Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Pindah ke Istana
Ambang Pintu Emas
Kesunyian di dalam Perpustakaan Terlarang terasa mencekam setelah Panglima Vane meninggalkan ruangan dengan deru kemarahan yang tertahan. Elara berdiri mematung di bawah cahaya rembulan yang jatuh dari jendela tinggi, membiarkan kunci perak di genggamannya menyerap suhu tubuhnya hingga benda itu tak lagi terasa sedingin es. Luka bakarnya di punggung—titik fokus sihir Void-nya—berdenyut pelan, memberikan sensasi hangat yang menyakitkan namun menenangkan, pertanda bahwa resonansi energinya dengan kegelapan malam telah mencapai kestabilan yang ia butuhkan. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia menggunakan aura Void untuk menekan lawan bicaranya.
"Sudah waktunya, Tuan Putri," bisik Rina yang muncul dari balik bayang-bayang pilar perpustakaan dengan wajah pucat. "Kereta kaisar sudah menunggu di gerbang dalam. Barang-barang Anda... yang sedikit itu, sudah dipindahkan lebih dulu."
Elara membuka matanya, kilatan ungu tipis di iris kelabunya memudar berganti dengan ketenangan yang dingin. "Kau gemetar, Rina. Apa kau takut meninggalkan bau penjara?"
Rina meremas ujung apronnya, matanya menatap lantai marmer dengan gelisah. "Saya takut pada apa yang menunggu kita di sana, Tuan Putri. Perpindahan ke sayap utama istana berarti kita akan berada tepat di bawah hidung Selir Utama Elena. Di penjara, setidaknya ada dinding yang memisahkan kita. Di sana, hanya ada sutra dan bantal empuk yang bisa saja menyembunyikan belati."
"Justru di balik sutra itulah kita akan menanam duri kita sendiri," Elara melangkah maju, jubah ungunya menyapu lantai dengan suara desis yang halus. "Jangan sebut aku Tuan Putri lagi saat kita melewati ambang pintu itu. Di mata mereka, aku adalah Penasihat Agung. Di mata kaisar, aku adalah obsesi. Jadilah mataku di antara para pelayan, Rina. Pastikan tidak ada satu bisikan pun di dapur atau ruang cuci yang luput dari telingamu."
"Saya akan berusaha, Nyonya... maksud saya, Penasihat Elara," Rina membungkuk dalam, mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan status yang begitu mendadak.
Mereka berjalan menembus koridor penghubung yang sepi. Elara bisa merasakan perbedaan kepadatan mana di udara saat mereka semakin mendekati sayap utama kekaisaran. Udara di sini tidak lagi berbau besi karat atau lembapnya tanah, melainkan harum mawar yang sangat tajam, nyaris mencekik. Itu adalah tanda tangan sihir Elena—sebuah aroma yang digunakan untuk menandai wilayah kekuasaannya. Elara secara otomatis mengaktifkan analisis struktur molekul energinya, membedah partikel aroma itu dan menemukan jejak sihir hitam yang samar namun korosif.
"Aroma ini... sangat kuat," gumam Elara, tangannya tanpa sadar meraba pergelangan tangannya yang mulai menunjukkan garis kehitaman tipis.
"Itu adalah mawar dari taman pribadi Selir Elena," jelas seorang pengawal yang berjalan di depan mereka tanpa menoleh. "Beliau meminta agar seluruh jalur menuju sayap utama selalu harum mawar untuk menyambut kedatangan tamu kaisar."
"Penyambutan yang sangat dramatis," sahut Elara dingin. "Sampaikan pada kaisar, aku sangat menghargai usahanya untuk menutupi bau busuk dari intrik istana dengan bunga-bunga ini."
Pengawal itu tersentak, langkahnya goyah sejenak, namun ia memilih untuk tetap diam. Mereka sampai di gerbang emas yang menghubungkan area luar dengan jantung istana Asteria yang kini telah berganti nama menjadi Istana Valerius. Saat pintu terbuka, kemegahan yang menyilaukan mata terpampang di depan mereka. Lampu kristal mana yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya putih kebiruan yang jernih, memantul di atas lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap seperti cermin.
