NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:118.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petir Siksaan Dunia

Tubuh naga hijau bergetar semakin jelas. Tatapannya terpaku pada Boqin Changing, seakan mencoba menembus kata-kata pemuda itu untuk memastikan apakah semua ini hanyalah ilusi. Dengan suara berat yang sedikit bergetar, ia akhirnya berkata,

“Apakah… kau benar-benar bisa?”

Nada suaranya tidak lagi penuh kewaspadaan seperti sebelumnya. Yang tersisa hanyalah keraguan bercampur harapan yang terlalu lama ia kubur.

Boqin Changing tersenyum. Debu tipis berjatuhan dari ujung jubahnya saat ia melangkah mendekat.

“Aku tidak mengatakan bahwa aku bisa menggantikan kalian menahan siksaan itu,” ujarnya tenang. “Petir siksaan dunia adalah ujian langit. Tidak ada siapa pun yang bisa mengambilnya dari kalian.”

Naga hijau menahan napas.

“Tetapi,” lanjut Boqin Changing, “aku bisa ikut menahan dampaknya.”

Mata kedua naga langsung membesar.

“Aku akan membantumu menahan sebagian besar tekanan petir siksaan dunia. Dengan begitu, beban yang harus kalian tanggung akan berkurang.”

Keheningan turun lagi.

“Namun…” Boqin Changing menambahkan dengan nada datar, “bantuan tetaplah bantuan. Hidup atau mati kalian tetap bergantung pada daya hidup dan kehendak kalian sendiri.”

Kata-kata itu tidak indah. Tidak menenangkan. Tetapi justru karena itulah… terdengar jujur.

Naga hijau dan naga merah muda saling berpandangan. Tidak ada kata-kata yang keluar. Namun energi mereka bergetar pelan, seakan percakapan diam sedang berlangsung di antara keduanya.

Beberapa saat kemudian, naga hijau kembali memandang Boqin Changing.

“Lalu… imbalan apa yang kau inginkan dari kami?”

Pertanyaan itu keluar tanpa emosi. Sebagai makhluk yang hidup ribuan tahun, ia memahami satu hal,  tidak ada bantuan tanpa harga.

Boqin Changing tersenyum.

“Tidak sulit.”

Ia menatap kedua naga itu bergantian.

“Jika suatu hari nanti aku membutuhkan bantuan kalian… kalian harus datang.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan santai,

“Setelah itu, anggap saja hutang ini lunas.”

Sederhana. Tidak berlebihan. Bahkan terasa ringan. Namun naga hijau justru menutup matanya. Hutan kembali sunyi.

Ia mulai menghitung. Risiko menerima bantuan manusia. Risiko menghadapi petir siksaan. Risiko melibatkan pasangannya. Risiko mati bersama.

Lalu keuntungan. Kesempatan mendapatkan tubuh manusia. Kesempatan hidup lebih lama. Kesempatan berjalan di dunia lain bersama pasangannya. Pertimbangan itu berputar cepat di benaknya.

Namun sebelum ia membuka mata…

“Aku setuju.”

Suara lembut naga merah muda memecah keheningan. Naga hijau langsung membuka mata dan menoleh.

“Aku sedang berpikir,” katanya pelan.

Naga merah muda menatapnya dengan sorot hangat yang hampir tidak pernah berubah selama mereka bersama.

“Asal kau bisa hidup lebih lama… aku tidak akan berpikir panjang.”

Suaranya lembut, tetapi tegas.

“Lagipula… kita tetap akan bersama.”

Kalimat sederhana itu… lebih kuat daripada perhitungan apa pun. Tubuh naga hijau bergetar halus. Tatapannya melembut. Semua kalkulasi yang tadi berputar di kepalanya perlahan runtuh.

Ia menghela napas panjang. Kemudian menatap Boqin Changing.

“Aku setuju.”

Tidak ada keraguan tersisa dalam suaranya.

Senyum tipis muncul di wajah Boqin Changing.

“Bagus.”

Ia menoleh ke arah langit.

“Jika kalian siap… kita mulai sekarang. Waktuku tidak banyak.”

Kata-kata itu membuat naga hijau kembali menatapnya dalam-dalam. Pemuda ini tidak hanya kuat. Ia juga sedang terburu-buru.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya naga hijau pelan.

Pertanyaan itu akhirnya keluar. Pertanyaan yang sejak awal berputar di benaknya.

Boqin Changing tersenyum. Angin hutan berhembus pelan, membuat rambut hitamnya bergerak ringan.

“Namaku Boqin Changing,” ujarnya.

Ia menatap kedua naga raksasa di depannya tanpa sedikit pun rasa gentar.

“Seorang pendekar pengelana.”

Keheningan jatuh sekali lagi. Namun kali ini… bukan keheningan yang canggung. Melainkan keheningan sebelum sesuatu yang besar akan dimulai.

Sha Nuo sendiri berdiri di mulut goa, tubuhnya tegak seperti tombak yang tertancap ke tanah. Sorot matanya tidak pernah lepas dari percakapan antara Boqin Changing dan dua binatang suci di kejauhan.

Ia tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak pula menjauh. Hanya berdiri… menjaga.

Bagi Sha Nuo, dunia luar adalah tempat penuh pengkhianatan. Janji bisa berubah, kekuatan bisa berbalik, bahkan makhluk suci pun belum tentu dapat dipercaya. Satu-satunya orang yang ia percayai hanyalah tuannya, Boqin Changing.

