"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 23
"Tuan, kenapa wajahmu tegang begitu?" Yiyue menatap lekat wajah suami kulkasnya.
Saat ini, mereka sedang berada dalam limosin mewah milik Qiaoyan. Hari ini jadwal kontrol Qiaoyan sekaligus terapi akupunktur sesuai yang direkomendasikan oleh Yiyue pada suaminya.
Jauh sebelum jadwal kontrolnya itu, Yiyue telah meminta bantuan pada Fan Zhi untuk mengatur itu semua agar semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan rencananya. Gadis cantik itu begitu effort untuk kesembuhan suami kulkasnya, yang meskipun sering kali dia membuatnya kesal. Namun, tetap saja Yiyue tak mengindahkan itu semua. Dia hanya ingin jika suaminya bisa sembuh dan berjalan kembali layaknya orang normal tanpa ada kekurangan apapun dalam fisiknya.
Setelah melewati drama tadi malam yang tidak mau makan, akhirnya Yiyue kembali membuat suaminya makan masakannya. Tentu saja gadis cantik itu kembali menyuapi suami kulkasnya yang begitu manja, sama halnya dengan tadi pagi. Yiyue menyuapi Qiaoyan dengan telaten meskipun sedikit kesal karena melihat suaminya yang ingin menolak untuk berobat.
"Tuan, apa kau takut jarum?" Yiyue bertanya lagi pasalnya sang suami masih terdiam, tak membalas ucapannya.
"Tidak, biasa saja." Sahutnya yang terpaksa berbohong menutupi aibnya. Lelaki itu kembali menampakkan wajah datarnya seperti setelan awal, dingin tak tersentuh.
Tidak mungkin Qiaoyan mengatakan jika dirinya yang merupakan seorang Presdir di perusahaannya ternyata takut pada sebuah jarum. Mau ditaruh dimana mukanya itu, bisa-bisa istri kecilnya akan meledeknya habis-habisan dan tentu Qiaoyan tak suka itu.
"Rileks saja tak perlu takut, ada aku di sampingmu. Percayalah, setelah ini kau pasti sembuh asal kau mau menurut semua apa yang ku perintahkan dan jangan pernah membantah." Tuturnya sebelum kemudian jemari lentiknya menyentuh punggung tangan Qiaoyan.
Seketika hati Qiaoyan dibuat menghangat dengan ucapan sekaligus sentuhan lembut istrinya itu. Dia tak menyangka jika sang istri dapat membuat hatinya mencair secepat itu, seolah Yiyue merupakan pawang Qiaoyan yang setiap saat mampu meredakan amarahnya.
"Benarkah? Janji?" Tanpa Yiyue sangka suami kulkasnya langsung mengulurkan jari kelingkingnya sebagai janji Yiyue padanya.
Yiyue mengangguk sebelum akhirnya dia menautkan jari kelingkingnya pada jari milik suaminya. Keduanya pun tersenyum dengan posisi jari mereka yang masih bertautan satu sama lain. Hingga akhirnya, jari mereka pun terlepas dan keduanya pun terasa canggung.
Sementara Fan Zhi tak sengaja melihat keromantisan atasannya dengan sang istri. Lelaki tampan itu tersenyum, sesekali memperhatikan pada kaca kecil di atasnya.
'Semoga Nona Yiyue dapat mengembalikan Tuan Muda seperti dulu dan membuatnya tidak dingin seperti saat ini. Sudah lama Tuan Muda hidup dalam kepahitan. Semoga saja dengan kehadiran Nona Muda, Tuan Muda bisa menemukan kebahagiannya," batin Fan Zhi yang kemudian dia kembali fokus mengemudi.
Lama bercanda dan mengobrol membuat keduanya tak sadar jika saat ini limosin yang mereka naiki telah tiba di salah satu rumah sakit elit dan cukup ternama di kota ini.
Segera mungkin Fan Zhi melepaskan seat belt, lalu turun, sebelum kemudian dia mengambil kursi roda milik Qiaoyan di bagasi mobil. Sementara Yiyue sudah turun duluan tanpa menunggu Fan Zhi membukakan pintu limosin untuknya.
"Sini Tuan, biar aku saja."
"Baik Nona."
Tanpa kata Yiyue segera membantu suaminya duduk di kursi roda. Entah makan apa suaminya ini, mendadak tubuhnya terasa berat tiga kali lipat dari tubuhnya.
