Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inti Singularitas — Evolusi di Balik Cakrawala Peristiwa
Setelah Lembah Penjaga Suci rata dengan tanah, Arkan berdiri tegak. Luka-luka kecil di jubahnya menutup seketika. Ia menatap ketiga pengikutnya—Srikandi-Tan, Cici, dan Liem-Banyu—yang napasnya masih terengah-engah.
"Kekuatan kalian saat ini hanyalah penghinaan bagi musuh di Gerbang ke-5," ucap Arkan dingin. "Senopati 5 bukan lagi seorang Sovereign pemula seperti Lux-Aeterna. Dia adalah algojo sejati."
Arkan merentangkan kedua tangannya. Di dadanya, sebuah titik hitam pekat berputar cepat, meluas hingga membentuk robekan ruang setinggi sepuluh meter. Itulah Cakrawala Peristiwa (Event Horizon) dari Black Hole-nya.
"Masuklah. Di dalam sana, waktu adalah budak-Ku. Satu jam di dunia ini adalah satu tahun di dalam Kehampaan. Jika kalian selamat, kalian akan lahir kembali. Jika gagal, atom kalian akan menjadi bagian dari kekuatanku."
Tanpa ragu, ketiganya melangkah masuk. Saat mereka melewati ambang pintu hitam itu, realitas seolah terpelintir. Suara, cahaya, dan gravitasi dunia fana lenyap, digantikan oleh tekanan yang seolah ingin memeras sumsum tulang mereka.
[Bagian 2: Srikandi-Tan — Tempaan Gravitasi Tak Terbatas]
Di dalam dimensi Black Hole, Srikandi merasa tubuhnya beratnya menjadi jutaan ton. Arkan melepaskan esensi Elemen Tanah yang ia serap dari Lux-Aeterna ke arah Srikandi.
"Serap, atau hancur!" gema suara Arkan di seluruh dimensi.
Srikandi berteriak histeris saat tulang-tulangnya mulai retak satu per satu. Namun, ini bukan kehancuran biasa. Di bawah tekanan gravitasi Black Hole, struktur sel Srikandi berubah menjadi Star-Density yang jauh lebih padat.
Momen Epic: Srikandi melihat bayangan dirinya yang lemah di masa lalu. Dengan raungan yang membelah keheningan void, ia meninju ruang hampa di depannya. KRAAAKK! Tekanan itu justru ia jadikan pelindung. Kulitnya berubah warna menjadi perak gelap dengan urat-urat emas.
Hasil: Menembus Sky Realm Puncak. Tubuhnya kini adalah senjata absolut yang tak bisa ditembus oleh serangan fisik Sovereign sekalipun.
[Bagian 3: Liem-Banyu — Sinkronisasi Frekuensi Kehampaan]
Liem-Banyu berada di zona yang berbeda. Di sini, tidak ada udara untuk menghantarkan suara, namun ia harus menguasai Frequency Shift. Arkan melepaskan elemen Petir Kosmik dan Angin Void ke arah Liem.
Liem merasa jiwanya ditarik ke seribu arah berbeda. Arkan memaksanya untuk merasakan getaran atom terkecil di dalam Black Hole.
Momen Epic: Liem mencabut pedangnya. Dalam kegelapan mutlak, ia mulai berdansa. Setiap ayunannya membelah aliran partikel energi yang liar. Matanya yang memiliki tiga pupil berevolusi; pupil itu kini berputar berlawanan arah, memungkinkannya melihat "celah" dalam ruang.
Hasil: Mencapai Sky Realm Awal. Ia kini bisa bergerak di antara detik, membuat serangannya seolah-olah terjadi sebelum ia bergerak.
[Bagian 4: Cici — Pencerahan Dao Teratai Hitam]
Cici mendapatkan porsi yang paling berbahaya. Arkan memberikan seluruh sisa Jiwa Sovereign Lux-Aeterna padanya. Cici harus melahap jiwa itu atau jiwanya sendiri yang akan terhapus.
Api ungu Cici meledak, bertarung dengan cahaya emas Sovereign di dalam tubuhnya. Ia muntah darah emas, matanya mulai memutih. Di ambang kematian, Cici melihat manifestasi Dewi Qi Lin yang menatapnya dengan tenang.
Momen Epic: Cici tidak lagi melawan energi itu, ia memeluknya. Api ungunya berubah warna menjadi hitam-emas. Di punggungnya, muncul sepasang sayap baru yang terbuat dari bulu-bulu kosmik. Ia mencapai pencerahan Dao Master.
"Segala yang ada akan kembali ke Kehampaan," gumam Cici. Teratai api di tangannya kini bukan lagi membakar, tapi menghapus keberadaan apa pun yang disentuhnya.
