NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekutu yang Tak Terduga

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Berbaring di kasur kamar tamu Greenleaf Apothecary, menatap langit-langit kayu dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti tentang esok hari. Shadow Stalker. Monster Tier 3. Pemburu kawanan dengan kecerdasan hampir setara manusia. Dan aku—hunter E-rank sementara yang baru menyelesaikan quest pertamanya beberapa jam lalu—akan menghadapi mereka bersama dua orang yang jelas-jelas menginginkan aku gagal atau mati.

Keputusan yang brilian, Kael. Sungguh brilian.

Azure Codex berdenyut pelan di dadaku, ritmenya stabil seperti detak jantung kedua. Aku mengangkat liontin itu, membiarkan cahaya bulan dari jendela menari di permukaan batu biru.

"Yakin kita bisa bertahan dari ini?" aku berbisik padanya. "Atau kamu juga tidak yakin?"

Tidak ada jawaban—seperti biasa. Tapi entah mengapa, denyutan Azure Codex yang stabil itu terasa menenangkan. Seperti batu itu berkata: Aku sudah bertahan dari perang yang jauh lebih brutal dari ini. Kamu akan baik-baik saja.

Atau mungkin aku hanya memproyeksikan harapan sendiri.

Ketukan di pintu membuat aku langsung duduk tegak, tangan secara naluriah bergerak ke arah pedang yang bersandar di dinding. "Siapa?"

"Gareth," jawab suara yang sudah kukenal dari luar. "Aku tahu kamu tidak tidur. Boleh masuk?"

Aku ragu sebentar, lalu bangkit dan membuka pintu. Gareth berdiri di sana dengan ekspresi serius, membawa ransel yang tampak penuh dengan sesuatu.

"Seharusnya kamu tidak ke sini," kataku. "Sudah larut."

"Dan kamu seharusnya tidak menerima quest bunuh diri, tapi kenyataannya begini adanya," ia membalas dengan humor kering. "Boleh masuk? Perlu bicara denganmu."

Aku memberi jalan, mempersilakannya masuk. Gareth melihat sekeliling kamar—furnitur sederhana, pedang dan baju zirahku yang sudah dibersihkan tergantung di standarnya—lalu duduk di kursi dekat jendela.

"Aku tidak akan mencoba meyakinkanmu untuk membatalkan quest itu," katanya langsung. "Kamu sudah membuat keputusan di depan seluruh Guild. Mundur sekarang akan merusak reputasimu lebih parah dari gagal dalam quest itu sendiri."

"Aku tahu," aku menjawab, duduk di tepi kasur. "Makanya aku menerimanya."

"Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu pergi tanpa persiapan." Ia membuka ransel, mengeluarkan beberapa barang dan meletakkannya di meja kecil. "Ini—set ramuan. Dua ramuan penyembuhan tingkat menengah, satu pemulihan stamina, satu penawar racun Shadow Stalker. Jangan pelit menggunakannya—pahlawan yang mati tidak berguna untuk siapa pun."

Aku menatap ramuan-ramuan itu dengan terkejut. "Ini... mahal. Kenapa—"

"Karena aku pernah ada di posisimu," ia memotong. "Hunter baru, diremehkan, dipaksa ke dalam situasi berbahaya untuk membuktikan diri. Bedanya adalah aku punya mentor yang memberiku perlengkapan yang layak. Kamu tidak punya itu, jadi aku akan jadi penggantinya untuk sementara."

Ada kehangatan di dadaku—bukan dari Azure Codex, melainkan dari rasa syukur yang tulus. "Terima kasih. Aku akan membayarmu kembali—"

"Anggap saja investasi," katanya dengan senyum kecil. "Kalau kamu bertahan dan menjadi hunter yang terampil, suatu hari kamu akan melakukan hal yang sama untuk hunter baru lainnya. Begitulah cara komunitas Guild bekerja."

Ia mengeluarkan satu barang lagi—gulungan kecil dengan rune yang hampir tidak terlihat di permukaannya. "Ini gulungan teleportasi darurat. Sekali pakai. Jika situasinya benar-benar tidak ada harapan—Marcus mengkhianatimu, terlalu banyak Shadow Stalker, apa pun—hancurkan gulungan ini dan kamu akan berteleportasi kembali ke aula Guild Millhaven."

