Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Tidak Pernah Benar-Benar Tinggal
...“Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi sadar kalau dari awal kita cuma menunggu orang yang memang tidak pernah berniat tinggal.”...
Happy Reading!
...----------------...
Tidak ada hujan sore itu. Tidak ada pertanda buruk. Langit bahkan terlalu cerah untuk sesuatu yang akan berakhir. Sore itu terasa terlalu normal untuk sebuah perpisahan.
Kami hanya duduk berdua, seperti biasa. Di tempat yang juga terasa biasa—bangku panjang di sudut taman kecil dekat sekolah. Daun-daun jatuh pelan, angin lewat sebentar, lalu pergi lagi. Dunia tidak berhenti hanya karena dua orang akan mengakhiri sesuatu.
Raven duduk di sampingku. Tangannya bertaut di depan, punggungnya sedikit membungkuk. Dari caranya diam, aku tahu ini bukan obrolan ringan.
Aku menunggu.
“Aku mau ngomong,” katanya akhirnya.
Dadaku mengencang, tapi aku mengangguk. “Ngomong aja.”
Ia tidak langsung menatapku. Matanya lurus ke depan, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat.
“Aku capek,” katanya pelan. Jemarinya saling mengunci lebih erat di pangkuannya, buku jarinya memucat seolah ia menahan sesuatu agar tidak ikut keluar bersama kata-katanya.
Aku menelan ludah. “Capek kenapa?”
“Capek pura-pura baik-baik aja.”
Kalimat itu jatuh di antara kami. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku terdiam.
“Aku ngerasa,” lanjutnya, “akhir-akhir ini kita bareng, tapi nggak benar-benar bareng.”
Aku ingin menyangkal.
Aku ingin bilang itu cuma perasaan.
Tapi semua kata itu tertahan di tenggorokan. Karena aku juga merasakannya.
“Kita masih ketawa,” katanya. “Masih ngobrol. Masih ketemu. Tapi setiap kali aku pulang, aku ngerasa sendirian.”
Aku menoleh padanya. “Aku juga.”
Raven akhirnya menatapku. Matanya tidak marah. Tidak dingin. Justru terlalu tenang.
“Dan itu yang bikin aku takut,” katanya. “Karena kalau kita terus maksa, nanti yang tersisa cuma kebiasaan. Bukan rasa.”
Aku menggeleng kecil. “Kamu mau nyerah?”
Bibirnya menegang. “Aku mau jujur.”
Sunyi lagi.
Aku menunduk. Jari-jariku meremas ujung tas. “Jadi… kamu mau apa?”
Ia menarik napas panjang, seperti menyiapkan diri untuk sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
“Aku mau berhenti.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh pelan di dalam dadaku.
“Berhenti…?” suaraku nyaris berbisik.
Raven mengangguk. “Aku mau kita putus.”
Aku tersenyum kecil. Refleks. Senyum orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah.
“Oh,” kataku. “Oke.”
Ia terlihat terkejut. “Kamu… nggak marah?”
“Aku nggak tau harus marah ke siapa,” jawabku jujur. “Ke kamu? Ke keadaan? Atau ke arah hidup?”
Raven terdiam.
“Aku cuma capek,” lanjutku. “Capek ngerasa ditinggal pelan-pelan.”
Matanya meredup. “Aku nggak pernah mau ninggalin kamu.”
“Tapi kamu tetap jalan lebih dulu,” kataku.
Itu bukan tuduhan. Hanya fakta.
Kami diam lama. Terlalu lama. Lalu, entah kenapa—di tengah keheningan itu—sebuah ingatan lama muncul begitu saja.
Kelas satu SMA.
Hari-hari ketika Raven tiba-tiba menghilang. Pesan yang tidak dibalas. Sapaan yang tidak pernah lagi ditoleh. Dan aku… yang memilih tidak bertanya.
“Kamu tau nggak,” kataku tiba-tiba, “dari dulu aku punya satu pertanyaan.”
Raven menoleh. “Apa?”
“Kenapa dulu,” suaraku sedikit bergetar, “kamu tiba-tiba ngejauh waktu kelas satu.”
Ia membeku.
Aku tersenyum pahit. “Lucu ya. Kita pacaran. Sedeket ini. Tapi aku nggak pernah berani nanya itu.”
