Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15: penghakiman di tanah tak bertuan
Gurun Gobi, Mongolia – Pukul 12.00 Waktu Setempat.
Udara di padang pasir yang luas ini mendadak berhenti berhembus. Pasir-pasir yang biasanya terbang diterpa badai kini membeku di udara, seolah-olah waktu sendiri enggan untuk bergerak di bawah tekanan aura yang mencekam. Di tengah hamparan emas yang gersang, sebuah portal darah raksasa terbuka, memuntahkan enam sosok yang kehadirannya membuat langit biru di atas Mongolia berubah menjadi merah tembaga.
Arthur Pendragon terlempar keluar dari portal tersebut, jatuh tersungkur di atas pasir panas. Zirah emasnya yang megah kini retak di berbagai sisi, dan pedang mana gelap yang ia banggakan bergetar hebat di tangannya. Ia mendongak, matanya yang dipenuhi kegilaan menatap sosok yang berdiri di depannya.
Arkan tidak lagi membungkuk. Ia berdiri dengan postur yang begitu agung, jubah Sanguine-nya berkibar meski tidak ada angin, memancarkan aura merah yang menelan cahaya matahari. Di belakangnya, lima bawahannya—Bastian, Hana, Rehan, Elara, dan Julian—berdiri dalam formasi melingkar, mengunci setiap inci ruang agar Arthur tidak memiliki celah untuk melarikan diri.
"Kau menghancurkan gerbang sekolahku hanya untuk memuaskan egomu yang terluka, Arthur?" suara Arkan tidak keras, namun bergema di seluruh penjuru gurun seperti suara guntur yang datang dari perut bumi.
"Kau... kau pemimpin mereka!" Arthur berteriak, bangkit berdiri dengan susah payah. "Selama ini kau bersembunyi di balik seragam sekolah itu? Kau menghina semua Hunter di dunia ini dengan sandiwaramu! Aku adalah pedang kemanusiaan, dan aku tidak akan membiarkan monster sepertimu memerintah dari balik bayangan!"
Arthur mengangkat pedang mana gelapnya. Energi hitam yang ia dapatkan dari kontrak terlarang dengan entitas Abyss mulai meluap, membakar kulitnya sendiri. Ia rela mengorbankan kemanusiaannya demi satu hal: mengalahkan sosok di depannya.
"Mati kau, Sovereign! ABYSSAL EXCALIBUR!"
Satu tebasan raksasa berwarna hitam pekat melesat membelah gurun, memotong bukit pasir menjadi dua dalam sekejap. Serangan itu memiliki daya hancur yang mampu melenyapkan satu kota kecil.
Arkan tidak bergerak. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya.
"Vanguard," perintah Arkan singkat.
Bastian melangkah maju ke depan Arkan. Ia tidak menggunakan senjata. Ia hanya mengepalkan tinjunya dan menghantamkan serangan hitam Arthur dengan tangan kosong.
BOOOOMM!!!
Ledakan energi gelap itu terhenti seketika saat menyentuh tinju Bastian. Gelombang kejutnya mementalkan pasir ke langit hingga membentuk dinding setinggi seratus meter. Saat debu mereda, Bastian masih berdiri tegak tanpa goresan sedikit pun di zirahnya.
"Serangan yang lemah," Bastian mendengus. "Tuan, haruskah saya menghancurkan sisa tulangnya?"
"Tidak, Bastian. Dia milikku," Arkan melangkah melewati bawahannya.
Arkan menatap Arthur yang kini gemetar ketakutan. "Kau bilang kau adalah pedang kemanusiaan? Tapi kau menggunakan energi Abyss untuk menyerang sekolah yang penuh dengan anak-anak manusia. Kau bukan pahlawan, Arthur. Kau hanyalah parasit yang takut kehilangan panggung."
Arkan mengangkat tangan kanannya ke arah langit. "Biar kutunjukkan padamu, apa itu kekuatan yang sebenarnya. Sanguine Art: Blood Moon Eclipse."
Seketika, matahari di atas Gurun Gobi tertutup oleh bayangan merah raksasa. Seluruh dunia yang memantau melalui satelit militer melihat fenomena gerhana merah yang tidak masuk akal secara astronomi. Di bawah cahaya merah yang pucat, Arkan memanipulasi setiap molekul besi yang ada di pasir gurun dan menggabungkannya dengan esensi darahnya yang ia lepaskan ke atmosfer.
Ribuan tombak darah raksasa muncul dari bawah pasir, mengelilingi Arthur. Arthur mencoba menebas tombak-tombak itu, namun setiap kali pedangnya menyentuh darah Arkan, energinya justru tersedot habis.
"Darah adalah kehidupan, Arthur. Dan di dunia ini, akulah sumbernya," Arkan mengepalkan tangannya.
Tombak-tombak itu melesat secara bersamaan. Arthur berteriak saat tubuhnya ditusuk oleh ribuan jarum energi yang tidak membunuhnya, melainkan mengunci seluruh aliran mananya. Ia jatuh berlutut, lumpuh total.