"Selamat datang kembali di rumah yang bukan lagi rumah Anda," bisik sebuah suara di batin Elara, sebuah refleksi dari jiwanya yang dulu sebagai Aurelia.
Elara menatap setiap sudut ruangan dengan mata yang seolah-olah terpesona. Ia membiarkan mulutnya sedikit terbuka, menunjukkan ekspresi tawanan yang takjub oleh kemewahan kaisar. Namun, di balik topeng kekaguman itu, otaknya bekerja secepat kilat. Ia menghitung jumlah langkah dari gerbang ke setiap tiang penyangga, memetakan posisi sensor sihir pelacak yang tertanam di dalam ukiran dinding, dan mencatat titik-titik buta di mana penjaga tidak bisa melihat dengan jelas.
"Luar biasa," ucap Elara dengan nada yang sedikit bergetar, memberikan kesan bahwa ia merasa terintimidasi. "Aku tidak pernah membayangkan ada tempat seindah ini di dunia."
Seorang pria paruh baya dengan pakaian formal pengurus rumah tangga istana maju ke depan, membungkuk kaku. "Nama saya adalah Silas, Penasihat Elara. Saya ditugaskan oleh Yang Mulia Kaisar untuk memastikan kenyamanan Anda. Beliau telah menyiapkan Paviliun Melati untuk Anda, tempat paling mewah setelah kamar kaisar sendiri."
Elara menatap Silas, menggunakan Void-nya untuk membaca getaran suara pria itu. Ada ketidaksukaan yang ditekan dengan keras di sana. "Paviliun Melati? Saya rasa itu terlalu berlebihan bagi seseorang yang baru saja keluar dari sel gelap."
"Ini adalah perintah langsung dari Yang Mulia," Silas menegaskan, nadanya tidak menerima bantahan. "Paviliun itu memiliki pemandian air hangat pribadi, pelayan khusus, dan pemandangan langsung ke taman utama."
"Saya menghargai kemurahan hati kaisar, namun saya memiliki permintaan khusus," Elara memotong pembicaraan Silas dengan ketegasan yang tenang. "Saya menderita kesulitan tidur sejak... insiden api itu. Cahaya dan ruang yang terlalu terbuka membuat saya gelisah. Apakah ada kamar yang lebih sederhana? Mungkin di bagian belakang, yang lebih dekat dengan Perpustakaan Terlarang agar saya bisa bekerja hingga larut malam?"
Silas mengerutkan kening, tampak bingung. "Tetapi itu adalah area pelayan senior dan asisten peneliti, Penasihat. Fasilitasnya jauh di bawah standar yang ditetapkan kaisar."
"Kesunyian adalah kemewahan bagi saya, Silas," Elara tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat lelah namun tulus bagi orang awam. "Kamar di sayap barat, di dekat menara jam tua. Saya ingin di sana."
"Jika itu keinginan Anda, saya harus melaporkannya terlebih dahulu kepada kaisar," Silas membungkuk lagi. "Namun untuk malam ini, Anda harus menempati Paviliun Melati sebagai formalitas perpindahan."
"Baiklah, untuk satu malam saja," jawab Elara.
Saat mereka berjalan menuju Paviliun Melati, Elara berpapasan dengan rombongan pelayan yang membawa nampan berisi bunga mawar segar. Di tengah rombongan itu, sosok wanita dengan gaun merah menyala berdiri dengan anggun, menatap Elara dengan tatapan yang bisa membakar kulit. Itu adalah Elena.
"Jadi, inilah tikus penjara yang tiba-tiba mengenakan sutra," suara Elena terdengar merdu namun mengandung racun yang pekat.
Elara berhenti tepat di depan Elena. Ia tidak menundukkan kepala, melainkan menatap langsung ke mata wanita yang telah menghancurkan hidupnya itu. "Sutra tetaplah sutra, Selir Utama. Namun mawar yang terlalu harum biasanya digunakan untuk menutupi bau mayat yang mulai membusuk di bawah lantai istana."
Wajah Elena mengeras, jemarinya yang lentik mengepal hingga kuku-kukunya memutih. "Kau pikir dengan kunci perak itu kau bisa menguasai tempat ini? Kau hanya mainan baru Valerius. Begitu dia bosan dengan wajahmu yang penuh bekas luka itu, kau akan memohon untuk dikembalikan ke selmu."
