Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Penjaga Penginapan.
Malam turun perlahan di Hutan Gurial Tempest.
Langit di atas tertutup rapat oleh kanopi daun, hanya menyisakan potongan bintang yang terlihat seperti retakan kecil di kain hitam. Angin malam berdesir pelan, membuat dedaunan saling bergesek srrrk… srrrk… seperti bisikan rahasia hutan.
Chika dan Selena mengumpulkan batang-batang kayu kering.
Tok—tok—krek!
Chika mematahkan ranting dengan lututnya, sedikit berlebihan sampai ia hampir terjungkal.
“Wah—! Hampir mati gara-gara kayu bakar…” gumamnya.
Selena menatapnya sambil menghela napas pelan.
“Kau knight… atau tukang kayu?”
Api akhirnya menyala.
Fwooom… crack… crack…
Cahaya oranye menari di wajah mereka, membuat bayangan tubuh mereka memanjang dan bergoyang di batang-batang pohon.
Chika duduk bersila, meletakkan pedang Lumina di pangkuannya, lalu mulai membersihkannya dengan kain.
“Selena…” katanya sambil menggosok bilah pedang.
“Seperti apa sih batu pusaka itu?”
Selena memeluk lututnya, menatap api.
“Kalau tidak salah ingat…”
Ia menyipitkan mata, mencoba menggali memori lama.
“Batu itu berdiri di tengah hutan Gurial Tempest. Di atasnya tertancap pedang tua.”
Ia menggerakkan tangannya, membentuk siluet.
“Beberapa kesatria pernah mencoba mencabutnya. Ada yang sampai uratnya menonjol, ada yang jatuh pingsan, ada juga yang teriak-teriak seperti mau melahirkan… tapi…”
Ia menggeleng.
“Tak satu pun berhasil.”
Chika berhenti menggosok pedang.
“Hmm… berarti…”
Ia menghela napas.
“Mustahil ya.”
Selena meliriknya.
“Lalu untuk apa kau mau ke sana?”
Chika terdiam sejenak.
Api memantul di matanya.
“Sebelum aku jatuh waktu dikejar Komandan Corps ke-7…”
Ia menelan ludah.
“Aku bermimpi. Ada cahaya biru… dan suara yang bilang aku sudah dekat dengannya.”
Ia mengangkat bahu.
“Katanya dia The Hero Sword.”
Selena mengangkat alis.
“Pedang… bisa ngomong?”
“Entahlah. Mungkin aku kebanyakan makan roti basi.”
Selena terkekeh kecil.
“Hah… kau ini.”
Namun wajahnya lalu menjadi lebih serius.
“Bagaimanapun juga, kita harus cari princes dulu.”
Ia menatap gelapnya hutan di luar lingkaran api.
“Hutan ini berbahaya. Dan semakin dekat dengan batu pusaka…”
Ia menelan ludah.
“…semakin banyak makhluk aneh yang akan muncul.”
Chika mengangguk pelan.
“Kamu benar…”
Beberapa saat mereka hanya mendengar suara api dan serangga malam.
tik… tik… kriii… kriii…
Selena akhirnya rebahan, menggunakan mantel merahnya sebagai alas.
Namun tiba-tiba—
“CHIKA!”
Chika yang sedang membilas pedangnya di sungai kecil hampir menjatuhkan pedang.
“APA?!”
Air muncrat ke wajahnya.
Selena duduk tegak.
“Aku ingat sesuatu!”
Chika berlari kembali, masih memegang pedang basah.
“Apa?! Musuh?! Kutukan?! Kamu haus darah lagi?!”
“Bukan itu!”
Selena menunjuk ke arah hutan.
“Dari tadi kita mencari princes lewat sapu tangannya… dan arah sapu tangan itu selalu menuju… ke arah batu pusaka.”
Chika mengedip.
“…eh?”
“Memang sekarang kita masih jauh,” lanjut Selena, “tapi jalurnya searah.”
Chika menggaruk kepala.
“Berarti…”
Ia tersenyum kecil.
“Secara tidak langsung… princes memberi petunjuk?”