"Itu sangat mahal," aku berkata, tahu dari buku-buku Kakek bahwa gulungan teleportasi bisa dengan mudah berharga lima puluh koin emas atau lebih. "Gareth, aku tidak bisa—"

"Bisa dan harus," ia memotong dengan suara tegas. "Harga diri tidak sebanding dengan kematian, Kael. Kalau harus mundur, mundurlah. Hidup untuk bertarung di hari lain."

Aku mengambil gulungan itu dengan hati-hati, merasakan getaran sihir yang halus dari perkamen itu. "Kenapa kamu peduli sebesar ini? Kita baru bertemu beberapa jam lalu."

Ekspresinya berubah—menjadi sesuatu yang lebih sedih, lebih jauh. "Karena lima tahun lalu, aku punya rekan. Hunter baru sepertimu—berbakat, bertekad, sedikit ceroboh. Kami mengambil quest yang terlalu berbahaya, dan ia... ia tidak selamat. Aku selamat karena ia mengorbankan diri untuk menutupi pelarianku."

Keheningan mengisi ruangan. Hanya suara angin malam yang samar dari luar jendela.

"Sejak itu," ia melanjutkan, suara lebih pelan, "aku berjanji akan membantu hunter-hunter muda yang menjanjikan ketika bisa. Tidak bisa menyelamatkan rekanku, tapi mungkin bisa menyelamatkan orang lain." Ia menatapku langsung. "Jadi tolong, Kael. Gunakan perlengkapan ini dengan cerdas. Bertahan. Jangan menjadi nama lain yang akan kusesali karena tidak bisa kuselamatkan."

Dadaku terasa sesak. Tidak tahu harus berkata apa—kata-kata terasa tidak cukup untuk mengungkapkan apa yang kurasakan.

"Aku akan bertahan," aku berkata akhirnya, suara mantap. "Aku berjanji."

Ia mengangguk, bangkit dari kursi. "Bagus. Sekarang, tentang Shadow Stalker—aku perlu menjelaskan apa yang akan kamu hadapi."

Selama satu jam berikutnya, Gareth menjelaskan segalanya tentang Shadow Stalker dengan detail yang teliti.

"Shadow Stalker adalah monster Tier 3, tapi mereka tidak berbahaya karena kekuatan individu," ia menjelaskan sambil membuat sketsa kasar di buku catatanku. "Mereka berbahaya karena taktik kawanan dan kemampuan siluman."

Ia menggambar sosok yang menyerupai serigala tapi dengan proporsi yang salah—terlalu kurus, anggota tubuh terlalu panjang, cakar terlalu melengkung.

"Mereka hidup dalam kegelapan—gua, bangunan terbengkalai, hutan lebat. Sinar matahari tidak membunuh mereka tapi membuat mereka jauh lebih lemah. Dalam kegelapan, mereka bisa hampir tidak terlihat—bulu mereka menyerap cahaya, membuat mereka menyatu dengan bayangan."

"Bagaimana cara mendeteksi mereka?" tanyaku, mencatat dalam pikiran.

"Suara. Mereka sangat sunyi, tapi tidak sepenuhnya tanpa suara. Kalau kamu sudah melatih pendengaranmu—" Ia menatapku. "Apakah kakekmu melatihmu dalam kesadaran tempur?"

"Ya. Ia bilang pejuang yang baik tidak hanya mengandalkan mata."

"Orang yang bijak." Gareth melanjutkan. "Shadow Stalker berburu dalam kawanan—biasanya lima sampai delapan individu. Mereka punya hierarki: alfa yang memimpin, beberapa pemburu, dan pengintai. Alfa adalah yang terbesar dan paling cerdas. Bunuh alfanya, kawanan akan buyar."

"Dan racunnya?"

"Neurotoksin. Tidak langsung fatal, tapi secara bertahap melumpuhkan anggota tubuh jika tidak ditangani. Penawar yang kuberikan efektif selama tiga puluh menit setelah gigitan. Setelah itu..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi implikasinya sudah jelas.

