NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahta di atas Dendam

​Rumah Paman Broto kini telah menjelma menjadi sebuah istana kecil yang mencolok di tengah kesederhanaan desa. Pagar besinya menjulang tinggi dengan ukiran yang rumit, dan dinding-dindingnya dilapisi cat putih yang seolah memantulkan kemurnian yang palsu. Bagi Paman Broto dan Bibi Sumi, kehidupan mereka kini bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan, namun mimpi itu juga membawa aroma ketakutan yang samar.

​Mereka melihat Mirasih bukan lagi sebagai keponakan yang malang, melainkan sebagai pisau bermata dua yang berkilau tajam. Di satu sisi, mereka bersorak kegirangan melihat kecantikan Mirasih yang semakin memuncak; setiap inci tubuhnya yang kini berisi dan terawat adalah jaminan bahwa aliran emas dari Ki Ageng Gumboro tidak akan pernah surut. Namun di sisi lain, mereka mulai merasa terasing di rumah mereka sendiri. Semua keputusan yang diambil mutlak dari Mirasih, dan sorot matanya yang dingin seolah-olah mampu menelanjangi segala niat busuk yang mereka simpan.

​Mirasih sendiri tidak terlalu memusingkan tumpukan perhiasan atau kepingan koin emas yang tersimpan di bawah ranjangnya.Berapapun Paman dan bibi nya memakai nya.Baginya, harta itu hanyalah alat, sebuah pemuas nafsu bagi mahluk ghaib yang menjadi suaminya, dan sebuah umpan bagi manusia-manusia serakah di sekelilingnya. Ia tahu benar bahwa paman dan bibinya hanya mencintai kekayaannya, bukan dirinya. Ia menyimpan rapi setiap memori tentang bagaimana mereka menyeretnya ke hutan larangan. Ada masanya nanti ia akan membalas semua perlakuan mereka, namun saat ini, ada api lain yang membakar jiwanya: dendam kepada Aditya.

​Sore itu, Mirasih duduk di teras depan, mengenakan kebaya sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan besar. Ia telah memutuskan untuk membangun "kerajaannya" sendiri di desa ini. Dasar dari keputusannya bukan karena kasih sayang pada warga desa, melainkan sebuah pernyataan perang kepada kemiskinan yang dulu membuat Aditya harus pergi merantau.

​“Jika dia pergi untuk mencari nafkah demi menikahiku, maka aku akan menunjukkan padanya bahwa aku bisa membeli seluruh nafkah di desa ini tanpa bantuannya,” batin Mirasih pahit.

​Ia mulai memonopoli urusan keuangan di desa. Ia mendirikan gudang beras besar dan memberikan pinjaman modal kepada para petani dengan bunga yang sangat rendah jauh di bawah para rentenir kota ,hanya untuk memastikan bahwa semua orang berhutang budi kepadanya. Ia ingin semua mata tertuju padanya, dan semua mulut menyebut namanya dengan hormat yang bercampur rasa segan.

​Paman Broto keluar dari rumah dengan wajah masam, melihat tumpukan karung semen dan kayu jati berkualitas tinggi yang baru saja tiba di halaman rumah untuk pembangunan balai desa yang baru, yang seluruh biayanya ditanggung oleh Mirasih.

​"Mir! Apa-apaan ini?" bentak Broto pelan, takut suaranya terdengar hingga ke jalan. "Kamu tahu berapa harga semen-semen itu? Kamu menyumbang untuk pembangunan balai desa desa sebelah juga? Kamu ini cuma membuang-buang uang! Itu emas dari Tuan harusnya kita simpan, buat modal usaha kita, buat beli tanah di kota!"

​Mirasih tidak menoleh sedikit pun. Ia terus mencoret-coret buku catatannya. "Uang itu bukan milikmu, Paman. Itu maharku. Aku bebas menggunakannya untuk apa saja."

​"Tapi ini keterlaluan! Kamu menyumbang kerbau untuk selamatan desa, kamu membiayai gotong royong perbaikan jalan... Kamu mau jadi apa? Pahlawan?" sindir Broto dengan nada panas hati.

​Mirasih menoleh perlahan, tatapannya begitu tajam hingga Broto mundur satu langkah. "Aku sedang membangun benteng, Paman. Aku ingin tidak ada satupun orang yang memandang belas kasihan kepadaku. Aku ingin mereka melihat bahwa wanita yang ter buang karena ulah kalian, telah menjadi penguasa di tanah kelahirannya sendiri. Soal uang... jangan khawatir. Selama aku masih melayani suamiku dengan baik, emas itu akan terus datang. Bukankah itu yang Paman inginkan?"

​Broto terdiam, mulutnya terkatup rapat oleh keserakahannya sendiri. Ia mendengus kesal dan masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Mirasih dalam kesendirian yang megah.

​Beberapa hari kemudian, sebuah acara gotong royong besar diadakan untuk memperbaiki saluran irigasi desa. Seluruh sesepuh desa berkumpul di balai desa yang baru saja selesai direnovasi oleh Mirasih. Mbah Lurah dan beberapa tokoh masyarakat menyambut kedatangan Mirasih dengan hormat yang luar biasa.