Arkan berjalan mendekat, menatap Arthur dari ketinggian. "Aku memberimu kesempatan untuk hidup setelah kau kalah dari Bastian. Tapi kau justru memilih untuk mengusik kedamaianku. Sekarang, kau akan menjadi saksi bagaimana aku menghapus pengaruh WHA dari tanah Korea."
Arkan menoleh ke arah Julian. "Heartbeat, apakah siaran global sudah siap?"
"Siap, Ayah. Seluruh layar di dunia—mulai dari Times Square hingga layar ponsel di desa terpencil—kini menyiarkan gambar ini," Julian menjawab dengan nada bangga.
Dunia terdiam. Jutaan orang menatap layar mereka, melihat pahlawan Kelas SSS mereka bersujud di kaki seorang pria berjubah hitam yang wajahnya tidak terlihat jelas karena aura merah yang menyilaukan.
"Dengar, penghuni bumi," suara Arkan terpancar melalui frekuensi yang dimanipulasi Julian. "Crimson Eclipse bukan musuh kalian. Tapi kami juga bukan budak kalian. Mulai hari ini, Korea adalah wilayah kedaulatan Sovereign. Jika ada satu pun Hunter asing atau agen intelijen yang melintasi perbatasan tanpa izinku... nasib kalian akan lebih buruk daripada pria yang kalian sebut pahlawan ini."
Arkan menjentikkan jarinya, dan pedang Arthur hancur menjadi debu yang tertiup angin gurun.
"Julian, kirim dia kembali ke markas WHA di Jenewa. Biarkan dia menjadi monumen hidup atas kegagalan mereka."
Seketika, Arthur menghilang dalam portal kecil. Arkan menatap kelima bawahannya. "Kembalilah ke markas. Aku harus kembali ke sekolah. Liora akan segera bangun, dan aku harus berada di sana sebelum dia menyadari ada yang salah."
SMA Gwangyang – Pukul 15.00.
Liora mengerjapkan matanya, terbangun di atas matras gudang olahraga. Kepalanya terasa berat, dan ingatan terakhirnya adalah Arkan yang melepas kacamatanya di depannya. Ia segera bangun dan berlari keluar.
Di koridor, suasana tampak sangat tenang. Tidak ada ledakan, tidak ada Arthur Pendragon. Siswa-siswa lain tampak sedang sibuk membersihkan sisa-sisa festival budaya seolah-olah tidak pernah terjadi serangan apa pun.
Liora menemukan Arkan sedang duduk di bangku taman sekolah, memegang buku catatan sejarahnya dengan ekspresi tenang.
"Arkan!" Liora berlari mendekat, nafasnya terengah-engah. "Apa yang terjadi? Tadi... tadi aku melihat ledakan di gerbang depan! Dan Arthur Pendragon..."
Arkan menoleh, memberikan senyum polosnya. "Ledakan? Liora, sepertinya kamu kelelahan. Tadi ada sedikit gangguan pada speaker sekolah yang meledak, tapi tidak ada serangan apa pun. Kamu pingsan di gudang olahraga, jadi aku membiarkanmu istirahat sebentar."
Liora terpaku. Ia memeriksa ponselnya, dan ia terkejut. Seluruh berita di internet hanya membicarakan tentang "Gerhana Merah Misterius di Mongolia" dan "Kembalinya Arthur Pendragon ke Jenewa dalam Kondisi Mental yang Hancur". Tidak ada satu pun berita tentang serangan di SMA Gwangyang.
"Tapi... aku melihatmu... kamu melepas kacamatamu..." bisik Liora ragu.
Arkan berdiri dan membersihkan debu di celananya. "Kacamataku tadi jatuh saat aku menolongmu, Liora. Mungkin kamu bermimpi karena terlalu stres memikirkan Crimson Eclipse. Ayo, aku antar kamu pulang. Hari ini sangat melelahkan."
Liora menatap punggung Arkan saat mereka berjalan menuju gerbang. Ingatannya terasa kabur, seolah-olah ada tangan yang baru saja mengaduk-aduk memorinya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa pemuda di depannya ini adalah alasan mengapa ia masih hidup.
'Terima kasih, Arkan... atau siapa pun kamu sebenarnya,' batin Liora.
Di kejauhan, di puncak gedung tertinggi di Seoul, Elara (Seer) mengawasi mereka berdua dengan mata merahnya. Ia tersenyum tipis. "Ayah benar-benar menyayangi gadis itu."
Malam itu, dunia berubah. WHA menarik seluruh agen mereka dari Korea dalam ketakutan. Pahlawan-pahlawan baru telah lahir, dan sang Sovereign telah menetapkan garis batasnya. Namun di sebuah kamar apartemen kecil, Arkan hanya sedang sibuk meraut pensilnya, bersiap untuk ujian matematika besok pagi. Sandiwara terus berlanjut, namun kini, tidak ada satu pun serigala yang berani mendekati sarangnya.