Selena mengangguk pelan.
“Atau…”
Ia menyipitkan mata.
“mungkin dia juga mendapat mimpi yang sama denganmu.”
Chika tertawa kecil.
“Hehehe… bisa jadi.”
Ia menatap api.
“Palingan dia mau ngasih pedang itu ke aku. Soalnya di kastil Gurial Tempest, dia suka ngasih aku barang-barang aneh.”
Ia mengangkat tangan, menghitung.
“Batu mengkilap… sendok bengkok… topi jamur…”
Selena tertawa.
“Princes… aneh tapi lucu, ya.”
Mereka berbaring di sisi api.
Chika menggunakan perisainya sebagai bantal.
Selena menutup wajahnya dengan payung merah seperti selimut darurat.
Angin malam meniup api kecil.
crack… crack…
“Besok…” gumam Chika setengah mengantuk,
“…kita temukan dia.”
Selena tersenyum samar.
“Iya… besok.”
Hutan kembali sunyi.
Namun jauh di dalam kegelapan,
seolah ada sesuatu yang bergerak…
mengamati api kecil mereka dari balik pepohonan.
Dan malam pun menelan mereka
ke dalam mimpi
tentang pedang,
tentang princess,
dan tentang takdir
yang semakin dekat.
...----------------...
Keesokan paginya, Hutan Gurial Tempest terbangun lebih dulu daripada mereka.
Cahaya matahari menembus celah dedaunan seperti tombak-tombak emas yang jatuh dari langit. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara batang pohon, dan embun menempel di ujung rumput seperti kaca kecil yang berkilau.
Chika membuka mata sambil menguap lebar.
“Haaa… hidup masih berlanjut…”
Ia duduk dan meregangkan badan. Tulang punggungnya berbunyi, krek.
Selena sudah berdiri, menepuk-nepuk gaunnya yang terkena dedaunan.
Begitu mereka melangkah keluar dari bagian hutan yang paling lebat—
“KYAAA—!”
Selena langsung membuka payung merahnya dengan gerakan dramatis.
Fwoop!
Ia bersembunyi di balik payung seperti jamur merah berjalan.
“Aku tidak tahan cahaya matahari!” katanya dengan suara tertahan.
Chika meliriknya.
“Iya, iya, aku tahu. Kamu vampir. Matahari \= oven.”
“Aku bukan roti!”
Mereka berjalan berdampingan. Chika memimpin, Selena mengikuti dengan payung miring seperti perisai anti-matahari.
Hutan di sini terasa berbeda.
Tanahnya lebih rata, dan di beberapa titik ada batu-batu aneh tersusun rapi, seperti buatan tangan manusia… atau sesuatu yang lebih iseng.
Beberapa menit berjalan, mereka sampai di sebuah persimpangan kecil.
Di depan mereka berdiri tiga patung batu berbentuk kepala goblin dengan mulut terbuka. Di tanah ada tiga ubin dengan simbol: daun, api, dan tetesan air.
Chika berhenti.
“…Ini bau-bau teka-teki.”
Selena mendekat, menatap patung itu sambil mencondongkan kepala.
“Mungkin kita harus memasukkan sesuatu ke mulut mereka?”
Chika mengambil daun kering dan memasukkannya ke patung pertama.
GLUDUK!
Tanah di bawah kaki Chika langsung amblas.
“WAH—!”
Ia terjerembap ke lubang sedalam pinggang.
Selena menatapnya dari atas.
“…salah.”
Chika mengangkat tangan dari dalam lubang.
“Catat: jangan pakai daun.”
Ia keluar dengan susah payah, penuh tanah.
Selena mengambil ranting kecil dan membakarnya sedikit dengan batu gesek yang entah dari mana ia ambil.
Ia masukkan ranting berasap ke patung api.
Klik.
Satu patung bergerak ke belakang.
“Bagus!” seru Chika.
Lalu Chika mengambil botol kecil air dan menuangkannya ke patung ketiga.
GRAAAK—!
Tanah bergetar. Patung-patung itu bergeser ke samping, membuka jalan rahasia di tengah.