Aku menelan sesuatu yang tiba-tiba terasa seperti air liur yang kental.

"Kelemahan mereka," Gareth melanjutkan, "adalah kelebihan sensoris. Suara keras, cahaya terang—apa pun yang merangsang berlebihan indra mereka akan membuat mereka disorientasi. Tapi di tambang terbengkalai yang gelap, kamu tidak punya kemewahan cahaya terang. Jadi strategi terbaik adalah—"

"Tetap di area yang paling terang tersedia, paksa mereka bertarung dalam kondisi yang merugikan mereka," aku menyelesaikan kalimatnya.

Ia tersenyum. "Tepat. Kamu belajar cepat."

"Kakek mengajariku dengan baik."

"Jelas." Ia menutup buku catatan. "Satu hal lagi—Marcus dan Kira. Jangan percaya mereka sepenuhnya. Aku tidak bilang mereka akan secara terang-terangan mengkhianati atau menyabotaseamu, tapi... mereka tidak akan ragu meninggalkanmu sebagai umpan jika situasinya menjadi kritis."

"Dicatat."

Gareth bangkit, menggendong ranselnya yang sudah kosong. "Istirahatlah kalau bisa. Fajar dalam lima jam, dan kamu butuh setiap tetes energi."

"Gareth," aku berkata saat ia sampai di pintu. "Terima kasih. Untuk segalanya."

Ia berbalik, tersenyum—tulus dan hangat. "Jangan berterima kasih dulu. Berterima kasihlah ketika kamu selamat dan kembali." Jeda sebentar. "Dan Kael? Percayai nalurimu. Dan percayai... apa pun yang membuatmu istimewa. Aku bisa melihat ada sesuatu yang berbeda darimu. Gunakanlah."

Ia pergi sebelum aku sempat bertanya maksudnya.

Aku duduk kembali di kasur, menatap kumpulan barang di meja: ramuan, gulungan, baju zirah yang sudah dibersihkan, pedang dengan bilah yang sudah kuasah hingga bisa memantulkan cahaya bulan.

Azure Codex berdenyut di dadaku.

"Sesuatu yang berbeda," aku mengulang kata-kata Gareth. "Ia tidak tahu betapa benarnya ia."

Aku berbaring, memejamkan mata, berusaha tidur meski tahu itu mungkin mustahil.

Tapi entah bagaimana, dengan denyutan Azure Codex yang stabil di dadaku dan pengetahuan bahwa setidaknya satu orang peduli apakah aku selamat atau tidak, tidur akhirnya datang juga.

Tanpa mimpi. Damai.

Ketenangan sebelum badai.

Fajar datang terlalu cepat.

Aku terbangun dengan cahaya pertama, tubuh pegal tapi cukup beristirahat. Mira sudah menyiapkan sarapan—sederhana tapi mengenyangkan. Ia tidak bertanya tentang quest, hanya menatapku dengan ekspresi khawatir dan berkata "hati-hati" saat aku pergi.

Gerbang utara Millhaven tidak terlalu ramai di pagi hari—hanya beberapa petani dengan gerobak yang menuju ladang, dan sesekali penjaga patroli yang berganti shift.

Marcus dan Kira sudah menunggu, bersandar di tembok dekat gerbang dengan postur yang santai. Dua rekan Marcus dari kemarin tidak tampak—rupanya ini memang benar quest bersama hanya bertiga.

"Tepat waktu," Kira berkomentar saat aku mendekat. "Bagus. Aku tidak suka menunggu."

Marcus menatapku dengan senyum mengejek. "Masih percaya diri, anak muda? Belum terlambat untuk mundur."

"Aku di sini, kan?" aku membalas, merapikan ransel yang berisi ramuan dan perbekalan. "Ayo berangkat."

Kira mendorong diri dari dinding, mulai berjalan ke arah jalan utara. "Tambang terbengkalai itu sekitar dua jam dari sini. Kita perlu tiba sebelum tengah hari—Shadow Stalker lebih aktif di sore menjelang malam."

Kami berjalan dalam keheningan yang canggung. Marcus dan Kira sesekali berbicara dengan suara rendah, jelas membahas sesuatu tapi tidak melibatkanku. Aku tidak peduli—lebih fokus mengamati sekitar dan mempersiapkan diri secara mental.

