NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENCARIAN YANG TERLAMBAT

Suara mesin bus tua yang berderit-derit seolah sedang meratapi nasib Laras yang kini jatuh sejatuh-jatuhnya. Dia duduk di pojok bangku bus kelas ekonomi yang baunya campur aduk antara asap rokok, keringat penumpang, dan aroma bensin yang menyengat. Jaket branded miliknya yang dulu tampak mentereng, kini sudah kusam dan bau apek karena jarang dicuci. Di dalam tas kecilnya, cuma tersisa selembar uang lima puluh ribu rupiah—uang terakhir yang dia miliki setelah membayar tiket bus paling murah dari Jakarta menuju Bandung.

Laras menyandarkan kepalanya di kaca bus yang kotor. Pikirannya melayang-layang liar. Dia membayangkan Rangga pasti masih tinggal di rumah Emak yang kecil, lembap, dan bocor kalau hujan. Dia membayangkan Rangga masih kucel, bau oli, dan hidup serba kekurangan. Palingan Mas Rangga sekarang lagi pusing cari uang buat beli susu Rinjani, pikir Laras sambil menarik napas panjang. Ada sedikit senyum licik yang muncul di sudut bibirnya yang kering.

"Pasti Mas Rangga langsung luluh kalau aku datang. Dia kan bucin sekali sama aku. Cuma perlu nangis sedikit, peluk dia, lalu bilang kalau aku rindu Rinjani, dia pasti bakal maafin aku kok. Mas Rangga nggak mungkin tega lihat aku hidup susah begini," gumam Laras dalam hati. Dia masih merasa punya "senjata" kecantikan dan rasa cinta Rangga yang dulu begitu besar padanya. Dia berpikir, sedikit rayuan manja akan membuat Rangga lupa kalau dulu dia pernah diusir bagaikan sampah.

Bus berhenti di Terminal Cicaheum saat matahari mulai condong ke barat. Laras turun dengan kaki yang terasa kaku sekali. Dia mulai berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju alamat rumah Emak. Anehnya, suasana di sana terasa berbeda sekali. Gang yang dulu becek dan gelap, kini sudah berpaving rapi. Laras mulai merasa asing. Dia tersesat beberapa kali, memutar-mutar di gang yang sama sampai keringat dingin membasahi punggungnya.

"Aduh, rumahnya yang mana sih? Kok jadi bagus-bagus begini gangnya?" keluhnya sambil mengusap dahi. Perasaan tidak enak mulai merayap di hatinya. Dia membayangkan rumah Emak adalah rumah yang paling reyot di sana, tapi dia tidak menemukan satu pun bangunan yang tampak menyedihkan seperti dugaannya.

Setelah hampir satu jam berputar-putar, langkah kaki Laras terhenti di depan sebuah rumah yang dicat warna krem cerah. Pagar kayunya yang baru tampak kokoh, dan ada beberapa pot bunga yang tertata rapi di terasnya. Laras menatap nomor rumahnya sekali lagi. Ini benar alamat rumah Emak, tapi kok beda sekali? Di mana rumah kayu yang dulu dindingnya sudah lapuk itu?

Laras menatap seorang wanita tua yang sedang menjemur pakaian di samping rumah. Wanita itu memakai daster batik yang bersih dan tampak sehat sekali. Itu Emak. Tapi, sosok Emak sekarang tidak lagi tampak layu seperti dulu. Laras memberanikan diri mendekat, meski jantungnya berdegup kencang sekali.

"Mak... Emak..." panggil Laras lirih.

Wanita tua itu menoleh. Seketika, gerakan tangannya yang sedang memeras handuk berhenti. Emak menatap Laras dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang datar. Tidak ada sorot kemarahan yang meluap-luap, tidak ada makian. Justru ketenangan di mata Emak-lah yang membuat Laras merasa kerdil sekali.

"Oh, kamu, Laras," sahut Emak pendek. Suaranya dingin, sedingin udara Bandung sore itu.

"Mak, apa kabar? Aku... aku rindu Emak. Aku rindu Rinjani juga. Rangga-nya ada di dalam, Mak?" Laras mencoba memasang wajah sedih yang paling menyayat hati. Dia mulai terisak, berharap Emak akan langsung memeluknya dan mengajaknya masuk.

Emak tidak bergeming. Beliau lanjut menjemur handuk terakhir, lalu menatap Laras dengan tatapan yang seolah menembus langsung ke relung hati Laras yang paling busuk. "Rangga nggak ada di sini, Ras. Dia lagi sibuk di rukonya. Rinjani juga lagi ikut ayahnya jualan."

"Ruko? Rangga punya ruko, Mak? Ah, Emak pasti bercanda deh. Rangga kerja jadi apa sih sampai punya ruko?" Laras tertawa sumbang, mencoba menutupi rasa terkejutnya yang luar biasa.

Emak berjalan mendekat ke pagar, lalu berdiri tepat di depan Laras. "Rangga yang kamu usir dulu, sekarang sudah bangkit. Dia kerja keras siang malam, jujur, dan nggak pernah mengeluh. Gusti Allah kasih jalan buat dia karena dia laki-laki yang tulus. Dia sekarang sudah punya angkringan yang besar, sudah punya motor baru, dan yang paling penting... dia sudah punya ketenangan hati."

Laras terdiam seribu bahasa. "Tapi Mak... aku ini istrinya. Aku mau minta maaf. Aku mau kita balik lagi jadi keluarga. Aku sadar aku salah, Mak. Hidupku di Jakarta hancur sekali sekarang..."

