Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 8
"Mas..."Panggil Wanda saat melihat Rianty dan Sahara msuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
"Masuklah ke kamar kalian. Pilihlah kamar yang kalian inginkan sesuka kalian,"ujar Sandy.
"Mas, kamar kita di sebelah mana?"tanya Wnada.
"Pilihkan sesukamu, aku sedang ingin sendiri. Jangan ganggu aku!"jawab Sandy berjalan masuk kedalam ruangan kerjanya.
Sikap dingin Sandy itu membuat Wanda kesal. Dia tak suka di abaikan seperti ini. Dia hrus menjadi prioritas.
"Baiklah, aku memberi waktu kepadamu untuk lebih tenang. Karena akan aku pastikan setelah ini, kamu akan memilihku menjadi ratu di rumah ini satu-satunya. Aku akan menendang mereka berdua. Sudah cukup aku kau jadian yang kedua dan selalu mengalah. Sudah waktunya aku menjadi satu-satunya. Ratu di rumah ini dan juga di Hatimu,"ucap Wanda sambil menatap ke arah pintu ruangan kerja Sandy yang sudah tertutup rapat.
Setelahnya Wanda juga memilih untuk masuk kedalam kamar, karena waktu sudah malam. Dan semua orang beristirahat. Tapi tidak dengan Sandy yang di liputi rasa bersalah kepada istrinya. Dia terlihat tak tenang dan gelisah.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku benar-benar tak mau melepaskan Rianty. Dia adalah wanita yang paling aku cintai. ta
Tapi aku juga tak bisa melepaskan Wanda saat ini. Apa yang harus aku lakukan agar Rianty tak meminta berpisah dan pergi dari sini? Aku harus bicara berdua dari hati ke hati dengan Rianty. Aku yakin Rianty akan menerima penjelasanku, jika aku mengatakannya dengan baik-baik dan pelan-pelan. Sehingga dia juga bisa menerima Wanda di antara kami,"ucap Sandy yang masih belum tidur menjelang tengah malam.
Dia keluar dari ruangan kerjanya menuju ke kamar mereka. Kamar yang di tempati oleh Sandy dan Rianty. Sandy masuk menggunakan kunci cadangan karena Rianty mengunci kamarnya.
Saat masuk kedalam kamar dia melihat koper-koper milik Rianty sudah tertata dengan rapi disana. Semua barang miliknya sudah berada di dalam sana. Sedangkan Rianty sendiri sedang berada di dalam kamar mandi. Karena dia berencana menjelang subuh akan pergi bersama dengan Sahara dari rumah yang menjadi neraka baginya sekarang.
Koper dan barang milik Rianty yang sudah dibereskan membaut Sandy marah dan kesal. Dia tak akan membiarkan Rianty keluar dari rumah sampai kapanpun.
"Ma... Sandy? Ada apa kamu datang kemari?"tanya Rianty dengan penuh rasa kaget dan tergugup.
Rianty tak menyangka jika Sandy akan masuk kedalam kamarnya. Padahal dia kira suaminya itu akan tidur bersama dengan Wanda. Seperti apa yang dia katakan tadi jika Wanda bisa membuat dia melayang seperti di atas awan.
"Memangnya kenapa kalau aku datang kemari? Apa ada yang salah?"tanya Sandi mendekat ke arah Rianty dan menarik tangan istrinya.
"Lepas! Jangan sen-tuh aku dengan tangan ko-tormu! Bukannya aku tak ada artinya untukmu, sampai kamu ber-se-ling-kuh dan berbuat zi-n@ bersama jalang itu! Bukannya kamu lebih bahagia bersama dengan dia? Lepaskan aku! Karena sampai kapanpun aku tak akan pernah mau di madu! Lepaskan aku Sandy baji-ngan! Kita berpisah! Itu jauh lebih baik! Dan kau bisa hidup bahagia dengan ja-langmu!"teriak Rianty penuh emosi di depan Sandy.
