Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Retaknya Sang Cermin Jiwa(fix)
Di balik bayangan rumah yang mulai rapuh, Fang Yuan duduk meringkuk.
Lengannya memeluk lutut begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.
Matanya yang kosong menatap cakrawala, namun bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang mengerikan.
"Aku benci kalian ... Kultivator sialan ... Aku benci langit yang kalian agungkan," bisiknya. Suaranya bukan lagi suara anak-anak, melainkan desisan penuh racun. "Kembalikan mereka ... Kembalikan Ayah dan Ibu!"
TAK! TAK! TAK!
Suara langkah kaki yang angkuh memecah kesunyian.
"Lihat si gila ini," suara Liu Shen terdengar, penuh kemenangan. "Kami bertanya-tanya kenapa 'anjing' kami tidak menggonggong di lapangan hari ini. Ternyata dia bersembunyi di sini. Kakekmu sedang pergi, eh?"
Chen Li melangkah maju, wajahnya yang bersih tampak jijik melihat sosok Fang Yuan yang kotor. "Kakekmu yang tua bangka itu berani membentakku di depan umum kemarin. Karena dia tidak ada, kau yang harus membayar bunganya. Hajar dia!"
Tanpa menunggu perintah kedua, Liu Shen dan dua anak lainnya menerjang. Tendangan demi tendangan mendarat di rusuk Fang Yuan.
Pukulan mentah menghujam wajahnya. Fang Yuan hanya bisa meringkuk, melindungi kepalanya saat dunianya mulai berputar dan menggelap.
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kesadaran Fang Yuan terlempar ke sebuah ruang hampa yang dingin.
Di sana, ia melihat dirinya sendiri—versi dirinya yang tidak menangis, yang matanya sedalam sumur tanpa dasar.
"Kenapa kau hanya diam?" sosok itu bertanya dengan nada datar. "Dunia ini tidak mengenal belas kasih. Jika 999 kali gagal, maka cobalah seribu kali. Balas mereka, atau kau akan mati sebagai debu yang tak diingat."
Sentakan itu mengembalikan Fang Yuan ke realita. Rasa sakit di tubuhnya seolah terputus dari otaknya.
"... Kuberitahu kau ... hentikan!" Fang Yuan mendongak. Matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena pembuluh darah yang pecah.
Ia mengepalkan tinju mungilnya dan dengan sisa tenaga, menghantam tulang kering Liu Shen sekuat mungkin.
KRAK!
"Aakh! Bajingan! Anak haram ini mulai berani!" Liu Shen berteriak kesakitan, amarahnya memuncak. Ia menghajar Fang Yuan lebih brutal dari sebelumnya sampai bocah itu tidak bisa bergerak lagi.
Chen Li hanya mendengus, "Benar-benar aneh. Ayo pergi, biarkan dia membusuk di sini."
Mereka meninggalkan Fang Yuan yang tergeletak bersimbah darah di tanah.
Namun, saat debu mulai turun, Fang Yuan terbatuk pelan. Darah merembes dari sudut bibirnya, tapi matanya berbinar aneh. "Satu ... aku berhasil memukulnya ... satu kali.
Bulan-bulan berikutnya menjadi neraka yang berulang.
Fang Yuan datang setiap hari, menantang mereka, dihajar hingga pingsan, lalu bangkit lagi.
Tubuhnya kini dipenuhi jaringan parut, namun gerakannya menjadi lebih cepat, lebih liar, dan lebih efisien.
"Ini percobaan ke-999." gumam Fang Yuan, berdiri di tengah jalan desa menghalangi Chen Li dan rombongannya.
"Kau lagi?! Apa kau tidak punya rasa takut?!" Liu Shen berteriak frustasi. Ia merasa ngeri. Bagaimana bisa seorang anak yang mereka hajar habis-habisan setiap hari masih bisa berdiri dengan senyum seperti itu? "Bahkan dalam sehari kau datang sepuluh kali! Kau hantu atau apa?!"
Fang Yuan tersenyum lebar, menampakkan giginya yang berlumuran darah. "Tentu saja tidak. Jika aku gagal kali ini ... aku akan berhenti."
Ia menerjang. Kali ini, auranya berbeda. Dingin dan tajam.
Liu Shen yang biasanya percaya diri kini ragu. Namun, suara Chen Li dari belakang memberinya kekuatan. "Patahkan saja kakinya agar dia tidak bisa merangkak ke sini lagi!"
