Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PERNIKAHAN KUTUKAN
Keheningan di ruang makan yang megah itu terasa semakin menindas setelah piring-piring perak dibersihkan oleh para pelayan yang bergerak sehalus bayangan. Dante menyeka bibirnya dengan serbet kain sutra hitam, lalu menyandarkan tubuh tegapnya ke kursi kebesarannya. Ia menatap Alana yang masih duduk kaku, tampak seperti seekor kelinci yang terjebak di depan sang serigala.
"Nanti sore akan ada tim penata rias dan desainer yang datang ke sini," ucap Dante memecah kesunyian. Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Mereka akan mendandanimu dengan benar."
Alana langsung menoleh, alisnya bertaut rapat dengan dahi yang berkerut bingung. "mendandaniku? Untuk apa, Tuan? Aku tidak berencana pergi ke mana pun."
Dante menyesap sisa kopi hitamnya, matanya menatap Alana dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa telanjang. "Malam ini, kita akan menikah."
Deg!
Jantung Alana seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya melotot lebar, menatap Dante dengan horor yang nyata. Kursi yang didudukinya berderit saat ia tersentak mundur. "M-menikah? Apa maksudmu? Aku tidak mau, Tuan! Ini gila!"
Dante tidak terkejut dengan reaksi itu. Ia justru menatap tajam Alana, tatapan yang seketika membungkam protes gadis itu. "Apa aku terlihat sedang meminta persetujuan darimu, Alana?" Dante bangkit, tinggi tubuhnya seolah menelan cahaya di ruangan itu. "Ingat posisimu. Kau sudah menjadi milikku sejak pamanmu menyerahkanmu di gudang tua itu. Aku tidak butuh izin dari barang milikku untuk melakukan apa pun."
Alana menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi pernikahan bukan seperti ini... aku tidak mengenalmu, aku tidak mencintaimu!"
Dante melangkah mendekat, mengitari meja makan hingga ia berdiri tepat di hadapan Alana yang gemetar. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Alana, mengurung gadis itu dalam ruang geraknya. "Cinta adalah dongeng untuk orang lemah, Alana. Di duniaku, yang ada hanya kepemilikan."
Dante harus segera pergi karena ada urusan mendesak dengan organisasi bawah tanahnya terkait pengkhianatan di pelabuhan, namun sebelum ia beranjak, hå§rå† yang ia tahan sejak tadi meledak. Tanpa peringatan, ia mêñ¢êñgkêråm rahang Alana dengan satu tangan dan mendaratkan ¢ïµmåñ yang sangat mêñµñ†µ† di ßïßïr merah gadis itu.
Mata Alana membelalak tak percaya. Ini bukan sekadar §êñ†µhåñ bibir; ini adalah klaim yang kå§år dan posesif. Ia bisa merasakan aroma tembakau dan kopi dari napas Dante. Tubuhnya membeku, otaknya seolah berhenti berfungsi karena syok—ini adalah pertama kalinya seorang pria mêñɏêñ†µh bibirnya dengan cara seperti ini.
Begitu Dante melepaskan †åµ†åñ bibir mereka dengan suara kecipak yang pelan, Alana †êrêñgåh-êñgåh. Kesadarannya kembali dengan rasa amarah yang membuncah. Tanpa berpikir panjang, tangannya melayang dan...
PLAK!
Suara †åmþåråñ keras menggema di ruang makan yang sunyi. Pipi Dante terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang perlahan muncul di kulitnya yang tegas.
"Menjijikkan!" teriak Alana dengan suara bergetar karena emosi. Ia menatap Dante dengan tatapan penuh kebencian. "Itu first kiss aku! Bagaimana bisa kau mengambilnya begitu saja secara þåk§å? Kau benar-benar monster!"
Dante perlahan memutar kepalanya kembali menatap Alana. Alih-alih marah karena ditampar oleh seorang gadis polos, sebuah senyum miring—smirk yang berbahaya—terpahat di wajah tampannya. Di dalam hatinya, ada percikan kepuasan yang aneh saat mengetahui bahwa dialah pria pertama yang mêñ¢ï¢ïþï bibir manis itu. Dialah yang pertama menghancurkan kê§µ¢ïåñ Alana.
"First kiss?" Dante tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kalau begitu, aku harus bangga karena telah menjadi pemenangnya."
Dante mendekatkan wajahnya ke telinga Alana yang memerah karena marah. "Simpan tenagamu untuk nanti malam, Little Girl. Karena setelah pernikahan nanti, kau akan merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih þåñå§ daripada sekadar ¢ïµmåñ di bibir."
Mata Alana berkilat marah. Ia merasa Ðïlê¢êhkåñ secara terang-terangan. Ia mengangkat tangannya lagi, berniat memberikan tamparan kedua pada pria sombong itu. Namun, kali ini Dante jauh lebih sigap. Dengan gerakan secepat kilat, ia menangkap pergelangan tangan Alana di udara, mêñ¢êñgkêråmñɏå dengan kuat hingga Alana merintih pelan.
"Aku sudah membiarkanmu menamparku sekali karena kejutan first kiss-mu itu dan karena aku sedang berbaik hati," desis Dante dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. " Tidak akan ada yang kedua kalinya, little girl. Belajarlah untuk patuh jika kau tidak ingin aku bersikap lebih kasar. ”
Dante menghempaskan tangan Alana dengan kasar, lalu berbalik dan merapikan lengan kemejanya yang sedikit berantakan. "Adam! Mari kita pergi!" serunya tanpa menoleh lagi.
Adam, tangan kanan Dante yang sejak tadi berdiri diam seperti bayangan di sudut ruangan, segera membungkuk hormat. "Baik, Tuan. Mobil sudah siap di depan."