"Sudah ku katakan, sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu Rianty. Karena kamu adalah hidupku! Aku sangat mencintai kamu. Cobalah mengerti aku, sayang..."ucap Sandy.
"Kau minta aku mengerti kamu? Lalu siapa yang akan mengerti perasaan aku?"tanya Rianty pelan.
Sandy menarik Rianty mencoba menenangkan istrinya dan berusaha memeluk Rianty. Tapi Rianty sudah enggan berdekatan apalagi di sen-tuh suaminya yang sudah berkhianat.
"Jangan begini sayang. Aku mohon!"ucap Sandy memeluk paksa Rianty.
Bukan hanya memeluk pak-sa, tapi Sandy malah dengan sengaja menjelajah di setiap inci tu-buh istrinya yang terus berusaha berontak. Tapi Sandy tak peduli. Saat ini dia sedang ingin bersama dengan Rianty. Apalagi bentuk tubuh istrinya itu begitu bagus.
Dan apa yang dia katakan kepada Wanda jika Rianty tak pandai menyenangkannya hanyalah bohong belaka. Karena sebenarnya bersama dengan Wanda dia hanya merasakan sensasi berbeda saja. Apalagi wanita itu selalu mengajak di tempat-tempat baru yang tak pernah dia fikirkan sebelumnya.Istrinya tetap yang terbaik, apa yang ada pada Rianty selalu membuat dia ingin lagi dan lagi.
"Lepaskan aku bajingan! Aku tak mau! Aku ji-jim dan benci padamu Sandy. Hentikan! Dan pergilah dari sini! Pergi pada ja-langmu itu, Sandy!"teriak Rianty mencoba mendorong suaminya.
Tapi tenaga Sandy jauh lebih besar dari dia. Apalagi dorongan dalam dirinya jauh lebih besar. Di banding dengan akal sehat dan juga mata hatinya yang sudah menyakiti hati istri dan anaknya.
"Kamu tak bisa menolakku Rianty. Malam ini aku ingin habiskan bersamamu... Kamu masih istriku dan kewajibanmu tetap melayan*ku dengan baik Rianty. Akan berdosa jika kau menolakku!."bisik Sandy di telinga Rianty membuat wanita itu juga meremang mendapat s*ntuhan dari suaminya.
"Jika kau bicara masalah dosa tak mengapa bagiku menolak suami baji-ngan dan bahkan lebih dari pendosa Sandy. Kau bahkan sudah berzi-n@ dengan jalang itu selama ini! Pergi aku tak mau! Jangan seperti ini Sandy. Aku mohon pergilah. Jangan semakin menyakiti hatiku,"teriak Rianty.
Rianty mencoba mendorong Sandy tapi pria itu malah dengan penuh naf-su dan li-arnya menjelajah setiap inci dari Rianty. Rianty mencoba menolak bahkan dia susah menangis dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Bahkan dengan tanpamu perasaan pria itu me-ro-bek ba-ju yang dia gunakan dengan kasar. Hal yang tak pernah di lakukan oleh suaminya. Rianty merasa ji-jik dengan semua yang dilakukan Sandy padanya. Membayangkan jika suaminya juga selama ini ber-cum-bu dengan wanita lain
"Aku tau kau juga ingin Rianty... Jangan menolak seperti ini. Karena kau masih milikku Rianty. Jangan pernah menolakku, sayang. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, sayang..."ucap Sandy melemparkan paka-ian milik Rianty yang sudah dia ro-bek dengan paksa.
Dengan penuh ga*rah dia mem*ndang tub*h yang selalu menemani dan mengha-ngatkan dirinya selama enam belas tahun pernikahannya ini. Dengan penuh na*su Sandy menarik pingg*ng ramping Rianty dan mem*gut bib*rnya dengan penuh naf-su. Bahkan Sandy tak peduli dengan tangisan dari istrinya. Dia terus memaksa Rianty membalas apa yang dia lakukan padanya. Air mata Rianty terus mengalir mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sandy. Seolah dia tak ada harganya lagi di hadapan Sandy saat ini.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