"Istri?" Emak tersenyum pahit, sebuah senyuman yang terasa menusuk jantung Laras. "Bukannya kamu sendiri yang minta dicerai? Bukannya kamu yang bilang Rangga itu parasit? Sekarang pas kamu sudah jatuh, baru ingat kalau Rangga itu suamimu? Ke mana saja kamu waktu Rangga nangis di depan pintu rumahmu dulu, Ras?"

"Mak, tolonglah... kasih tahu Rangga di mana. Aku mau ketemu dia. Aku rindu sekali sama Rinjani, Mak..." Laras mulai bersimpuh di depan pagar, air matanya kini benar-benar tumpah. Bukan cuma karena sedih, tapi karena rasa malu yang luar biasa mengetahui Rangga sudah sukses.

Emak menarik napas panjang, menatap Laras dengan rasa kasihan yang hambar. "Laras, dengar Emak ya. Rangga sudah menemukan kebahagiaannya. Dia sekarang dikelilingi orang-orang yang sayang sama dia tanpa lihat hartanya. Dia sudah nggak butuh kamu lagi. Kalau kamu mau ketemu dia cuma buat numpang hidup lagi, mending kamu pulang sekarang juga deh."

"Emak jahat sekali sih sama aku..." rintih Laras.

"Bukan Emak yang jahat, Laras. Tapi kamu yang sudah membakar jembatanmu sendiri. Sekarang jembatan itu sudah jadi abu, nggak bisa dilewati lagi," ujar Emak pelan tapi sangat tajam. "Rangga sekarang sudah ada yang jagain. Seorang gadis baik yang tulus sayang sama dia dan Rinjani. Namanya Syakira. Rinjani panggil dia Kakak Cantik. Jadi, tolong jangan ganggu mereka lagi."

Seketika, dunia Laras seolah runtuh. Dia membayangkan ada wanita lain yang kini menempati posisi yang dulu dia remehkan. Dia membayangkan Rinjani yang kini lebih bahagia bersama orang asing daripada ibu kandungnya sendiri. Hatinya perih sekali, sesak yang tak tertahankan. Ternyata, pencariannya selama ini sudah terlambat. Rangga yang dulu miliknya seutuhnya, kini sudah menjadi milik dunia yang tidak lagi mengenalnya.

Laras berdiri dengan kaki gemetar. Dia menatap rumah Emak sekali lagi dengan pandangan hampa. "Kasih tahu aku alamat rukonya, Mak. Cuma mau lihat Rinjani sebentar saja... tolong," pintanya dengan sisa-sisa tenaga.

Emak diam sejenak, lalu memberikan sebuah alamat yang tertulis di kertas kecil. "Pergilah. Lihat sendiri bagaimana bahagianya mereka tanpa kamu. Tapi ingat ya Laras, jangan harap kamu bisa balik lagi. Hati Rangga sudah mati buat kamu."

Laras menerima kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat. Dia melangkah pergi meninggalkan rumah Emak dengan hati yang remuk redam. Di kepalanya cuma ada satu bayangan: Rangga yang dulu mengemis cinta padanya, kini sudah menjadi raja di istananya sendiri, sementara dia cuma menjadi pengemis yang mencari sisa-sisa kebahagiaan yang sudah dia buang sendiri ke selokan.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Kar Genjreng
semoga punya istri yang ke dua amanah benar benar tulus bisa menjadi istri dan menjadi ibu pengganti yang baik
Kar Genjreng
nah ras penyesalan memang datangnya belakangan,, kalau duluan namanya lamaran,,jadi sekarang nikmat rasa yang pernah kamu torehkan kepada Rangga dan Rinjani,,, sombongmu seperti malaikat pencabut nyawa ,,, sekarang justru mirip seonggok sampah 😆👍👍
Kar Genjreng
😮😮kapok tempe mu sudah ga laku mau balik ke mantan suami yang Lo buang Lo ko enak ,,,,ketika Lo senang ninggalin Suami yang bau oli,,, sekarang begitu si bau oli sudah mandiri bersama putrinya Lo ngemis ihhh menjijikan
Kar Genjreng
sekarang mau mencari pria sampah dan menjijikan ga malu dih kalau Ak jadi mantan Amel ogah amat ga usah di terima barang sudah di jamah pria lain ,,
Kar Genjreng
👍👍harus semangat ya Mas agar kelak bisa meraih kesuksesan Aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: ya harus itu
total 1 replies
Kar Genjreng
Oalah nasib kalau beruntung baru satu malam laku hanya lima ribu,,,dan toko itu sudah di sewakan semoga ada tempat lagi yang lebih ramai dan ramah lingkungan nya 😭😭
Mistikus Kata: semoga mas
total 1 replies
Kar Genjreng
semangat. menjemput rezeki
Mistikus Kata: itu suatu kewajiban
total 1 replies
Kar Genjreng
👍👍 semogaa berhasil ya Rangga tekatmu pasti akan terwujud bismillah,,🙏
Mistikus Kata: kita berdoa saja
total 1 replies
Kar Genjreng
😭😭mudah mudahan ketemu orang baik' dan menolong ayah dan putrinya,, kelak akan hidup bahagia dan bisa membagakan ayahnya,, aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: kerasa banget di bab ini
total 1 replies
Kar Genjreng
seru dan bagus,,
Kar Genjreng
biarpun laki laki jelaskan kumuh tetapi berjuang untuk menyenangkan mu apa balasan nya Lo hina suami li dan ayah dari Putrimu,,,lihat Lo hanya berdagang barang
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
Kar Genjreng
pergi saja Rangga kalau tidak biar binimu yang suruh pergi dan kamu tinggal berdua dengan Rinjani,,
Kar Genjreng
😭😭 terkadang seperti ini suami kerja kasar wanita kerja halus,,,tapi biasanya Wanita nya baik ini beda Wanita nya kejam
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,
Kar Genjreng
mampir semoga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!