Chika mengangkat tangan.
“YES! Aku jenius!”
Selena mengangguk.
“Dengan bantuan otakku.”
“Detail kecil tidak penting.”
Mereka masuk ke lorong pendek yang hanya berupa celah di antara semak-semak. Di ujungnya, mereka menemukan sebuah balok emas mengambang di udara.
Kubik. Mengilap. Berkilau seperti harta karun murahan tapi menggoda.
Mata Chika langsung berbinar.
“EMAS LAGI!”
Ia berlari, tapi lupa ada ubin di lantai.
PIIIP.
“Eh?”
BRUUUK!
Sebuah jaring turun dari atas dan membungkus Chika seperti ikan goreng.
“SELENAAAA—!”
Selena menatapnya dengan wajah datar.
“…kau selalu menginjak hal yang berbunyi.”
Ia memotong jaring dengan kuku tajamnya.
Chika jatuh ke tanah.
“Terima kasih… pahlawan malam…”
Ia berdiri, lalu mendekati kubik emas itu dengan sangat hati-hati, seperti mendekati hewan liar.
Ia menyentuhnya.
Tidak ada apa-apa terjadi.
Chika mengangkatnya dengan kedua tangan.
“Hehehe… cantik…”
Ia memeluknya.
Selena menatapnya heran.
“Kau memeluk emas?”
“Ini kenang-kenangan dari perjalanan kita.”
Selena menghela napas panjang.
Mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan teka-teki lain: jalan buntu dengan batu besar menutup jalur, dan di sampingnya ada tuas.
Chika menarik tuas.
DUARR!
Batu jatuh… tepat ke arah mereka.
“LARI!”
Mereka berdua lari terbirit-birit. Selena tersandung karena ujung gaunnya, Chika menariknya sambil teriak,
“JANGAN JADI KORBAN MODE!”
Mereka bersembunyi di balik pohon. Batu besar menggelinding lewat dengan suara,
GROOOOM—!
Selena terengah.
“Aku… benci… hutan teka-teki…”
Chika tertawa.
“Tapi seru, kan?”
“…tidak.”
Beberapa jam kemudian, mereka menemukan satu kubik emas lagi, tapi kali ini tergantung di atas lubang.
Chika melihat ke bawah.
“Dalam sekali…”
Selena memegang pundaknya.
“Kalau kau jatuh, aku tidak akan turun.”
Chika mengambil napas dalam-dalam, lalu melompat.
BOING!
Ternyata ada lantai transparan.
“HAH! TIPUAN!”
Ia mengambil kubik emas itu dan melompat kembali.
Mereka berdiri di tengah hutan yang mulai terbuka, membawa dua kubik emas di tas Chika.
Selena menatap ke depan.
“…Chika.”
“Apa?”
“Kalau princes benar menuju batu pusaka…”
Ia menggenggam payungnya lebih erat.
“Berarti kita juga semakin dekat dengan sesuatu yang besar.”
Chika tersenyum kecil.
“Tenang saja.”
Ia menepuk dadanya.
“Aku knight. Walaupun sering jatuh ke jebakan.”
Selena tertawa kecil.
Dan di antara pepohonan yang semakin jarang,
jalan mereka mengarah ke bagian hutan yang terasa…
lebih sunyi,
lebih berat,
seolah tanahnya sendiri menunggu seseorang
yang akan datang.
...----------------...
Hutan mulai berubah bentuk.
Pepohonan di bagian ini tumbuh lebih jarang, tapi batangnya lebih tebal, akarnya mencuat ke permukaan tanah seperti ular-ular raksasa yang tidur. Cahaya matahari jatuh terpecah-pecah, membentuk pola aneh di tanah berlumut.
Chika berjalan paling depan sambil membungkuk sedikit, matanya sibuk mencari sesuatu di antara rumput dan daun kering.
“Princes suka ninggalin sapu tangan di tempat aneh…” gumamnya. “Kayak breadcrumb, tapi dari kain.”
Selena berjalan di belakangnya, payung merah tetap terbuka meski cahaya sudah tertutup kanopi daun. Tatapannya waspada, telinganya sesekali bergerak kecil, seolah menangkap suara yang tidak terdengar oleh manusia.
