Senyum meremehkan.

"Kecuali kalo kamu memang ada andil bikin dia ngga bisa datang," todong Febi santai melanjutkan ucapannya tadi.

Kali ini senyum yang berusaha Jetro tahan berubah jadi lengkung yang sangat sempurna.

"Tapi kamu suka, kan?" sahut Jetro tanpa beban.

DEG

Febi akui, dia lebih suka dinikahi Jetro dan bersyukur karena laki laki itu sudah menyelamatkannya dari bos sakit jiwanya. Apalagi laki laki ini sampai melakukan perencanaan total atas tindakan nekatnya. Febi merasa sangat diusahakan. Padahal siapa, sih, dirinya? Hanya seorang pokwan, bukan anak presiden atau pejabat pemerintah.

Papanya juga belum masuk dalam jajaran konglomerat sekelas keluarga Jetro, walaupun kehidupannya sudah sangat berlebihan.

"Ngga ada buktinya, kan?" Agak khawatir juga kalo Cakra akan mempermasalahkannya nanti.

Lako laki sakit jiwa itu bisa melakukan apa saja, kan?

"Aman." Jetro mengunci tatap mata Febi. Kemudian dia meraih wajah itu dan mengec up bibirnya.

DEG

Febi kaget dengan serangan tiba tiba Jetro, hanya bisa memejamkan mata

"Kamu kebanykan makan sambal," bisik Jetro setelah menjauhkan wajah dan bibirnya.

Sebenaranya dia ingin melakukannya lagi, tapi melihat cara Febi melangkah tadi, Jetro tau kalo dia harus bersabar dulu. sekarang.

Tapi sekarang hatinya sudah bisa tersenyum, karena tidak sesulit yang dia pikir untuk melakukan physical touch dengan Febi. Gadis itu tak pernah menolaknya. Jetro yakin, dia ngga akan mungkin di dor.

Sementara Febi masih belum bisa mengsinkronkan logika dan perasaannya sekarang. Dia malah merasa kecewa karena ciu man yang dilakukan Jetro cukup singkat.

Salahkah kalo dia menginginkan lebih?

1
Lusi Hariyani
fiola km emang dasar iblis yg g bs sadar2 dgn kesalahanmu sendiri...febi dh g usah di jenguk aja biarn mati dgn dendam dia
Ariany Sudjana
mampus saja kamu fiola, sudah mau mati, masih juga membenci Febi dan menyalahkan Febi untuk semua masalah yang kamu hadapi. sudah Febi, kamu jangan terlalu berbelas kasih dengan fiola, lebih baik kamu segera mati fiola, kamu itu hanya pelacur murahan dan pembunuh
Zea Rahmat
mau mati aja sombongnya🤭🤭🤣
biby
hati2 feby jgn terlalu kasihan khawatir si fiola memanfaatkan kebaikanmu dg permintaan terakhir sblm metong dia mnta nikah sm jetro gawaaat jadix
Ernaaaaa
bener2 dah sekarat aja g tobat2
Herman Lim
pasti seru klo baik di gap sama bapak Mak nya 🤣🤣🤣 auto langsung suruh nikah 🤪🤪
Evi Solina
jangan di tolongin lagi feb, udah sakit juga gak ada tobatnya, serahkan ke ibu kandungnya aja itu juga kalau masih ada
Rahmawati
ayo mom gerbek aja baik, terus langsung di nikahkan
Tri Handayani
kayanya sebentar lagi baim bakal nyusul jetro' dech...tanpa oacaran langsung nikah
Ariany Sudjana
si pelacur murahan masih juga ga terima, kalau Jetro sudah jadi suaminya Febi, jadi jangan berharap jadi istrinya kamu fiola, tempat kamu itu cocoknya di penjara, karena kamu itu pembunuh
Lusi Hariyani
baim...tggu aja penggrebekan papi&mami mu langsng dech nikah dadakan🤣
Tri Handayani
fiola...semoga d sisa hidupmu'kamu bisa berubah menjadi baik dan mau menyadari kesalahanmu pda adikmu febi.
Tri Handayani
Baim...pinrar banget modusmu
Tri Handayani
stefi...mau kamu pulang cepat atau lambat jetro tetap akan jadi suaminya febi
Rahmawati
Terima saja karmamu fiola
Rahmawati
sabar gisel😂
Lia Kiftia Usman
pikiran dan hati yg selalu 'netink' mempercepat berkembang sel kanker nya... jauh dari bersyukur apalagi koreksi diri... ya sudahlah ....🤭
Ariany Sudjana
hahaha sudahlah mati saja kamu fiola, kamu itu pelacur murahan dan juga pembunuh 🤣🤣😂😂
Ernaaaaa
nah loh...tobat Thor eh salah tobat Fiola
Lusi Hariyani
emang karma fiola...itu kanker dr org2 yg dibunuh fiola
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!