Sedangkan Qiaoyan hanya terdiam membisu, sorot matanya menatap lurus pada bangunan kokoh yang ada di hadapannya, bertuliskan ..... Hospital. Entah kenapa setiap kali dia melihat bangunan itu, seperti tempat yang menyiksa bagi Qiaoyan. Seketika ingatannya muncul pada kejadian beberapa tahun silam, saat dirinya mengalami insiden kecelakaan. Tak ada satu pun keluarga yang menjenguknya, kecuali hanya Fan Zhi yang sangat setia dan peduli padanya. Bahkan kekasihnya pun, kala itu langsung menghilang tanpa jejak.
"Tenang Tuan, semuanya pasti baik-baik saja." Tangan mungil Yiyue mengelus lembut bahu suami kulkasnya itu, seolah memberi kekuatan pada Qiaoyan yang faktanya memang hal seperti itu lah yang dibutuhkan oleh Qiaoyan saat ini.
Gadis cantik itu seolah tahu bagaimana perasaan suaminya saat ini, hingga tanpa ijin pun dia memberanikan diri untuk menyentuh suaminya.
Qiaoyan pun mengangguk dengan wajah datar dan juga dingin. Terlihat jelas sorot matanya yang begitu tajam menatap lurus gedung mewah tersebut. Tanpa menunggu lama, mereka masuk ke dalam dimana Yiyue yang dengan telaten mendorong kursi roda Qiaoyan.
Sebenarnya bisa saja Qiaoyan menekan tombol otomatis di kursi rodanya, tapi Yiyue sendiri yang menginginkan agar dirinya yang mendorong kursi roda suaminya. Saat mereka masuk, semua mata pun langsung menatap ke arah mereka. Siapa yang tidak mengenal sosok Qiaoyan? Seorang CEO ternama yang pernah mejadi tranding topik karena kesuksesannya dalam memimpin perusahaan. Bahkan dulu, Qiaoyan sempat tampil di beberapa acara TV dan majalah bisnis.
🥕🥕🥕
"Silahkan masuk Tuan," ucap seorang perawat tersenyum ramah pada Qiaoyan, Yiyue juga asisten Fan Zhi yang ikut mendampingi Tuan Mudanya. Mengingat saat ini tak ada jadwal meeting sehingga lelaki itu bisa meluangkan waktu untuk menemani atasannya kontrol.
Qiaoyan hanya mengangguk, lalu membuka pintu.
"Selamat siang Dok," ucap Qiaoyan kepada Dokter yang berusia dua puluh delapan tahun, salah satu Dokter termuda di rumah sakit itu. Dia adalah Dokter Shen Sp.S. Dokter spesialis saraf di rumah sakit besar ini. Sebelumnya yang menangani Qiaoyan adalah Dokter Choi, namun entah kenapa baru beberapa bulan lalu Dokter itu pindah ke rumah sakit di luar kota.
"Yiyue ...." Tanpa sadar Dokter Shen menyebut nama Yiyue. Kedua netranya menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya saat ini. Baik Qiaoyan, Yiyue dan Fan Zhi pun dapat mendengarnya.
"Maaf Nona, apa benar kau Zhu Yiyue?" tanya Dokter Shen penasaran. Tampak Dokter Shen menatap Yiyue lekat sampai dia lupa jika ada Qiaoyan di ruangannya.
Yiyue berkerut alis menatap bingung pada Dokter tersebut. Pasalnya dia sama sekali tidak mengenal Dokter Shen, jangankan mengenal mempunyai kenalan seorang Dokter pun dia tidak punya. Lalu kenapa bisa Dokter di hadapannya itu bisa tahu mengenai nama lengkapnya?
"Iya Dok, maaf anda siapa? Karena selama ini saya tidak punya teman atau saudara yang berprofesi sebagai Dokter." Akhirnya Yiyue bersua setelah lama terdiam dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
Tanpa kata, segera mungkin Dokter Shen beranjak membuka maskernya. Memperlihatkan wajah tampannya dengan rahang tegas, hidung mancung, dan juga bibir tipisnya. Sungguh pahatan Tuhan yang begitu indah, wajah Dokter itu tampak berwibawa dengan jas putih yang melekat pada tubuh Dokter Shen.
"Aku Shenyi, apa kau masih ingat?" tanya Dokter Shen yang masih menatap wajah cantik Yiyue.
.
.
.
🥕Bersambung🥕