[: Lahirnya Jenderal Kehampaan]
[Eskalasi Penderitaan: Srikandi-Tan]
Di dalam jangkauan gravitasi Black Hole, Srikandi merasa setiap pori-porinya dipaku oleh beban ribuan gunung. Arkan tidak memberinya belas kasihan. "Jika tubuhmu hancur oleh beban ini, maka kau memang hanya layak menjadi debu," suara Arkan bergema, dingin dan tak terjangkau.
Srikandi merangkak di atas lantai dimensi yang tak terlihat, kukunya pecah, meninggalkan jejak darah emas yang segera terhisap oleh kegelapan. Ia melihat bayangan dirinya saat masih menjadi budak di wilayah pinggiran, lemah dan tak berdaya. Amarahnya meledak. Ia menolak untuk kembali ke titik itu.
Arkan melepaskan Elemen Tanah Kosmik yang ia murnikan dari esensi Sovereign. Energi itu masuk ke dalam sumsum tulang Srikandi seperti lava cair. Tulang-tulangnya yang tadinya putih berubah menjadi hitam mengkilap sekeras berlian bintang. Setiap kali tulangnya hancur karena tekanan gravitasi, energi Arkan membangunnya kembali dengan struktur yang sejuta kali lebih padat.
Momen Epic: Srikandi berdiri tegak di tengah tarikan gravitasi yang seharusnya bisa melumat planet. Ia mengeluarkan raungan purba, dan aura Sky Realm Puncak meledak dari tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang menetralkan tekanan Black Hole di sekitarnya.
[Eskalasi Mental: Liem-Banyu]
Liem berada dalam kehampaan sensorik. Ia tidak bisa melihat, mendengar, atau merasakan arah. Di sini, Arkan memaksanya untuk melakukan Frequency Shift pada tingkat sub-atomik. Arkan menembakkan ribuan jarum Petir Void ke arah Liem dari segala arah.
Liem harus merasakan getaran udara—yang sebenarnya tidak ada—melalui jiwanya. Ia berkali-kali tertusuk, tubuhnya hangus, dan kesadarannya nyaris padam. Namun, di dalam kegelapan itu, Liem mulai melihat "Garis-Garis Ruang". Ia menyadari bahwa ruang bukan hampa, melainkan tumpukan frekuensi.
Dengan mata yang berevolusi menjadi tiga pupil bersinar biru-elektrik, Liem mulai menari di antara jarum petir. Ia tidak lagi menghindar; ia berpindah frekuensi sehingga jarum petir itu melewatinya seolah-olah ia adalah hantu.
Momen Epic: Liem mencabut pedangnya dan menebas satu titik kosong. Tebasan itu merobek dimensi Black Hole sejenak, membuktikan bahwa serangannya kini bisa memotong konsep ruang itu sendiri. Ia telah mantap di Sky Realm Awal.
Eskalasi Spiritual: Cici dan Teratai Hitam]
Cici menghadapi badai yang paling sunyi namun paling mematikan: Erosi Jiwa. Arkan memberikan potongan ingatan dan ambisi Lux-Aeterna yang ia lahap. Jiwa Cici yang masih di Soul Realm mulai retak karena dipaksa menampung kesadaran seorang Sovereign.
"Pilih satu," bisik Arkan di telinganya. "Menjadi bagian dari kegelapan-Ku, atau menjadi cahaya yang terbakar habis."
Cici melihat teratai api ungunya perlahan meredup, nyaris padam oleh dominasi cahaya emas Sovereign. Namun, Cici teringat janji setianya pada Arkan. Ia berhenti melawan. Ia membuka "pintu" jiwanya seluas mungkin. Ia menelan cahaya emas itu, lalu membakarnya dengan api Dao Initiate miliknya.
Proses alkimia spiritual terjadi. Api ungu dan cahaya emas melebur menjadi satu warna baru: Api Hitam Transenden.
Momen Epic: Sepasang sayap raksasa yang terbuat dari bulu-bulu api hitam-emas membentang di punggung Cici. Tekanan auranya berubah seketika. Ia bukan lagi seorang gadis jenius, ia adalah seorang Dao Master Awal. Saat ia membuka mata, teratai hitam mekar di bawah kakinya, menghisap semua energi negatif di dalam dimensi tersebut.
Setelah waktu yang terasa seperti sepuluh tahun di dalam meditasi Black Hole, Arkan menutup tangannya. Gerbang kegelapan itu menciut dan menghilang masuk ke dalam dadanya.
Lembah Penjaga Suci kembali terlihat. Namun, pemandangannya berbeda. Saat ketiga pengikutnya mendarat di tanah, bumi di bawah mereka tidak sanggup menahan berat aura mereka dan langsung amblas membentuk kawah baru.
Arkan menatap mereka satu per satu. "Srikandi, ototmu kini bisa memeras bintang. Liem, pedangmu kini bisa membelah takdir. Cici, apimu kini bisa menghapus hukum dunia."
Arkan memandang ke arah Gerbang ke-5 yang dijaga oleh Jenderal maut Kaisar Drak. "Sekarang... mari kita beri mereka kiamat yang tidak pernah mereka bayangkan."