Tiba-tiba Chika berhenti.
Di antara semak-semak, terlihat seorang wanita berjongkok, mencabut jamur dari tanah.
Ia mengenakan pakaian sederhana warna cokelat muda. Rambutnya panjang, sedikit bergelombang, warnanya cokelat hangat. Yang aneh—ia tersenyum lebar… sampai matanya hampir tidak terlihat sama sekali, tertutup oleh lengkungan senyum itu.
Wanita itu berdiri perlahan sambil membawa keranjang kecil penuh jamur.
“Wah…” katanya dengan suara lembut dan ceria, “seorang knight dan… seorang vampir.”
Selena langsung menegang. Payungnya sedikit terangkat, posisinya berubah defensif.
“…Dari mana kau tahu aku vampir?” tanya Selena, suaranya rendah.
Wanita itu tertawa kecil, menepuk-nepuk keranjangnya.
“Aku pernah pergi ke dunia iblis. Pernah juga ke kota vampir. Aku pernah melihatmu…”
Ia memiringkan kepala.
“Kamu… Selena, bukan?”
Selena membelalakkan mata.
Chika refleks melangkah setengah langkah ke depan Selena.
“Eh? Kalian saling kenal?”
Wanita itu tersenyum lebih lebar.
“Perkenalkan, namaku Vivi. Aku penjaga penginapan di hutan ini.”
Chika terkejut.
“Penginapan?! Yang waktu aku bangun pingsan itu?!”
Vivi mengangguk pelan.
“Iya. Kalian jatuh tepat di belakang penginapanku. Knight ini pingsan seperti mayat yang kelelahan.”
“Hei… aku masih hidup waktu itu…”
Vivi lalu menepuk tangannya pelan, seperti baru ingat sesuatu.
“Oh iya. Barusan aku melihat seorang gadis kecil berambut kuning berlari lewat sini. Dia terus bicara sendiri tentang ‘batu pusaka’.”
Chika langsung mendekat, hampir memegang bahu Vivi.
“SERIOUS?! Kamu tahu ke mana dia pergi?!”
Vivi menunjuk ke arah jalan setapak di depan mereka.
“Ke sana. Tapi dia unik. Dia selalu menjatuhkan sapu tangan kecil setiap melewati tikungan.”
Chika menoleh ke Selena, matanya berbinar.
“SELENA! ITU BENAR! ITU CIRI KHAS PRINCES!”
Selena mengangguk cepat.
“Kalau begitu… kita memang di jalur yang benar.”
Chika membungkuk sedikit ke arah Vivi.
“Terima kasih banyak, Vivi! Kamu sangat membantu!”
Vivi tersenyum manis.
“Sama-sama. Hati-hati ya. Hutan ini tidak ramah pada anak kecil.”
Chika dan Selena segera berjalan ke arah yang ditunjuk.
Daun-daun kering berderak di bawah sepatu mereka. Udara terasa sedikit lebih dingin, seolah hutan makin dalam, makin tua.
Beberapa langkah setelah mereka pergi—
Vivi masih berdiri di tempat semula.
Senyumnya tidak hilang.
Perlahan… ia melangkah mengikuti mereka.
Tanpa suara.
Di tengah perjalanan, Selena menoleh sedikit ke belakang, matanya menyipit.
“…Chika.”
“Hm?”
“Aku curiga.”
Chika berhenti.
“Curiga kenapa?”
Selena menutup payungnya sedikit, suaranya pelan.
“Aku merasakan aura aneh dari wanita itu. Bukan manusia biasa. Bukan iblis. Bukan vampir.”
Chika menggaruk pipinya.
“Mungkin dia cuma… penjaga penginapan yang sering jalan-jalan ke dunia aneh?”
Selena tidak langsung menjawab.
“…Mungkin.”
Mereka melanjutkan langkah.
Di belakang mereka, beberapa puluh meter jauhnya, Vivi masih mengikuti, langkahnya ringan seperti tidak menyentuh tanah.
