Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: HARI-HARI TANPA KEPASTIAN
Hari ke-26. Dewi menghitungnya dari coretan di dinding triplek. Setiap pagi ia buat satu garis kapur. Hari ini sudah 26 garis. 26 hari tanpa Aryo.
Risma tidur di sampingnya. Napasnya pelan. Tangan mungilnya menggenggam jari Dewi. Erat. Seperti takut ditinggal juga.
Dewi pandangi anaknya. Risma kurus. Makin kurus. Susu habis tiga hari lalu. Uang tinggal 15 ribu. Cukup buat beli beras 2 liter. Tapi buat susu? Nggak cukup.
"Nak... Ibu belum bisa beli susu... maafin Ibu..."
Risma tak bergerak. Tapi air mata Dewi jatuh di pipinya.
Pagi itu, Dewi bangun dengan tekad. Ia harus cari uang. Bawa Risma ke pasar. Jualan gorengan lagi.
Tapi modal tinggal 10 ribu. Buat beli minyak, tepung, pisang. Nggak cukup.
Ia bongkar celengan kecil. Uang receh hasil jualan kemarin. Total 23 ribu.
Cukup buat modal kecil.
Ia gendong Risma, bawa keranjang gorengan. Jalan ke pasar.
Sepanjang jalan, orang-orang lihat. Ada yang kasihan. Ada yang bergunjing.
"Itu janda baru? Suaminya kabur katanya."
"Iya, ninggalin anak sakit."
"Kasihan. Tapi mungkin stress. Punya anak kayak gitu."
Dewi dengar. Tapi ia pura-pura nggak dengar. Ia harus kuat.
"GORENGAN! GORENGAN!"
Suaranya serak. Tapi ia terus teriak.
Seorang ibu-ibu datang. Beli gorengan 5 ribu. Lalu bertanya, "Bu, suami Ibu ke mana?"
Dewi diam. Lalu jawab pelan, "Kerja di luar kota, Bu."
"Oh... katanya kabur?"
Dewi menunduk. "Nggak, Bu. Cuma belum pulang."
Ibu itu menghela napas. "Ya sudah. Sabar ya, Bu."
Ia pergi. Dewi nangis. Di lapak kecilnya. Sambil gendong Risma.
Siang harinya, Risma rewel. Mungkin lapar. Mungkin haus. Mungkin panas.
Dewi pegang keningnya. Panas. Sedikit hangat.
Ia ingat pesan dokter. "Kalau panas sedikit, langsung kompres. Jangan tunggu kejang."
Dewi cari air. Kompres Risma dengan sapu tangan. Pelan-pelan. Risma mulai tenang.
"Udah, Nak... udah... Ibu di sini..."
Risma diam. Tapi matanya terbuka. Menatap Dewi. Lama. Matanya berkaca.
Dewi tersenyum. "Kamu sayang Ibu ya?"
Risma nggak jawab. Tapi tangannya meraih. Menyentuh pipi Dewi.
Dewi nangis. Nangis haru.
Sore harinya, Dewi pulang. Dapat 35 ribu. Lumayan. Ia beli susu 25 ribu. Beras 10 ribu. Sisa 5 ribu buat besok.
Malam, ia susui Risma. Risma minum lahap. Mungkin kelaparan.
"Minum yang banyak, Nak. Biar cepet gede."
Risma minum sampai habis. Lalu tidur. Nyenyak.
Dewi pandangi anaknya. Tidur dengan tenang. Wajahnya damai.
"Risma, Nak... Ibu janji. Ibu nggak akan ninggalin kamu. Ibu akan jagain kamu. Sampai Bapak pulang."
Dari luar, suara jangkrik. Malam makin larut. Tapi Aryo tak kunjung pulang.
Hari ke-27. Dewi ke pasar lagi. Jualan gorengan. Dapat 40 ribu. Lumayan.
Tapi siangnya, Risma panas. Kali ini lebih tinggi.
Dewi panik. Ia kompres. Tapi panas nggak turun.
Ia bawa Risma ke puskesmas. Jalan kaki. Capek. Tapi ia paksakan.
Di puskesmas, dokter periksa. "Demam karena infeksi, Bu. Harus dirawat."
Dewi pucat. "Dirawat, Dok? Tapi... uang saya nggak cukup..."
Dokter itu menghela napas. "Kami terima BPJS, Bu. Punya BPJS?"
Dewi mengangguk lega. "Punya, Dok. Punya."
Alhamdulillah. Aryo dulu daftarin BPJS buat mereka bertiga.