Azure Codex berdenyut stabil di dadaku. Aku sudah memperhatikan sebuah pola: semakin tenang dan fokus aku, semakin stabil denyutannya. Semakin gugup atau gelisah, semakin tidak beraturan.

Kondisi mental mempengaruhi Batu. Menarik.

Setelah satu jam pertama, pemandangan berangsur-angsur berubah dari lahan pertanian menjadi medan berbatu dengan vegetasi yang jarang. Pepohonan semakin sedikit, digantikan batu-batu besar dan formasi tebing. Di kejauhan, aku bisa melihat pintu masuk tambang yang terbengkalai—sebuah bukaan gelap di sisi bukit, dengan penyangga kayu tua yang setengah roboh dan gerobak tambang berkarat yang tergeletak di dekat pintu masuk.

"Itu," Kira berkata, menunjuk. "Tambang Silver Ridge. Ditinggalkan dua puluh tahun lalu setelah urat bijinya habis. Sejak itu, menjadi rumah bagi berbagai monster. Intelijen terbaru menyebutkan kawanan Shadow Stalker pindah ke sana sekitar dua minggu lalu."

"Berapa banyak dalam kawanan itu?" tanyaku.

"Laporan pengintai memperkirakan tujuh individu. Mungkin lebih." Ia menatapku. "Formasi standar: aku yang memimpin karena paling berpengalaman. Marcus di tengah untuk pertempuran berat. Kamu penjaga belakang—deteksi ancaman dari belakang dan berikan dukungan jarak jauh jika memungkinkan."

"Aku pedang, bukan pemanah."

"Aku tahu. Makanya kamu penjaga belakang—jika Shadow Stalker menyerang dari belakang, kamu lini pertahanan pertama. Anggap saja sebagai medan pembuktian."

Dengan kata lain: umpan. Mereka secara harfiah menggunakanku sebagai umpan untuk serangan dari belakang.

Aku tidak mengeluh. Sudah mengantisipasi ini dari awal.

"Baik," aku menjawab. "Aku siap."

Kira tersenyum—ekspresi dingin yang tidak mencapai matanya. "Kita lihat nanti."

Bagian dalam tambang jauh lebih gelap dari yang diperkirakan.

Sinar matahari dari pintu masuk hanya menembus sekitar sepuluh meter sebelum sepenuhnya ditelan kegelapan yang terasa hampir bisa diraba. Penyangga kayu tua berderit mengancam saat kami melintas, beberapa sudah roboh sepenuhnya, menciptakan puing-puing yang harus kami panjati.

Kira menyalakan obor—jenis magis yang tidak menghasilkan asap tapi memancarkan cahaya biru-putih yang stabil. Marcus menyalakan yang serupa. Aku tidak punya.

"Kamu tidak membawa sumber cahaya?" Marcus bertanya dengan nada mengejek.

"Tidak," aku menjawab, tidak menjelaskan lebih lanjut. Kebenarannya adalah aku tidak punya emas untuk membeli obor magis, dan obor biasa terlalu berisiko di ruang sempit seperti tambang.

Tapi Azure Codex berdenyut di dadaku, dan tiba-tiba penglihatanku... menyesuaikan. Bukan penglihatan malam yang sempurna, tapi kegelapan itu menjadi sedikit kurang menekan, bentuk-bentuk dan bayangan-bayangan menjadi lebih terdefinisi.

Batu membantu penglihatan. Kemampuan lain yang terbuka.

Kami turun lebih dalam ke dalam tambang, mengikuti poros utama yang bercabang ke berbagai terowongan samping. Udara semakin dingin, membawa aroma samar pembusukan dan sesuatu yang lain—bau musky dan hewani yang membuat nalurinya berteriak bahaya.

"Shadow Stalker sudah dekat," Kira berbisik, tangan bergerak ke pedang di pinggangnya. "Tetap waspada."

Kami berjalan lebih lambat, setiap langkah disengaja dan sunyi. Cahaya obor menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding, mempersulit pembedaan antara ancaman nyata dan ilusi optik.

Azure Codex mengirim sinyal peringatan.

