Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengunjungi cafe
Dara berjalan kaki dari rumahnya menuju ke jalan raya. Setelah sampai jalan raya Dara memesan taksi untuk menuju ke cafenya. Dara sebelum menikah sebenarnya sudah memiliki bisnis cafe. Suami Dara dan mertuanya tidak ada yang tau tentang bisnis Dara yang memang sengaja Dara menyembunyikan harta miliknya karena ingin menguji suaminya dan keluarganya. Bisnis cafe Dara dihandle oleh Riska Sahabatnya sekaligus orang kepercayaan Dara. Tiba di cafe Dara langsung masuk ke ruangannya.
Tok
Tok
Tok pintu diketuk
"Masuk" Ucap Dara dari dalam ruangannya.
"Hallo Bu bos, gimana kabarnya? Tanya Riska sambil berjalan menuju kursi. Riska yang mengetahui sahabatnya sekaligus bosnya ada di ruangan langsung menemui sahabatnya karena sudah lama Dara tidak mengunjungi Cafe
" Hay, kenapa mukamu ditekuk hmmm? Tanya Riska lagi dengan wajah bingung biasanya sahabat nya selalu menyambut nya dengan senyum yang manis namun ini kayak senyum dipaksa.
"Enggak papa, lagi badmood aja" ucap Dara.
"Hay seorang Dara tak bisa berbohong, coba cerita, apa ada masalah dengan Bagas suami mu itu?" Tanya Riska yang mengintrogasi.
"Gak papa, aku sama mas Bagas ya gitulah, namanya ibu rumah tangga sibuk ngurus suami dan rumah dan melakukan pekerjaan yang hanya itu itu aja tapi tidak ada habisnya jadi butuh healing sedikit ini" ucap Dara lesu
"Loe gak lagi berantem kan sama si Bagas?" tanya Riska yang terus mengintrogasi, Riska menebak itu bukan menjadi permasalahan utama nya. Karena diruangan hanya ada mereka berdua jadi Riska tidak menggunakan bahasa formal layaknya bos dan karyawan, namun Riska menempatkan dirinya sebagai sahabat.
Dara diam tidak langsung menjawab pertanyaan dari Riska. Disisi lain Dara ingin cerita dengan Riska tapi disisi lain Dara merasa itu aib rumah tangganya yang tidak perlu diceritakan oleh orang lain.
Dara pun melamun teringat dengan sifat Bagas sebelum menikah. Sebelum menikah Kayla diperlakukan seperti ratu, sehingga tanpa pikir panjang Dara menyetujui ketika diajak menikah dengan Bagas. Dara kira menikah dengan Bagas akan sebahagia yang dibayangkan, namun nyatanya malah nasib sial yang didapatkan yaitu tidak mendapatkan nafkah yang layak dan diperlakukan seperti babu karena dikira keluarganya Bagas, Dara orang miskin yang pantas ditindas tidak level dengan anaknya Bagas yang bekerja di perusahaan sebagai manajer.
Dara selama menikah dengan suaminya tidak bekerja karena dilarang oleh suaminya. Alasannya dulu karena suaminya ingin memiliki istri yang tidak berkarier. Dara nurut saja karena memang jabatan Bagas di kantor bagus jadi gajinya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kini Dara hanya bisa menyesali keputusannya menikah muda.
"Dara....! Loe kenapa? Apa loe baik- baik saja?" Riska memanggil Dara dengan sedikit teriak agar Dara tersadar dari lamunannya.
"I ..iya aku baik- baik saja kok Ris" jawab Dara yang sedikit gugup.
" Kalau ada apa- apa cerita ke gue. Jangan dipendam sendiri, siapa tau kita bisa mencari jalan keluarnya bersama- sama" terang Riska.
"Iya aku tau, sebenarnya ini masalah nafkah yang diberikan sama mas Bagas " ucap Riska jujur.
"Maksud...?" Tanya Anggun penuh tanda tanya.
"Mas Bagas memberi aku uang nafkah 600 ribu perbulan yang berarti 20 ribu perharinya aku sih gak masalah jika aku dikasih uang segitu, toh aku juga bisa pakai uang sendiri buat tambahan belanja. Yang jadi masalahnya ibu mertua selalu meminta uang nafkah yang diberikan mas Bagas dan aku hanya dikasih uang 200 ribu yang berarti 400 ribu yang di ambil ibu mertua dan parahnya lagi jika lauk gak cocok selalu aku yang kena marah padahal aku belanja ya sesuai dengan uang belanja yang diberi sama suami" terang Dara jujur dengan mata yang berkaca- kaca.
"Apa...! Serius kamu?" tanya Riska dengan mata yang melotot karena syok mendengar cerita sahabatnya.
Riska kira rumah tangga sahabatnya Dara berjalan dengan bahagia, namun kenyataannya tidak seperti perkiraan.
