Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan dari Sang Raja
Kereta Kingdom Conqueror berhenti di sebuah pelabuhan besar yang dipenuhi derap langkah prajurit. Udara laut bercampur bau besi dan kayu basah menyergap indra. Kapal perang megah milik Kingdom Conqueror telah menunggu. Prajurit berjaga di setiap sudut, berdiri tegak seperti patung hidup, mata mereka tajam mengawasi sekeliling.
Begitu roda kereta berhenti sepenuhnya, Putri Lily langsung membuka mata. Kesadarannya kembali cepat, hidup di hutan membuat tubuhnya sensitif dengan gerakan sekecil apa pun. Ia menurunkan kakinya perlahan, namun tidak segera turun. Pandangannya tertuju pada punggung King Cristopher yang telah lebih dulu melangkah keluar dari kereta.
Lily menunggu… menunggu Cristopher mengulurkan tangan sebagaimana ayahandanya selalu mengulurkan tangan untuk ibundanya, membantu turun dari kereta dengan penuh hormat. Namun King Cristopher tidak menoleh. Tatapannya dingin, lurus ke depan, seolah kehadiran Lily di belakangnya hanyalah bagian dari kewajiban, bukan seseorang yang perlu diperhatikan.
Lily tersenyum tipis, lalu tanpa ragu melompat ke punggung lebar King Cristopher.
Semua pengawal dan pelayan terkejut. Sebagian refleks menahan napas, sebagian lainnya membelalakkan mata. Tidak ada seorang pun di Kingdom Conqueror yang berani menyentuh raja mereka tanpa izin, apalagi melompat ke punggungnya di depan umum.
“Apa yang kau lakukan?!” geram Cristopher, tubuhnya menegang.
Lily tersenyum tipis. Dengan satu gerakan lincah, ia melompat turun dari punggungnya, mendarat dengan anggun seolah tak terjadi apa-apa. “Aku hanya mengajarimu cara memperlakukan wanita dengan benar,” katanya santai.
Wajah Cristopher memerah, bukan karena malu melainkan amarah yang tertahan. Pengawal di sekitar mereka menunduk lebih dalam, takut akan murka yang bisa meledak kapan saja. Dalam benak mereka hukuman berat sudah terbayang, dan mereka tak bisa membayangkan bagaimana sang putri akan keluar dari situasi ini dengan selamat.
Namun sebelum apa pun terjadi, seorang pengawal datang lalu menunduk hormat.
“Mohon ampun, Your Majesty. Kapal sudah siap untuk berangkat.” lapornya dengan suara bergetar.
Cristopher menghela napas singkat, memalingkan wajahnya. Amarah itu ditelan kembali, disimpan rapi di balik wajah raja yang tak boleh goyah di hadapan prajuritnya.
Putri Lily berjalan mengikuti pengawal itu dengan langkah santai. Bahunya tegak, ekspresinya tenang, seolah kejadian barusan hanyalah angin lewat. Ia menaiki kapal tanpa menoleh lagi, meninggalkan King Cristopher berdiri di pelabuhan dengan perasaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya… terusik, terganggu, dan hampir kehilangan kendali.
Raja Penakluk dari benua barat itu menyadari satu hal yang tidak ia rencanakan. Gadis yang akan ia bawa ke negerinya, bukan sekadar pengorbanan politik yang bisa ia tundukkan dengan mudah.
Putri Lily terpukau oleh kemewahan kapal milik Kingdom Conqueror. Setiap sudutnya memancarkan kekuatan dan kemajuan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Kayu halus berukir rapi, logam mengilap, dan pencahayaan lembut yang terasa asing namun menenangkan. Ia duduk di atas tempat tidur yang telah disiapkan untuknya. Empuk dan hangat, kualitas yang jauh berbeda dari yang ia tahu di Imperial Agartha.
Lily melangkah mendekat ke jendela kecil di kabin. Kapal mulai bergerak perlahan, air laut terbelah di bawahnya. Matanya membesar oleh kekaguman. Inilah dunia yang selama hidup dalam halaman-halaman buku, yang selalu dibawakan ayahandanya setelah menjual tanaman obat. Kisah tentang kerajaan jauh di seberang lautan, tentang teknologi yang melampaui zaman, tentang peradaban yang seratus tahun lebih maju dari tanah kelahirannya.
“Ayahanda… Ibunda…” bisiknya lirih.
Pandangan Lily mengikuti garis cakrawala yang perlahan menjauh. Imperial Agartha kini berada di belakangnya.