Karena itu, selama tuannya masih berada di luar goa… ia akan menjaga pintu masuk itu. Jika sesuatu terjadi, ia akan menjadi penghalang pertama. Angin menggerakkan ujung rambutnya, tetapi tubuhnya tetap diam seperti patung.

Di sisi lain, Boqin Changing menatap kedua naga raksasa di depannya.

“Siapa nama kalian?” tanyanya tenang.

Naga hijau mengangkat kepalanya sedikit. Suaranya berat, seperti batu yang saling bergesekan.

“Aku… Long.”

Nama itu sederhana. Namun energi yang menyertainya terasa tua, dalam, dan penuh sejarah. Naga merah muda menyusul, suaranya lembut namun jelas.

“Yue.”

Boqin Changing mengangguk pelan, mengingat nama itu tanpa perlu mengulang.

“Baik, Long… Yue.”

Tatapannya kemudian berubah serius.

“Long, panggil petir siksaan dunia.”

Udara hutan seakan langsung menegang. Long tidak langsung bergerak. Mata naganya menatap langit sebentar, lalu kembali ke Boqin Changing. Ia tahu… setelah ini tidak ada jalan mundur.

Boqin Changing melangkah menjauh beberapa puluh langkah dari mulut goa. Yue mengikuti di sisi Long. Tanah bergetar halus saat tubuh naga hijau itu bergeser.

Para siluman yang sejak tadi menonton dari kejauhan segera mundur. Tidak ada yang berani tetap berada di dekat pusat kejadian. Mereka menyebar, mencari tempat aman di balik pepohonan, batu besar, bahkan lereng tanah.

Tak lama kemudian, hanya tiga sosok yang berdiri di area terbuka itu. Boqin Changing, Long, dan Yue. Mereka berdiri sejajar.

Long perlahan membuka mulutnya. Bukan raungan yang keluar, melainkan suara lirih… seperti bisikan yang membawa gema kuno. Bahasa yang tidak dikenal oleh dunia ini.

Nada suaranya naik turun, bergetar dengan irama tertentu. Setiap suku kata seperti menggoyang udara, membuat partikel energi di sekitar mereka bergetar.

Boqin Changing menyipitkan mata. Bahasa itu… tidak sepenuhnya asing. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari sebagian kecil bahasa kuno para binatang suci. Tidak banyak, hanya serpihan. Namun cukup untuk mengenali bahwa Long sedang membaca panggilan langit, ritual pemanggilan hukuman dari langit.

Detik berikutnya, langit berubah. Awan hitam muncul dari segala arah, menelan warna malam hingga menjadi pekat seperti tinta. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya kegelapan yang menekan dari atas.

Kilatan pertama menyala. Bukan sekadar cahaya… tetapi garis putih yang merobek langit. Disusul gemuruh. Lalu kilatan kedua dan ketiga. Petir mulai menyambar di dalam awan, berkelip seperti naga cahaya yang saling mengejar.

Yue menelan ludah. Tubuh naganya bergetar tipis. Ia telah menunggu momen ini selama ratusan tahun… namun ketika benar-benar tiba, rasa gentar tetap muncul.

Long meliriknya sekilas. Sorot matanya tenang, tetapi di balik itu tersimpan tekad. Ia sudah memanggilnya. Tidak ada lagi kata mundur.

Boqin Changing menatap langit gelap yang dipenuhi kilatan. Angin berputar liar, membawa bau yang tajam. Kemudian ia mulai melapalkan mantra.

Suara Boqin Changing rendah, namun setiap kata membawa resonansi yang dalam. Tangannya bergerak cepat di udara, membentuk segel demi segel.

Satu. Dua. Tiga.

Gerakannya semakin cepat, jari-jarinya seperti menari. Energi mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya. Kabut hitam keabu-abuan keluar dari pori-porinya, berputar seperti pusaran kecil. Semakin lama, pusaran itu semakin besar.

Long dan Yue menatap tanpa berkedip. Kabut itu tidak terasa jahat. Tidak pula suci. Namun tua, sangat tua.

Kabut itu menggumpal di belakang Boqin Changing, perlahan membentuk kontur raksasa. Garis punggung melengkung. Kaki tebal. Leher pendek. Tempurung besar.

Semakin lama… semakin jelas. Hingga akhirnya, sosok itu sepenuhnya terbentuk. Siluet kura-kura raksasa berdiri di belakang Boqin Changing.

Tubuhnya besar sekali. Tempurungnya tampak seperti bukit batu yang telah melewati ribuan tahun. Kabut berputar di sekelilingnya seperti awan pelindung.

Langit terus berkilat. Petir terus mengaum.

Namun di bawah langit siksaan itu… siluet kura-kura raksasa berdiri diam, membawa aura ketenangan yang menentang kehancuran.

Mata Long membesar. Yue menahan napas. Boqin Changing sendiri masih berdiri di dekat mereka, tangannya terangkat dalam segel terakhir, tatapannya lurus ke langit yang akan segera menjatuhkan hukuman dunia.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
gak jadi buat daging naga goreng tepung buat lauk sahurnya boqin
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
mari kita buat daging naga goreng tepung
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
Ngabuburit
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!