Ia berbisik pada dirinya sendiri, dengan suara yang hampir tenggelam oleh desiran daun.
“Vampir itu bisa merasakan energiku…”
Senyumnya sedikit berubah—masih manis, tapi ada sesuatu yang… tidak hangat di baliknya.
“Aku harus berhati-hati.”
Angin berdesir.
Sebuah sapu tangan kecil tergeletak di tanah di depan Chika.
Chika berhenti lagi.
“Princes…” katanya pelan. “Kita semakin dekat.”
...----------------...
Hutan tiba-tiba terasa… terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung. Tidak ada serangga. Bahkan langkah kaki Chika terdengar terlalu jelas di tanah berlumut.
Chika berjalan santai di depan, masih memperhatikan sapu tangan kecil yang terikat di dahan rendah.
“Princes lewat sini… yakin,” gumamnya.
Selena mengikutinya, payung merah sedikit miring, matanya bergerak ke kiri dan kanan.
“Chika… hutan ini terlalu tenang.”
“Hah? Bukannya bagus?”
Kalimat itu belum selesai ketika—
WHUUSH!
Sesuatu jatuh dari atas.
Jaring besar terbuat dari tali kasar dan serat kayu menjebloskan mereka berdua ke tanah.
“WAH?!”
“CHIKA!”
Tubuh mereka terjerat rapat. Pedang Lumina terlepas dari tangan Chika dan jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring. Perisai Lumina ikut terguling, memantulkan cahaya pucat di antara dedaunan.
Dari balik semak, muncul tiga sosok.
Yang pertama: seorang wanita berambut pendek kemerahan, pakaiannya penuh kantong dan sabuk kecil, matanya tajam seperti pencuri profesional.
Yang kedua: pria bertubuh tinggi dengan helm aneh dari ember besi, membawa tongkat besi.
Yang ketiga… seekor panda merah berdiri tegak, memakai rompi kecil dan membawa tas besar di punggungnya.
Wanita itu menepuk tangan.
“Berhasil. Target terjerat.”
Pria itu tertawa keras.
“HAHAHA! Knight dan vampir! Jackpot hari ini!”
Panda merah mengangguk cepat.
“Kevin setuju. Senjata bagus. Bisa dijual mahal.”
Chika meronta di dalam jaring.
“HEI! Lepasin aku! Itu pedang kerajaan!”
Wanita itu berjongkok dan mengambil Pedang Lumina dengan hati-hati.
“Nama saya Risa. Ini Bob. Dan itu Kevin.”
Bob mengangkat tangan.
“Yo.”
Kevin melambaikan ekor.
Risa memutar pedang Lumina, matanya berbinar.
“Wow… beratnya beda. Ini bukan senjata biasa.”
Selena menyipitkan mata.
“Kalian pencuri?”
“Pemburu harta,” koreksi Risa. “Dan kebetulan… kalian membawa harta berjalan.”
Bob mengambil perisai Lumina.
“Ini juga mahal.”
Chika hampir menangis.
“ITU PERISAIIKU…”
Risa tersenyum licik.
“Kami pinjam dulu.”
Mereka bertiga berbalik dan lari masuk ke semak.
Chika dan Selena jatuh terguling bersama jaring.
“SELENA! PEDANGKU DICURI!”
Selena justru tampak tenang. Tangannya bergerak cepat di balik lipatan gaunnya.
KLIK.
Suara kecil terdengar.
Chika menoleh.
“Kamu ngapain?”
“Aku memfoto struktur jaringnya.”
“…Kenapa?”
“Supaya tahu simpulnya.”
Selena menggeser jari-jarinya, kuku tajamnya menyelinap ke celah tali.
KREK.
Jaring terbelah.
Mereka berdua jatuh ke tanah.
Chika langsung berdiri.
“KEJAR MEREKA!”
Mereka berlari menembus semak.
Tak jauh dari sana, terdengar suara mesin kayu berderit.
KRRRKK… DUK… DUK…
Di sebuah tanah lapang kecil, Risa, Bob, dan Kevin sedang menaiki sesuatu yang… absurd.