"Mungkin," sahut Elara, melangkah selangkah lebih dekat hingga aroma mawar Elena terasa menyesakkan. "Tapi sampai hari itu tiba, sebaiknya kau mulai belajar bagaimana caranya berbagi udara denganku, Elena. Karena aku tidak berencana untuk pergi dalam waktu dekat."
Elena mengangkat tangannya, sebuah pendaran sihir hitam mulai muncul di ujung jarinya, memicu reaksi defensif pada energi Void Elara. Suhu di koridor itu mendadak turun drastis, membuat para pelayan di sekitar mereka menggigil ketakutan.
"Apa ada masalah di sini?"
Suara berat Valerius memecah ketegangan. Kaisar itu muncul dari ujung koridor dengan langkah lebar, matanya beralih dari Elena ke Elara dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Tidak ada, Yang Mulia," Elena segera mengubah ekspresinya menjadi senyum manis yang menggoda, tangannya turun dengan cepat. "Saya hanya sedang menyambut Penasihat baru Anda. Kami sedang membicarakan betapa cantiknya Paviliun Melati untuknya."
Valerius menatap Elara, mencari tanda-tanda ketakutan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang sedingin es. "Elara, apakah kau menyukai tempat tinggalmu yang baru?"
"Tempat ini sangat megah, Yang Mulia," jawab Elara dengan nada yang datar. "Namun saya baru saja menyampaikan pada Silas bahwa saya lebih memilih kamar yang lebih tenang di dekat sayap barat."
Valerius mengerutkan alisnya. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan Melati?"
"Terlalu banyak mawar," Elara melirik Elena sekilas. "Aromanya membuat kepala saya pening, dan saya membutuhkan kejernihan pikiran untuk menyusun laporan pertahanan utara yang Anda minta."
Valerius tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar asing di koridor yang tegang itu. "Kau memang berbeda. Baiklah, Silas, berikan dia kamar yang dia inginkan di sayap barat. Tapi pastikan interiornya tetap layak untuk seorang Penasihat Agung."
"Baik, Yang Mulia," Silas membungkuk patuh.
Elena tampak terkejut sekaligus terhina karena permintaannya tentang mawar disinggung secara terang-terangan di depan kaisar. Ia memberikan tatapan terakhir yang penuh ancaman pada Elara sebelum berbalik pergi dengan langkah yang dihentakkan.
"Ikut aku sebentar, Elara," perintah Valerius, memberikan isyarat agar pengawal dan pelayan lainnya menjaga jarak.
Mereka berjalan menuju balkon yang menghadap ke arah taman Asteria. Angin malam berembus kencang, menerbangkan rambut Elara yang kini telah disisir rapi namun tetap menunjukkan helai-helai kasar akibat siksaan di penjara.
"Kenapa kau tidak memilih kemewahan, Elara?" tanya Valerius tanpa menoleh, matanya menatap kejauhan. "Semua wanita di istana ini saling membunuh hanya untuk mendapatkan satu malam di Paviliun Melati."
"Karena saya bukan semua wanita itu, Yang Mulia," Elara berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang aman namun tetap dalam jangkauan pengaruh kaisar. "Kemewahan hanyalah gangguan bagi mata yang harus tetap waspada. Anda memberi saya tugas berat, dan saya tidak bisa mengerjakannya jika saya terlena oleh sutra yang terlalu lembut."
Valerius menoleh, menatap wajah Elara di bawah cahaya bulan. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pipi Elara, namun ia berhenti di tengah jalan saat melihat kilatan waspada di mata wanita itu. "Kau mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku cintai, namun kau jauh lebih... tajam. Dia tidak akan pernah menolak paviliun bunga."
"Mungkin itu sebabnya dia tidak bisa bertahan di sisi Anda," sahut Elara dingin, sebuah komentar irasional yang muncul dari rasa sakit Aurelia yang terpendam.
