Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat
Dua hari setelah pertemuan yang penuh kehangatan itu, suasana di pesantren kembali berjalan seperti biasa.
Pagi di pesantren selalu dimulai dengan kesibukan yang sederhana namun menenangkan. Udara masih terasa sejuk meskipun matahari sudah mulai naik perlahan di atas pepohonan besar yang mengelilingi kompleks pondok. Beberapa santri terlihat duduk di serambi masjid sambil membaca Al-Qur’an dengan suara pelan. Ada pula yang berjalan cepat menuju kelas masing-masing sambil membawa kitab.
Di salah satu ruang belajar kecil yang terletak di sisi samping masjid, Hanin sedang duduk di depan sekelompok santri kecil.
Anak-anak itu duduk bersila di atas karpet hijau yang sudah sedikit pudar. Sebagian dari mereka masih mengeja huruf-huruf hijaiyah dengan suara terbata-bata, sementara yang lain sudah mulai membaca ayat pendek dengan lebih lancar.
Hanin memegang mushaf kecil di tangannya. Wajahnya tampak tenang seperti biasa, meskipun di dalam hatinya masih sering teringat kejadian dua hari yang lalu.
Cincin kecil di jari manisnya sesekali memantulkan cahaya ketika tangannya bergerak membalik halaman mushaf.
“Baik, sekarang kita ulangi lagi,” ucap Hanin lembut.
Ia menatap seorang santri kecil di barisan depan. “Coba, Farhan. Lanjutkan ayatnya.”
Anak kecil itu langsung duduk lebih tegak. Dengan suara yang masih sedikit ragu ia mulai membaca, “Wal ‘ashr .…”
Beberapa santri lain ikut memperhatikan dengan serius.
Hanin mengangguk pelan sambil tersenyum. “Bagus. Pelan-pelan saja bacanya.”
Suasana kelas kecil itu terasa hangat dan sederhana. Namun, di luar ruangan, seseorang baru saja memasuki halaman pesantren.
Seorang wanita elegan turun dari mobil dengan langkah anggun. Di belakangnya, Arsenio ikut keluar sambil melihat sekeliling halaman pesantren yang cukup ramai oleh aktivitas para santri.
Mama Arsenio tersenyum kecil. “Suasananya tenang sekali di sini,” ucapnya pelan.
Arsenio mengangguk. “Memang begitu, Ma.”
Mereka berjalan melewati halaman yang dipenuhi pepohonan. Beberapa santri yang lewat menunduk sopan ketika melihat tamu datang.
Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan Aisyah yang baru saja keluar dari salah satu ruangan.
Aisyah sedikit terkejut melihat mereka. “Eh … Mas Arsenio?”
Arsenio tersenyum ramah. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Aisyah.
Mama Arsenio ikut tersenyum hangat. “Maaf, Nak. Hanin sedang di mana ya?”
Aisyah langsung mengerti. “Oh, Hanin sedang mengajar santri kecil mengaji.”
“Di mana ruangannya?”
“Di kelas samping masjid.”
Mama Arsenio mengangguk.
Aisyah kemudian berkata cepat, “Biar saya panggilkan, Bu.”
Ia lalu berjalan cepat menuju ruang belajar tempat Hanin mengajar. Sementara itu, di dalam ruangan kecil tersebut, Hanin masih fokus mendengarkan bacaan salah satu santri.
“Bagus, sekarang ulangi sekali lagi,” ucapnya sabar.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan. Aisyah muncul di sana dengan napas sedikit terb mu“Hanin.”
Hanin menoleh. “Iya?”
Aisyah memberi isyarat kecil dengan tangannya. “Ada tamu.”
Hanin sedikit bingung. “Tamu?”
Aisyah mendekat lalu berbisik pelan, “Mama Arsenio sama Arsenio datang.”
Hanin langsung terdiam. “Apa?”
Aisyah mengangguk cepat sambil tersenyum kecil. “Mereka di luar.”
Hanin benar-benar tidak menyangka. “Sekarang?”
“Iya.” Aisyah lalu menepuk bahu Hanin pelan. “Sudah, kamu keluar saja. Biar aku yang gantikan mengajar dulu.”
