desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Badai dari Masa Lalu
Kebahagiaan itu seperti taman bunga. Indah, harum, tapi harus selalu dijaga dari rumput liar yang bisa tumbuh kapan saja.
Satu tahun sudah berlalu dengan damai. Pelangi tumbuh sehat, Arka semakin pintar, dan keluarga itu terasa begitu sempurna. Aira hampir lupa bahwa masa lalu punya cara sendiri untuk kembali. Tak peduli seberapa dalam kau kubur, ia akan muncul suatu saat.
Semuanya berawal dari sebuah telepon.
Pagi itu, Aira sedang menyuapi Pelangi bubur. Arka sudah berangkat sekolah. Raka baru saja pergi ke kantor. Ibu Rosmini di dapur, menyiapkan makan siang.
Ponsel Aira berdering. Nomor asing. Biasanya ia tak angkat nomor tak dikenal, tapi ada firasat aneh.
"Halo?"
"Halo... Aira?"
Suara pria di seberang. Tua, parau, seperti suara orang yang sudah lama tak bicara.
"Ini siapa?"
"Kau... kau anakku, Aira. Ini Bapak."
Aira terpaku. Sendok di tangannya jatuh. Pelangi menatapnya bingung.
"Maaf, siapa?"
"Ini Bapak, Nak. Bapak kandungmu. Yang dulu pergi waktu kau masih kecil."
Dunia Aira seolah berhenti. Bapak. Kata itu asing di telinganya. Ia tumbuh tanpa sosok ayah. Ibunya di kampung tak pernah cerita banyak. Hanya bilang, "Bapakmu sudah pergi. Tak usah dicari."
"Nak? Kau masih di sana?"
Aira menarik nafas dalam-dalam. "Maaf, saya pikir Anda salah sambung. Saya tidak punya bapak."
Telepon ditutup. Tangannya gemetar.
Ibu Rosmini keluar dari dapur, melihat Aira pucat. "Neng, ada apa? Kok pucat?"
Aira menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Mungkin salah sambung."
Tapi hatinya tak tenang. Firasat buruk menyelimuti.
---
Sore harinya, saat Raka pulang, Aira bercerita. Raka mendengarkan dengan serius.
"Kau yakin itu bapakmu?"
"Aku tak tahu, Raka. Aku tak pernah kenal bapakku. Ibu tak pernah cerita."
"Kita telepon ibumu di kampung. Tanya."
Aira mengangguk. Ia menghubungi ibunya.
"Bu, Aira mau tanya sesuatu."
"Tanya apa, Neng?"
"Tentang bapak. Apakah dia masih hidup?"
Hening di seberang. Lama. Lalu suara ibunya bergetar.
"Neng, kenapa tanya soal itu?"
"Ada yang telepon Aira. Mengaku bapak. Apa benar dia masih hidup?"
Ibu Aira menangis. "Neng... maafkan Ibu. Ibu selama ini bohong."
Aira diam. Jantungnya berdetak kencang.
"Ibu... maksud Ibu?"
"Bapakmu... dia masih hidup. Dia... dia baru keluar dari penjara."
Dunia Aira runtuh.
---
Ayahnya, namanya Sumadi. Dulu ia penjudi dan pemabuk. Sering memukul ibu Aira. Saat Aira masih balita, ia terlibat perkelahian dan membunuh orang. Divonis 20 tahun penjara.
Ibu Aira selama ini bilang suaminya sudah meninggal. Ia malu. Ia tak ingin anaknya tahu bahwa ayahnya pembunuh.
"Aira, maafkan Ibu. Ibu hanya ingin lindungi kau."
Aira tak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh.
"Aira, sayang," Raka memeluknya. "Kita hadapi bersama."
---
Tiga hari kemudian, Sumadi datang ke apartemen.
Aira membuka pintu. Di hadapannya, seorang pria tua dengan rambut putih, badan kurus, dan mata sayu. Pakaiannya lusuh, seperti baru keluar dari penjara—memang baru.
"Aira... anakku."
Aira diam. Ia memandangi pria ini. Ayahnya. Darah dagingnya. Tapi hatinya kosong.
"Masuk."
Sumadi masuk dengan ragu. Matanya memandang sekeliling apartemen mewah itu dengan takjib. Di ruang tamu, Raka duduk dengan wajah dingin. Ibu Rosmini mengawasi dari dapur. Arka dan Pelangi di kamar, dijaga Bi Inah.
"Duduk," kata Raka tegas.
Sumadi duduk di sofa, gugup.
"Aira, Nak, Bapak tahu Bapak salah. Bapak ninggalin kau, bikin malu keluarga. Tapi Bapak udah berubah. Bapak mau minta maaf."
Aira duduk di seberangnya. Wajahnya datar, meski hatinya berkecamuk.
"Kenapa baru sekarang? Setelah puluhan tahun?"
Sumadi menunduk. "Bapak malu. Bapak takut. Tapi setelah di penjara, Bapak mikir. Bapak punya anak. Bapak harus minta maaf sebelum mati."
"Kau sakit?" tanya Raka.
Sumadi menghela nafas. "Dokter bilang... bapak kena kanker. Stadium akhir. Mungkin cuma beberapa bulan."