Risma dirawat. Dewi di sampingnya. Pasang infus. Risma nangis pas ditusuk. Tapi sebentar, lalu diam.
"Udah, Nak... udah... Ibu di sini..."
Dokter datang. "Bu, anak Ibu butuh pemeriksaan lebih lanjut. Tapi karena alat terbatas, kami rujuk ke rumah sakit kota."
Dewi kaget. "Rumah sakit kota? Tapi... saya tinggal di sini... suami saya belum pulang..."
Dokter menatapnya iba. "Bu, demi kesehatan anak. Ini penting."
Dewi diam. Air matanya jatuh.
Malam itu, Dewi nggak bisa tidur. Ia di ruang rawat. Risma tidur di ranjang. Infus masih menetes.
Ia ingat Aryo. Di mana Aryo? Apa kabar? Apa dia selamat? Apa dia lupa sama mereka?
Ia ingat pesan terakhir Aryo. "Jaga Risma baik-baik."
Sekarang, Risma sakit. Harus dirujuk ke kota. Biaya besar. Sendirian.
"Mas... di mana kamu... aku butuh kamu..."
Dari luar, suara ambulans. Masuk, keluar. Pasien datang, pergi.
Tapi Aryo tak datang.
Pagi harinya, ambulans datang jemput. Risma dipindahkan ke rumah sakit kota. Dewi ikut.
Sepanjang jalan, Dewi diam. Memandangi Risma. Anaknya tidur. Lelah.
Sampai di rumah sakit kota, Risma langsung diperiksa. Dokter-dokter sibuk. Dewi disuruh tunggu.
Ia duduk di lorong. Sendiri. Dingin. Takut.
Jam berdetak. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Pintu terbuka. Dokter keluar. "Bu, anak Ibu stabil. Tapi ada infeksi paru. Harus dirawat seminggu."
Dewi menghela napas. Lega. Tapi langsung mikir biaya.
"BPJS, Bu?" tanya dokter.
"Punya, Dok."
Dokter mengangguk. "Syukurlah. Nanti diurus administrasinya."
Dewi masuk ke ruang rawat. Risma terbaring. Masih pucat. Tapi napasnya mulai teratur.
Dewi duduk di sampingnya. Pegang tangan Risma.
"Nak, kamu kuat. Ibu di sini. Ibu nggak ke mana-mana."
Risma tak bergerak. Tapi jarinya menggenggam balik.
Tiga hari di rumah sakit. Dewi jaga Risma sendirian. Tidur di kursi. Makan nasi bungkus murah. Mandi di kamar mandi umum.
Hari keempat, seorang suster datang. "Bu, ada tamu."
Dewi kaget. Tamu? Siapa?
Ia ke luar. Di lorong, berdiri seorang wanita. Gemuk. Daster lusuh. Bu Satinah.
"BU SATINAH!"
Dewi lari memeluknya. Nangis.
"Bu... Bu... kok bisa ke sini?"
Bu Satinah elus punggung Dewi. "Saya dengar dari tetangga. Risma dirujuk. Saya langsung ke sini. Bawa ini."
Ia beri tas besar. Isinya: lauk matang, pakaian ganti, dan amplop.
"Ini, Bu. Kumpulan warga. Nggak banyak. Tapi buat bantu."
Dewi buka amplop. Isinya 500 ribu. Ia nangis.
"Bu... saya... saya nggak tahu harus bilang apa..."
"Nggak usah bilang apa-apa. Warga itu kadang suka gosip. Tapi hati mereka baik."
Dewi nangis di pelukan Bu Satinah.
Bu Satinah ikut jaga Risma. Dua hari. Dewi bisa istirahat sebentar. Bisa tidur lebih nyenyak.
Hari keenam, Risma boleh pulang. Dokter bilang harus kontrol rutin.
Dewi, Bu Satinah, dan Risma pulang naik angkutan desa.
Sampai kontrakan, Dewi buka pintu. Masih sama. Sepi. Tanpa Aryo.
Bu Satinah pamit. "Bu, kalau butuh apa-apa, telepon saya."
"Makasih, Bu."
Dewi sendirian lagi. Dengan Risma.
Malam itu, Risma tidur. Dewi duduk di kursi plastik. Memandangi pintu. Berharap Aryo datang.
Tapi pintu itu tetap tertutup. Tak ada yang mengetuk.
Hari ke-40. Masih belum ada kabar.
Dewi mulai putus asa. Ia sudah coba telepon ke semua nomor. Ke perusahaan truk. Ke sopir-sopir. Ke rumah sakit di luar kota. Nggak ada yang tahu.