​"Nduk Mirasih, kami benar-benar tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu," ucap Mbah Lurah sambil menunduk sedikit, seolah Mirasih adalah seorang bangsawan tinggi. "Berkat bantuanmu, sawah-sawah kami tidak akan kekeringan lagi. Kau benar-benar malaikat bagi desa ini."

​Mirasih tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipelajari dengan baik. "Tidak perlu sungkan, Mbah. Saya hanya ingin melihat desa kita maju. Saya ingin tidak ada lagi pemuda desa ini yang harus pergi merantau jauh-jauh hanya untuk mencari sesuap nasi, lalu lupa jalan pulang karena silau oleh kemewahan kota.Padahal di desanya banyak emas permata yang bisa di olah untuk kemajuan hidupnya ".

​Para sesepuh desa mengangguk-angguk, menganggap ucapan itu sebagai bentuk kepedulian yang luhur, tanpa menyadari ada racun dendam yang terselip di tiap katanya. Mirasih memberikan amplop tebal berisi uang untuk konsumsi para warga yang bekerja. Pengaruhnya kini merambah hingga ke muka-muka para tetua desa; ia telah membeli kesetiaan mereka dengan emas kegelapan.

​Malam harinya, di dalam kamarnya yang selalu wangi bunga setaman, hawa dingin yang familiar kembali menyelimuti. Sosok Ki Ageng Gumboro muncul, kali ini wujudnya tampak lebih besar dan lebih kuat, seolah-olah ia ikut bangga dengan ambisi istrinya.

​"Kau sedang bermain-main dengan manusia-manusia itu, Mirasih?" tanya sang Genderuwo sambil membelai rambut Mirasih yang terurai.

​Mirasih bersandar pada dada dingin mahluk itu. "Aku sedang membangun singgasana, Tuan. Aku ingin mereka semua bergantung padaku. Aku ingin saat laki-laki itu kembali, dia menemukan bahwa setiap jengkal tanah yang dia injak adalah milikku."

​Sang Genderuwo terkekeh, suara geramannya membuat lampu minyak di kamar itu bergetar. "Kau sangat cerdik. Aku menyukai kegelapan yang kian pekat di hatimu. Tapi ingat, setiap emas yang kau berikan pada mereka adalah bagian dari jiwamu yang kau bagi. Kau akan semakin terikat denganku."

​"Aku tidak peduli," sahut Mirasih dingin. "Aku sudah mati sejak hari aku membaca surat itu. Sekarang, aku hanya ingin melihat kehancuran di mata Aditya saat dia menyadari bahwa dia telah kehilangan permata yang kini telah menjadi ratu di atas penderitaannya sendiri."

​"Bagaimana dengan pamanmu? Dia tampak sangat gelisah dengan kedermawananmu," tanya sang mahluk lagi.

​Mirasih tersenyum sinis. "Biarkan dia gelisah. Dia hanyalah anjing penjaga yang aku beri makan agar tetap menggonggong. Suatu hari nanti, jika dia tidak lagi berguna, aku sendiri yang akan mengantarkannya ke hadapanmu untuk kau jadikan santapan."

​Ki Ageng Gumboro mencium leher Mirasih, aroma kantil yang kuat memenuhi ruangan. "Aku akan menantikan hari itu, Permaisuriku. Gunakanlah hartaku sepuasmu. Buatlah kerajaanmu berdiri tegak di atas air mata mereka yang meremehkanmu."

​Malam itu, di tengah kemewahan yang ia bangun dari persekutuan ghaib, Mirasih merasa sangat berkuasa. Ia telah berhasil memonopoli suara para sesepuh, ia telah menjadi tumpuan hidup para petani, dan ia telah menjadi momok bagi pamannya sendiri. Namun di balik semua itu, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Aditya yang sedang tersenyum pada Ningsih di bedeng proyek itu kembali muncul, membakar hatinya dan memperkuat tekadnya untuk terus membangun kerajaannya di atas fondasi dendam yang tak akan pernah padam.

​Desa itu kini bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan wilayah kekuasaan Mirasih, di mana setiap orang harus tunduk pada kemauannya, dan setiap sudutnya dipersiapkan untuk menyambut kepulangan Aditya dengan cara yang paling menyakitkan yang pernah ada dalam sejarah hidup manusia.

1
Nurr Tika
kasian adit padahal ga salah
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
apakah Mak Inah meninggal?
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
baru sadar kau Adit ,
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
Nurr Tika
lanjut thor
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Aditya terlalu lemah
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ruwett ruwet
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
penjelasnmu tak kan mampu
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kamu tdk akan bisa kembali memiliki Mirasih Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
andaikan Mirasih tdk terbujuk rayu iblis yang memiliki jiwa nya ..
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
Nurr Tika
kamu akan menyesal mirasih
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mirasih matii sisi manusia nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masa pubertas sitii
jodoh ngga ya sama mas Budi
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
badai yang diciptakan oleh Mirasih
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
setitik nafas Mirasih masih mengingat Tuhan ,tapi mengingkarinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya
Nurr Tika
knp ga dari awal mirasih ikut adit ke kota
Nurr Tika
kenapa kamu mau menuruti mereka
Nurr Tika
sungguh kasihan mirasih
Nurr Tika
tega sekali meraka
Nurr Tika
mending kabur aja
Nurr Tika
ga tega liat mirasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!