Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @pixysoul @xizou.art
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Kakek Seno?" sapa Dafsa canggung, nggak nyangka kakek Arcila dateng ke kiosnya.
Satu pertanyaan, mau apa? Dafsa udah deg-degan, tapi dia tetep berusaha tenang. "Div, beliin minum, ya," bisiknya pada Diva yang masih bengong.
Untungnya Diva langsung ngangguk, sadar kalau sekarang mereka lagi kedatengan tamu agung. Diva cuma ngangguk tipis, terus lari seribu langkah nyari minuman seger sama makanan terenak di Blok M.
"Ternyata begini suasana di kios kamu. Rame, sedikit berantakan." Itu bukan sindiran, cuma komentar kecil berdasarkan fakta yang ada.
Dafsa buru-buru beresin semua kertas yang berserakan di lantai. Dia ngomel dalam hati. Mulai besok, Dafsa bakalan denda siapa pun yang buang sampah sembarangan di kiosnya.
Aduh, Dafsa jadi gugup begini. Dia nggak sadar mau banget nunjukin citra paling baik di depan Suseno.
"Maaf, Kek, saya baru selesai," kata Dafsa jujur. Sampah udah dibuang ke tempatnya. Dia juga udah cuci tangan, barangkali Suseno nggak mau salaman kalau tangan Dafsa masih penuh bakteri.
"Kamu bisa mengabulkan semua permintaan tidak masuk akal dari klien kami itu, Daf?" tanya Suseno semacam wawancara. Rasa penasarannya terhadap Kios Makcomblang Dafsa sangatlah besar.
"Ada yang bisa, ada juga yang tidak, Kek. Kalau kriteria klien saya masuk akal, saya masih bisa ngasih mereka yang terbaik. Tapi kalau tidak ... saya akan bicara baik-baik," jawab Dafsa dengan tutur kata sesopan mungkin.
"Tapi kamu bisa membantu Tania mendapatkan jodoh, Daf. Suaminya pilot."
"Itu karena Mbak Tania punya privilege dan pendidikan yang bagus, Kek. Selain kejujuran, hal terpenting lainnya di kios saya adalah kesetaraan."
Suseno ngangguk-ngangguk, paham banget sama penjelasan Dafsa, dan dia puas. Ternyata emang bener kalau Dafsa sepinter dan sebijak itu. Dafsa nggak sembarangan jodoh-jodohin orang.
Selain kecocokan dari fisik, sifat, pendukung lainnya pun harus sama cocoknya. Nggak boleh berat sebelah. Sekufu itu wajib, biar nantinya semua pasangan yang dijodohin Dafsa bisa awet hubungannya, nggak cuma sekedar singgah terus pisah.
"Kamu sama Cila bagaimana, Daf? Siapa yang pertama kali menyatakan perasaan."
Aduh, mati!
Astaghfirullah.
Dafsa langsung istighfar. Selama dua detik dia masang senyum, tanda lagi mikir keras.
"Arcila, ya?" Suseno menebak. "Kakek tahu sekali watak Arcila. Kalau mau sesuatu, dia akan berjuang sampai akhir. Nggak peduli sama yang namanya rintangan. Akan dia trabas semuanya."
Iya lagi. Dafsa mendadak pengen ngadu sama Suseno, kalau dia adalah satu-satunya korban Arcila yang diperjuangkan mati-matian, dalam konteks yang agak lain.
‘Kek, saya diancam Arcila.’ Atau .... ‘Kek, cucu Kakek gila. Dia harus berobat ke psikolog.’
Sayangnya, Dafsa cuma bilang semua kalimat itu dalam hati. Dia nggak sanggup ngomong jujur, padahal kalau mau, ini kesempatan bagus buat lepas dari Arcila dan segala dramanya yang luar biasa nggak masuk akal.
"Kamu punya daya pikat yang luar biasa, Daf, wajar kalau Arcila sampai ngejar-ngejar."
Dafsa nyengir lagi. Sayangnya dia nggak bisa bilang, kalau emang bener cucu semata wayang Suseno itu punya obsesi lumayan aneh sama diri Dafsa. Tapi bukan buat jadiin Dafsa pasangan sesungguhnya. Arcila cuma mau untung dari Dafsa.
"Usaha ini akan berkembang pesat, Daf. Suatu saat, Kios Makcomblang Dafsa akan melegenda, bukan di seputaran Jaksel, tapi ke ranah yang lebih luas dari itu. Lebih besar dari hotel keluarga Astoria yang sejak dulu Kakek kelola."
Muka Dafsa udah merah. Seneng? Jelas! Siapa sih yang nggak melayang kalau dipuji-puji kayak gini sama pengusaha sukses bin tajir melintir kayak Suseno? Kalau punya sayap, udah pasti Dafsa bakalan terbang ke langit terus teriak sekenceng-kencengnya.
"Makasih, Kek, insya Allah saya akan terus mengembangkan kios ini."
Habis Dafsa ngomong begitu, Diva muncul bawa dua gelas minuman, yaitu Teh Mbah. Itu nama kedai di pujasera langganan Dafsa. Tehnya enak, nggak cuma tawar, tapi juga ada aroma melati yang khas. Selain itu, Diva juga bawain dimsum ayam sama martabak manis. Beneran cuma makanan sederhana, tapi soal rasa nggak usah ditanya. Udah pasti juara.