"Berhenti," aku berbisik mendesak.

Kira dan Marcus berhenti, berbalik menatapku dengan ekspresi kesal.

"Apa?" tanya Marcus.

"Ada sesuatu di depan. Bersembunyi."

"Aku tidak melihat—"

Suara dari kegelapan. Geraman rendah yang hampir infrasonik, bergetar di dadaku. Kemudian geraman lain dari arah yang berbeda. Dan satu lagi.

Kami dikepung.

Ekspresi Kira berubah dari kesal menjadi serius. "Formasi. SEKARANG."

Kami cepat mengatur posisi: Kira menghadap ke depan dengan pedang terhunus, Marcus ke kiri dengan kapak siap, aku ke kanan dengan pedang sudah dihunus.

Mata. Banyak pasang. Bersinar kuning redup dalam kegelapan, mengamati dari berbagai terowongan dan lekukan dinding. Aku menghitung—satu, dua, tiga... lima... tujuh. Tujuh Shadow Stalker, persis seperti yang diperkirakan.

Dan kemudian mereka bergerak.

Kegelapan itu sendiri tampak mengalir, sosok-sosok yang terlepas dari bayangan dengan kelincahan yang cair. Shadow Stalker muncul—masing-masing sekitar sebesar serigala besar tapi dengan tubuh yang terlalu kurus, anggota tubuh terlalu panjang, dan cakar melengkung seperti sabit. Bulu mereka menyerap cahaya obor, membuat mereka tampak seperti kekosongan yang bergerak.

Si alfa melangkah maju dari kawanan—jauh lebih besar, dengan bekas luka di moncongnya dan mata yang terbakar dengan kecerdasan yang menggelisahkan.

"Tujuh terkonfirmasi," Kira berkata, suara tenang meski situasinya jelas berbahaya. "Kawanan standar. Alfa di depan. Kael, jaga belakang kita. Marcus, bersamaku—kita tangani serangan depan."

Shadow Stalker mulai mengelilingi kami, menguji pertahanan kami. Tidak langsung menyerang—menilai, mencari kelemahan.

Azure Codex mengaktifkan kemampuannya dan penglihatanku berubah lagi. Garis-garis lintasan muncul, menunjukkan kemungkinan pola serangan, titik-titik lemah dalam formasi Stalker, timing untuk membalas.

Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Bahkan dengan panduan Azure Codex, melawan tujuh monster Tier 3 dalam kegelapan adalah...

Satu Stalker memecah formasi—menerjang dari kiri, mengincar Marcus.

Marcus mengayun kapaknya dengan gerakan yang terlatih, tapi Stalker itu terlalu cepat—menghindar, cakar-cakar menggores baju zirah Marcus dengan bunyi logam yang memekik. Tidak menembus, tapi kekuatan benturannya membuat Marcus terhuyung.

Kira langsung membalas, pedang berkelebat dengan kecepatan yang mengesankan. Bilah mengenai sisi Stalker itu, menarik darah hitam. Monster itu meraung, mundur ke dalam bayangan.

Tapi itu pengalihan. Dua Stalker lagi menyerang dari kanan—mengincarku.

Azure Codex berteriak peringatan—penglihatan dipenuhi garis-garis lintasan.

Tubuhku bergerak, mengikuti panduan. Menghindar, menangkis, menebas—bilah memotong leher Stalker pertama, memutus tulang belakangnya. Monster itu jatuh seketika, mati sebelum menyentuh tanah.

Stalker kedua sudah menerkam, cakar terentang. Tidak ada waktu untuk menghindar—

Benturan. Rasa sakit meledak di bahuku saat cakar-cakar merobek baju zirah dan daging. Aku menjerit, terhuyung ke belakang, pedang hampir terlepas dari genggaman yang licin oleh darah.

Stalker itu mendarat, bersiap untuk serangan kedua—pukulan terakhir.

Meski kesakitan, meski terkejut, tubuhku mematuhi Azure Codex. Menusuk ke depan dengan seluruh kekuatan yang tersisa, bilah menembus rongga dada Stalker itu, menemukan jantungnya.

Monster itu kejang, konvulsi, diam.

Dua mati. Lima tersisa.