“Pijakanku… dan jalan yang akan kutempuh, tidak lagi sama dengan milik kedua kakakku.”
Ia menutup mata sejenak, menahan getaran di dadanya.
“Tolong restui aku.”
King Cristopher memasuki ruangan dengan langkah mantap. Aura pemipin menyertai setiap geraknya. Prajurit yang berjaga segera menutup pintu ruang pribadi sang raja dan calon ratunya, daun pintu kayu berat itu bertemu dengan bunyi yang dalam dan mengunci dunia luar sepenuhnya. Kini hanya ada mereka berdua, dalam ruang yang dipenuhi keheningan dan tekanan yang tak kasatmata.
“Aku ingin bicara!” katanya tegas, tanpa basa-basi.
Putri Lily menoleh. Ia mendekat dengan sikap tenang, punggungnya tegak, wajahnya tak menunjukkan gentar.
“Apa yang ingin Anda katakan, Your Majesty?” tanyanya, suaranya lembut namun jelas.
Cristopher memutar tubuhnya menghadap Lily sepenuhnya. Tatapan matanya tajam, dingin, seperti baja yang belum ditempa api belas kasih.
“Kau sudah mendengar tentang ratu pilihan yang ditakdirkan itu,” katanya perlahan, setiap kata ditekan dengan penuh kendali. “Namun ada satu hal yang harus kau ingat.”
Ia berhenti sejenak, memastikan kalimat berikutnya menghantam tepat sasaran.
“Kau mungkin akan duduk di sisiku dan menyandang gelar seorang ratu di hadapan dunia. Tetapi hubungan kita tidak lebih dari konflik kepentingan. Jangan berharap lebih dan menganggapku sebagai suamimu.”
Nada suaranya datar, tanpa emosi, seperti keputusan yang telah lama ia tetapkan jauh sebelum Lily berdiri di hadapannya.
Putri Lily terdiam. Ia semula berpikir bahwa ia akan menjalani takdir ini dengan sukarela. Namun ucapan Cristopher telah menentukan garis batas yang jelas di antara mereka. Ia tidak terluka. Sebaliknya, batas itu membebaskannya. Ia tidak perlu belajar mencintai dan memikul harapan kosong. Beban yang semula ia kira akan menghancurkannya justru runtuh dengan sendirinya.
Lily menatap Cristopher tepat di bola mata, “Bagaimana dengan fasilitas yang akan kudapatkan?” tanyanya tenang.
Cristopher menatapnya sesaat, seolah menilai ulang gadis di hadapannya. “Kau akan mendapatkan segalanya,” jawabnya singkat. “Kecuali perasaan.”
“Uang, barang, apa pun yang kuinginkan, aku bisa mendapatkannya?” Lily memastikan, matanya jernih tanpa kepalsuan.
Cristopher mengangguk, tidak ada keraguan di sana.
Perlahan senyum cerah terbit di bibir Lily. Senyum seseorang yang baru saja menemukan pijakan baru dalam hidupnya. Baginya, ini bukan masalah besar. Pengalaman baru adalah tantangan, dan Lily selalu menyukai tantangan.
Pandangan Lily terhadap Cristopher pun berubah. Pria di hadapannya bukan sosok yang harus dicintai, melainkan fondasi hidupnya di tanah asing. Sumber stabilitas yang akan memastikan dirinya tidak kekurangan. Cristopher memiliki kekuasaan dan kemakmuran yang melimpah, sesuatu yang bisa ia manfaatkan untuk bertahan dan berkembang.
“Aku setuju,” kata Lily tanpa ragu. “Aku berjanji akan menjaga batasan hubungan ini.”
Matanya berbinar, bukan karena harapan kosong, melainkan karena kejelasan.
Ia melangkah pergi, menyeret ujung gaunnya menuju jendela. Dari sana, hamparan laut terbentang luas, berkilau di bawah cahaya langit. Lily menatapnya dalam diam. Batas yang ditetapkan Cristopher membuat segalanya terasa lebih mudah. Ia tahu di mana harus berdiri dan tahu apa yang harus dijaga.
Reaksi Lily sama sekali tidak sesuai dengan bayangan Cristopher. Tidak ada drama air mata dan penolakan. Ia menatap Lily sekali lagi, memastikan apakah gadis ini sedang jujur atau hanya berpura-pura. Namun yang ia lihat hanya kebahagiaan yang jujur.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author