NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14; JARINGAN YANG SEMAKIN RUMIT

 

Hening yang mencekam menyelimuti kamar tidur Putri. Jari-jarinya masih terasa dingin saat menatap layar ponsel yang menampilkan pesan singkat namun penuh makna dari Bang Rio. Kamu pintar, Nyonya muda. Tapi jangan meremehkan serigala tua.

Putri tidak langsung membalas. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu betul bahwa setiap kata yang keluar—baik lisan maupun tulisan—bisa menjadi bukti atau jebakan. Jika dia membalas, dia mengakui bahwa dia tahu siapa pengirimnya dan apa yang dimaksud. Jika dia mengabaikannya, dia mungkin melewatkan kesempatan untuk mengetahui niat sebenarnya dari khalifah kepercayaan Pak Hidayat itu.

Perlahan, Putri mematikan layar ponselnya dan menyimpannya di dalam laci meja rias, lalu menguncinya. Dia perlu berpikir jernih.

"Bang Rio..." bisiknya pelan. "Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa melepaskanku? Kenapa mengirim pesan ini tapi tidak melaporkanku?"

Berbagai teori melintas di benaknya. Mungkin Bang Rio memang mulai ragu dengan Pak Hidayat, seperti yang dikatakan Nina. Mungkin dia melihat sesuatu pada Putri, atau mungkin dia punya dendam tersendiri terhadap bosnya. Atau... ini semua adalah jebakan yang lebih besar. Mungkin Pak Hidayat menyuruhnya menguji Putri, melihat seberapa jauh keberanian dan kecerdikan istri mudanya.

Putri menghela napas panjang. Dia tidak akan mengambil risiko membalas pesan itu sekarang. Dia akan menyimpannya sebagai bukti, dan menunggu. Jika Bang Rio ingin berkomunikasi lebih lanjut, dia akan memberi tanda lagi. Sementara itu, Putri harus fokus pada ancaman yang lebih nyata dan terang-terangan: Pak Darmawan.

Pria itu sudah mencurigainya. Tuduhan di ruang tamu tadi bukan tanpa alasan. Pak Darmawan tahu sesuatu, atau setidaknya dia punya insting tajam bahwa Putri bukan wanita biasa. Putri tahu dia harus berhati-hati. Setiap gerak-geriknya akan diawasi, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.

Malam itu, saat Rizky pulang, wajahnya terlihat lelah dan penuh beban. Masalah di pelabuhan ternyata tidak mudah diselesaikan. Meskipun Pak Darmawan sudah mengerahkan semua koneksi dan uang untuk "melumasi" pihak berwenang, tim bea cukai dan polisi tetap bersikeras melakukan penyelidikan karena bukti yang dikirimkan—foto-foto dari Putri—terlalu kuat dan kredibel.

"Bagaimana, Rizky?" tanya Putri lembut saat menyuguhkan teh hangat untuk suaminya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.

Rizky mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Putri dengan mata yang sayu. "Sulit, Putri. Sangat sulit. Ayah sangat marah. Kerugian materi saja tidak seberapa, tapi reputasi kita di mata mitra bisnis bisa hancur jika masalah ini bocor ke media."

Dia menatap Putri dalam-dalam, seolah mencari jawaban di sana. "Kami masih menyelidiki siapa yang mengirim laporan itu. Bang Rio sedang memeriksa ulang semua rekaman CCTV di pelabuhan dan sekitarnya, tapi dia bilang sumber emailnya sulit dilacak karena menggunakan server anonim."

Putri duduk di samping Rizky, menahan detak jantungnya agar tetap stabil. "Benarkah? Pintar juga orangnya," ucapnya santai, seolah dia hanya orang luar yang membahas berita. "Tapi kenapa Pak Darmawan begitu yakin kalau aku yang melakukannya? Apa dia punya bukti?"

Rizky menggenggam tangan Putri, mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Dia tidak punya bukti sama sekali, Putri. Dia hanya curiga karena kamu sempat hilang sebentar kemarin. Tapi aku sudah bilang padanya, itu tidak masuk akal. Kamu tidak tahu apa-apa soal bisnis ini, apalagi soal cara melacak server anonim dan semacamnya. Itu butuh keahlian khusus."