Tapi bahuku menjerit kesakitan, darah meresap ke baju zirahku. Pandangan mulai mengabur di pinggiran.

"KAEL!" Suara Kira, terdengar jauh. "GUNAKAN PENAWARNYA! RACUN!"

Racun. Benar. Neurotoksin.

Dengan jari-jari yang sudah mulai terasa mati rasa, aku meraih kantong ramuanku, mengeluarkan botol penawar yang Gareth berikan. Membuka sumbatnya dengan gigi, meneguk seluruh isinya dalam satu tegukan.

Pahit. Terbakar. Tapi hampir seketika, rasa mati rasa di jari-jari mulai surut.

Terima kasih para dewa atas persiapan Gareth.

Aku memaksa diri untuk bangkit, pedang terangkat meski bahuku masih berdarah. Tiga Stalker terlibat pertarungan dengan Kira dan Marcus di depan, si alfa memerintah dari kejauhan. Stalker kelima... di mana Stalker kelima?

Azure Codex berdenyut—peringatan dari ATAS.

Aku mendongak—Stalker menempel di langit-langit, tepat di atasku, bersiap untuk menerkam.

Tidak ada waktu untuk menghindar dengan rumit. Hanya satu pilihan.

Aku meraih ramuan penyembuhan dengan tangan bebasnya, melemparkannya ke langit-langit sekuat tenaga. Botol pecah, cairan menyiprat ke mana-mana—termasuk ke mata Stalker itu.

Monster itu menjerit, kehilangan cengkeramannya, jatuh.

Aku melangkah maju, pedang vertikal, membiarkan gravitasi bekerja. Stalker itu menancap pada bilahku di tengah jatuhnya, berat dan momentumnya menancapkan pedang jauh ke dalam.

Tiga mati. Empat tersisa.

Tapi energiku semakin terkuras. Kehilangan darah, efek sisa racun, kelelahan dari mempertahankan panduan Azure Codex—semuanya mengejar ketinggalan.

Di depan, Kira dan Marcus berjuang dengan putus asa. Marcus berdarah dari beberapa luka, gerakannya melambat. Kira bertahan lebih baik, tapi bahkan ia pun menunjukkan kelelahan.

Si alfa akhirnya bergerak, menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukurannya. Tidak mengincar Kira atau Marcus—mengincarku.

Mengincar mata rantai yang paling lemah. Predator yang cerdas.

Azure Codex berdenyut dengan cepat—berusaha menunjukkan lintasan, pola, cara membalas. Tapi aku sudah terlalu lelah untuk memproses. Pandangan berputar, kaki hampir tidak bisa menopang berat badan.

Si alfa melompat, cakar terentang, rahang terbuka menampilkan deretan gigi seperti pisau cukur.

Aku mengangkat pedang dalam tangkisan yang putus asa—

Benturan itu tidak pernah datang.

Sebuah sosok muncul dari tidak mana-mana—Lyra, bergerak dengan kecepatan yang mengaburkan. Pedang pendeknya berkelebat, memotong serangan si alfa di tengah lompatannya, mengalihkan terjangan ke samping. Si alfa menghantam dinding dengan raungan.

"APA—" Kira memulai, terkejut.

"Urusan belakangan!" Lyra membentak. "BERTARUNG DULU!"

Ia tidak menunggu respons. Sudah terlibat pertarungan dengan si alfa dalam kilatan serangan, bilahnya bergerak dengan presisi yang mencerminkan latihan ekstensif.

Tapi intervensinya membuka celah. Kira dan Marcus bersatu kembali, menekan serangan mereka pada tiga Stalker yang tersisa dengan semangat yang terbarui.

Sedangkan aku... aku hampir tidak bisa berdiri. Bahu mati rasa, pandangan berkedip masuk-keluar. Azure Codex berusaha membantu, tapi aku tidak mampu merespons.

Aku jatuh berlutut, pedang berdentang di tanah.

Hal terakhir yang kulihat sebelum kesadaran memudar: Lyra memenggal si alfa dengan satu tebasan yang bersih, kepala monster itu menggelinding di lantai tambang.

Kemudian kegelapan.

