Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicurigai
Warga setempat tengah berpikiran yang buruk buruk mengenai adanya Indira, apalagi gadis itu masih belum menikah dan memiliki suami. Ditambah lagi mereka juga belum mengenal Indira dengan sangat jelas, karena Indira juga penduduk baru yang baru baru ini pindah kesana, dan belum ada yang mengenal tentangnya.
Setiap habis subuh Indira bangun dari tidurnya untuk membuka kunci rumah itu agar Ayahnya bisa masuk kerumah tanpa harus teriak teriak terlebih dahulu, dan ketika Ayahnya datang ia bisa langsung masuk kedalam rumah dan hal itu tidak ada yang mengetahuinya. Ayahnya datang untuk mengantarkan makanan, dan memeriksa kondisi Indira apakah masih sakit atau sudah sembuh.
Ia datang sendirian kesana karena Ibunya juga harus pergi bekerja di toko, dan tidak bisa libur setiap saat. Libur pun harus izin jauh jauh hari terlebih dulu baru bisa diacc oleh atasannya, kalau izin mendadak Yanti tidak diperbolehkan bahkan sakit pun juga harus ada bukti sakitnya dan hasil pemeriksaannya.
Oleh karenanya, hanya Ayahnya saja yang datang untuk mengirim nasi hangat untuk Indira, terkadang juga dibuatkan bubur sumsum karena Indira kesulitan untuk makan nasi. Harus ada yang mengawasi Indira dirumah, karena dirinya sendiri juga sering opname sehingga sakit sedikit saja sudah harus ekstra hati hati apalagi sakitnya merujuk pada tipes dan asam lambung.
Sejak kecil Indira belum pernah terkena yang namanya tipes dan asam lambung, bahkan dirinya sendiri juga tidak memiliki riwayat akan penyakit tersebut. Namun kini dirinya memiliki dua penyakit itu dan sewaktu waktu bisa kambuh kapan saja, dan tidak ada pilihan lain selain opname untuk bisa sembuh karena setiap obat tidak ada yang bisa tertelan olehnya.
Oleh karena itu Ayahnya harus datang setiap pagi untuk mengantarkan makanan, jika menunggu Ibunya pulang juga tidak akan baik untuk kesehatan Indira sendiri. Apalagi rumah yang Indira tinggali saat ini jauh sekali dengan keramaian, oleh karena itu jarang sekali ada penjual makanan lewat disana, toko ataupun warung pun sangat jauh.
Tubuh Indira sendiri juga belum mampu jika digunakan untuk mengendarai motornya, karena dikawatirkan akan terjadi kecelakaan dijalan jika dirinya memaksakan hal itu nantinya. Sehingga Indira hanya bisa makan ketika Ayahnya datang, setelah siang hari Ayahnya pulang untuk menjemput Ibunya, jadi Ibunya tiap hari datang hanya ketika sore hari saja.
"Mbak Yanti," Panggil seorang wanita dari depan pintu ketika mengetahui bahwa Ibunya Indira datang sore itu.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Yanti kebingungan.
"Sudah dengar kabar belom?"
"Kabar apa?"
"Denger denger dari warga sekitar, Dira mau digerebek karena bawa pacarnya kerumah, padahal sudah aku beritahu kalo itu Ayahnya tapi mereka nggak percaya. Rencananya mau digerebek, Indira suruh hati hati soalnya kalo kena gerebek bayarnya mahal disini,"
"Loh padahal itu Ayahnya sendiri loh, meskipun bukan Ayah kandung tapi dia memperlakukan Indira kayak anaknya sendiri tanpa dibeda bedakan,"
"Iya Mbak, kami juga tau itu. Mbak tau rumah yang ada di ujung sana, mereka yang mau merencanakan pengerebekan itu tapi entah kapan. Dira suruh hati hati saja jangan sampai bawa temen cowok kemari, kalo Ayahnya yang kemari mah kami bisa bela,"
"Iya Mbak, terimakasih sudah diberitahukan hal ini. Kalo sampe digerebek pun mereka sendiri yang akan malu soalnya kan yang digerebek itu Ayah sama Anak. Lagian mereka juga tidak aneh aneh,"
"Lah mangkanya itu, aku juga heran kok bisa begitu ya, Mbak. Padahal sudah aku jelaskan juga kok sama mereka, tapi ada saja yang ngeyel katanya aku bela Dira yang melakukan kesalahan. Aku sendiri juga tau kok,"
Wanita itu menjelaskan kepada Yanti mengenai situasi yang terjadi didesa itu, banyak orang yang mencurigai Indira telah berbuat tak senonoh didalam rumahnya bersama dengan seorang lelaki. Namun hanya tetangga dekatnya saja yang mengetahui bahwa itu adalah Ayahnya, sementara tetangga jauhnya tidak ada yang mengetahui hal tersebut.