Valerius terdiam sejenak, rahangnya mengeras. "Mungkin kau benar. Ketajamanmu adalah apa yang aku butuhkan sekarang. Pergilah ke kamarmu. Besok pagi, aku ingin melihat kerangka awal laporanmu di ruang kerja pribadiku."
"Saya mengerti, Yang Mulia."
Elara membungkuk dan berjalan pergi, meninggalkan Valerius sendirian di balkon. Saat ia melangkah menuju sayap barat, ia meraba dinding istana, merasakan denyut mana yang mengalir di dalamnya. Di dalam benaknya, peta istana mulai terbentuk sempurna. Posisi kamarnya yang baru bukanlah sebuah kebetulan; itu adalah titik di mana sirkuit sihir pertahanan istana mengalami distorsi paling besar karena usia bangunan yang sudah tua. Dari sana, ia bisa menyadap komunikasi mana tanpa terdeteksi oleh para penyihir istana.
"Ini adalah awal yang baru, Aurelia," bisik Elara saat ia memasuki kamar sederhananya di sayap barat.
Kamar itu hanya berisi sebuah tempat tidur kayu, meja kerja yang besar, dan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah menara jam. Rina sudah menunggunya di dalam, tampak lebih tenang sekarang.
"Nyonya, saya sudah memeriksa seluruh sudut kamar ini," bisik Rina sambil mendekat. "Tidak ada perangkat pengintai sihir di sini. Tempat ini benar-benar terisolasi."
"Bagus," Elara meletakkan kunci peraknya di atas meja. "Sekarang, ambilkan aku garam yang kita simpan dari penjara. Aku harus mulai menyiapkan medium untuk menetralisir residu sihir Elena yang menempel di baju-bajuku tadi."
"Segera, Nyonya."
Elara duduk di kursi kayunya, menatap kegelapan di luar jendela. Di kejauhan, ia bisa melihat cahaya dari kamar Elena yang masih menyala terang. Ia tahu bahwa malam ini Elena tidak akan tidur dengan tenang. Begitu juga dirinya. Setiap sudut istana ini adalah medan perang, dan ia baru saja menancapkan benderanya di wilayah musuh.
Pemetaan dalam Sunyi
Rina bergerak dengan cekatan di bawah cahaya lilin yang temaram, mengeluarkan bungkusan kecil berisi butiran kristal putih yang tampak biasa namun sangat berharga bagi Elara. Garam itu, sisa dari persediaan yang ia curi dan simpan dengan penuh risiko sejak masih di sel bawah tanah, kini diletakkan di atas meja kayu yang kasar. Elara menatap butiran tersebut, lalu perlahan menaburkannya dalam lingkaran kecil di sekeliling kunci perak Perpustakaan Terlarang. Begitu jarinya menyentuh butiran garam, ia merasakan aliran energi Void-nya merespons, berdenyut selaras dengan sirkuit energinya yang telah mencapai tingkat 0.8.
"Nyonya, apakah Anda benar-benar bisa merasakan keberadaan sihir Selir Elena hanya dari aroma mawar tadi?" tanya Rina dengan suara yang nyaris tidak terdengar, matanya melebar melihat butiran garam itu mulai berpendar ungu tipis.
"Sihir hitam bukan hanya soal mantra, Rina," jawab Elara tanpa mengalihkan pandangan. "Itu adalah residu yang menempel pada jiwa. Elena telah menggunakan energi dari entitas Void begitu lama hingga ia meninggalkan jejak molekuler ke mana pun ia pergi. Aroma mawar itu hanyalah medium untuk menyembunyikan bau busuk dari energi yang membusuk di dalam tubuhnya."
Elara memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meluas keluar dari batas dinding kamar sederhananya. Di bawah pengaruh konsentrasi Void-nya, dinding-dinding marmer istana yang tebal mulai tampak transparan dalam penglihatan batinnya. Ia melihat garis-garis bercahaya yang mengalir di sepanjang koridor, di bawah lantai, dan di balik langit-langit. Itulah sirkuit pertahanan sihir kekaisaran—sebuah jaring raksasa yang dirancang untuk mendeteksi penyusup atau penggunaan sihir ilegal.
