NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipertahankan, Dilepaskan

“May, lo masih di kota ini?”

“Ngapain lo nanya?”

“Gue pengen ketemu, tunggu di kantor lo, area Sudirman.”

---

Laras memilih kafe tidak terlalu ramai,

cukup sunyi untuk percakapan yang bisa berubah menjadi perang, cukup lengang untuk berteriak tanpa jadi tontonan, dan cukup luas… kalau nanti salah satu dari mereka kehilangan kendali.

Maya sudah duduk lebih dulu di sudut menghadap pintu. Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat.“Lo yang minta ketemu,” katanya tanpa basa-basi.

Laras duduk perlahan menyilangkan kaki seperti model iklan parfum. Ia memesan kopi yang jelas tidak akan diminum—sekadar penanda bahwa ia datang bukan untuk kalah.

“Gue mau jujur,” ucapnya pelan. “Sebelum lo maksa dia buat milih.”

Maya menegang, matanya awas “Gue nggak maksa, Laras, gue cuma minta kejelasan.”

“Sama aja.” Tatapannya tajam, tidak berkedip. “Lo tahu apa yang terjadi kalau lo menang? Kalau Raka pilih lo?”

Gadis itu tidak menjawab hanya menunggu.

“Lo bakal jadi pengganti.”

Laras mencondongkan badannya. “ Lo cuma pengganti Kinan, bukan cinta sejati Ataupun pilihan pertama. Dan… bukan yang lo impikan.”

Ada sesuatu yang merayap dingin di punggung Maya, tapi ia tidak goyah.

“Raka masih cinta Kinan,” lanjutnya “Sampai sekarang. Gue lihat cara lo— lo jalan, cara lo marah, cara lo berdiri di dapur mirip banget.”

Maya menelan ludah terasa pahit di kerongkongannya.

“Lo sadar nggak,” Laras berbisik seperti Ibu tiri menekan kejam “lo menjadi versi murahnya dia?”

“Jangan."

Laras tertawa kecil, getir. “Apakah gue yang mirip Kinan? Enggak, gue beda. Gue mantannya? iya, bener. Tapi gue nggak pura-pura jadi Kinan. Lo? Lo terlalu keras berusaha sampai lupa siapa diri lo sebenarnya.”

Kursi Maya bergesek keras saat ia berdiri. Beberapa kepala menoleh.

“Duduk,” kata Laras tenang, terlalu tenang. “Belum selesai.”

“Gue nggak perlu denger ini.”

“Lo perlu, karena yang bakal hancur nanti itu lo, bukan gue dan bukan pula Raka.”

Maya perlahan duduk kembali seolah tubuhnya bukan lagi miliknya.

“Raka pilih lo,” Laras melanjutkan, “karena lo ngisi ruang kosong. Karena dia butuh Kinan, dan lo ada. Tapi suatu hari—suatu hari, May—dia bakal lihat lo hanya bayangan, bukan harapannya. Dan dia bakal sadar bedanya.”

Hening.

“Dan waktu itu datang,” Laras menutup kalimatnya, “dia bakal pergi lagi.”

Maya menatap tangannya sendiri, kuku pendek tidak pernah di manikur, tangan yang sering memasak, mencuci, membersihkan dan tangan yang kasar karena kerja, bukan lotion.

“Lo bohong,” katanya tegang.

“Gue bohong?” Laras meraih tangannya di atas meja. “Gue lihat buku catatan Kinan yang lo simpan, lo bawa ke rumah Raka. Gue lihat cara lo peluk buku itu seolah itu dia, seakan dengan itu lo bisa jadi dia.”

Maya menarik tangannya, tapi terlambat.

Air matanya jatuh pelan, tidak dramatis, justru itu yang menyakitkan.“Gue nggak mau jadi dia. Gue cuma… gue cuma sayang ama Raka.”

Laras diam beberapa detik suaranya melunak.

“Gue tahu. Gue juga cinta dia. Bedanya, gue tahu posisi, gue mantan, masa lalu, gue nggak pura-pura menjadi sesuatu gue nggak bisa. Lo? Lo lagi mencoba menjadi bayangan.”Ia meletakkan tisu di atas meja. Maya tidak menyentuhnya.

“Gue nggak minta lo mundur, Gue cuma minta lihat diri lo sendiri. Kalau lo cinta Raka karena dia—orangnya, lukanya, tawanya—maka lo layak. Tapi kalau lo cinta dia karena lo pengen jadi tempat pelarian dari Kinan…”

Ia berdiri.