Putri tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu Rizky. "Syukurlah kamu percaya padaku, Rizky. Aku jadi sedih kalau ada yang berpikir aku bisa berbuat jahat seperti itu." Dalam hati, dia berterima kasih karena Rizky begitu yakin bahwa istrinya "tidak tahu apa-apa". Justru ketidaktahuan yang diasumsikan itulah yang menjadi tameng terbaiknya saat ini.

"Aku akan selalu percaya padamu," bisik Rizky, lalu mengecup puncak kepala Putri. "Tapi tolong, untuk beberapa waktu ke depan, jangan pergi ke mana-mana sendirian, ya? Terutama keluar rumah. Aku tidak ingin Pak Darmawan mencari-cari kesalahanmu lagi. Dan aku tidak ingin kamu berada dalam bahaya."

"Aku janji, Rizky. Aku akan di rumah saja," jawab Putri patuh.

Namun, rencana Putri tidak semudah yang dikatakannya. Dia butuh informasi lebih lanjut. Dia butuh tahu seberapa jauh penyelidikan mereka, dan dia butuh memastikan bahwa bukti yang dia kirimkan cukup kuat untuk menjerat Pak Hidayat di kemudian hari.

Keesokan harinya, Putri berpura-pura santai. Dia menghabiskan pagi dengan mengajari Rara membaca di perpustakaan rumah. Namun, pikirannya terus bekerja. Dia membutuhkan Nina. Dia butuh tahu apakah Nina mendapatkan informasi baru dari kantor, terutama soal Bang Rio dan Pak Darmawan.

Siang harinya, kesempatan itu datang. Nina datang ke rumah untuk mengantar beberapa dokumen pribadi milik Rizky yang tertinggal. Putri segera mengajak Nina ke taman belakang, tempat yang agak terpencil dan aman dari pembicaraan orang lain.

"Putri, aku khawatir sekali," bisik Nina segera setelah mereka duduk di bangku taman. "Situasi di kantor sangat tegang. Pak Darmawan menyuruh orang memeriksa semua aktivitas kita belakangan ini. Dia bahkan bertanya padaku tentang jadwalmu kemarin pagi, saat kita pergi ke kota tua."

Jantung Putri berdegup kencang, tapi dia tetap tenang. "Apa yang kamu katakan padanya?"

"Aku bilang aku sedang mengurus administrasi di kantor dan tidak pergi ke mana-mana. Aku juga bilang kamu meneleponku hanya untuk menanyakan lokasi toko bunga karena ingin membelikan bunga untuk kamar," jawab Nina cepat. "Untungnya, aku sudah menghapus semua jejak perjalanan kita di sistem mobil dinas. Dan aku memastikan tidak ada CCTV yang merekam wajahmu di sekitar warnet itu."

Putri menghela napas lega, menggenggam tangan Nina. "Terima kasih, Nina. Kamu benar-benar sahabat terbaikku. Tanpamu, aku pasti sudah hancur."

"Tapi ini berbahaya, Putri," lanjut Nina dengan wajah cemas. "Pak Darmawan tidak akan berhenti hanya karena aku berbohong. Dia curiga padamu. Dan soal Bang Rio... aku dengar dia meminta salinan rekaman CCTV di area kontainer kemarin. Tapi anehnya, dia melaporkan ke Pak Hidayat bahwa rekaman di area itu rusak dan tidak ada yang terlihat jelas."

Putri terkejut. "Dia bilang rusak? Padahal kan ada?"

"Ya. Itu yang membuatku bingung," kata Nina. "Kenapa dia berbohong? Jika dia menemukan bukti kamu ada di sana, dia pasti akan melaporkannya. Tapi dia malah menutupinya. Apa maksudnya?"

"Itu pertanyaan yang sama yang menghantuiku," jawab Putri pelan. Dia kemudian menceritakan pada Nina tentang pesan misterius yang dia terima tadi malam.

Nina ternganga mendengarnya. "Dia mengirim pesan itu? Dia tahu itu kamu? Tapi kenapa dia tidak melaporkanmu? Ini sangat aneh, Putri. Mungkin benar dugaanku, dia memang mulai membelot. Mungkin dia melihat kesempatan untuk menggulingkan Pak Hidayat lewat tanganmu."

"Atau mungkin ini jebakan," sanggah Putri. "Mungkin dia ingin aku merespons, lalu menggunakan pesan balasanku sebagai bukti."