"Titik distorsi ada di sini," gumam Elara, mengarahkan tangannya ke arah sudut plafon di atas meja kerjanya. "Menara jam tua di sebelah kamar ini memancarkan frekuensi mekanis yang mengganggu aliran mana di titik ini. Itulah sebabnya sensor sihir mereka tidak bisa membaca dengan jelas apa yang terjadi di ruangan ini."
"Jadi, inilah alasan Anda memilih kamar ini daripada Paviliun Melati?" Rina tampak takjub, sekaligus ngeri melihat betapa dalamnya perhitungan majikannya.
"Di istana ini, privasi adalah senjata yang paling mematikan," Elara membuka matanya kembali, pendaran ungu di irisnya kini lebih tajam. "Jika aku berada di Melati, setiap embusan napas dan setiap detak jantungku akan tercatat oleh para penyihir istana faksi Elena. Di sini, aku bebas membangun kekuatanku kembali tanpa pengawasan."
"Tapi Yang Mulia Kaisar pasti akan curiga jika Anda terlalu menutup diri," Rina memperingatkan sambil merapikan tempat tidur yang keras.
"Biarkan dia curiga. Kecurigaan adalah bentuk lain dari obsesi," Elara tersenyum pahit, mengingat tatapan Valerius di balkon tadi. "Dia mencari Aurelia di dalam diriku. Selama aku memberinya kilasan-kilasan memori itu, dia akan memberikan apa pun yang aku minta, termasuk kebebasan untuk tetap berada di sudut yang gelap ini."
Tiba-tiba, Elara merasakan getaran aneh melalui lantai. Bukan getaran mekanis dari menara jam, melainkan denyut sihir yang agresif. Seseorang sedang melakukan pemindaian aktif di area sayap barat. Elara segera menarik kembali energinya, menyerap pendaran ungu di atas meja kembali ke dalam pori-pori kulitnya. Ia memberikan isyarat pada Rina untuk diam.
Suara langkah kaki yang ringan namun tegas terdengar di koridor luar. Tidak lama kemudian, pintu kamar diketuk dengan ketukan yang ritmis—tiga kali, dengan jeda yang sempurna di setiap ketukannya.
"Siapa di sana?" tanya Elara, suaranya kembali menjadi nada seorang penasihat yang kaku dan formal.
"Utusan dari Departemen Logistik, Penasihat Elara," sebuah suara wanita yang tajam menyahut. "Kami membawakan perlengkapan administrasi dan peta wilayah utara yang diminta oleh Yang Mulia Kaisar."
Elara memberikan anggukan pada Rina untuk membuka pintu. Seorang wanita muda dengan seragam pejabat tingkat menengah masuk, membawa sebuah kotak kayu besar bertatahkan perak. Di belakangnya, dua orang pengawal berdiri tegak, namun mata mereka terus mengawasi setiap sudut kamar Elara dengan kecurigaan yang tidak disembunyikan.
"Letakkan saja di meja," perintah Elara.
Wanita itu melangkah maju, meletakkan kotak itu, namun saat ia berbalik, ia sengaja menyenggol cangkir teh di pinggir meja hingga tumpah mengenai gaun ungu Elara. "Oh! Maafkan saya, Penasihat. Saya sangat ceroboh."
Rina segera maju dengan sapu tangan, namun Elara menahannya. Elara menatap wanita itu dengan tenang, meskipun ia merasakan serangan sihir mikro yang mencoba menembus pertahanannya melalui kontak sensorik saat insiden itu terjadi. Wanita ini adalah salah satu penyihir tingkat satu yang dikirim Elena untuk menguji reaksinya.
"Kecerobohan adalah tanda dari pikiran yang tidak fokus," ucap Elara dengan nada datar yang menusuk. "Atau mungkin, Departemen Logistik sekarang melatih pegawainya untuk melakukan sabotase kecil pada pakaian atasannya?"
Wanita itu tersentak, wajahnya memerah. "Saya tidak mengerti maksud Anda, Nyonya."
"Kau mengerti dengan sangat baik," Elara berdiri, membiarkan teh itu meresap di kain sutranya, namun ia melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wanita itu. "Sampaikan pada tuanmu, Elena, bahwa trik semacam ini tidak akan berhasil. Jika dia ingin mengirim seseorang untuk memata-matai aku, kirimlah seseorang yang bisa menyembunyikan aura sihirnya dengan lebih baik daripada bau mawar yang membusuk ini."