Dante melangkah pergi dengan aura kegelapan yang mengekor di belakangnya, meninggalkan Alana yang langsung ambruk ke lantai. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah seketika. Ia merasa kotor, merasa harga dirinya telah diinjak-injak, dan yang paling menakutkan adalah kenyataan bahwa beberapa jam lagi, ia akan terikat secara sah dengan pria yang paling ia takuti di dunia ini.
"Ayah... Ibu... tolong aku..." isaknya di tengah keheningan mansion yang terasa semakin mencekik.
***
Tangis Alana belum benar-benar reda ketika pintu kamarnya diketuk dengan ritme yang teratur. Tiga orang wanita berseragam hitam dengan tas kosmetik besar masuk tanpa menunggu izinnya. Mereka adalah tim penata rias terbaik yang bisa dibeli dengan uang Dante.
"Nona Alana, mari kita bersiap. Waktunya terbatas," ucap salah satu dari mereka dengan nada profesional yang dingin.
Alana hanya bisa pasrah. Ia ditarik ke kursi rias, wajahnya dibersihkan, dan rambutnya mulai ditata. Setiap polesan brush di wajahnya terasa seperti luka baru. Ia melihat pantulan dirinya di cermin; matanya sembab, namun penata rias itu dengan lihai menutupinya dengan concealer. Gaun pengantin yang disiapkan adalah sebuah mahakarya sutra putih dengan punggung terbuka dan taburan berlian kecil di bagian dada—gaun yang sangat indah, namun bagi Alana, itu adalah kain kafan bagi masa depannya.
Setelah dua jam yang terasa seperti siksaan, seorang sopir berpakaian rapi sudah menunggunya di depan pintu mansion. "Nona, Tuan sudah menunggu Anda," ucapnya datar.
Mobil limousine hitam itu membawa Alana menuju sebuah gereja tua bergaya Gotik di pinggiran kota. Gereja itu terpencil, sunyi, dan dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata di setiap sudutnya. Tidak ada tamu, tidak ada bunga berwarna-warni. Hanya ada aura kematian dan otoritas.
Pintu gereja yang besar terbuka perlahan. Alana melangkah masuk sendirian. Di ujung altar, berdiri sosok pria yang paling ia benci sekaligus ia takuti. Dante Volkov tampak sangat maskulin dalam balutan tuxedo hitam sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan tatapan matanya yang sebiru es mengunci sosok Alana sejak langkah pertama.
Dante sempat tertegun sesaat. Alana terlihat sangat cantik, murni, namun sorot matanya yang redup dan penuh kesedihan memberikan kontras yang menyayat hati. Namun, bukannya merasa kasihan, Dante justru merasa puas.
Saat Alana sampai di depan altar, Dante mengulurkan tangannya yang besar. Alana ragu, tangannya gemetar hebat, namun Dante segera menyambar jemari dingin gadis itu dengan kuat, memaksanya berdiri berdampingan.
"Jangan tunjukkan wajah menyedihkanmu di depan Pastor, Little Girl," bisik Dante sangat rendah hingga hanya Alana yang bisa mendengarnya. "Tersenyumlah, atau pamanmu akan membayar air matamu ini dengan nyawanya."
Alana menelan ludah, suaranya tercekat. "Kau monster, Dante. Pernikahan ini tidak akan pernah sah di mataku."
"Sah atau tidak, kau tetap milikku," sahut Dante dengan senyum miring yang mematikan.
Pastor tua yang berdiri di depan mereka mulai membuka kitab suci dengan tangan gemetar. Ia tahu siapa pria yang berdiri di hadapannya—seorang raja mafia yang tidak mengenal hukum Tuhan.
"Saudara Dante Volkov," suara Pastor bergema di ruangan yang sunyi. "Apakah engkau bersedia menerima Alana George sebagai istrimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
Dante menatap mata Alana dengan intensitas yang seolah bisa menembus sukma gadis itu. "Aku bersedia," jawabnya tegas, tanpa keraguan sedikit pun. "Dan tidak akan ada maut yang bisa memisahkannya dariku kecuali aku yang mengizinkannya."
Pastor itu berdeham gugup, lalu beralih ke arah Alana. "Dan saudari Alana George, apakah engkau bersedia menerima Dante Volkov sebagai suamimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
Hening menyelimuti gereja itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Alana merasakan remasan tangan Dante di jemarinya menguat, sebuah peringatan bisu. Ia melihat ke arah pintu gereja di mana anak buah Dante berdiri berjaga dengan tangan di balik jas mereka.
"Aku..." Alana menjeda, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. "...aku bersedia."
Suaranya sangat kecil, nyaris menyerupai bisikan kematian.
"Dengan wewenang yang ada padaku, aku nyatakan kalian sebagai suami istri," ucap Pastor dengan cepat, seolah ingin segera mengakhiri ritual mencekam ini. "Silakan, Tuan, Anda boleh mencium mempelai wanita."
Dante tidak menunggu lama. Ia menarik pinggang Alana hingga tubuh mungil gadis itu menempel sempurna pada dada bidangnya. Ia mêñ¢êñgkêråm dagu Alana, mêmåk§åñɏå menengadah.
"Selamat datang di duniaku yang indah, Nyonya Volkov," bisik Dante sebelum kembali mêlµmå† ßïßïr Alana dengan rakus di depan altar suci itu.
Alana tidak membalas. Ia hanya terdiam, memejamkan mata dengan air mata yang terus mengalir. Ia tahu, mulai detik ini, tidak ada lagi jalan pulang. Ia bukan lagi Alana yang bebas; ia telah resmi menjadi tawanan abadi sang predator dingin dalam sebuah ikatan suci yang terasa seperti kutukan.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