Sopir truk itu bilang, "Truknya kecelakaan di daerah Banyumas. Sopirnya selamat. Tapi keneknya... entah ke mana. Mungkin kabur karena takut dituntut."
Kabur. Kata itu terus terngiang.
Tapi Dewi nggak percaya. Aryo bukan pengecut. Aryo sayang dia. Sayang Risma.
"Mas... pulang... aku nggak butuh uang... aku butuh kamu..."
Dari kamar, Risma nangis. Dewi masuk. Risma kejang.
Dewi panik. Pegang Risma. Tubuhnya kaku. Matanya memutih.
"RISMA! RISMA! JANGAN! JANGAN!"
Ia gendong Risma. Lari keluar. Malam buta. Jalan gelap. Nggak ada kendaraan.
Ia lari sambil nangis. "TOLONG! TOLONG! ANAK SAYA!"
Nggak ada yang dengar.
Risma di gendongannya makin lemas.
"Nak... Nak... jangan... jangan tinggal Ibu... Ibu cuma punya kamu..."
Dari kejauhan, ada lampu mobil. Dekat. Makin dekat.
Dewi melambai-lambai. Mobil berhenti.
"Bu, naik!"
Dewi naik. Risma di gendongan. Tubuhnya panas. Sangat panas.
Di rumah sakit, Risma ditangani. Dokter sibuk. Suster sibuk.
Dewi di lorong. Sendirian. Menunggu.
Pintu terbuka. Dokter keluar. Wajahnya lelah.
"Bu, anak Ibu selamat. Tapi kejangnya cukup parah. Kami harus lakukan pemeriksaan otak lebih lanjut."
Dewi menghela napas. Lega. Tapi kata "pemeriksaan otak" bikin takut.
"Biayanya, Dok?"
"BPJS bisa, Bu. Tapi ada beberapa obat yang harus dibeli mandiri."
Dewi mengangguk. "Berapa, Dok?"
"Estimasi 300 ribu."
Dewi diam. Uang sisa dari Bu Satinah tinggal 200 ribu.
"Bu, saya usahakan."
Malam itu, Dewi nggak tidur. Ia duduk di samping Risma. Anaknya tidur. Infus di tangan.
Dari luar, hujan turun. Deras. Angin bertiup. Dingin.
Dewi ingat Aryo. Di mana Aryo sekarang? Apa dia kedinginan juga? Apa dia ingat mereka?
Ia keluarkan foto. Foto pernikahan mereka. Aryo tersenyum. Dewi tersenyum. Bahagia.
Sekarang? Dewi sendirian. Risma sakit. Hidup hancur.
"Mas... pulang... please... aku nggak kuat..."
Air matanya jatuh. Jatuh di foto itu.
Tiba-tiba, pintu ruang rawat terbuka. Seorang perawat masuk.
"Bu, ada telepon dari luar kota. Untuk Ibu."
Dewi kaget. Telepon? Untuk dia?
Ia ke loket telepon. Angkat gagang.
"Halo?"
"Ri..."
Suara itu. Suara yang ia rindukan. Suara Aryo.
"MAS! MAS! DI MANA KAMU?"
"Ri... aku di rumah sakit... di Banyumas... aku kecelakaan... koma seminggu... baru sadar..."
Dewi nangis. Nangis keras. "Mas... Mas... aku kira kamu ninggalin aku..."
"Maaf, Ri... maaf... aku nggak bisa kabar... HP hilang... aku nggak ingat apa-apa..."
"Mas, Risma sakit. Dirawat di sini."
"Risma? GIMANA?"
"Kejang. Tapi selamat."
Aryo di seberang nangis. "Ri... aku akan pulang... cari pinjaman uang... aku akan pulang..."
"Mas... jangan tinggalin aku lagi..."
"Nggak, Ri. Nggak akan. Aku janji."
Telepon ditutup. Dewi berdiri di loket. Tubuhnya gemetar.
Aryo hidup. Aryo ingat mereka. Aryo akan pulang.
Ia lari ke ruang rawat. Risma masih tidur.
Ia pegang tangan Risma. "Risma, Nak... Bapak... Bapak hidup... Bapak akan pulang..."
Risma tak bergerak. Tapi napasnya teratur.
Dewi tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah 40 hari, ia tersenyum.
Tapi di luar, hujan masih deras. Angin masih kencang.
Dan Aryo masih di kota lain. Dengan luka. Dengan utang. Dengan perjalanan panjang.
Akankah ia benar-benar pulang?
Atau ini hanya mimpi yang akan sirna saat pagi tiba?
[BERSAMBUNG]
--