Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Kita tinggalkan Luna yang sedang tertawa karena merasa mendapat ide untuk memenjarakan Sekar.
Sementara itu, Ilham mencari Sekar ke berbagai tempat yang dulu mereka kunjungi ketika Sekar masih remaja. Walau Ilham pun yakin bahwa mantan istrinya itu tidak datang ke tempat itu karena Sekar bukan wanita yang senang jalan-jalan tanpa ada tujuan yang penting. Apa lagi perginya tidak sendiri. Ada Arka, Rini, dan juga tiga tas besar yang mereka bawa. Seharian Ilham berputar-putar mencari Sekar walaupun sudah menyuruh orang tapi tidak puas jika tidak melakukan sendiri. Namun, hingga waktu berganti malam, Ilham tidak mendapatkan hasil.
"Rumah sakit," ucap Ilham lalu menjalankan mobilnya ke rumah sakit miliknya.
Dokter Ilham tiba di Rumah sakit yang biasanya ramai kini sunyi, hanya diterangi lampu darurat di setiap koridor. Ilham langsung menuju ruang praktik dokter spesialis anak yang menjadi tempat kerja Rayyan. Pintu masih sedikit terbuka, dan ia bisa melihat sosok lelaki itu sedang membaca berkas medis di mejanya.
"Rayyan," panggil Ilham dengan suara tegas, membuat yang punya nama yaitu Dokter Rayyan mengangkat kepala cepat.
"Dokter Ilham," Rayyan cepat berdiri ketika melihat wajah Ilham yang pucat dan lelah. "Apa yang terjadi, Dok?" Tanya Rayyan menatap bos nya itu. Lalu menyuruh Suster Intan agar menyuruh petugas membuat minuman untuk bos mereka.
"Baik, Dokter," Intan meninggalkan ruangan, membungkuk ketika melewati Ilham pemilik rumah sakit.
Ilham duduk lemah di kursi depan Rayyan. "Saya mencari Sekar sejak pagi, tapi tidak ada, apa mungkin hari ini ia bertugas?" Tanya Ilham penuh harap.
Wajah Rayyan tampak serius. Dia menutup berkas medis lalu menarik kursi menatap Ilham yang tepat berada di hadapannya. Ia sekarang tahu apa yang membuat Ilham terpuruk seperti itu. Pantas saja pagi tadi saat menghubungi dirinya Ilham seperti orang marah.
"Saya juga sudah menghubungi Sekar tapi handphone miliknya tidak aktif, Dok. Bahkan hari ini Sekar tidak masuk kerja, dan tidak memberi kabar," papar Rayyan tidak biasanya Sekar bersikap seperti itu.
"Tapi hanya kamu orang yang paling dekat dengannya, Ray, saya pikir kamu tahu. Lalu kira-kira di mana dia Ray?" Tanya Ilham dengan nada menuduh jika Rayyan sengaja menyembunyikan Sekar
"Benar Dok, tapi hari ini saya sama sekali tidak tahu Sekar pergi dari rumah jika bukan karena Dokter tadi pagi menghubungi saya," jujur Rayyan. Sekar memang tidak mengatakan jika akan pergi. Sebenarnya Rayyan tak kalah khawatir tentang Sekar. Ia yakin jika Sekar ada masalah besar hingga pergi tidak menghubungi dirinya. Sebenarnya Rayyan ingin mencarinya tapi pasien di rumah sakit ini lebih membutuhkan perawatan. Lagi pula ia yakin, Sekar bisa melindungi dirinya sendiri.
"Kira-kira ada tempat yang ia jadikan tempat tinggal Ray?"
"Sebelum tinggal di rumah Dokter ia kost Dokter."
"Mana alamatnya?" Potong Ilham cepat, ia minta alamat dan juga nomor handphone Sekar.
"Baik Dok," Rayyan mengirimkan alamat ke nomor handphone Ilham.
Ilham menyimpan nomor handphone Sekar dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Rayyan," ucap Ilham segera berdiri. "Saya harus pergi ke sana sekarang juga." Lanjutnya penuh semangat.
"Pak Ilham, tunggu dulu," cegah Rayyan. "Sebaiknya jangan malam ini, Sekar tidak akan mau menerima tamu malam-malam. Lebih baik pergi besok pagi saja, saya bisa menyertai Dokter jika diperlukan."
Ilham menggeleng perlahan. "Saya tidak bisa menunggu lagi, Rayyan. Setiap detik yang berlalu bisa jadi terlalu lama." Dia menepuk bahu Rayyan dengan rasa terima kasih.
Sebelum Rayyan berkata lagi, Ilham sudah keluar dari ruangan. Langkahnya kini penuh tekad, meskipun tubuhnya sudah sangat lelah. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak mudah, tapi untuk menemukan Sekar dan Arka dia akan melakukan apa saja.
Rayyan hanya bisa menarik napas panjang, ia melirik jam di tangannya. Jam sepuluh malam, jikalau Sekar ada di kost pun Ilham pasti akan sia-sia. Satpam kost tidak mungkin memberikan izin masuk halaman.
Sementara Ilham yang mengendarai tanpa mau diantar supir melaju cepat menuju alamat kost yang di tunjukkan Rayyan. Namun, begitu tiba di luar pagar kost yang halaman luas itu sangat sepi. Hanya tampak satpam yang berjaga di pos.
"Permisi..." Ilham turun dari kendaraan, lalu mendekati satpam.
Satpam yang sudah mengantuk itu berdiri dengan cepat menatap Ilham curiga. Karena malam-malam datang ke kost wanita. "Ada yang bisa saya bantu?" Satpam tetap bertanya sopan.
"Saya mau mencari wanita yang bernama Sekar, istri saya kost di tempat ini," Ilham mengatakan jika Sekar istrinya agar diizinkan masuk. Namun, aturan tetap aturan, Ilham dianjurkan kembali keesokan harinya.
Malam itu Ilham kembali pulang ke rumah. Tiba di kamar disambut Luna dengan tatapan penuh amarah. "Kamu kemana saja, Mas?! Aku telepon berapa kali tidak kamu angkat?!" Sambar Luna tidak melihat situasi. Namun, Ilham hari itu benar-benar malas bicara dengan Luna, ia memilih meninggalkan kamar utama memilih tidur di ruang tamu.
Keesokan harinya, tanpa sarapan, Ilham kembali ke tempat kost, ia sudah tidak sabar ingin bertemu Arka.
"Permisi, Pak... saya Ilham yang malam tadi datang kesini, saya ingin bertemu istri dan anak saya."
Satpam belum menjawab seseorang mendekati mereka.
...~Bersambung~...
dan sial nya BP ank nakal itu bawahan nya Kake nya Arka....🤣🤣🤣🤣pcat lngsung aj....kek....biar GK sombong lagi