Indira dan juga Ibu dari Indira yang mendengar berita tersebut dari tetangganya, keduanya langsung sontak kebingungan bersama, padahal tetangga sebelah kiri dan depan rumah juga sudah mengenal kedua orang tua Indira, sehingga meskipun tetangganya sudah menjelaskan kepada penduduk desa namun penduduk desa sama sekali tidak ada yang percaya.
Setelah memberitahukan hal tersebut, tetangganya itu langsung berpamitan untuk pulang karena sudah selesai menyampaikan hal itu kepada keluarga Indira. Setelahnya Yanti pun langsung duduk didekat Indira, yang dimana kini Indira berada diruang tengah rumah itu.
"Dira, apa kamu pernah ngajak Wisma kemari?" Tanya Yanti yang memang mengetahui bahwa hanya Wisma yang dekat dengan anaknya sekarang.
"Nggak lah, Bun. Orang dianya aja di Jakarta sekarang kok, bagaimana bisa dia datang?" Jawab Indira sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ya kali aja dia datang pas waktu orang orang desa tau, apa pernah ngajak cowok datang?"
"Nggak pernah, palingan anak anak sekolah SMK yang ngambil barang atau yang lainnya waktu itu." Indira mencoba untuk mengingat ingat.
"Yaudah, jangan sampek ngajak Wisma kemari, nanti kalo di gerebek sama warga bisa bahaya. Apalagi suruh bayar denda yang nggak sedikit,"
"Siap Bunda."
Semenjak kejadian itu, Indira jadi was was untuk mengajak siapa saja datang ke rumah tersebut, meskipun itu teman wanita sekalipun. Indira tidak pernah mengajak siapapun datang kerumah itu, bahkan hanya sedikit orang saja yang mengetahui bahwa dirinya tinggal disana, dan orang orang itu tidak lebih dari teman dekatnya paling dekat.
Indira bahkan takut apabila ada yang datang ke rumah tersebut, sehingga dirinya selalu mengunci diri didalam rumah itu dan jarang keluar, keluar dari rumah pun hanya untuk pergi bekerja ataupun belanja saja. Indira benar benar menutup dirinya dari dunia luar, hingga banyak yang mengira bahwa rumah itu kosong namun rumah tersebut masih dihuni oleh Indira.
"Pokoknya jangan sampai bawa temen cowok datang kerumah, kalo Ayah yang datang kan selalu Bunda ikut," Ucap Yanti memperingatkan.
"Nggak pernah Bunda, masak Ayah yang dikira pacarku? Soalnya kan Ayah pernah datang sendirian kesini waktu Dira sakit. Iya kali Ayah,"
"Mungkin bisa jadi ya kan, buku nikahnya Bunda disini kan? Kalo mereka nggak percaya ya tunjukkin aja buku nikah Bunda ke mereka,"
"Iya, Bunda taruh disini kok."
Yanti sendiri juga tidak mengetahui bahwa Indira dan Wisma sudah lost contact cukup lama, bahkan tidak pernah saling menanyakan kabar satu sama lainnya. Indira sendiri juga tidak pernah menghubungi Wisma karena hal kecil apapun, sehingga ia juga tidak peduli dengan kabar dari lelaki tersebut.
"Katanya tetangga depan rumah itu sih bilangnya mereka ngiranya itu Ayah, Dira. Masak benar sih Ayah?"
"Lah kan lelaki yang pernah kemari adalah Ayah kan? Bukan orang lain?"
"Iya juga sih, apa yang mereka katakan benar,"
"Apalagi waktu aku sakit, Ayah tiap pagi datang kemari buat nganterin nasi sama lauk, terus tidur diruang tengah nungguin kali aja aku butuh bantuan. Siangnya baru jemput Bunda ditempat kerja,"
"Iya mungkin, jadi ngiranya orang orang kamu bawa masuk cowok kemari,"
"Iya Bunda."
Mendengar hal itu, entah mengapa Indira merasa takut apabila dirinya benar benar akan didatangi oleh seluruh warga desa untuk digerebek. Padahal dirinya sendiri juga tau bahwa ia tidak pernah melakukan kesalahan itu, dirinya bahkan tidak pernah membawa seorang lelaki untuk masuk kedalam rumah tersebut.
"Kalo ada apa apa langsung bilang Bunda, siapa tau nanti ada yang datang kemari. Tapi ingat jangan ajak siapapun datang ya, biar nggak ada masalah,"
"Iya Bunda, Dira paham kok. Lagian mau ngapain juga ngajak cowok masuk kedalam rumah,"
"Ya siapa tau, pikiran orang kan beda beda Dira, meskipun kita tidak melakukan apapun pasti mereka akan berpikir yang aneh aneh. Untuk menghindari kejadian itu, kalo mau ketemu sama cowokmu jangan disini, mending diluar sana sekalian makan bakso atau mie ayam,"
"Iya Bunda."