Wanita itu gemetar, matanya membelalak ketakutan saat merasakan tekanan dingin yang tiba-tiba melingkupi lehernya—sebuah manipulasi tekanan udara yang diciptakan Elara melalui teknik Void sederhana. Tanpa berkata apa-apa lagi, utusan itu dan para pengawalnya segera mundur dan keluar dari kamar seolah-olah baru saja melihat hantu.
"Nyonya, itu sangat berbahaya," bisik Rina setelah pintu tertutup. "Anda baru saja secara terang-terangan menantang Selir Elena di hari pertama kita di sini."
"Dia sudah menyerangku sejak aku menginjakkan kaki di koridor tadi, Rina," Elara membersihkan gaunnya dengan lambaian tangan, menggunakan energi Void untuk menguapkan cairan teh secara instan. "Menunjukkan taring adalah cara terbaik untuk membuat predator ragu-ragu. Jika aku terus bersikap lemah, dia akan melahap kita sebelum matahari terbit besok."
Elara kemudian membuka kotak kayu yang ditinggalkan utusan tadi. Di dalamnya terdapat gulungan peta besar dan beberapa dokumen militer. Ia membentangkan peta itu di atas meja. Ini adalah peta perbatasan utara, wilayah yang menjadi fokus tugas pertamanya. Namun, Elara tidak mencari posisi pasukan; ia mencari titik-titik koordinat tambang kristal mana yang pernah dikuasai Asteria.
"Lihat ini, Rina," Elara menunjuk sebuah area bersalju di bagian paling utara. "Ini adalah Lembah Perak. Dulu, ini adalah jantung kekuatan sihir Asteria. Sekarang, kekaisaran Valerius menjadikannya kamp konsentrasi militer karena mereka tidak bisa mengaktifkan kembali sirkuit mana yang tertanam di bawah tanahnya."
"Hanya keluarga kerajaan Asteria yang tahu cara mengaktifkannya," sahut Rina sedih.
"Dan sekarang, aku akan memberi tahu Valerius bahwa ada 'anomali' di sana yang hanya bisa aku selesaikan," Elara tersenyum penuh rahasia. "Itu akan menjadi tiketku untuk keluar dari istana ini dan membangun basis kekuatan di luar jangkauan Elena."
Malam semakin larut, namun Elara tetap terjaga, jemarinya bergerak di atas peta, menandai rute-rute rahasia yang tidak tercatat dalam dokumen kekaisaran. Setiap coretan yang ia buat adalah bagian dari rencana jangka panjangnya untuk meruntuhkan kekaisaran dari fondasinya yang paling dalam.
"Nyonya, Anda harus beristirahat," Rina mendekat dengan sehelai selimut. "Besok Anda harus menemui kaisar pagi-pagi sekali."
Elara menatap jendela, di mana bulan kini telah tertutup awan gelap. "Istirahat adalah kemewahan yang belum bisa aku beli, Rina. Tapi kau benar. Tubuh ini masih terlalu lemah."
Ia berbaring di tempat tidur kerasnya, namun pikirannya terus bekerja. Ia bisa merasakan keberadaan Elena di sisi lain istana, sedang merencanakan sabotase berikutnya. Ia juga merasakan kehadiran Valerius yang mungkin sedang menatap langit malam sambil memikirkan Aurelia. Di tengah semua itu, Elara merasa sangat kesepian, namun kesepian itu adalah bahan bakar bagi dendamnya yang membara.
"Biarkan mereka berpikir mereka memegang kendali," bisik Elara pada kegelapan. "Karena saat matahari terbit di atas reruntuhan istana ini nanti, hanya akan ada satu orang yang berdiri tegak. Dan itu bukan kaisar mereka."
Elara memejamkan mata, membiarkan dirinya jatuh ke dalam tidur yang penuh dengan mimpi tentang api dan salju, mempersiapkan dirinya untuk hari esok di mana ia akan melangkah lebih jauh ke dalam sarang naga yang telah ia masuki.