Raven menunduk. Lama. Tangannya mengepal.
“Aku kira,” lanjutku pelan, “kalau aku nanya, jawabannya bakal lebih nyakitin daripada diam.”
Hening.
“Maaf,” katanya akhirnya. Satu kata. Berat.
“Kenapa?” tanyaku.
Ia mengusap wajah. “Karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut sama rasa aku sendiri.”
Aku mengernyit.
“Waktu itu,” katanya, “aku udah tau suatu hari aku bakal pergi. Kuliah. Keluar kota. Keluar pulau. Dan kamu… selalu punya alasan untuk tetap di sini.”
Dadaku mengencang.
“Aku ngerasa,” lanjutnya, “kalau aku terus dekat, aku bakal egois. Jadi aku mundur. Dengan cara paling pengecut.”
Aku terdiam.
“Ghosting kamu,” katanya lirih, “adalah cara aku kabur.”
Air mataku akhirnya jatuh. Satu. Lalu yang lain menyusul.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyaku dengan suara pecah.
“Karena aku masih bocah,” jawabnya jujur. “Dan aku pikir menjauh itu lebih gampang daripada jujur.”
Aku mengangguk kecil. Pelan. Seolah semua potongan akhirnya menyatu.
“Dan sekarang?” tanyaku.
“Sekarang aku nggak mau kabur lagi,” katanya. “Makanya aku ngomong. Makanya aku putusin.”
Aku tertawa kecil, getir. “Jadi… dari dulu sampai sekarang, kamu selalu pergi lebih dulu. Aku gak pernah jadi seseorang yang tetap kamu pilih untuk pulang, kamu selalu punya cara buat datang dan ninggalin aku lagi.”
Rahang Raven menegang. Ia menunduk, menekan bibirnya sendiri seolah kata-kata balasan terjebak di sana. Akhirnya, ia membuka suara, “Aku nggak mau nyakitin kamu lebih lama.”
“Aku juga,” kataku pelan. “Aku capek nunggu orang yang arah hidupnya nggak pernah berhenti jalan.”
Kami berdiri berhadapan. Tidak ada pelukan. Tidak ada tangis histeris. Hanya dua orang yang akhirnya lelah menahan.
“Terima kasih,” kataku akhirnya.
“Untuk apa?”
“Untuk jujur,” jawabku. “Meski telat.”
Raven menatapku lama. “Maaf.”
Aku menarik napas pelan, merasakan dadaku bergetar sebelum akhirnya berkata,
“Aku maafin.”
Dan itu bukan kalimat basa-basi.
...----------------...
Aku menunduk lama setelah kata itu keluar dari mulutku—aku maafin.
Bukan karena aku sudah benar-benar sembuh. Tapi karena aku tahu, menahan marah tidak akan membuatnya tinggal.
Tanganku mulai gemetar. Aku menyelipkannya ke dalam saku jaket, menggenggam kain di dalamnya erat-erat, seolah itu satu-satunya cara menahan diriku agar tidak runtuh di depannya. Nafasku mulai tidak beraturan. Dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang terus didorong dari dalam, mencari jalan keluar.
Raven masih berdiri di depanku. Diam. Tidak bergerak. Seolah ia juga sedang menunggu sesuatu yang tidak akan datang.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.
Hampir.
“Aku baik-baik aja,” jawabku, meski suaraku terdengar jelas berbohong.
Karena sebenarnya, aku tidak baik-baik saja. Aku hanya terlalu terbiasa menahan.
Aku memalingkan wajah. Menatap taman kecil ini—tempat yang selama ini terasa aman. Bangku panjang yang sering kami duduki sepulang sekolah. Pohon yang daunnya selalu rontok lebih dulu sebelum musim benar-benar berganti. Tempat di mana aku pernah berpikir, kalau kami baik-baik saja di sini, mungkin kami akan baik-baik saja di mana pun.
Ternyata tidak.
“Aku inget,” kataku tiba-tiba, suaraku lirih, lebih seperti bicara pada diri sendiri.
“Inget apa?” tanya Raven.
“Pertama kali kamu ngejauh dulu,” jawabku. “Aku pulang sambil mikir, mungkin aku salah ngomong. Atau aku terlalu ribut. Atau aku kurang sabar.”
Aku tertawa kecil, getir.