"Meskipun kita melakukan hal yang benar sekalipun, pasti ada yang mengira salah dan tidak semua orang itu seperti apa yang kita pikirkan. Jadi lebih baik berhati hati daripada memancing masalah,"
"Iya juga sih, Bunda. Aku cuma penasaran siapa yang nyebarin berita kayak gitu, apa mungkin sekitar rumah sini emang ada yang nggak suka sama diriku ya?"
"Entahlah, Bunda juga tidak tau apa apa, Dira."
"Hemmm aneh..."
Tetangga sebelah yang dipanggil emak oleh Indira juga sudah menjelaskan kepada mereka bahwa yang datang biasanya adalah Ayah dari Indira, namun entah kenapa mereka sama sekali tidak mempercayai hal tersebut dan terus menganggap bahwa itu adalah pacar dari Indira.
Mereka memang tengah mencari seorang korban untuk dijadikan sasaran didesa itu, karena setiap sejoli yang terpergok oleh mereka maka sejoli itu akan didenda dengan sangat mahal dan mereka bisa mendapatkan uang dari hal itu. Didesa itu juga kebanyakan wanita yang bekerja daripada pria, sehingga pria pria disana banyak yang menjadi pengangguran.
******
Indira baru pulang menjalankan tugasnya, dan ia baru saja sampai dirumah dan baru saja membuka pintu rumah tersebut untuk masuk kedalamnya. Ia masih memakai pakaian organisasinya dan belum berganti pakaian sebelumnya, ia terlihat sangat kelelahan dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya meskipun telah melakukan perjalanan jauh naik motor.
Sore hari itu, langit sudah mulai menggelap dan suara adzan memenuhi awang awang kala itu, dan dengan kesadaran penuh Indira masuk kedalam rumah tersebut hanya untuk bisa segera istirahat. Baru saja ia mencoba untuk menutup pintu rumah itu, tiba tiba ia mendengar suara seseorang yang tengah mengetuk pintu rumah itu.
"Prasaan tadi nggak ada orang deh waktu aku tutup," Guman Indira lirih.
Ia merasa sangat heran dengan siapa yang mengetuk pintu rumah itu sekarang, sebelumnya dirinya juga tidak melihat ada yang datang kerumah itu. Namun setelah pintu ditutup olehnya, tiba tiba ia mendengar suara ketukan dari luar sana, dan entah siapa yang datang kali ini untuk bertamu dirumah itu.
Ketukan pintu kembali terdengar dan diikuti serta dengan suara seorang lelaki yang mengucapkan salam kepadanya, mendengar itu sontak langsung membuat Indira membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang, dan terdapat dua orang lelaki yang tengah berdiri didepannya dan Indira sendiri tidak mengenal mereka.
Dua lelaki itu memiliki postur tubuh yang sangat berbeda, satunya ia memiliki tubuh yang tinggi sekaligus kekar dan terlihat sangat menakutkan dengan wajah seperti tengah menahan marah. Sementara yang satunya lagi, tubuhnya kurus dan pendek, namun tatapan matanya sejuk dan terlihat lebih sopan daripada yang satunya lagi.
"Ada apa ya, Pak?" Tanya Indira heran ketika dua orang itu datang berkunjung.
"Boleh kami masuk? Kami mau berbicara sebentar," Ucap Pria dengan tubuh yang besar, namun pria satunya lagi hanya bisa meringis.
"Bicara? Bapak siapa? Dan darimana?"
"Dari sekitar sini, Mbak. Sejak kemaren kemaren kami datang kemari tapi Mbak nggak dirumah, jadi mumpung sekarang Mbaknya dirumah,"
Indira terlihat ragu untuk mengizinkan dua orang itu untuk masuk kedalam rumah, karena ia sendiri juga belum pernah menerima seorang tamu lelaki apalagi seperti sekarang ini. Sehingga dirinya sangat ragu untuk mengizinkan kedua lelaki itu untuk masuk kedalam rumah, apalagi ia merasa tidak enak jika memasukkan seorang lelaki kedalam rumah dalam posisi dirinya yang tinggal sendirian.
Tapi Indira sendiri juga tidak tau apa yang ingin keduanya bicarakan, dari nada bicaranya seakan akan terasa sangat penting. Entah apa yang ingin mereka bicarakan saat ini, Indira hanya bisa termenung didepan mereka seraya berpikir apakah mereka dibiarkan untuk masuk kerumah atau tidak memperbolehkan mereka untuk masuk.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.