Hanin masih terlihat sedikit terkejut, tapi akhirnya ia mengangguk. “Baik.”
Ia menoleh kepada para santri kecil. “Anak-anak, sebentar ya. Ustazah ada keperluan.”
Beberapa santri mengangguk patuh. Aisyah langsung duduk di tempat Hanin tadi. “Baik, sekarang kita lanjutkan bacaan Farhan,” ucapnya kepada anak-anak.
Hanin berdiri dan merapikan kerudungnya dengan sedikit gugup. Ia lalu melangkah keluar dari ruangan.
Begitu keluar dari kelas, langkahnya sedikit melambat ketika melihat dua sosok yang berdiri tidak jauh dari sana.
Arsenio berdiri di samping ibunya. Keduanya tampak sedang berbincang pelan.
Begitu melihat Hanin datang, Arsenio langsung tersenyum.
Mama Arsenio juga menoleh. Hanin segera mendekat dengan langkah sopan.
Begitu sampai di hadapan wanita itu, ia langsung menunduk dan mencium tangan Mama Arsenio dengan hormat.
“Assalamu’alaikum, Tante.”
“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawab Mama Arsenio lembut.
Hanin lalu menatapnya dengan sedikit bingung namun tetap tersenyum. “Tante … ada perlu apa datang ke sini?”
Mama Arsenio langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Apa Tante tidak boleh datang untuk melihat calon menantu?”
Hanin langsung panik sedikit. “Eh … tentu saja boleh, Tante.”
Arsenio yang berdiri di samping ibunya hanya menahan senyum melihat ekspresi Hanin yang terlihat canggung.
Mama Arsenio lalu menggeleng pelan.“Jangan panggil Tante lagi.”
Hanin terlihat bingung. “Lalu aku panggilan apa, Tante …?”
Wanita itu menatapnya dengan senyum hangat. “Panggil Mama saja.”
Hanin terdiam sejenak. Mama Arsenio melanjutkan dengan nada ringan, “Kamu kan sudah mau jadi menantu Mama.”
Pipi Hanin langsung memerah. Ia menunduk sedikit sebelum akhirnya berkata pelan, “Baik … Mama.”
Mama Arsenio langsung tersenyum lebar. “Nah, begitu dong.”
Arsenio bahkan sampai tertawa kecil. Suasana di antara mereka terasa sangat akrab meskipun sebenarnya mereka baru beberapa kali bertemu.
Mama Arsenio lalu menatap Hanin dari atas sampai bawah dengan penuh perhatian. “Kamu lagi mengajar ya?”
“Iya, Ma.”
“Santri kecil?”
Hanin mengangguk. “Iya, mereka baru belajar membaca.”
Mama Arsenio terlihat senang mendengarnya. “MasyaAllah. Pantas Arsenio sering cerita tentang kamu.”
Hanin langsung melirik Arsenio dengan sedikit malu. Pria itu pura-pura melihat ke arah lain.
Beberapa detik kemudian Mama Arsenio berkata dengan nada santai, “Oh iya, Mama sebenarnya datang mau mengajak kamu.”
“Mengajak aku?”
“Iya.”
Mama Arsenio tersenyum. “Kita ke kota.”
Hanin benar-benar tidak menyangka. “Sekarang?”
“Iya.”
Ia lalu menambahkan, “Mama juga ingin minta izin supaya kamu bisa menginap di rumah Mama malam ini.”
Hanin langsung terdiam. “Menginap?”
“Iya. Besok pagi baru Arsenio antar kamu kembali ke pesantren.”
Hanin terlihat ragu. “Kalau begitu … saya harus minta izin dulu ke Ustaz Hamid, Ma.”
Mama Arsenio mengangguk. “Tentu saja.”
Tak lama kemudian mereka bertiga berjalan menuju rumah utama tempat Ustaz Hamid biasanya menerima tamu.
Ustaz Hamid sedang duduk di ruang tamu ketika mereka masuk. Beliau langsung berdiri dengan sopan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Mama Arsenio dan Arsenio hampir bersamaan.