"Ini adik saya, Kek, namanya Diva." Dafsa memperkenalkan langsung.
Diva nyapa Suseno. "Salam kenal, Kek." Suaranya pelan, nggak kayak biasanya yang volume suaranya bisa ngalahin toa masjid deket rumah mereka.
"Kamu mahasiswi kedokteran UI?" tanya Suseno kelihatan bangga.
"Betul, Kek. Senang bisa bertemu Kakek."
Suseno juga ngangguk-ngangguk, sama senengnya. Dia ngasih beberapa wejangan buat Diva. Cuma lima menit, soalnya Diva harus buru-buru pulang. Hari ini Sri lagi puasa sunnah, dan udah pesen pengen dibawain buat bukaan dari pujasera Blok M.
Habis Diva pergi, obrolan makin berubah. Suseno nanyain soal kakek Dafsa, satu hal yang bikin Dafsa nggak paham. Tapi dia tetep jawab semua pertanyaan itu dengan sejujurnya.
"Dulu kakek saya guru madrasah, Kek, beliau juga punya sawah."
"Pernah tinggal di luar kota?"
"Kata Ibu pernah, Kek, tapi itu dulu sekali waktu saya belum lahir," jawab Dafsa nggak pake bohong.
Suseno cuma ngangguk-ngangguk aja. Lagi, Dafsa bingung. Soalnya habis dapet jawaban itu, Suseno langsung pamitan.
Dafsa bengong sebentar, mikir keras terus ngambik kesimpulan kalau sampai mana pun, dia nggak akan pernah bisa ngerti sama jalan pikir orang kaya.
Di mata Dafsa, mereka semua absurd.
***
Dafsa pulang dengan keadaan capek. Hari ini ujiannya banyak banget. Dafsa udah niat habis mandi air anget, dia mau langsung tidur, toh udah sholat isya juga di perjalanan.
Tapi, tapi, tapi .... Hidup Dafsa emang nggak pernah berjalan mulus, terutama setelah dia kenal sama perempuan yang namanya Arcila.
Baru sampe di rumah, Dafsa denger suara Arcila. Jantungnya berdebar nggak karuan. Dia batal buka helm, ada niatan mau puter balik ke masjid, tidur bentaran di sana buat jernihin otaknya sebelum kerja lagi besok.
"Mas Dafsa!" sambutan Arcila yang beneran ramah, seolah emang mereka udah sedeket nadi, bikin Dafsa bengong sebentar.
Perempuan itu lari kecil. Senyumnya yang lebar, tingkahnya yang manja bikin Dafsa suudzon duluan.
"Dia pasti punya rencana aneh lagi," kata Dafsa dalam hati.
Ah, Dafsa capek. Dia terlanjur pulang ke rumah. Buat bikin semuanya jadi lebih mudah, Dafsa punya niat ngeladenin sifat Arcila.
Ayo kalau dia mau manja-manjaan, Dafsa bakal jabanin sampe tuntas!
"Kamu ada di sini, Sayang?" tanya Dafsa nggak cuma bales senyum Arcila, tapi juga narik perempuan itu terus meluk pinggangnya.
Dafsa mau banget ketawa, soalnya Arcila sempet bengong kayak orang linglung. Iyalah, dia pasti kaget karena ini kali pertama buat Dafsa ngimbangin sikapnya yang ada-ada aja.
"Eh?" Arcila berusaha fokus. Dia normal, udah pasti ngerasain namanya getaran waktu disentuh lelaki semaskulin Dafsa. "Aku ... habis nganterin makanan buat Ibu," tambahnya masuk ke rumah.
Sri yang lagi kupas buah-buahan yang dibawa Arcila, kontan ngeliatin kemesraan Dafsa sama Arcila. Ini juga kali pertama buat Sri nyaksiin anaknya terang-terangan gandeng cewek.
Sementara itu, Diva udah melongo. Untung aja gelas di tangannya nggak merosot ke bawah. Diva buru-buru masang muka biasa aja, takut Sri sadar ada ekspresi kaget di mukanya yang polos.
"Mas capek, ya?" Arcila ngasih segelas es teler buat Dafsa.
"Iya, hari ini klien di kios aneh-aneh. Mereka banyak maunya," keluh Dafsa nggak bisa nahan diri. "Omong-omong, makasih es telernya, Sayang."
Uhuk!
Arcila batuk-batuk, padahal dia nggak lagi makan atau minum. Dia keselek ludahnya sendiri.
"Kamu nggak bilang mau ke sini," lanjut Dafsa berusaha banget nggak ketawa ngakak.
"Eh, anu, itu, Mas, aku mau nagih omongan Mas yang waktu itu."
Kening Dafsa berkerut. Radar waspadanya udah kepasang kuat. Sekarang apalagi, ya?
"Yang mana sayang? Mas lupa. Coba kamu ingetin Mas lagi," kata Dafsa, sebenernya udah jengkel. Kemauan gila apalagi yang harus Dafsa turutin?
"Soal Mas yang mau nikahin aku. Katanya Mas janji kita nikah akhir tahun ini. Mas udah bilang ke Ibu belum?"
Bukan cuma Dafsa yang melotot kaget, tapi Diva sama Sri juga ngelakuin hal yang sama. Dafsa sampe ngerasa kerukan kelapa sama potongan nangka kayak batu yang tajem dan pastinya susah ditelen.
Barusan Arcila bilang apa? Dafsa ada janji nikahin dia?!