Sebuah robot besar terbuat dari balok kayu, roda gerobak, dan batang pohon. Tangannya seperti lengan boneka raksasa, kakinya dari tong kayu.
Kevin duduk di kepala robot sambil memegang tuas.
“Kevin mengemudi!”
Risa berdiri di bahu robot, memegang pedang Lumina.
“Knight! Terima kasih atas donasinya!”
Bob mengangkat perisai Lumina seperti trofi.
Robot kayu itu maju.
DUK. DUK. DUK.
Tanah bergetar.
Chika refleks mengangkat tangan kosong.
“…SELENA. AKU TANPA SENJATA.”
Selena tidak menjawab.
Ia melangkah mundur sedikit, tubuhnya memudar di balik bayangan pohon.
Risa tertawa.
“Takut? Robot kami kuat!”
Robot mengayunkan lengan kayunya.
WHOOOSH!
Chika meloncat ke samping, tanah tempatnya berdiri hancur.
“WOI ITU BUKAN ROBOT BIASA!”
Sementara Chika sibuk menghindar, Selena menghilang ke sisi hutan.
Bayangan bergerak cepat.
Detik berikutnya—
Sesuatu melayang ke arah Chika.
Pedang Lumina.
Chika refleks menangkapnya.
“HAH?!”
Perisai menyusul, mendarat di lengannya.
Selena muncul di belakangnya.
“Aku ambil dari Bob.”
Bob menoleh, terkejut.
“EH?! PERISAIIKUU!”
Kevin panik.
“Kevin kehilangan barang curian!”
Risa menyipitkan mata.
“Vampir cepat juga.”
Chika mengangkat pedang.
“Nah. Sekarang kita seimbang.”
Robot kayu maju lagi.
DUK. DUK. DUK.
Namun Risa mengangkat tangan.
“Tunggu.”
Ia menatap Chika dengan senyum aneh.
“Knight, kami sebenarnya bukan tertarik pada senjatamu.”
Chika menegang.
“Lalu?”
Bob menunjuk ke arah hutan di belakang mereka.
“Seorang gadis kecil lewat sini tadi.”
Kevin mengangguk cepat.
“Rambut kuning. Kecil. Wangi darah.”
Selena langsung kaku.
“…Princes.”
Risa mengayunkan pedang Lumina pelan.
“Kami memburu dia. Hadiahnya jauh lebih mahal.”
Chika melangkah maju, perisai di depan, pedang bergetar di tangannya.
“Kalau begitu…”
Napasnya terdengar jelas.
“Langkahi mayatku dulu.”
Tanah lapang itu berubah menjadi arena pertempuran.
Robot kayu buatan Risa, Bob, dan Kevin berdiri tinggi di antara batang-batang pohon tumbang. Badannya terbuat dari balok kayu yang disatukan dengan paku besar, di bagian perutnya ada cerobong seperti tungku. Dari mulut cerobong itu keluar asap tipis keabu-abuan, berbau minyak dan arang basah.
Kevin menarik tuas di atas kepala robot.
“MODE SERANG!”
KRAAAAK!
Mulut robot terbuka lebar.
BOOOM!
Sebuah bola api diludahkan ke arah Chika.
“SELENA!”
Chika refleks mengangkat perisai Lumina.
DUAANG!
Api menghantam perisai, menyebar seperti ombak merah-oranye, panasnya membuat rumput di sekeliling menghitam.
Chika terdorong mundur beberapa langkah.
“PANAS! PANAS! PANAS! INI ROBOT ATAU TUNGKU NASI GORENG?!”
Selena melompat ke samping, gaunnya berkibar, darah tipis keluar dari ujung jarinya membentuk bilah merah transparan.
“Chika, bagian sendinya! Kayunya hidup tapi engselnya lemah!”
Robot mengayunkan tangan kanannya.
Dari ujungnya keluar bola besi berduri yang terikat rantai.
WUUUUSH—DUK!
Tanah meledak saat bola itu menghantam, meninggalkan kawah kecil.
Chika hampir terseret.
“WOI WOI WOI ITU SENJATA DUNIA BARU YA?!”