" Serius Ris" jawab Dara.
" Aku tebak uang suamimu dikuasai sama ibu mertua mu. Kenapa kamu gak cerita sama aku dari dulu sih?" Tanya Riska dengan nada kesal.
"Aku kira cuma awal- awal nikah aja, ternyata Sampek 2 tahun pernikahan. Setiap aku minta tambahan uang sama mas Bagas, mas Bagas selalu mengatai aku boros gak bisa ngatur keuangan malah dikira aku tilep uangnya buat jajan. Padahal kenyataannya uang yang dikasih mas Bagas selalu diminta ibu. Selama ini aku yang menutupi kekurangan uang belanja. Dan setiap aku cerita kalau uang aku di minta ibu pasti mas Bagas gak percaya dan ujung ujung nya malah aku dikira fitnah ibunya" jawab Dara yang sudah tidak bisa membendung air matanya.
Dara Jika sudah bersama Riska tidak bisa berbohong dan menjadi Dara yang kalem dan Tegas itu sifat asli Dara. Namun, sifat asli Dara berubah setelah menikah menjadi seorang yang suka ceplas ceplos karena tidak mau di bully oleh keluarga suaminya.
" Dar,, loe bukan wanita yang lemah, loe harus tegas sama keluarga toxic itu. Hayo lah Dar mana Dara yang tegas,, bangun bisnis cafe dari nol aja bisa menjadi besar dan memiliki cabang masak sama keluarga suami loe gak bisa tegas, jangan karna cinta loe malah jadi bego" ucap Riska yang memberi saran.
"Iya, aku akan memperjuangkan uang nafkah ku. Selama ini aku udah mengalah jadi aku harus tegas sama mas Bagas" jawab Kayla.
"Sip dah, jangan mau ditindas Dar" ucap Riska.
Riska pun mengalihkan pembicaraan mereka dengan menyodorkan map yang berisi laporan keuangan.
" Nih, biar gak galau plus pusing mikirin masalah dirumah coba loe bukan laporan keuangan bulan ini". Ucap Riska sambil menyodorkan map berwarna kuning.
Dara pun segera menerima dan memeriksa laporan keuangan sambil senyum- senyum.
" Alhamdulillah, bulan ini keuntungan yang diperoleh bertambah banyak dari bulan kemarin" ucap Dara dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah, gak gratis loh Bu bos, jangan lupa bonus bulan ini xixixi" canda Riska.
"Itu pasti, eh,, aku transfer sekarang aja takut lupa" kata Dara sambil menyalakan hpnya dan membuka aplikasi M- banking nya.
Tring... Bunyi notifikasi ada transferan masuk.
"Barakallah, makasih ya bestie bonusnya, tambah sayang deh sama Bu bos yang royal. Semoga rejekinya makin lancar dan berkah, semoga masalah di dalam rumah tangga mu cepat selesai dan tentu nya semoga segera diberikan momongan katanya dengan adanya momongan bisa menjaga keharmonisan keluarga. Aminn" ucap Riska sambil memeluk Kayla.
"Amin.. BTW udah jam 12, aku pulang dulu ya. Takut keduluan ibu mertua pulang arisan, Assalamualaikum" pamit Dara.
"Waalaikumsalam, hati- hati dijalan" ucap Riska.
Riska pun mengantar Dara sampai depan. Setelah Dara sudah masuk kedalam taksi Riska pun kembali ke cafe untuk bantu- bantu yang lain. Karena sudah masuk jam makan siang jadi cafe rame.
Dara pun turun didepan pasar untuk belanja sayur buat masak besok. Dara membeli kangkung dan telor seperempat. Setelah selesai belanja sayur Dara pun pulang dengan jalan kaki karena jarak antara pasar dan rumahnya lumayan dekat.
Baru saja Dara membuka pintu tiba- tiba dia kedatangan tamu tak diundang yaitu piring terbang.
Wussh..
Bunyi piring terbang untung reflek Dara bagus. Jadi Dara dapat menghindari piring terbang tersebut.
Grompyang
Bunyi piring terbang yang menabrak tembok samping pintu. Dara menatap piring tersebut pikir Dara untung piring plastik kalau piring beling kan dia yang harus beresin.
"Bagus jam segini baru pulang, habis nglayap dari mana saja kamu!" Pekik Bu Dewi dengan berkacak pinggang.
Hufft... Dara menghirup udara terlebih dahulu untuk menetralisir kekejutannya. Setelah itu Dara berjalan santai menuju ke dispenser dan menghiraukan pertanyaan ibu mertuanya.
"Eh, ini mantu kalau ditanya mertua malah nyelonong" ucap Bu Dewi dengan mata melotot.
"Kenapa? Emang masalah buat ibu?, aku keluar kan mau ke pasar belanja kok dipermasalahkan toh mas Bagas juga belum pulang ini" Tanya balik Dara.