Hanin berdiri sedikit di belakang dengan sikap hormat. Mama Arsenio lalu menyampaikan maksud kedatangannya dengan sopan.
“Ustaz, sebenarnya saya ingin mengajak Hanin ke kota sebentar.”
Ustaz Hamid mendengarkan dengan tenang.
Mama Arsenio melanjutkan, “Kalau boleh, saya juga ingin Hanin menginap di rumah kami malam ini. Besok pagi baru kami antar kembali ke pesantren.”
Ustaz Hamid terlihat berpikir sejenak. Wajahnya tetap tenang, tetapi terlihat sedikit ragu.
“Maaf sebelumnya,” ucap beliau pelan, “Biasanya kami cukup menjaga aturan di pesantren.”
Hanin langsung menunduk. Mama Arsenio tersenyum penuh pengertian. ,“Saya mengerti, Ustaz.”
Ia lalu melanjutkan dengan nada meyakinkan. “Tapi Ustaz tidak perlu khawatir. Di rumah kami kamarnya banyak. Hanin akan tidur di kamar tamu bersama saya kalau perlu.”
Ia bahkan menambahkan dengan lembut, “Saya hanya ingin lebih mengenal Hanin sebelum hari akad nanti.”
Ruangan itu sempat hening beberapa saat. Akhirnya Ustaz Hamid tersenyum kecil. “Baiklah.”
Hanin langsung menoleh sedikit.
“Jika memang begitu niatnya, saya izinkan.”
Hanin langsung menunduk hormat. “Terima kasih, Ustaz.”
Mama Arsenio juga terlihat senang.
“Terima kasih banyak, Ustaz.”
Setelah itu Hanin kembali ke asrama untuk bersiap-siap. Di kamar kecil yang biasa ia tempati bersama Ghania. Gadis itu sedang melipat pakaian ketika Hanin masuk.
“Kamu sudah selesai mengajar?” tanya Ghania.
Hanin mengangguk sambil mengambil tas kecilnya. “Sudah.”
Ghania kemudian memperhatikan Hanin yang terlihat sibuk mengambil beberapa pakaian.
“Mau ke mana?”
Hanin tersenyum kecil. “Mama Arsenio datang.”
Ghania langsung menoleh cepat. “Hah?”
“Mereka mengajak aku ke kota.”
“Sekarang?”
“Iya. Bahkan … aku diminta menginap di rumah mereka malam ini.”
Ghania langsung tertawa kecil. “Wah, cepat sekali.”
Hanin hanya tersenyum malu.
Ghania lalu berkata dengan nada hangat, “Beruntung sekali kamu.”
Hanin menoleh. “Kenapa?”
“Kamu dapat calon mertua yang baik dan mau dekat denganmu.”
Hanin terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lembut. “Semoga selamanya begitu.”
Beberapa menit kemudian Hanin sudah siap. Ia kembali menemui Ustaz Hamid untuk berpamitan.
“Ustaz, saya pamit dulu.”
Ustaz Hamid mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
“InsyaAllah.”
Hanin juga berpamitan kepada Aisyah yang sedang berdiri di halaman.
“Terima kasih sudah menggantikan mengajar tadi.”
Aisyah tersenyum. “Tenang saja. Sana pergi.”
Tak lama kemudian Hanin berjalan menuju gerbang pesantren.
Arsenio sudah berdiri di dekat mobil bersama ibunya. Begitu melihat Hanin datang, Mama Arsenio langsung tersenyum.
“Sudah siap?”
Hanin mengangguk. “Iya, Ma.”
Arsenio membuka pintu mobil untuknya. Hanin masuk dengan sedikit gugup.
Beberapa saat kemudian mobil itu perlahan keluar dari halaman pesantren. Hanin menoleh ke belakang sejenak.
Gerbang pesantren yang sudah sangat akrab dalam hidupnya perlahan semakin jauh. Perasaan di dadanya terasa aneh. Seperti sedang melangkah menuju babak baru dalam hidupnya.
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
semoga bahagia selalu..
masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....