“…lo bakal capek. Dan pura-pura itu bakal membunuh lo pelan-pelan.” Uang ditinggalkan di atas meja, kopi tetap utuh Laras pergi dengan langkah stabil seperti penasehat cinta baru saja mendoktrin pasien memberi racun

---

Maya masih duduk sendiri dengan pikiran yang berkecamuk. Kafe makin ramai, Orang-orang tertawa, hidup, bergerak maju.

dan ia diam di tengah semuanya menangis tanpa suara.

Laras benar sebagian.

Ada momen-momen di mana ia sadar—cara nya berdiri di dapur, menunggu Raka dari belakang, caranya menenangkan lembut, sabar dan pengertian, semuanya… familiar.

Tapi Laras juga salah cinta Maya bukan karena Kinan. Cinta itu lahir dari hal-hal kecil,

cara Raka memijat pelipis saat pusing,

menatap langit kalau bingung, pura-pura kuat padahal menangis diam-diam di bantal.

Maya tahu dan selalu tahu, Itulah cintanya lahir dari kesederhanaan dan perhatian

Ponselnya bergetar kuat

Raka: “Lo di mana? Gue khawatir.”

Ia menatap layar lama ingin berkata jujur, "gue lagi hancur karena mantan lo bilang gue cuma pengganti."

Tapi yang ia ketik hanya:

Maya: “Gue baik-baik saja, cuma butuh waktu sendiri.”

Balasan datang cepat.

Raka: “Oke. Tapi… waktu itu May, gue ingat.”

Sebulan, seminggu, dua hari lagi, satu hari lagi."

Maya berdiri dan berjalan ke taman kota, tempat semuanya bermula.

Ia duduk.

“Nan,” bisiknya ke udara kosong. “Gue mirip lo?”

Angin berembus pelan tidak ada jawaban.

Tapi selembar daun mawar kering melayang dan jatuh di pangkuannya.Maya menatapnya lama.

“Gue nggak bisa jadi lo,” katanya pelan. “Dan gue nggak mau. Gue mau jadi diri sendiri. Dan kalau itu nggak cukup buat dia… ya sudah lah .”

Ia menyimpan daun itu di dalam dompet bukan sebagai restu, sebagai tanda, untuk pengingat ini gue Maya. Dan itu cukup.

---

Di kantor, Laras melihat Raka dari balik kaca ruang meeting duduk di sana—menatap presentasi tanpa benar-benar melihat.

Hidup tapi tidak hadir, ponselnya bergetar.

pesan dari nomor tak dikenal.

“Lo benar—sebagian. Tapi lo juga salah—separuh. Gue nggak mundur berjuang bukan sebagai Kinan tapi sebagai diri sendiri.

Semoga lo juga menemukan tempat —bukan sebagai mantan, bukan sebagai bayangan. —May”

Laras membaca berulang kali tersenyum kecil dan sadar bahwa keberanian itu ternyata bukan miliknya.

---

Malam.

Raka duduk sendiri didepan teras menandai beberapa tanaman yang mati. Ia tahu dua orang perempuan dengan dua cara mencintai.

Satu mengajaknya hidup dan satu lagi mengajaknya mengingat.

Ponselnya bergetar bersamaan.

Maya:

“Gue nggak minta lo pilih gue karena gue berjuang tapi karena lo mau, dan kalau itu berat … gue mengikhlaskan, karena cinta juga tidak bisa dipaksakan .”

Laras:

“Gue nggak kirim kata kata manis. Gue cuma mau lo pilih yang bikin lo hidup, bukan yang bikin lo nyaman di masa lalu.”

Raka menatap dua pesan di sudut teras—ia merasakan bayangan duduk diam, tersenyum tipis.“Gue nggak bisa, Nan,” bisiknya.

---

Di Ruang Tunggu, jiwa semakin transparan.

“Maya akan bertahan,"

" Aku tahu, dia selalu lebih kuat dari kelihatannya.”

“Dan kamu?”

“Gue cuma berharap… dia pilih karena hidup. Bukan karena gue.”

Cahaya di sekelilingnya berpendar lemah.

"Tidak lama lagi, sebentar lagi gue nggak bisa lihat lagi.”

Kinan tidak takut menghilang karena mungkin… cinta yang benar bukan yang dipertahankan Tapi dilepaskan.

---

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
buset antara kisah romantis dan horor ....kadang2 serem ya 🤭
Ddie: ya terkadang cinta bisa membuat romantis dan horor, horor kalau kena tolak, horor dia kawin dengan orang lain, horor cinta tak terbalas ..😄
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!