Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Kabut Tanpa Jalan Pulang
Kabut tebal menyelimuti lereng utara Gunung Awan Biru sejak fajar belum sepenuhnya terbit. Pepohonan tinggi berdiri rapat seperti dinding hitam yang membungkam cahaya. Udara di Hutan Kabut Hitam terasa lembap dan dingin, seolah menolak kehadiran manusia.
Qiu Liong berdiri di batas hutan, pedang kayu diganti dengan pedang baja sederhana yang ia pinjam dari gudang murid luar. Di punggungnya tergantung kantong kecil berisi ramuan penyembuh dan roti kering.
Di belakangnya adalah jalan setapak menuju sekte.
Di depannya… ketidakpastian.
Ia menarik napas dalam.
Langkah pertama terasa ringan.
Langkah kedua mulai terasa berat.
Begitu ia benar-benar memasuki wilayah pepohonan, kabut menutup pandangan lebih dari tiga langkah ke depan. Suara burung tak terdengar. Bahkan desiran angin pun teredam oleh tebalnya udara.
Sunyi.
Sunyi yang menekan.
Qiu Liong menggenggam gagang pedangnya lebih erat.
Ia menurunkan pusat gravitasi, mengingat ajaran dasar bertahan hidup yang pernah disampaikan instruktur: jangan biarkan punggungmu terbuka, jangan percaya pada ketenangan hutan.
Setiap ranting patah terdengar seperti ancaman.
Beberapa langkah masuk, ia menemukan bekas jejak kaki di tanah lembap. Dua set, mungkin milik murid yang hilang. Namun jejak itu tidak lurus. Terlihat tergesa dan kacau.
Seolah mereka berlari.
Qiu Liong berlutut, menyentuh tanah itu.
Masih cukup baru.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia mengikuti jejak itu perlahan.
Kabut semakin tebal. Cahaya matahari nyaris tak menembus kanopi daun yang rapat. Dunia seakan menyempit menjadi lingkaran kecil di sekelilingnya.
Tiba-tiba
Suara geraman rendah terdengar dari arah kiri.
Qiu Liong membeku.
Ia tak melihat apa pun.
Namun instingnya berteriak.
Ia memutar tubuh perlahan, pedang terangkat setinggi dada.
Geraman itu terdengar lagi. Lebih dekat.
Lalu… hening.
Setetes keringat jatuh dari pelipisnya.
Ia memaksa qi mengalir ke kakinya untuk memperkuat pijakan. Namun seperti biasa, aliran itu tersendat. Rasa perih menjalar di meridian.
“Tenang…” bisiknya pada diri sendiri.
Langkahnya mundur setengah.
Kabut bergerak.
Bukan karena angin.
Melainkan karena sesuatu melintas di dalamnya.
Cepat.
Bayangan hitam melesat dari sisi kanan.
Qiu Liong mengayunkan pedangnya refleks.
Benturan keras membuat lengannya mati rasa.
Makhluk itu muncul sesaat sebelum kembali menyatu dengan kabut.
Serigala Bayangan.
Tubuhnya lebih besar dari serigala biasa, bulunya kelabu gelap, matanya kuning menyala seperti bara di tengah kabut.
Ia tak menyerang lagi.
Hanya berputar.
Mengitari.
Menunggu celah.
Qiu Liong menelan ludah.
Ia tahu satu hal: jika serigala itu menyerang dalam kecepatan penuh, ia tak yakin bisa menahannya.
Ia bukan murid inti.
Bukan jenius.
Hanya seorang murid luar dengan akar spiritual retak.
Makhluk itu melompat lagi.
Qiu Liong menghindar ke samping, pedangnya menyayat udara kosong. Cakar tajam menyentuh lengannya, merobek kain dan kulit.
Rasa panas menjalar.
Darah mulai merembes.
Ia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit.
Ketakutan mulai menyusup ke dalam pikirannya.
“Ini memang misi bunuh diri…” terlintas di benaknya.
Ia bisa saja berbalik sekarang.
Lari.
Kembali ke sekte dengan alasan tak menemukan jejak.
Namun jika ia kembali tanpa hasil, hinaan itu akan semakin menjadi.
Dan lebih dari itu…
ia sendiri tak akan mampu menatap cermin.
Serigala itu menyerang lagi, kali ini dari belakang.
Qiu Liong menjatuhkan tubuhnya ke tanah, berguling, lalu menusuk ke arah bayangan yang melintas.
Untuk sesaat, ujung pedangnya menyentuh daging.
Geraman marah menggema.
Makhluk itu mundur, darah hitam menetes dari sisinya.
Namun luka itu tidak dalam.
Ia masih berdiri.
Masih mengitari.
Qiu Liong bangkit perlahan, napasnya memburu.
Hutan ini bukan sekadar tempat berbahaya.
Ini adalah ujian.
Batas antara hidup dan mati.
Batas antara menyerah dan bertahan.
Kabut menelan dunia di sekelilingnya.
Dan untuk pertama kalinya, Qiu Liong menyadari
di hutan ini, tak ada yang akan datang menolongnya.
Tak ada mata dingin yang mengawasi.
Tak ada tawa yang meremehkan.
Hanya dirinya… dan kematian yang mengintai.
Ia mengangkat pedangnya sekali lagi.
Jika ini benar-benar hutan tanpa jalan pulang…
maka ia akan menebas jalannya sendiri keluar.
jangan bikin kecewa ya🙏💪