"Kamu tidak membalasnya, kan?" tanya Nina panik.

"Tidak. Aku menyimpannya dan mengunci ponselku," jawab Putri. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh. Tapi aku merasa, Bang Rio adalah kunci dari sesuatu. Entah itu bahaya atau kesempatan, aku belum tahu."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Putri dan Nina langsung terdiam dan berpura-pura sedang membicarakan dekorasi bunga. Ternyata itu adalah Pak Hidayat. Dia sedang berjalan-jalan di taman dengan wajah yang masih terlihat murung dan tegang.

"Selamat siang, Ayah," sapa Putri sopan, berdiri dan menundukkan kepalanya. Nina juga ikut menyapa.

Pak Hidayat berhenti di depan mereka. Matanya menyapu Putri dan Nina bergantian, seolah sedang menilai mereka.

"Selamat siang," jawab Pak Hidayat datar. Dia menatap Putri lama. "Bagaimana kabarmu, Putri? Aku dengar kemarin kamu sempat khawatir karena ada keributan di rumah."

"Saya baik-baik saja, Ayah. Hanya sedikit kaget mendengar suara keributan kemarin," jawab Putri tenang. "Tapi Rizky sudah menjelaskan bahwa itu hanya masalah bisnis kecil."

"Masalah bisnis kecil..." ulang Pak Hidayat pelan, senyum miring terukir di wajahnya. "Ya, masalah kecil. Tapi kadang masalah kecil bisa menjadi besar jika ada orang yang suka mengaduk-aduknya. Kamu benar, Putri, dunia bisnis itu keras. Banyak mata-mata, banyak pengkhianat. Harus selalu waspada terhadap siapa saja, bahkan orang yang paling dekat sekalipun."

Kata-kata itu terdengar seperti peringatan halus. Apakah dia menuduhnya? Atau hanya sekadar curhat?

"Betul sekali, Ayah. Saya akan selalu ingat nasihat itu," jawab Putri sopan.

Pak Hidayat mengangguk pelan, lalu berjalan lagi meninggalkan mereka. Saat dia berjalan menjauh, Putri bisa melihat punggungnya yang terlihat lebih tua dan rapuh dari biasanya, meski aura kekuasaannya masih sangat kuat.

"Aduh, jantungku hampir copot," bisik Nina sambil memegang dadanya. "Kenapa tatapannya begitu menyeramkan ya? Seperti bisa membaca pikiran."

"Dia orang yang berpengalaman, Nina. Dia sudah bertahun-tahun bermain di dunia ini," jawab Putri pelan. "Kita harus lebih berhati-hati. Mulai sekarang, komunikasi kita harus lewat saluran yang lebih aman. Jangan lewat telepon biasa atau pesan singkat jika membahas hal penting."

"Baik, Putri. Aku mengerti," sahut Nina.

Sore itu, setelah Nina pergi, Putri kembali ke kamarnya. Dia merasa lelah, tapi pikirannya tidak bisa berhenti. Dia teringat pada Rizky. Pria itu begitu baik, begitu tulus mencintainya, dan membelanya tanpa syarat. Namun, dia juga putra dari musuh bebuyutannya.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benak Putri. Rizky punya usaha rahasia membantu anak-anak korban konflik mafia. Itu adalah sisi baiknya, sisi yang jauh dari kejahatan ayahnya. Mungkin... hanya mungkin... Rizky tidak sepenuhnya buta terhadap kejahatan ayahnya? Mungkin dia juga menderita karena itu?

Tapi Putri segera menepis pikiran itu. Tidak, Rizky selalu terlihat patuh pada ayahnya. Dia selalu berusaha menyenangkan Pak Hidayat. Atau... apakah itu hanya topengnya juga?

Putri teringat pada rencana selanjutnya. Dia sudah berhasil menggagalkan satu pengiriman. Tapi itu belum cukup. Pak Hidayat pasti punya banyak pengiriman lain. Dia harus terus mengumpulkan bukti. Dan mungkin, dia harus mulai mencari tahu lebih banyak tentang masa lalu, tentang kematian orang tuanya yang sebenarnya. Pak Darmawan tahu sesuatu—dia menyebutkan dia tahu rahasia itu. Mungkin Putri harus mulai mencari cara untuk mendekati Pak Darmawan, bukan untuk bekerja sama, tapi untuk memancing informasi darinya.

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!