Liu Shen melayangkan pukulan besar. Fang Yuan, yang sudah menghafal gerakan itu selama ratusan hari, merunduk dengan presisi yang menakutkan.
WHOSH!
"Apa—?!"
Sebelum Liu Shen sadar, Fang Yuan melompat dan menghantamkan tinjunya tepat ke hidung Liu Shen.
BUGH!
Cairan merah menyembur. Liu Shen terhuyung. "Bantu aku! Kepung dia!"
Lima anak maju sekaligus. Fang Yuan berguling di tanah, menghindari tendangan, namun Liu Shen berhasil mencengkeram bajunya dari belakang. "Kena kau! Ayo, patahkan kakinya!"
Chen Li berjalan mendekat dengan seringai sinis. "Rasakan itu, sampah! Seharusnya kau tahu tempatmu!"
Mata Fang Yuan melotot. Di dekat tangannya, ada sebuah batu sungai yang runcing. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menggenggam batu itu dan menusukkannya ke paha Liu Shen dengan seluruh berat tubuhnya.
"ARRRRGGGHHHH!" jeritan melengking memecah keheningan desa.
Fang Yuan dilempar ke tanah, diinjak-injak oleh yang lain dalam kemarahan mereka.
Tulang rusuknya berderak, namun ia tertawa. Ia merangkak maju seperti binatang, lalu menggigit betis salah satu anak di sana hingga giginya tenggelam ke dalam daging.
"LEPASKAN! DIA GILA! DIA BENAR-BENAR GILA!"
Ketakutan mulai menyebar. Melihat darah yang mengalir dari luka tusuk Liu Shen dan kegilaan di mata Fang Yuan, anak-anak itu mundur.
Mereka lari kocar-kacir, termasuk Liu Shen yang terpincang-pincang. Hanya tinggal Chen Li yang berdiri mematung, wajahnya pucat pasi.
Fang Yuan tergeletak bersimbah darah di atas tanah, ia menoleh perlahan ke arah Chen Li dan tersenyum—senyum pemenang yang mengerikan. "Aku ... menang."
Fang Yuan pulang dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa remuk, namun hatinya terasa ringan.
Ia ingin menunjukkan luka-lukanya pada kakeknya—sebagai bukti bahwa ia sudah berhenti menjadi pecundang.
"Kek ... aku pulang." panggilnya parau.
Hening. Pintu rumah tidak terkunci.
"Kek?"
Fang Yuan melangkah masuk. Kamar kakeknya terbuka sedikit. Aroma pengap dan sunyi yang tidak biasa menyambutnya. Saat pintu itu terbuka lebar, jantung Fang Yuan seolah berhenti berdetak.
Di sana, di tengah ruangan yang remang-remang, tubuh Fang Shou tergantung kaku pada seutas tali jemuran yang dikaitkan ke balok kayu atap. Lidahnya sedikit terjulur, matanya melotot kosong ke arah lantai.
Fang Yuan jatuh berlutut. Suaranya hilang di tenggorokan.
"K-kenapa ... kenapa kau juga pergi?" air mata jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi luka di pipinya. "Kakek! Jawab aku!"
Ia melihat secarik kertas di atas meja kayu. Dengan tangan gemetar, ia membacanya.
"Fang Yuan, maafkan Kakek yang lemah ini. Sejak Kakek memarahi anak kepala desa demi melindungimu, hidup Kakek menjadi neraka. Mereka memeras uang kita, memukuli Kakek di pasar saat kau tidak ada, dan menghina harga diri Kakek setiap hari. Kakek sudah tidak kuat lagi menanggung beban ini ... Hiduplah dengan baik, cucuku."
"AAAAARRRRGGGGHHHHH!"
Raungan Fang Yuan memecah malam, sebuah teriakan keputusasaan yang mampu merobek langit. Rasa mual yang hebat menghantam perutnya.
"Ugh! Ueeekk ... uekk!"
Fang Yuan memuntahkan cairan kuning dan darah ke lantai. Ia meringkuk di bawah kaki kakeknya yang menggantung, menangis sampai matanya kering. Di dalam kehancuran itu, sesuatu di dalam dirinya terkunci selamanya.
Cinta, empati, dan harapan semuanya musnah. Yang tersisa hanyalah kebencian murni terhadap dunia ini.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.