Selena berlari memutar, darahnya memanjang seperti cambuk.
“Blood Thread!”
Cambuk darah menghantam lutut robot.
SSSSS!
Kayu mendesis, tapi tidak patah.
Kevin berteriak dari atas.
“Robot tahan darah!”
Bob mengangkat tinju.
“HAHA! TAHAN ITU, VAMPIR!”
Chika menggertakkan gigi.
“Kalau kayu… berarti bisa dipotong!”
Ia melompat maju, pedang Lumina menyala pucat.
“LUMINA—TEBAS!”
SHIIING!
Pedang menghantam kaki robot.
Kayu terbelah, tapi hanya separuh.
Robot oleng… lalu memuntahkan api lagi.
BOOOOM!
Selena menarik Chika ke belakang dengan gerakan cepat.
Api melintas tepat di depan wajah mereka.
Chika terengah.
“Terima kasih…”
“Fokus,” jawab Selena pendek.
Tiba-tiba terdengar suara langkah ringan dari arah semak.
“Tsk tsk… ribut sekali kalian.”
Chika menoleh.
“VIVI?!”
Vivi muncul dari balik pohon, membawa keranjang penuh jamur ungu mengkilap. Senyumnya tetap sama—lebar, menutupi mata.
“Wah, kalian melawan mainan kayu besar ya.”
Risa berteriak dari atas robot.
“HEI! WANITA JAMUR! MENJAUH!”
Vivi justru melangkah ke depan.
“Jamur ini… sangat cocok untuk kayu.”
Ia melempar segenggam jamur ke udara.
Jamur itu pecah menjadi bubuk ungu.
PFFFSSS!
Bubuk itu menempel di badan robot.
SSSSSSS…
Kayu mulai menghitam.
Kevin panik.
“Kevin mencium bau aneh!”
Bob memukul badan robot.
“Kenapa badan kita jadi lembek?!”
Vivi tersenyum.
“Jamur racunku memakan serat kayu… pelan-pelan.”
Selena menatap Vivi.
“…Kau bukan penjaga penginapan biasa.”
Vivi mengangkat bahu.
“Hanya wanita yang suka jamur.”
Robot meraung, memuntahkan api liar.
Namun api itu justru menyentuh bagian yang sudah terkena racun.
FOOOM!
Badan robot retak.
Chika melihat celah.
“SEKARANG!”
Ia berlari, perisai di depan, menabrak kaki robot.
DUAANG!
Robot jatuh berlutut.
Selena melompat tinggi, darah membentuk tombak.
“Blood Spear!”
Tombak menancap di dada robot.
KREKKK!
Kayu pecah.
Vivi melempar jamur terakhir ke kepala robot.
“Tidurlah.”
PRAAAANG!
Robot kayu roboh total, terbelah dua. Risa, Bob, dan Kevin terlempar ke tanah.
Debu kayu beterbangan.
Chika berdiri terengah, pedangnya terangkat.
“Kalian… jangan kejar princes.”
Risa menggeram.
“…Ini belum selesai…”
Bob menarik Kevin.
“Kita mundur! Robot rusak!”
Kevin menangis kecil.
“Kevin tidak mau jadi kayu bakar!”
Mereka bertiga kabur ke dalam hutan.
Sunyi kembali.
Chika menjatuhkan bahunya.
“…Selamat?”
Selena menghela napas panjang.
“Untuk sekarang.”
Chika menoleh ke Vivi.
“…Terima kasih.”
Vivi tersenyum.
“Kalau kalian mati, penginapanku sepi.”
Chika menggaruk kepala.
“Alasanmu aneh…”
Selena memandang ke arah jalan setapak tempat para pencuri kabur.
“Yang lebih penting… mereka juga memburu princes.”
Chika mengepalkan tangan.
“Berarti kita makin dekat.”
Di tanah, sebuah sapu tangan kecil tertiup angin, berhenti di dekat kaki Chika.
Ia memungutnya.
“…Princes.”
Hutan di depan mereka tampak semakin gelap dan dalam.
Dan jauh di sana, sesuatu menunggu.