Udara di ruangan itu berubah. Aira terpaku.
"Aira... Bapak nggak minta apa-apa. Bapak cuma ingin... kau maafkan Bapak. Biar Bapak bisa mati tenang."
Aira diam. Semua kenangan masa kecil yang tak pernah ada. Sosok ayah yang selalu ia rindukan tapi tak pernah hadir. Kini datang di saat-saat terakhirnya.
"Kenapa dulu kau lakukan itu? Pukul ibu? Judi? Bunuh orang?"
Sumadi menangis. "Bapak nggak tahu, Nak. Bapak dikuasai setan. Setan judi, setan mabuk. Bapak hancurkan keluarga sendiri. Bapak menyesal. Sangat menyesal."
Aira berdiri. Berjalan ke jendela. Membelakangi mereka.
Raka ingin mendekat, tapi Aira memberi isyarat untuk diam.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya isak tangis Sumadi yang terdengar.
Akhirnya Aira berbalik. Wajahnya basah.
"Ayah."
Sumadi terkejut. Panggilan itu. Panggilan yang tak pernah ia dengar.
"Aira..."
"Aku maafkan Ayah. Bukan karena Ayah minta. Tapi karena aku tak mau hidup dengan dendam. Aku punya keluarga sendiri. Suami yang baik, anak-anak yang lucu. Aku tak mau kebencian merusak semua itu."
Sumadi menangis keras. Ia berlutut.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Aira mendekat. Membantu ayahnya berdiri.
"Tapi Ayah harus janji. Ayah akan habiskan sisa waktu dengan tenang. Mungkin tinggal di sini, kenal cucu-cucu Ayah. Tapi kalau Ayah macam-macam, aku tak segan usir."
Sumadi mengangguk patuh. "Bapak janji, Nak. Bapak janji."
---
Malam itu, Arka dan Pelangi diperkenalkan pada kakeknya. Arka awalnya takut, tapi melihat Aira tenang, ia pun mendekat.
"Kakek, kenapa kurus?"
Sumadi tersenyum getir. "Kakek... kakek sakit, Nak."
"Arka doain Kakek cepet sembuh ya."
Sumadi menangis lagi. Pelangi, dengan polosnya, mendekat dan memeluk kaki Sumadi.
"Kek... kek..."
Sumadi gemetar. Ia mengangkat Pelangi dengan hati-hati. Memeluknya.
"Ini cucuku," bisiknya. "Cucuku."
---
Hari-hari berikutnya, Sumadi tinggal di apartemen. Ia dirawat, diberi obat, dan diantar kontrol ke rumah sakit. Aira merawatnya dengan sabar. Bukan karena cinta, tapi karena kewajiban. Dan perlahan, benih-benih cinta mulai tumbuh.
Sumadi berubah total. Ia tak pernah minum, tak pernah judi. Ia hanya menghabiskan waktu dengan Arka dan Pelangi. Membacakan cerita, meski suaranya serak. Mengajak mereka main, meski tubuhnya lemah.
Suatu malam, saat Aira memberinya obat, Sumadi meraih tangannya.
"Aira, Bapak mau bilang sesuatu."
"Apa, Ayah?"
"Bapak bangga sama kau. Kau jadi wanita hebat. Istri baik, ibu luar biasa. Bapak... Bapak menyesal nggak lihat kau tumbuh."
Aira tersenyum. Air matanya jatuh.
"Tapi Bapak bersyukur. Di akhir hidup, Bapak bisa lihat kau. Bisa kenal cucu-cucu. Bapak... Bapak tenang."
Aira memeluknya. "Ayah, istirahat yang cukup. Besok kita kontrol lagi."
Sumadi mengangguk. Ia tertidur dengan senyum.
---
Tiga bulan kemudian, Sumadi meninggal dunia. Dengan tenang, di kamarnya, sambil memegang foto Aira dan cucu-cucunya.
Aira menangis. Tapi bukan tangis kehilangan. Tapi tangis pengampunan. Tangis penerimaan.
Raka memeluknya. "Dia sudah tenang, Sayang."
Aira mengangguk. "Iya. Dan aku juga tenang."
Ibu Rosmini, yang selama ini diam, akhirnya bicara. "Neng, Ibu bangga sama Neng. Neng maafkan ayah Neng. Itu luar biasa."
Aira tersenyum. "Dia ayah saya. Darah daging saya. Meskipun dia salah, dia tetap ayah saya. Dan di akhir hidupnya, dia berubah. Itu yang penting."
---
Pemakaman sederhana. Hanya keluarga dan beberapa tetangga. Sumadi dimakamkan di pemakaman umum, dekat dengan makam Wulan—bibi Raka yang tak pernah dikenal Aira.
Di pusara, Aira berdoa. Raka di sampingnya. Arka dan Pelangi ikut diam, meski tak paham.
"Ayah, tenang di sana. Maafkan aku yang tak sempat kenal Ayah lebih lama. Tapi aku bersyukur, Ayah sempat berubah. Semoga Allah tempatkan Ayah di sisi terbaik."
Mereka pulang dengan hati yang lebih ringan.
Badai dari masa lalu telah berlalu. Dan seperti biasa, mereka hadapi bersama. Sebagai keluarga.
---
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu