Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Malam itu mereka tidur terpisah.
Bukan karena benci.
Tapi karena sama-sama sedang belajar menerima keadaan.
Om Daniel menatap sekeliling, ragu.
“Ada apa? Sejak tadi saat aku melangkah ke tenda aku dengar ribut dari rumah… apa yang terjadi?”
Om Daniel mengangguk pelan, wajahnya terlihat sangat kaget.
“Raka… ini gila! Aku nggak nyangka…”
Tiba-tiba, di tengah pembicaraan serius itu, Tante Lia nyeletuk dengan nada kaget tapi setengah bercanda:
“Eh… gimana pengantin prianya diganti? Hah… diganti?!”
Semua orang menatapnya, beberapa menahan tawa karena ketegangan yang baru saja terjadi.
Mama menatap Tante Lia dengan mata melotot.
“Lia… jangan bercanda sekarang! Ini serius!”
Tante Lia tersenyum tipis, menepuk bahu anak laki-laki dewasa yang ada di belakangnya.
“Andreas… gimana, kamu mau nggak gantiin pengantin pria? Daripada nanti malu-malu keluarga Dira…”
Semua mata tertuju pada sosok Andreas, laki-laki dewasa itu. Ia menelan ludah, wajahnya pucat dan terkejut.
“Kok aku sih… Mah?
Lah… siapa lagi anak Mami kan kamu… doang!” Andreas menatap semua orang dengan bingung, setengah marah tapi tak kuasa menahan ketawa yang muncul karena situasinya absurd.
Abah menatap Andreas dengan serius tapi mencoba tenang.
“Boleh deh… kalau Nak Andreas. Om mohon ya mau gantiin calon pengantin prianya… lagi om percaya sama kamu bisa jagain anak om” kata Abah pelan, setengah bercanda, setengah serius.
Andreas menatap Abah dengan wajah bingung dan kaget.
“Eh… serius? Aku… aku kan nggak kenal sama anak Om…”
Papa menepuk pundak Andreas pelan, menenangkan.
“Udah, nanti juga kenal kok. Santai saja, Andreas. Jangan tegang.”
Dira menunduk lebih dalam di pojok, matanya masih berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Andreas maupun Tante Lia.
“Ya Allah… ini gila…” bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Dalam hati Andreas berkecamuk.
Ini bukan rencana.
Ini bukan cinta.
Ini bukan keputusan yang dipikirkan matang.
Tapi semua mata menatapnya.
Om Daniel berdehem pelan.
“Le… keluarga ini lagi butuh pertolongan.”
Itu yang membuatnya diam.
Bukan karena cinta.
Bukan karena kesiapan.
Tapi karena rasa tanggung jawab.
Sebelum akad dimulai, Andreas sempat mendekati Dira.
“Dira… kamu yakin?”
Dira menggeleng pelan, air mata jatuh.
“Aku juga nggak tahu harus gimana…”
Andreas menarik napas panjang.
“Aku nggak mau kamu merasa ini paksaan.”
Dira menatapnya, suara lirih.
“Aku juga nggak mau kamu terpaksa…”
Sunyi.
Suara tamu di luar terdengar samar.
Akhirnya Andreas berkata pelan,
“Kalau kita jalanin… kita jalanin baik-baik. Tapi kita harus jujur sama perasaan masing-masing. Jangan ada yang merasa terjebak.”
“Bukan marah… cuma… ini terlalu cepat.”
Om Daniel mengangguk.
“Papa tahu. Tapi kadang hidup nggak kasih kita waktu mikir.”
Andreas menatap langit gelap.
“Aku takut nggak bisa jadi suami yang baik… karena aku pernah gagal”
Pagi itu terasa berbeda.
Setelah sarapan sederhana—nasi hangat, telur dadar, dan sambal buatan Mama—suasana meja makan sedikit hening. Tidak ada lagi ketegangan besar seperti hari pernikahan, tapi masih ada rasa canggung yang tersisa.
Andreas meletakkan sendoknya pelan.
"Bah… ada yang mau saya bicarakan"
Abah mengangkat wajahnya.
"Iya Nak. Apa?"
Andreas menarik napas pelan.
"Saya… harus kembali ke kota lusa. Pekerjaan lagi banyak. Saya nggak bisa izin terlalu lama"
Mama yang duduk di ujung meja menatapnya pelan.
"Dira ikut?" tanyanya lembut.
Andreas mengangguk.
"Kalau Abah dan Mama mengizinkan… saya ingin membawa Dira tinggal di rumah saya nanti siang. Biar dia mulai terbiasa juga. Dan… supaya saya bisa menjaga tanggung jawab saya sebagai suami"
Dira yang sejak tadi diam refleks menoleh. Jantungnya berdetak lebih cepat. Semua terasa terlalu cepat lagi.
Abah terdiam beberapa detik. Wajahnya serius tapi tidak keras.
"Rumah kamu di kota itu… kamu tinggal sendiri?"
"Iya"
Abah mengangguk pelan.
"Kamu yakin sudah siap bawa anak saya?"
Andreas tidak langsung menjawab. Ia menatap Dira sebentar lalu kembali ke Abah.
"Saya belum sempurna Bah. Tapi saya akan belajar. Saya nggak mau Dira merasa sendirian atau bingung tentang pernikahan ini"
Suasana hening.
"Namanya juga sudah menikah Bah. Memang sudah waktunya ikut suami" ucap Mama lembut.
Abah menghela napas panjang.
"Baiklah. Abah maklum. Pekerjaan itu tanggung jawab juga. Tapi satu hal…"
Andreas menegakkan duduknya.
"Jaga Dira baik-baik. Dia belum sepenuhnya pulih dari semua kejadian kemarin"
Andreas mengangguk mantap.
"Saya janji Bah"
Siang hari koper kecil sudah disiapkan. Mama memeluk Dira lama sekali.
"Jangan gengsi kalau ada apa-apa. Telepon Mama"
"Iya Ma…"
Abah menepuk bahu Andreas.
"Mulai hari ini kamu bukan cuma menantu. Kamu kepala keluarga"
"Iya Bah"
Saat mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Dira menoleh ke belakang. Kampung yang sejuk itu perlahan menjauh.
Di sampingnya Andreas menyetir dengan tenang.
"Dira"
"Iya?"
"Rumah itu mungkin kecil"
Setelah 1 jam berkendara mobil berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar dua lantai di komplek yang cukup tenang.
“Ini… rumahnya?” tanya Dira pelan.
“Iya” jawab Andreas sambil mematikan mesin. “Nggak besar, tapi nyaman”
Dira turun perlahan. Rumah itu menurut dia besar, catnya putih bersih, ada pot tanaman kecil di teras.
Begitu pintu dibuka…
Dira langsung terdiam.
Ruang tamu rapi. Terlalu rapi. Seperti rumah yang jarang dihuni.
“Kamu… tinggal sendiri ya?” tanya Dira.
“Iya. Jadi ya… begini” Andreas menggaruk tengkuknya, sedikit malu.
Dira berjalan pelan ke dapur.
Dan di situlah momen lucunya muncul.
“Ini… kamu nggak pernah masak?” Dira membuka lemari dapur.
Isinya cuma:
mie instan
kopi sachet
roti tawar
dan satu wajan kecil
Andreas batuk kecil.
“Aku biasanya makan di luar”
Dira menatapnya dengan wajah tak percaya.
Dira masih berdiri di depan lemari dapur yang isinya minimalis ekstrem.
"Jadi… selama ini kamu hidup dari mie instan dan kopi sachet?"
"Kadang tambah telur kalau lagi niat"
"Ya ampun… pantes kurus"
"Eh ini badan ideal"
Dira mengambil satu bungkus mie instan dan mengibaskannya ke arah Andreas.
"Baiklah Pak Suami. Mulai hari ini dapur ini akan mengalami revolusi"
"Kamu bisa masak?"
"Bisa dong. Minimal nggak cuma mie instan"
Setelah itu mereka kembali keruang tengah dan
Andreas membawa koper Dira ke kamar utama siikuyi Dira dibelakangnya
“Kita… tidur di sini,” katanya hati-hati.
Dira langsung kaku.
Kamar itu rapi. Tempat tidurnya besar. Terlalu besar untuk situasi canggung seperti ini.
Andreas berdiri beberapa detik, lalu berkata,
“Kalau kamu nggak nyaman… aku bisa tidur di sofa dulu”
Dira menghela napas.
“Enggak… kita kan sudah sepakat pelan-pelan”
Andreas mengangguk
Sore itu, untuk pertama kalinya mereka keluar bersama sebagai pasangan suami istri.
Ke Supermarket dekat komplek.
Dira mendorong troli kecil, sementara Andreas berjalan di sampingnya.
“Ambil sayur” kata Dira
Andreas terlihat kebingungan di rak sayuran.
“Ini bayam atau kangkung?”
Dira tertawa.
“Kamu serius nggak bisa bedain?”
“Aku anak kantor, bukan anak pasar”
Dira menggeleng sambil tersenyum.
Dan tanpa sadar, jarak canggung di antara mereka mulai mengecil.