AFTERMATH

Aku terbangun dengan sakit kepala yang membelah dan bahu yang berdenyut dengan rasa sakit yang tumpul.

Bukan di tambang. Di suatu tempat dengan permukaan yang lembut. Kasur?

Aku memaksakan mata untuk terbuka. Langit-langit kayu, familiar. Kamar tamu Greenleaf Apothecary.

Sinar matahari merembes melalui jendela—siang, menurut sudutnya.

Sudah berapa lama aku tidak sadar?

Aku berusaha duduk—ide yang buruk. Rasa sakit meledak di bahuku, membuat pandanganku memutih sesaat.

"Jangan bergerak, bodoh," kata suara yang familiar. Gareth, duduk di kursi dekat kasur dengan ekspresi antara lega dan marah. "Kamu punya tiga laserasi dalam di bahu, keracunan racun yang hampir tidak sempat ditangani, dan kelelahan dari penggunaan mana berlebihan. Bergerak sekarang adalah tindakan bodoh."

"Quest..." aku bersuara, suara serak.

"Selesai. Tujuh Shadow Stalker diberantas. Kira dan Marcus mengkonfirmasinya." Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Tapi ada... komplikasi."

"Lyra," aku berkata, teringat. "Ia ikut campur."

"Ya. Dan itu menimbulkan pertanyaan." Ekspresi Gareth menggelap. "Kira menuduhmu sudah mengatur bantuan sebelumnya, melanggar syarat quest. Mengklaim kamu curang."

Dadaku terasa sesak—bukan dari rasa sakit, melainkan dari amarah dan frustrasi. "AKU TIDAK mengatur apa pun! Ia datang sendiri!"

"Aku tahu." Gareth mengangkat tangan dalam gestur menenangkan. "Dan Lyra bersaksi hal yang sama—ia bertindak mandiri, tidak diminta olehmu. Tapi kerusakannya sudah terjadi. Reputasimu di Guild... menjadi rumit sekarang."

Sialan. SIALAN.

Aku sudah bertahan, menyelesaikan quest yang tidak mungkin, dan masih disebut penipu.

"Ada kabar baiknya," Gareth melanjutkan dengan senyum kecil. "Poin kontribusi dari quest itu—sebagai peserta dalam penyelesaian peringkat C, kamu mendapat 100 poin. Digabung dengan 50 sebelumnya, totalnya 150. Cukup untuk promosi E-rank permanen."

Hiburan yang kecil. Tapi setidaknya sesuatu.

"Dan..." Gareth ragu sebentar. "Lyra meninggalkan ini untukmu."

Ia menyerahkan surat yang tersegel. Aku membukanya dengan hati-hati—pesan singkat dalam tulisan tangan yang elegan:

Kael—

Maaf sudah ikut campur. Tapi menyaksikanmu mati bukan pilihan.

Kamu punya potensi. Jangan buang-buang untuk membuktikan diri kepada orang-orang bodoh.

Fokus menjadi lebih kuat. Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya pada waktunya.

— L.

Kriptis. Khas.

Tapi ada kehangatan di dadaku. Meski ada komplikasi, meski ada tuduhan—aku sudah selamat. Dan mendapat pelajaran yang berharga.

Azure Codex berdenyut di dadaku—pelan, hampir seperti rasa bangga.

"Istirahat," Gareth berkata, bangkit. "Kamu punya waktu sebelum langkah berikutnya. Gunakan untuk memulihkan diri dan memikirkan masa depan."

Ia pergi, menutup pintu dengan bunyi klik yang lembut.

Aku menatap langit-langit, memproses segalanya.

Quest Shadow Stalker—selesai.

Reputasi—rusak tapi tidak hancur.

Peringkat—E permanen.

Pengalaman yang didapat—tak ternilai.

Dan yang paling penting: aku selamat. Melawan segala rintangan, melawan semua ekspektasi.

Itu harus berarti sesuatu.

Azure Codex berdenyut.

"Kita selamat," aku berbisik pada batu itu. "Ujian nyata pertama. Kita lulus."

Esok hari akan membawa tantangan baru. Tapi untuk sekarang—istirahat.

Pemulihan dulu.

Kemudian... Academy.

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!