“Lucunya, aku nyari kesalahan di diriku sendiri terus. Padahal waktu itu kamu bahkan nggak ngasih aku kesempatan buat ngerti.”
Raven menghela napas panjang. “Aku tau.”
“Dan hari ini,” lanjutku, air mata kembali mengabur di pelupuk mata, “rasanya sama. Kamu datang dengan jujur, tapi tetap dengan keputusan yang udah kamu buat sendiri.”
Aku menatapnya.
“Bedanya, sekarang aku nggak bisa pura-pura nggak ngerti.”
Angin berembus pelan. Daun kering bergerak di tanah, bergesekan satu sama lain, menciptakan suara kecil yang entah kenapa terdengar begitu nyaring di telingaku.
Aku duduk kembali di bangku itu. Kaki-kakiku sudah terlalu lelah untuk menopang berat badanku sendiri. Raven ikut duduk, memberi jarak sedikit. Ia sempat ragu seolah ingin mendekat, lalu memilih tetap di tempatnya. Jarak yang canggung. Jarak yang baru.
Air mataku jatuh lagi. Kali ini lebih deras. Aku tidak berusaha menyekanya. Biarlah. Untuk sekali ini, aku ingin jujur pada rasa sakitku sendiri.
“Aku sedih,” kataku, suara pecah. “Bukan cuma karena kita putus. Tapi karena aku baru sadar… dari dulu aku selalu mencintai orang yang arahnya tidak pernah sama denganku.”
Raven menunduk. Bahunya naik turun, seolah menahan sesuatu.
“Aku nggak pernah nganggep itu kesalahan kamu,” katanya.
“Aku tau,” jawabku. “Makanya lebih sakit.”
Karena tidak ada yang benar-benar salah. Tidak ada yang bisa disalahkan. Kami hanya… tidak sejalan.
Aku mengingat semua versi kami yang pernah ada. Kami yang tertawa tanpa beban. Kami yang saling diam tapi nyaman. Kami yang duduk berdampingan sambil membicarakan hal-hal kecil—lagu, film, mimpi yang waktu itu terdengar sederhana.
Dan sekarang, mimpi itu justru menjadi jarak.
“Aku takut,” akuku pelan.
Raven menoleh. “Takut apa?”
“Takut suatu hari nanti aku inget kamu tanpa rasa apa-apa,” jawabku jujur. “Dan takut juga… kalau rasa ini nggak pernah benar-benar hilang.”
Ia terdiam lama.
“Kalau itu terjadi,” katanya akhirnya, “aku harap kamu ingat… aku pernah milih jujur, meski hasilnya kita kehilangan.”
Aku mengangguk.
“Aku bakal inget,” kataku. “Karena kejujuranmu hari ini nyakitin, tapi kebohonganmu dulu lebih lama lukanya.”
Kami duduk dalam diam sampai langit mulai berubah warna. Sore beringsut menuju malam tanpa benar-benar berpamitan. Seperti kami.
Akhirnya aku berdiri. Mengangkat tas.
“Aku pulang dulu,” kataku.
Raven ikut berdiri. “Hati-hati.”
Aku mengangguk. Tidak menoleh lagi.
Karena aku tahu, kalau aku menoleh, aku mungkin akan meminta sesuatu yang tidak bisa ia beri—untuk tinggal.
Langkahku terasa berat meninggalkan taman itu. Setiap langkah seperti melepaskan satu kenangan kecil. Dan meski dadaku masih sesak, ada satu hal yang akhirnya kupahami dengan utuh:
Bahwa dari awal, aku bukan kehilangan dia secara tiba-tiba. Aku hanya terlalu lama menunggu seseorang yang sejak dulu sedang bersiap pergi.
Kami berpisah sore itu. Tanpa hujan. Tanpa drama. Tanpa janji akan kembali.
Tapi dengan satu kesadaran yang akhirnya utuh:
Bahwa dari dulu, aku tidak pernah ditinggalkan tanpa alasan. Aku hanya tidak pernah berani menanyakannya.
Dan mungkin, itulah luka terbesarku. Bukan karena dia pergi, tapi karena aku terlalu lama diam demi menjaga sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah bisa tinggal.
...----------------...
Shaira — Kami pernah jadi rumah. Hanya saja, bukan untuk selamanya.
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/